Pakar Yakin Relief Well Masih Efektif

Sumber : Harian Jawa Pos(Rabu, 30 Januari 2008) Penghentian Semburan Lumpur LapindoJAKARTA – Optimisme dalam menghentikan semburan lumpur Lapindo yang terjadi sejak 29 Mei 2006 belum mati. Metode relief well diyakini masih ampuh untuk menghentikan semburan lumpur yang alirannya kini dibuang ke Kali Porong itu. Hal itu terungkap dalam diskusi Mengurai Lumpur Lapindo dan Solusinya yang digelar Walhi di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin (29/1).

Acara tersebut menghadirkan para pakar, seperti Rudi Rubiandini (mantan ketua Tim Investigasi Independen Luapan Lumpur Sidoarjo), Robin Lubron (ahli pengeboran, mantan general manager Pertamina), dan Kersam Sumanta (ahli blowout). Lalu, ada Mustiko Saleh (ahli pengeboran, mantan wakil direktur Pertamina), dan Andang Bachtiar (ahli geologi independen). Mereka semua yakin bahwa semburan lumpur bukan diakibatkan gempa, tetapi karena aktivitas Lapindo sendiri.

“Juga masih ada kesempatan untuk mematikan dengan pengeboran miring, relief well,” kata Rudi. Mustiko menambahkan, mustahil semburan lumpur itu berhenti dengan sendirinya. Wajib hukumnya untuk menghentikan. “Proses relief well yang dulu harus dilanjutkan,” ujarnya.

Relief well satu dan dua pernah dicoba. Namun, upaya itu dihentikan karena kendala teknis saat mencapai kedalaman sekitar 3.000 feet pada Januari 2007.

Robin bahkan menjamin keberhasilan teknik itu mencapai seribu persen dengan biaya sekitar USD 70 juta. “Saya bukan sesumbar. Saya butuh waktu dua sampai tiga bulan. Jika tidak, saya siap dipenjara,” tambahnya.

Hingga kini, pemerintah ragu terhadap metode tersebut. Salah satu di antaranya karena masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab dalam penanggulangan lumpur Lapindo. “Selama dalangnya (Lapindo) masih ada di sana, ini pasti akan sulit,” imbuhnya.

Setahun ini memang tak terdengar lagi upaya penghentian semburan lumpur. Metode terakhir dilakukan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo pada Maret lalu. Saat itu dilakukan pengurangan volume semburan melalui insersi (memasukkan) bola-bola beton (high density chained balls/HDCB). Namun, upaya tersebut gagal menyumbat lumpur. Padahal, semakin lama dibiarkan ongkos ekonomi dan lingkungan yang ditanggung juga semakin besar.

Iklan

11 Responses to Pakar Yakin Relief Well Masih Efektif

  1. inyo berkata:

    Dear: OmPapang
    Senang beribu senang, Om dapat mengikuti blog yg sangat menarik ini, ber-bulan2 lamanya saya kangen “Omku tampil kembali” dan baru saat inilah terobati, idem dengan PakDhe, kami do’akan semoga cobaan yg sedang menimpa OmPapang sekeluarga segera berlalu.
    Om, saat om absen, saya coba menganalisa “ke-absenan OmPapang” dg Meta-theorema/LATEX P. Herman tapi ga ke-temu2 hasilnya, wong soalnya rumus2nya aja saya ga mudeng blas, he…he..
    ttg Ultah OmPapang klo saya cermati dg Materamal:

    1. tgl 17 genap usia 64 TH, 17 ditambah belakangnya 64 (4) = 21 (tgl 21 pada bulan yg sama, ini ultah saya)

    2. Kalau boleh saya tebak :
    usia Om 64(6+4=10) dan saya lahir Th 64(6+4=10)…..mungkin kita “Unda-undi”(https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-12218)…., betul ngga? he..he…

  2. usil berkata:

    OmPapang, saya atas nama kawan2 yang lain seperti:

    -Pak RIrawan
    -Pak Inyo
    -Aa Ipin
    -papa TITA
    -Pak Otnaidah
    -dll

    Mendodakan,
    Agar putra tercinta Ompapang segera diberi kesembuhan oleh YMK.

    Oh ya putri saya ke-2 masuk ke Business Engineering, putri pertama ambil
    Medical Technology di Florida, yang ke-3 masih SMA.

    Eh! Ompapang dan Pak Dhe, tinggal dipilih, yang mana mau dijodoin
    dengan putra kalian?….he3x

    Nah! ultah Ompapang segera datang. Kiriman ba’so pasti…pasti itu!

    Uuuuuuuh…senengnya dapat kabar dari Ompapang dan pak Dhe je..

  3. Rovicky berkata:

    Wah Ompapang turut prihatin mendengak kabar cobaan yang cukup berat ini.
    Smoga Allah mendengarkan doa kita.

    Lah kok kebetulan juga anak saya juga di teknik Elektro UGM juga je. Tapi masih semester 5 ini (tahun ketiga). Jangan-jangan sudah pada kenal juga mereka ya ?

  4. ompapang berkata:

    Pak Usil,pak Inyo,Pak Rovicky, dll
    Maaf beribu maaf, saya tak dapat mengikuti blok yang sangat menarik ini sampai berbulan-bulan.Soalnya saya baru mendapat cobaan (bukan trial & error) dari Yang Maha Kuasa, anak saya (28 th) yang bungsu ,Sri Dewa, terserang tumor otak/kanker yang ternyata telah diidapnya selama setahun dan baru tanggal 30 November 2007 yang lalu menjalani operasi dan radio terapi 30 X ( disinari pakai sinar gamma radio aktif pake cobalt 60 ) di RS Sarjito Yk dan baru berakhir kemarin tgl 11 Februari 2008.
    Saya mohon doa restu dari Bapak-Bapak semoga anak saya yang sudah ketiga kalinya mengajukan cuti kegiatan akademis dapat kembali beraktifitas seperti semula dan dapat menyelesaikan tugas akhirnya di teknik elektro UGM sehinga dapat diwisuda.Amin
    Btw, kalau gak salah puteri pak Usil juga di teknik elektro kan ? nanti bisa tukar kawruh !
    Sekedar info, besok 17 Februari 2008 ompapang genap tumbuk 8 windu alias 64 tahun, Pak Usil & Pak Inyo mau kasih kado ? matur nuwun , he,he 64 X

  5. usil berkata:

    Teman lama memang begitu…..saling tahu isi hati ya?
    Walo beliau2 itu belum nulis lagi, tapi tetep kita masih bisa baca
    perang-pena mereka jaman doeloe itu…tetep asyik koq!

    Aku harap mereka belum nulis lagi, karena kesibukan, bukan
    karena hal yang lain. Mangkanya mari kita doain agar mereka semua
    tetep sehat:
    – Si Om (apa sudah MPP beneran?)
    – Si Nona Jepun 93
    – Sang Begawan Etung (peserta lama pasti tahu)
    – Komendan Ipin (Aa siap!!!)
    – Sang Owner di KL sana (ato lagi keluar negara?)
    – dll

    Tentu saja termasuk pak Inyo dan saya….ya to?

  6. inyo berkata:

    ya jelas ada manfaatnya to mas KArabet, minimal utk “bancakan” 😛 :))

  7. Rovicky berkata:

    Gimana ngga aras-arasen lah wong data geologi kok mesti nyarinya di kantor pulisi !
    Itu kata temenku Pak Andang mantan ketua IAGI.
    Lah wong datanya pada disembunyiin dewe-dewe gituuh !

    Jiaaan ramutu tenaaan !!

  8. inyo berkata:

    Benar Bang Usil, ini krn saking kangen saya terhadap komentar2 dari sobat2/pakar2 lama, yg sudah lama absen mengisi/memarakan bloq kita ini, terutama OmPapang sebagai “JURU KUNCI”, koq kuncinya ga dititipkan ke bang Usil ato sobat2 yg lain, wah…wah…koq tega2nya ninggal’in kita yah…? Mang Ipin, PapaTITA,dll. bahkan PakDhe sendiripun juga “aras2’en ngomong…., gimana??

  9. MAs KArebet berkata:

    “Pakar Yakin Relief Well Masih Efektif”
    ============================

    🙂 Yakin ada manfaatnya kalo ada dananya 🙂

  10. usil berkata:

    Usil pingin nyanyi dulu ah!!!

    RINDUUU…..AKU RINDU,
    INGIN BERTEMU DENGAN SI OM DARI BELANDA…
    JUGA SINONA DARI GUNUNG FUJI…
    TERLEBIH KEPADA SANG BEGAWAN….. RUMUS….
    HOY…..YEH….

    Ah! pak Inyo ini kerjanya bikin orang jadi bernostalgia tuh…

  11. inyo berkata:

    Saya postingkan sebagian komentar dari Ibu Hime_furuumun93 :
    Bencana ini memprihatinkan. Tetapi disini sudah banyak saran dan tulisan menarik yang sangat bagus dan ilmiah, dari mereka yang kelasnya guru dan senior saya. Yang mengherankan, dilapangan situasi dan tindakan kelihatan sangat buruk.
    Tentang Relief Well, saya cenderung sependapat dengan Om Papang. Relief Well hanya bertujuan menginjeksikan bahan penyumbat untuk menghentikan semburan lumpur. Tetapi melihat besarnya lumpur yang keluar, sudah terlambat, genangan lumpur sudah sangat tinggi dan tepinya sudah jauh dari pusat semburan. Diameter lubang sudah sangat besar, Relief Well terlalu kecil untuk dapat mengimbanginya. Dan pusat semburan kemungkinan besar hanya gas tekanan tinggi.
    Relief Well adalah metode baku, Membekukan pusat semburan, memanfaatkan jepitan dinding lubang dan tekanan hidrostatik diatasnya. Tetapi untuk lapindo ini, peluangnya sangat kecil.

    Gabor ultrasonic mungkin dapat memetakan geometri 3D aktivitas dibawah sana.

    Metode menghentikan semburan dengan memasukkan benda2 dari atas hanya pantas muncul dari orang awam, bukan dari komunitas teknik-akademis. Teori ini sarat dengan angka2 yang belum jelas formula dan alur perhitungannya, bahkan menjengkelkan sebab ada yang menabrak logika paling sederhana. Sumbatan akan serta merta menaikkan tekanan dibawahnya, sehingga gas dan fluida akan membuat jalur2 baru semburan liar ke-mana2.
    Persis seperti HDCB nya tim ITB. Sudah dikritik dan dikupas habis2 an dengan perhitungan rinci dan dalil2 yang sangat kuat. Nyatanya tetap dikerjakan dengan argumen trial & error yang sangat ngawur, bahwa bola menyerap energi friksi, rotasi dan translasi. Setelah sekarang benar2 muncul banyak semburan liar, apa tanggung jawabnya?
    Membaca tulisan dan komentar2 disini, saya percaya Indonesia memiliki orang2 pandai yang mengungguli para ahli luar negeri. Mungkin hanya perlu diselaraskan dengan para pejabat pemerintah, agar tidak malah mengerjakan metode yang sudah jelas tidak masuk akal.
    Salam dan semoga sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: