Cukup 160 Menit Hentikan Lumpur Lapindo

29/01/08 18:57

Jakarta (ANTARA News) – Pakar teknik pengeboran dari Institut Teknolgi Bandung (ITB), Dr Rudi Rubiandini, mengatakan luapan lumpur di lokasi pengeboran PT Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, bisa dihentikan secara permanen dengan proses yang berdurasi hanya 160 menit saja.

Rudi, mantan ketua tim investigasi independen luapan lumpur Sidoarjo, memaparkan usulan solusinya itu dalam forum diskusi pakar bersama publik “Mengurai Lumpur Lapindo dan Solusinya”, di Jakarta, Selasa.

Ia menekankan bahwa inti penanganan luapan lumpur Lapindo – yang merupakan luapan dari bawah tanah (underground blow out) – adalah membuat “komunikasi dengan sumber” yang dikenal dengan relief well atau sumur penyelamat.

“Ada tiga skenario penanganan luapan lumpur, semuanya membutuhkan relief well,” kata Rudi.

Cara pertama adalah dengan menginjeksikan lumpur berat ke sumber luapan lumpur, sehingga berat jenis lumpur membuat lumpur tidak lagi menyembur ke permukaan Bumi.

Skenario kedua adalah menyedot lumpur dari sumbernya untuk kemudian dimanfaatkan untuk produksi air panas, kalau tidak berhenti juga ada cara ketiga yakni meledakkan sumber lumpur sehingga reruntuhannya akan menghentikan semburan lumpur.

Menurut Rudi, teknologi dan sumber daya manusia di Indonesia sudah sangat siap menghentikan semburan lumpur Lapindo, cuma masalahnya sekarang adalah soal pendanaan dan sokongan politik.

Pria yang mengajar di almamaternya ini mengakui proses penanganan semburan dengan injeksi lumpur berat hanya butuh waktu yang sangat sedikit, tapi memang persiapannya bisa berlangsung berbulan-bulan.

Ibarat membuat sistem mengatasi kebakaran, ujar Rudi, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mendatangkan mobil pemadam kebakaran dan alat-alat lainnya, sementara kebakaran bisa dihentikan dalam tempo beberapa menit atau jam saja.

Rudi memperkirakan dengan dua relief well yang didukung oleh 10 pompa injeksi lumpur berat, dana yang dibutuhkan maksimal 50-70 juta dolar Amerika.

Ditanya kapan usaha “membunuh” sumber luapan lumpur itu dilaksanakan, Rudi menjawab, “Saya blank – sama sekali tidak tahu. Karena belum jelas dananya, dan tidak ada dukungan politik.”

Hampir dua tahun semburan lumpur itu terjadi di Porong, dan publik masih simpang-siur membahas soal penyebab munculnya luapan.

Namun berdasarkan catatan harian pengeboran PT Lapindo diketahui bahwa mata bor dibiarkan tidak dilindungi oleh pelindung (casing) hingga 1.350 meter panjangnya.

Ketika terjadi mata bor patah dan underground blow out, Lapindo tidak melakukan injeksi lumpur berat dengan sempurna, sehingga lumpur terus merembes ke permukaan tanah.

Pada tanggal 3 Juni 2006, rig meninggalkan titik pengeboran yang menyebabkan underground blow out, dengan alasan khawatir tidak mendapat ganti rugi akibat rig tidak diasuransikan.

Menurut perkiraan Rudi, volume luapan lumpur mencapai 250.000 barel per hari.(*)

COPYRIGHT © 2008

13 Balasan ke Cukup 160 Menit Hentikan Lumpur Lapindo

  1. cak nenen mengatakan:

    aduh, makin ngaco aja deh!
    pakai cara instant super kilat lagi…
    dulu bola beton yg super ekslusif aja gagal total, cuma menghasilkan derita orang2 sekitar yg nasibnya masih terkatung-katung….
    coba deh dipikir secara subyektif!!

  2. Countryman mengatakan:

    Isinya hilang !!!!!

  3. joey mengatakan:

    hahaha….. kena deh loe batunya… Teori emang gampang boss…99% ngelamun dan 1 persen berpikir….

  4. usil mengatakan:

    Naaah….ini dia ahli pompa datang!!!

    Ini baru enak, ada etungan tehnisnya…gak asal ngerocos.

    Kelihatannya sih…dari kalangan PRAKTISI

    kagum…kagum!

  5. Countryman mengatakan:

    Kelihatan banget bahwa mas Rudi itu buakan praktikan pengeboran..memadamkan 250,000 barrel/hari dengan lumpur berat dala keadaan terbuka /kawah lagi. Hebat betul angan2nya. Kalu punya pompa2 raksasa yang paling tidak bisa 1.5 kali mengatasi laju yang 250,000 barrel/hari alias 375,000/hari mungkin BISA DICOBA.

    Sekarang kita lihat pompa yang ada diindustri untuk mompa lumpur berat isalkan saja 16 ppg supaya tanah tidak pecah, tetapi viskositasnya harus diturunkan dahulu dengan zat kimia tambahan. kalu saja ada pompa yang cukup tinggi tekanannnay (slush pump0 dengan laju pompa 500 GPM atau kira2 17,000 barrel/hari, maka diperlukan pompa sebanyak 375,000/17,000 = 22 pompa. Pompa inin besar2 dan memerlukan mesin penggerak kira2 800 HP. Luasan tanah yang diperlukan kira2 5 meter X 14 meter = 70 meter2. Untuk seluruhnya adalah 22 x 70 meter =1540 meter2.

    Kalau ini bisa dilaksanakan dengan tersedianya peralatan, tenaga ahli pelaksana, tanah yang luas, maka pemompaan bisa dilakukan terus menerus selama 24 jam sebanyak 370,000 barrel lumpur berat.

    Sekarang bagaimana dan berapa lama untuk mencampur 375,000 barrel atau kira2 60,000 m3 lumpur berat. perlu 5 Bulk Silo sebesar 10,000 sx , perlu kira2 400,000 barrel air bersih, perlu2 kira2 60,000 sacks Barite, 10,000 sacks bahan kimia untuk mengurangi viskositas . Ada nggak tangki untuk menampung 375,000 barrel untuk mompa sehari saja ? pemompaan harus dilanjutkan sampai seluruh volume kawah tergantikan oleh lumpur berat. berapa volume kawah ? tarohlah 200,000 m3. jadi kita harus nyampur lumpur bera 3 x @ 60,000 m3 secara sama2. Untuk ini akan diperlukan waktu kira2 2 bulan.

    Berapa Truck diperlukan untuk ngangkut bahan lumpur berat, pasti tidak kurang dari 50 truck Low Boy @ 35 ton.

    Berapa ongkos untuk ngebor sumurnya dan berapa jah dari kawah yang sudah rapuh,asti harus jauh. Ada tidak lokasinya ? Diperlukan relief well yang besar dengan casing dimulai yang terbesar ukuran 36″ dan lubang paling kecil arus berhenti di ukutan 7″. kalau terlalu kecil akan kesulitan mendapatkan laju pompa 375,000 barrel/hari.

    Dst..dst..

    Saya kira yang 160 menit itu ngomongnya atau ngelamunnya ! mengapa Bledug Kuwu tidak dipadamkan. mengapa Mud Volcano yang banyak di Azerbayan tidak dipadamkan ? menurut taksiran Lumur Sidoardjo akan habis dalam waktu 33 taun dengan laju alir 125,000 m3/hari. jadi kalau Pak Rudi mau nyedot pakai apa ..apakah juga kalau saja kita mempounya alat sedot dengan kapasitas 125,000 m3/hari akan nyedot terus selama 33 tahun ?

    Mungkin saya mesti nonton harry Porter lebih sering. Wassalam.

    Untuk menngulangi semburan liar dalam lubang bor saja biasanya diperlukan waktu 2-3 hari terutama kalau ada gas. penanggulangan dalam kawah terbuka belum pernah dilaksanakan didunia. berhasilnya “pembanjiran’ dengan lumpur berat ini juga tergantung berapa volume lumpur berat dengan laju pompa 375,000 barrel per hari itu bisa menggantikan seluruh lumpue dalam kawah

  6. alfaroby mengatakan:

    dari ke 3 cara tersebut mana cara yang paling sedikit membutuhkan biaya.. yaitulah yang mending digunakan, daripada biaya mahal ntar ujng ujungnya luapan lumpur masih ada, rugi kan

  7. usil mengatakan:

    Pak Otnaidah memang saya setuju pendapat bapak!!!
    Sungguh miris melihat upaya universitas yang selama ini
    gagal mlulu.

    Padahal diblog ini ada proposal yang ‘murah-meria’ tapi sarat dengan
    etungan tehnis yaitu: MENGALIRKAN LUMPUR SECARA OPTIMAL,
    by RIrawan.

    Setahu usil sampai saat ini belum ada satupun pakar yang membantah
    etungan proposal diatas. Malahan orang2 sekaliber Ompapang (tamatan
    negeri Belanda, maaf Om) dll justru mendukung bahkan memberi masukan
    sehingga tambah mantep.

    Apa bener kata orang, LULA ini sudah jadi ajang bisnis gitu?
    Oh….nasib!!!

  8. a_otnaidah mengatakan:

    ironi banget dunia universitas di negeri kite ini. hampir 2 tahun prahara lumpur belon kunjung ada yang becus menelorkan konsep yang bener. yang muncul cuma ide awur-awuran macem bola beton, teori bernoli-bernolian, entah sekarang apa lagi. komunitas indonesia di eropa pernah mengungkapkan, di universitas-universitas di Indonesia ini sarat klik, pencari peluang dan kekuasaan, batu loncatan untuk calon pejabat tinggi pemerintahan atau bumn. yang lurus atawa beneran pinter sangat sulit bisa berkiprah, luar biasa sukar mempertahankan etika ilmiah dan kejujuran intelektuel. kalau 100% mengabdi ke pendidikan dan science, mustahil bisa hidup bermartabat dengan gaji yang jauh di bawah cukup, sehingga harus licik atau tega berakrobat menyabet seriap peluang. ilmu? teknologi? ah, yang penting gelar, nyontekpun oke. maka jangan heranlah, yang jenius, kreatif tidak pernah betah, lalu pindah ke luar negeri atau swasta. oh ….. nasib

  9. det mengatakan:

    omong doang mah gampang. ide dari ITB sebelumnya dengan high density chained ball itu kan sudah gagal total.. apalagi ini hanay dalam sekian menit. palsu!!!

  10. eddycorret mengatakan:

    Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa jangan dihentikan dengan cara ituuuu
    anaknya udah muncul dimana mana bahkan di rumah warga juga
    apalagi dengan cara ketiga dengan diledakkan, huaaaa tambah runyam nih.
    tapi ya udah gimana lagi emang jaman edan puncaknya 2008 ini
    saya hanya bisa berharap semoga pada bersabar hingga 2009
    paling lambat 2009 tuh luapan lumpur akan berhenti, tunggu saja.

  11. sahwan mengatakan:

    kalau memang bisa, segera ajukan proposal ke pihak Lapindo dan pemerintah biar nasib warga desa terkena dampak dan sidoarjo umumnya bisa bernafas lega dan sidoarjo bisa segera menuju SIDOARJO BANGKIT sebagaimana yang didengungkan Pak Bupati Win, Semoga…..

  12. rian mengatakan:

    mudah² memang bisa dihentikan semburan lumpurnya.

    dan semoga apa langkah cepat dari pemerintah.

    jangan bisanya cuma NATO (No Action Talk Only)

  13. Kursipanas mengatakan:

    Lah kok kayak critanya Sakiyun aja mau nutup semburan dengan 160 menit ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: