Berlomba-lomba Membangun di Dekat Lumpur

Perumahan KOMPAS Senin, 17 Maret 2008 | 17:00 WIBTeriknya matahari Sidoarjo siang itu tidak mengendurkan semangat Cholidin untuk mengaduk semen dan pasir di muka sebuah bangunan yang baru setengah jadi. Cucuran keringat pun terlihat deras membasahi tubuh kurusnya itu.

Dibantu tiga tukang, sejak 10 hari yang lalu Cholidin membangun rumah di atas tanah miliknya seluas 10,5 meter (m) x 4,7 m yang terletak di RT 6/RW 7, Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.

Rencananya, setelah selesai, rumah itu akan ditempatinya bersama istri dan kedua anaknya. “Sejak menikah 10 tahun lalu saya tinggal di rumah kontrakan, sekarang cita-cita untuk punya rumah sendiri hampir terwujud,” ujarnya.

Cholidin pun seolah tak ambil pusing mengenai fakta bahwa Desa Besuki, bersama Desa Pejarakan dan Kedungcangkring, telah diputuskan pemerintah pusat akan digusur untuk keperluan perluasan tanggul dan karenanya akan mendapat ganti rugi.

Nilai ganti ruginya pun sama dengan yang diberikan Lapindo Brantas Inc kepada korban lumpur sebelumnya, yakni harga sawah Rp 120.000 per m2, tanah kering Rp 1 juta per m2, dan bangunan Rp 1,5 juta per m2. Sejak keputusan tersebut, banyak warga yang tiba- tiba membangun rumah di tiga desa itu. Diduga kuat motif tindakan warga itu untuk meraih nilai ganti rugi yang besar.

“Saya sudah merencanakan membangun rumah ini sejak enam tahun lalu, cuma uangnya baru bisa terkumpul sekarang,” ungkap Cholidin. Ia pun menolak jika hal itu disangkutpautkan dengan ganti rugi yang akan diberikan pemerintah.

“Kalau bisa memilih, saya sih penginnya tidak usah ada ganti rugi saja, karena nyari rumah sekarang susah. Saya membangun rumah ini untuk ditinggali bersama keluarga, kalau bisa untuk selama- lamanya,” ucapnya.

Beberapa warga di Desa Pejarakan bahkan membangun rumah di tanah mereka yang berdempetan dengan tanggul lumpur. Padahal, kondisi lingkungan di situ sangat tidak memungkinkan untuk ditinggali mengingat di sekitarnya banyak bermunculan gelembung gas dan kondisi air tanah yang telah keruh.

Tak ambil pusing

Salah satunya adalah Ridwan yang sejak 11 hari lalu membangun rumah yang hanya berjarak sekitar 100 m dari tanggul. Ia pun menolak jika hal itu dikatakan untuk mendapatkan ganti rugi yang lebih besar. “Saya sudah mulai membangun rumah ini sebelum ada semburan lumpur,” jelasnya. Namun, pembangunan kala itu terhenti karena luberan lumpur sempat menggenangi tanahnya itu dan baru sempat dilanjutkan saat ini.

Ia pun mengaku tidak ambil pusing soal urusan ganti rugi. “Diganti atau tidak saya pasrah, yang penting sekarang saya menyiapkan tempat untuk tinggal bersama keluarga dulu,” tuturnya. Keinginan membangun rumah itu dilakukan karena selama ini Ridwan masih tinggal bersama mertuanya.

Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo telah memutuskan untuk tidak akan mengganti rugi bangunan yang dibangun setelah keputusan pemerintah mengganti rugi tiga desa yang terkena dampak lumpur pada 27 Februari lalu. “Telah diputuskan bahwa data yang dipakai sebagai dasar ganti rugi akan menggunakan data rona awal wilayah yang dimiliki BP BPLS,” ujar Kepala Humas BP BPLS Achmad Zulkarnain.

Artinya, bangunan yang dibangun setelah 27 Februari tidak akan diperhitungkan dalam kategori ganti rugi bangunan. Achmad pun mengimbau kepada warga yang melakukan pembangunan dengan motivasi untuk mendapat ganti rugi yang besar, agar segera menghentikan pembangunan tersebut demi menghindari kerugian yang lebih banyak. (A13) Foto: 1 Mohamad Final Daeng Dua pekerja sedang beristirahat di depan sebuah rumah yang sedang dalam pembangunan di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Minggu (16/3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: