Boleh Demo, asal Tidak Tutup Jalan

Senin, 24 Mar 2008 RADAR SUDOARJO
HARI ini warga sembilan desa di luar peta terdampak berencana berunjuk rasa di kawasan bekas jalan tol. Mereka akan menutup Jl Raya Porong, tetapi tidak mengganggu jalur alternatif. Warga menuntut desa mereka masuk peta terdampak.

Sembilan desa itu adalah Kelurahan Mindi, Jatirejo Barat, Siring (Barat), Gedang, Glagaharum, dan Plumbon, Kecamatan Porong. Lalu, Desa Kalitengah dan Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin dan Desa Keboguyang, Kecamatan Jabon.

Bambang Kuswanto, perwakilan warga, menyatakan tidak akan mengganggu kepentingan pengguna jalan. Massa yang diperkirakan mencapai 3 ribu orang hanya memblokade Jl Raya Porong.

Kabag Ops Polres Sidoarjo AKP Leonardus Simarmata meminta warga tidak memblokade jalan. Sebab, tindakan itu mengganggu kepentingan umum.

Hal senada disampaikan Kapolres Sidoarjo AKBP Adnas. Dia mengimbau penyampaian aspirasi itu dilakukan secara tertib. Polisi akan melayani dengan pengamanan kondusif. (riq/roz)

3 Balasan ke Boleh Demo, asal Tidak Tutup Jalan

  1. tika mengatakan:

    Isu Sara Warnai Pemilihan Rektor Untar
    Kamis, 17 Juli 2008, 19:16:42 WIB

    Laporan: Zul Sikumbang

    Jakarta, myRMnews. Adanya isu etnis (SARA) dalam pemilihan rektor Universitas Tarumanegara (Untar) berimbas pada Senat Universitas. Sebab senat yang mendukung salah satu calon kandidat rektor Untar baru akan dibubarkan oleh rektor lama yang sudah masa habis jabatannya.

    “Akibatnya, Untar sampai sekarang belum memiliki rektor baru,” kata salah seorang guru besar Untar yang tak mau disebut namanya ketika dihubungi oleh myRMNews, Jakarta, Kamis (17/7).

    Seperti diketahui, salah satu tugas senat adalah memilih rektor yang akan memimpin sebuah universitas. Tapi karena ada isu SARA, akibatnya, Untar mengalami kevakuman dan belum ada rektor baru. Untuk pemilihan rektor baru Untar, ada dua kandidat yang maju, yaitu Prof Sofia W Alisjahbana yang dicalonkan oleh senat. Kandidat lainnya, Dr Monthy diusung oleh pihak Yayasan Untar.

    “Prof Sofia didukung oleh tujuh guru besar yang merupakan anggota senat. Sedangkan Yayasan Untar bersikukuh menetapkan Monthy. Wakil Ketua Yayasan tidak menginginkan kandidat yang diusung oleh senat. Kan ini bertentangan,” kata guru besar tersebut.

    Karena yayasan bersikukuh untuk menetapkan Monthy sebagai rektor baru, maka rektor lama berusaha membubarkan senat yang belum habis waktunya.

    “Kita menghargai kalau yayasan mengusung seorang calon rektor. Tapi yayasan harus objektif juga lah,” ungkap guru besar tersebut.

    Ketika ditanya, isu SARA yang mewarnai pemilihan rektor Untar, guru besar tersebut enggan berkomentar.

    “Nggak perlulah saya berkomentar,” elaknya. [zul]

    http://myrmnews.com/situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=61157

  2. nh wibowo mengatakan:

    Hal senada disampaikan Kapolres Sidoarjo AKBP Adnas. Dia mengimbau penyampaian aspirasi itu dilakukan secara tertib. Polisi akan melayani dengan pengamanan kondusif. (riq/roz)

    ..kayaknya cuman orang bloon deh, yg nganggap ini ‘penyampaian aspirasi’
    lha wong jelas2 kita MENUNTUT dan MEMPERJUANGKAN hak atas kelayakkan hidup yg sudah terrenggut.. kok di bilang aspirasi..

  3. korban lapindo mengatakan:

    Ma’af pak polisi,

    Tujuan kami demo adalah agar aspirasi yang kami sampaikan didengar DAN DIPENUHI oleh pihak2 yang berwenang.

    Masalahnya, sudah berapa lama bencana ini berlangsung, dan sudah tidak terbilang upaya apa saja yang sudah pernah kami lakukan. Hasilnya, NOL BESAR!
    Kalau hanya agar bisa sampai, selembar surat tuntutan pun cukup, pak. Masalahnya, kami sudah tidak punya apa2. Dan kami sudah melakukan berbagai macam cara agar di dengar dan dipenuhi hak kami. Lewat aparat desa, camat, bupati, Gubernur, bahkan langsung ke presiden, tetapi tidak digubris. Pun wakil rakyat yang seharusnya mewakili dan memperjuangkan hak kami, tidak bisa berbuat banyak.

    Kami ini tidak sedang meminta-minta belas kasihan, pak. Kami ini sedang menuntut hak kami yang sudah dirampas. HAK KAMI lho pak! Kami ini bukan pencuri, bukan gelandangan, bukan perusuh. Lha kalau dengan cara baik2 tidak pernah digubris ya terpaksa tho, agar mereka memperhatikan tuntutan kami.

    Lho, tapi kok maksa?

    Lha, kalau pak polisi rumahnya tiba-tiba tenggelam oleh lumpur, harta benda yang dikumpulkan bertahun2 tiba2 lenyap, desa tempat tinggal dengan damai tiba-tiba porak-poranda, kehidupan yang tadinya tenang tiba2 hancur berantakan, APA SAMPEYAN YA GAK BAKAL MARAH? Dan kalau pihak yang menyebabkan ini semua, ternyata tenang2 saja, pemerintah (termasuk Pak Polisi!) yang seharusnya membela dan melindungi kami, malah menyudutkan kami yang menuntut hak kami itu dan terkesan membela mereka, APA YA GAK BIKIN ORANG JADI MAKSA???

    Makanya, kami terpaksa harus menutup jalan dan ‘mengganggu’ ketertiban. Soalnya, hanya dengan cara itu suara kami bisa didengar dan tuntutan kami bisa dipenuhi.

    Hehehe, kecuali kalau Pak Polisi mau membela hak kami, dan menuntut dengan tegas yang menyebabkan semua ini, dan agar mereka segera memenuhi hak kami. Maka, jangankan menutup jalan, demo aja kami males pak (siapa juga yang seneng demo pak, panas, gak enak, pegel). Mendingan di rumah saja, nunggu kabarnya dari pak Polisi dan aparat penegak hukum.

    Tapi kan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: