Warga Ngotot, Anggaran Hangus

RADAR SIDOARJO
SIDOARJO – Pembebasan lahan untuk relokasi infrastruktur korban lumpur terhambat sikap warga yang meminta harga tinggi. Akibatnya, infrastruktur jalan tol, rel KA, dan Jl Raya Porong bakal terkatung-katung. Anggarannya pun yang mencapai Rp 350 miliar terancam hangus.

Biaya relokasi infrastruktur berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBNP) 2007 dari pemerintah pusat mencapai Rp 350 miliar. Jika tidak terserap pada 2007, anggaran tersebut bisa hangus. “(Anggaran) itu kan dikucurkan dari APBN perubahan 2007, jadi harus terserap dalam tahun 2007. Padahal, tahun 2007 kan tinggal beberapa minggu lagi,” kata Asisten Bidang Tata Pemerintahan Pemkab Sidoarjo Djoko Saptono.

Menurut dia, pembebasan tanah untuk relokasi infrastruktur terhadang kendala serius. “Sampai hari ini (kemarin, Red), belum ada tanda keberhasilan dalam musyawarah dengan warga soal harga ganti rugi untuk tanah relokasi itu,” kata pria yang juga menjabat wakil ketua P2T (Panitia Pengadaan Tanah) untuk relokasi tersebut.

Djoko menambahkan, musyawarah dengan warga sudah mencapai sebelas desa di Kecamatan Tanggulangin, Porong, dan Jabon. Namun, warga belum dapat menerima tawaran harga P2T. Warga tetap bertahan dengan harga tanah yang mereka minta. Alasannya, tanah mereka masih produktif dan mereka tidak berniat menjual.

Warga ingin harga seperti korban lumpur, yakni Rp 1,5 juta/m2 untuk tanah pekarangan, Rp 1 juta/m2 untuk bangunan, dan Rp 120 ribu/m2 untuk tanah pertanian. “Sekitar 65 persen warga minta harga sama dengan ganti rugi dari Lapindo,” kata Djoko.

Padahal, berdasar anggaran yang tersedia, P2T hanya mampu menawarkan harga Rp 85 ribu/m2 untuk tanah pertanian, Rp 125 ribu/m2 untuk tanah kering, dan Rp 150 ribu/m2 untuk tanah matang (tanah kering di tepi jalan raya).

Sementara itu, anggota DPR yang tergabung dalam Tim Pengawas BPLS meninjau pompa penyedot lumpur buatan tim ITS di Desa Kebonagung, Gedangan, kemarin. Menurut Ketua Tim ITS Djaja Laksana, presentasi tersebut bertujuan meyakinkan tim pengawas atas kemampuan alat tersebut. Saat ini, kecanggihan teknologi dalam negeri dipandang sebelah mata. “Kami hanya ingin temuan kami dipercaya,” katanya.

Ario Wijanarko, anggota tim pengawas BPLS, mengatakan, temuan tim ITS itu patut diapresiasi. Jarang sekali muncul teknologi buatan anak bangsa.(sat/riq/roz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: