Wacana Wisata Lumpur Ditentang

RADAR SIDOARJO Selasa, 22 Jan 2008
SIDOARJO – Mencuatnya wacana menjadikan kawasan luapan lumpur sebagai lokasi wisata memancing reaksi keras. Fraksi-fraksi di DPRD Sidoarjo menilai wacana tersebut sangat tidak pantas dan melanggar peraturan daerah. Bupati Win Hendrarso menyatakan tidak pernah melontarkan wacana tersebut.

Reaksi keras terhadap wacana itu muncul dari Ketua FKBK (Fraksi Kebangkitan Bangsa dan Keadilan) Abdul Shomad Mahfudz dan Ketua FPAN Amrullah. “Warga korban lumpur masih disibukkan dengan urusan pembayaran uang muka ganti rugi 20 persen yang belum tuntas,” kata Shomad.

Warga korban lumpur, tutur Shomad, juga masih dibayangi kekhawatiran tidak lancarnya pembayaran sisa ganti rugi 80 persen. Shomad menambahkan, pernyataan itu dikhawatirkan menimbulkan polemik baru yang berkepanjangan.

Amrullah berpendapat senada. Menurut dia, jika ada rencana menyulap lokasi musibah semburan lumpur Porong jadi kawasan wisata, itu jelas melanggar perda RTRW (rencana tata ruang dana wilayah). “Perlu diingat, peruntukan lahan di kawasan tersebut untuk apa. Apa memang untuk lokasi wisata? Kalau tidak untuk lokasi wisata, jelas melanggar,” tegas Amrullah.

Lebih dari itu, sebagian besar pembayaran uang muka ganti rugi sudah dilakukan Lapindo. “Nah, kalau lokasi itu dijadikan kawasan wisata, apa tidak menimbulkan polemik?” ujarnya.

Amrullah berpendapat sebaiknya pemkab lebih berkonsentrasi memikirkan masalah relokasi wilayah Porong yang terkena dampak semburan lumpur Lapindo serta memikirkan masalah penanggulangan dampak sosial.

Wacana menjadikan kawasan lumpur sebagai lokasi wisata itu mencuat setelah rapat koordinasi di Kantor Gubernur Jatim (19/1) yang dihadiri Tim Pengawas BPLS dari DPR RI, sejumlah pejabat, PT Jasa Marga, serta PT Minarak Lapindo Jaya.

Bupati Win Hendrarso yang disebut-sebut melontarkan wacana tersebut tegas-tegas membantah. Dia menyatakan tidak pernah punya gagasan menjadikan kawasan lumpur sebagai lokasi wisata. “Siapa yang bilang. Saya tidak pernah bilang seperti itu,” tegasnya.

“Mereka pasti salah memahami. Yang saya katakan adalah rencana menjadikan lokasi semburan lumpur sebagai cagar geologi,” tambah Win.

Dengan menjadikan lokasi semburan lumpur sebagai cagar geologi, diharapkan ada nilai tambah atas kawasan seluas 651 hektare yang sudah terbenam lumpur itu. Masyarakat bisa datang ke sana untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan geologi atau melakukan studi tentang pemanfaatan lumpur menjadi barang-barang yang lebih berguna.

“Ya, itu baru wacana. Masih perlu pembicaraan lebih lanjut. Yang penting, bagaimana caranya nanti ada nilai manfaat bagi masyarakat,” tutur Win. (sat/roz)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: