Korban-Korban Lumpur yang Bersikap “Berbeda” soal Ganti Rugi (1)

RADAR SIDOARJO Selasa, 08 Jan 2008 Korban-Korban Lumpur yang Bersikap “Berbeda” soal Ganti Rugi (1)Tujuh Rumah Hancur, Haji Rozi Pilih Ikhlas
Proses pembayaran ganti rugi harta benda korban lumpur memang belum usai. Tuntutan terus mengalir dari para korban yang kehilangan tempat tinggal. Namun, ada juga korban lumpur yang bersabar. Di antaranya, H Fatkhurrozi, 46.

TORIQ S. KARIM, Sidoarjo

Nama H Fatkhurrozi tak asing dalam komunitas politik Sidoarjo, terutama di DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia adalah ketua DPAC PKB Kecamatan Porong. Hanya, pria murah senyum itu lebih dikenal dengan sebutan Haji Rozi. Di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, yang kini sebagian besar tenggelam lumpur, Haji Rozi cukup terpandang.

Selain seorang ketua partai, dia tokoh agama dan dermawan yang berada. Di desa tersebut, Haji Rozi punya banyak rumah. Menurut beberapa tetangga, jumlah rumah milik pengusaha itu mencapai 12 unit. “Tapi, yang benar saya punya tujuh rumah. Saya membangunnya untuk anak-anak,” kata ayah lima anak itu.

Salah satu yang mencolok adalah sebuah rumah di pertigaan desa. Rumah itu dibangun dengan gaya arsitektur gabungan antara Timur Tengah dan India. Waktu bangun, Haji Rozi membayangkan bangunan Taj Mahal di India. “Kalau ingat rumah yang satu itu, diganti berapa pun rasanya kok tidak bisa,” tuturnya.

Selain luas, megah, dan penuh hiasan keramik dan marmer, rumah tersebut sering digunakan untuk kegiatan keagamaan. Orang pun tidak asing. Rumah-rumah lain menyebar di seluruh desa.

Namun, rumah yang sekilas mirip masjid itu kini hancur-lebur seperti rumah-rumah di sekitarnya. Jarak rumah tersebut dengan tanggul lumpur hanya sekitar 500 meter. Sejak lumpur panas menenggelamkan dusun-dusun di Desa Renokenongo, penurunan permukaan tanah (subsidence) terus menggerogoti bangunan indah tersebut. Akhirnya, rumah itu dirobohkan. Tinggal pintu gerbang utama yang menjulang tinggi mirip monumen.

Kehilangan tujuh rumah, Haji Rozi mengatakan tidak ingin larut dalam kesusahan memikirkan harta benda. Dia memang sempat juga sedih. Tapi, kemudian dia teringat bahwa semua harta adalah titipan Allah SWT. “Saya harus ikhlas,” ungkap suami Luluk Khamimah, 41, itu.

Dia menyadari semua rezeki merupakan rahmat dari Tuhan. Selama ini, pria berkacamata itu menekuni berbagai aktivitas usaha, seperti jual-beli mobil, pertanian, pertambakan, sampai buka koperasi. “Dari rezeki itu, kita bisa beribadah dan membahagiakan orang di sekitar kita,” katanya.

Ketika semua rumah tak bisa ditempati lagi, Haji Rozi memilih mengontrak sebuah rumah di Desa Balongwatu, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Anak-anaknya kini masih berada di pondok pesantren. “Syukurlah, saya masih ada rezeki,” ujar lelaki penggemar mobil itu.

Hingga saat ini, Haji Rozi mengaku belum menerima uang muka ganti rugi dari rumah-rumahnya yang tenggelam lumpur. Namun, dia menyatakan telah mendapatkan sebagian kecil uang muka untuk berkas-berkas lain, seperti tanah.(*/roz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: