SBY Tunggu DPR, Korban Tetap Demo

Kamis, 21 Feb 2008, JAKARTA – Suara DPR yang masih pecah dalam menangani kasus lumpur Lapindo menyulitkan pemerintah untuk mengambil keputusan. Menurut Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, pemerintah belum berani mengambil sikap karena hingga kemarin belum ada surat resmi dari DPR yang menjelaskan hasil sidang paripurna.Hatta menyatakan, Presiden SBY memilih menunggu sampai DPR memiliki sikap resmi yang disampaikan ke pemerintah. “Seperti kita tahu, di sana (DPR, Red) masih simpang siur. Jadi, kita tunggu saja sampai ada sikap resmi dari DPR,” kata Hatta usai rapat terbatas bidang kesehatan di gedung Departemen Kesehatan (Depkes) kemarin (20/2).

Seperti diberitakan harian ini, suara di DPR tak kompak saat Rapat Paripurna Selasa (19/2) lalu. Sebagian mengakui semburan lumpur merupakan fenomena alam, tapi sebagian lagi bertekad melakukan hak interpelasi kepada pemerintah.

Sampai saat ini, beber Hatta, pemerintah tetap berpedoman pada Perpres 14 Tahun 2007 untuk penanganan semburan lumpur Lapindo. “Perpres itu mengatur bahwa Lapindo harus membayar sesuai batas yang terdampak itu. Jadi, tidak membatalkan kewajiban Lapindo,” ujar mantan menteri perhubungan tersebut.

Hinga kemarin, lanjut dia, belum ada informasi apa pun dari DPR, baik tentang interpelasi ataupun status semburan Lapindo. “Jadi, saya tidak bisa berkomentar apa-apa, selain menunggu keputusan dewan yang akan diberikan ke pemerintah,” katanya.

Perwakilan pihak PT Lapindo Brantas yang juga juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa, mengatakan, sebaiknya semua pihak, baik DPR maupun masyarakat, melihat dan mengapresiasi apa yang sudah dilakukan dan diberikan Lapindo.

“Sampai saat ini pengadilan tidak pernah menyatakan Lapindo bersalah,” terang Lalu kepada koran ini kemarin. Namun, katanya, Lapindo terus bekerja sesuai Perpres 14 yang ditetapkan pemerintah.

“Lapindo tetap menjalankan instruksi dan peraturan pemerintah. Ini harus diapresiasi publik,” tambah staf khusus Menko Kesra itu.

Aksi Warga

Sementara itu, warga Siring Barat yang menjadi korban lumpur kemarin tetap berdemo. Aksi tersebut dilakukan di trotoar Kelurahan Siring Barat, Kecamatan Porong. Mereka menuntut dimasukkan dalam peta berdampak yang harus mendapat ganti rugi. Alasannya, di kawasan mereka sering muncul semburan gas yang mudah terbakar.

Puluhan ibu-ibu tampak duduk di tepi Jl Raya Porong. Mereka berdoa yang merupakan bagian dari bacaan istighotsah. Harapan mereka hanya satu, yakni masuk dalam peta terdampak.

Suasana siang kemarin relatif tenang dibanding sebelumnya. Hal itu disebabkan satu tuntutan mereka, yaitu penolakan status semburan lumpur sebagai bencana alam, sudah dipenuhi. Saat ini tinggal permintaan masuk peta terdampak yang belum terkabulkan.

Aksi doa bersama itu terhenti ketika Lutfi Abdillah, salah seorang warga yang baru pulang dari Jakarta, berorasi di depan mereka. Dia mengatakan satu tuntutan sudah dipenuhi, tapi perjuangan terus berlanjut. Sebab, tuntutan masuk peta terdampak belum ada kepastian. “Itu tuntutan yang masih diperjuangkan, ” katanya.

Lutfi menyampaikan pesan rekan-rekan di Jakarta agar warga tetap tenang. Sebab, pagi kemarin, perwakilan mereka sedang diterima beberapa menteri. Mereka adalah Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Dalam pertemuan itu dibahas status dan nasib mereka. “Jadi, untuk sementara kita tunggu informasi dari teman-teman di Jakarta,” teriaknya. Usai mendengar penjelasan itu, warga melanjutkan istighotsah-nya. (riq/tom/yun/pri/tof)

Satu Balasan ke SBY Tunggu DPR, Korban Tetap Demo

  1. hati nurani mengatakan:

    lho kan sudah jelas. di dalam kitab: “kehancuran umat ( bangsa ) karena para pemimpin dan alim ulamanya tidak amanah dan ahlinya”. Jadi memang salah satu tanda-tanda yang diprediksi oleh salah satu media asing, bangsa ini akan tidak bertahan sampai abad 22. Sudah jelas yang salah malah benar, yang benar malah salah. Memang tidak ada spirit untuk bertahan dan mempertahankan ideologi dan identitas. Semua karena uang dan bisnis yang “terlalu”.Amit-amit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: