Kiat Perajin Sidoarjo Melawan Dampak Ekonomi Banjir Lumpur

RADAR SIDOARJO      Kamis, 22 Nov 2007
Andalkan Desain Eksklusif, Rajin Pameran di Luar
Banyak pengusaha mengeluhkan dampak tragedi lumpur Porong. Pemasaran produk lumpuh. Pengajuan kredit ditolak bank. Buntutnya, PHK jadi pilihan. Namun, Siti Hariyani, 40, ternyata bisa tetap eksis. Bagaimana kiat pengusaha kerajinan bordir itu?

FATHUR ROZI, Sidoarjo

“Apa benar sesulit itu?” tanya Yani, panggilan Siti Hariyani, ketika ditanya tentang keluhan banyak pengusaha dan perajin sejak tragedi banjir lumpur Porong mengempaskan ekonomi Sidoarjo lebih dari setahun lalu.

Yani merintis usaha sejak 1991 dengan sebuah ruang pamer (showroom) sederhana di Perumahan Sidokare Indah. Usahanya terus berkembang meski tidak masuk kategori produksi masal. Dia kini memiliki sekaligus membina 20 pekerja di rumahnya. Selama ini mereka bekerja tanpa terpengaruh situasi Kota Delta yang sedang “suram” karena lumpur. “Bagi kami situasinya biasa-biasa saja,” kata Yani.

Dia mengaku mendengar banyak pengusaha kecil maupun besar yang sulit mendapat kredit dari bank. Bank menolak sertifikat tanah maupun rumah untuk agunan kredit. Seolah-olah aset yang berlokasi di Sidoarjo di-black list.

Ada pula yang kini tidak mampu lagi meneruskan usaha karena sulitnya pemasaran, lalu terpaksa mem-PHK karyawan satu demi satu. “Saya juga tidak merasakan kesulitan itu. Malah banyak yang menawari bantuan modal,” tambah ibu tiga anak ini.

Yani mengatakan tidak punya trik atau rencana khusus untuk menghadapi situasi usaha akibat dampak lumpur. Usaha kerajinan bordir, kata dia, berjalan seperti biasa. Namun, memang ada terobosan-terobosan yang dia ciptakan agar tetap eksis di tengah situasi persaingan yang kian ketat.

Salah satunya, sebut Yani, menciptakan desain-desain eksklusif. Dia menyatakan lebih mantap survive dengan desain bordir yang jarang dijumpai di pasaran. Desain eksklusif itu, antara lain, inovasi desain flora dan fauna untuk motif bordir. Misalnya, bordir desain burung merak, cendrawasih, kupu-kupu terbang, maupun berbagai buah dan bunga cantik.

Desain flora dan fauna itu dipadu dengan bahan-bahan yang mendukung, seperti sutra dan sifon. Warna-warnanya pun dibuat lembut, tapi tetap terkesan mewah. Semua dibuat seperti warna dan bentuk aslinya. “Saya berupaya tidak mengikuti tren,” katanya.

Keputusan Yani tidak mengikuti tren itu ternyata berbuah hasil. Koleksinya diburu. Apalagi, setiap motif tidak dibuat secara masal. Motif eksklusif disukai segmen pasar tertentu. “Saya hanya membuat beberapa setel untuk setiap desain,” tuturnya.

Selama ini, terang dia, bordir sering diidentikkan dengan busana muslim. Tapi, desain eksklusif dan orisinal milik Yani ternyata juga banyak diminati kalangan nonmuslim. Mereka adalah para eksekutif perempuan. “Mungkin karena tidak bisa menemukan di toko lain, mereka jadi bangga pakai desain saya,” ujarnya.

Dalam mempromosikan karyanya, Yani menyatakan rajin mengikuti berbagai pameran. Di berbagai even, baik di Jawa maupun luar Jawa, selalu terjadi transaksi. Yani menyebut secara rutin terus mengirim produknya ke Jakarta, Makassar, Palembang, Pontianak, Samarinda, dan Batam. Dia juga mengikuti pameran bersama perajin Sidoarjo lain di Singapura dan Malaysia. “Syukurlah, ada juga yang nyantol transaksi,” ucapnya. (*)

3 Balasan ke Kiat Perajin Sidoarjo Melawan Dampak Ekonomi Banjir Lumpur

  1. LuPhKimm mengatakan:

    maknyus bnget si lumpur

  2. anas mengatakan:

    wah bu yani hebat banget tuh, cerdik sekali dalam strateginya.
    patut dicontoh nih

  3. anas mengatakan:

    komen nanti baca dulu
    eh kebalik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: