Pakar: Pemicu Semburan Lumpur Lapindo Masih Diperdebatkan

19/03/08 15:24Yogyakarta (ANTARA News) – Pemicu munculnya semburan lumpur panas di Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, masih menjadi perdebatan para pakar, meski Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan kasus itu sebagai bencana alam. “Kalangan pakar masih beradu argumentasi mengenai penyebab dan pemicu munculnya semburan lumpur Lapindo, dan bahkan di kalangan pakar sendiri ada dua `kubu` yang beda pendapat,” kata pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Agus Hendratno MSc di Yogyakarta, Rabu.

Ia mengatakan, mereka yang pro adalah yang sependapat dengan BPPT bahwa pemicunya adalah gempa bumi tektonik di Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei 2006, sedangkan mereka yang kontra berpendapat pemicunya adalah kesalahan teknis dalam proses pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas.

Kata dia, dalam suatu diskusi mengenai lumpur Lapindo yang dihadiri sejumlah pakar, belum lama ini, mengemuka pemahaman tentang penyebab bencana alam dan bencana manusia.

Bencana alam yang disebabkan oleh alam, bencana alam akibat ulah manusia, bencana manusia yang disebabkan oleh manusia, dan bencana manusia yang terjadi karena alam.

Menurut Agus, apa yang terjadi di Sidoarjo dengan semburan lumpur panasnya itu adalah alam yang `diutak-atik` manusia sehingga menyebabkan bencana alam.

“Kesimpulan yang mengatakan bencana lumpur panas di Sidoarjo merupakan bencana alam karena alam, kurang tepat,” katanya.

Kata dia, jika dikatakan munculnya semburan lumpur panas di Sidoarjo terkait dengan gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei 2006, bisa saja pendapat itu benar dengan dasar dari hasil penelitian yang didukung data yang akurat.

“Namun, sebagian pakar mengatakan pemicunya adalah kesalahan teknis dalam pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas,” kata Agus Hendratno yang pernah tergabung dalam tim ahli yang melakukan penelitian di lokasi semburan lumpur pada awal kemunculan semburan lumpur panas tersebut.

BPPT belum lama ini menyatakan bahwa kasus lumpur Lapindo termasuk dalam kategori bencana alam. Pernyataan tersebut berdasarkan temuan terbaru yang menguatkan laporan dari tim bentukan DPR-RI bahwa kasus lumpur Lapindo tergolong bencana alam.

Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman juga mengatakan semburan lumpur panas di Sidoarjo itu terkait erat dengan gempa bumi tektonik di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.

Gempa bumi tektonik terjadi di Yogyakarta 27 Mei 2006, dan lumpur Lapindo mulai menyembur pada 29 Mei 2006.

Gempa tersebut, menurut Kusmayanto, mempengaruhi produktivitas fluida di sumur-sumur sekitar Banjar Panji-1.

“Lumpur pada kedalaman 1.000 – 2.000 meter di bawah permukaan tanah bisa mencapai permukaan akibat peristiwa alam seperti aktivitas tektonik dan aspek-aspek geologi yang terkait dengan kondisi geohidrologi dan geothermal,” katanya.(*)

COPYRIGHT © 2008

8 Balasan ke Pakar: Pemicu Semburan Lumpur Lapindo Masih Diperdebatkan

  1. korbanlapindo mengatakan:

    Mas ucup, sesama warga sidoarjo, sy harap sampeyan bersedia bekerjasama dengan sy dan bbrp kawan untuk membantu menangani korban lumpur maupun semburan lumpur itu sendiri. kontak saya di korban.lapindo@gmail.com atau blog http://www.korbanlapindo.blogspot.com
    sy tunggu

  2. ucup mengatakan:

    Guys,
    Semua orang sudah tahulah kalau kasus ini (semburan lumpur lapindo) dah dipolitisir sehingga sulit menilai siapa yg kontra Bakrie cs, dan siapa yang pura2 mendukung para korban dan siapa yg mengail di air keruh, sehingga dari ahli geologi sampai degan ahli pengeboran banyak yg pro dan kontra terhadap sumber pemicu apakah kesalahan pengeboran atau karena bencana alam. Terlepas dari hal tersebut kami warga sidorajo menanti dengan cemas dan ingin mendapat jaminan kalau semburan lumpur dan dampak yg timbul dari sembutran tersebut dapat dialokasikan tidak menyebar ke daerah lain sehingga kami dapat hidup dan berusaha dengan tenang. Untuk hal tersebut kami sendiri ingin cepat mendapatkan kepastian hukum sebagai acuan antisipasi langkah selanjutnya penanganan luapan lumpur yg permanen.

  3. Agus Hendratno mengatakan:

    Yth. Pembaca, saya tidak jadi corong siapa-siapa. Memang saya pernah dalam tim-nya Bp. RUDI RUBIANDINI (ITB) yang dalam investigasinya sejak awal bersama dengan Tim UGM Jogja, dan konsisten pada kesimpulannya bahwa semburan lumpur itu bagian dari KEGAGALAN TEKNOLOGI PENCARIAN MIGAS di Porong. Kalau kemudian ada yang berpendapat itu sebagai BENCANA ALAM, maka saya tambahkan saja,, BENCANA ALAM karena MANUSIA (Perusahaan migas). Karena ada BENCANA ALAM karena ALAM. Itu saja…dan mohon maaf…, bisa jadi wartawan ANTARA News kurang tepat edit-nya terhadap rangkuman diskusi yang barusaja terjadi di Surabaya 28 Februari 2008 lalu. Matur nuwun…

    agushendratno di Jogjakarta

  4. jd mengatakan:

    Saya itu ndak corong siapa2 kok mas. Corongnya pak abu itu udah terlalu amat sangat banyak tanpa harus mbayar saya:)

  5. Si Thoon mengatakan:

    Terlepas dari bencana alam atau bukan, seharusnya ada upaya jelas dari para “pakar” atau para “ahli” untuk berusaha menghentikan semburan.
    Sudah tepatkah kalau “pakar” dan “ahli” mengibarkan bendera putih tanda menyerah, dan membiarkan semburan sampai berhenti sendiri puluhan tahun kemudian?

    Ini ada alternative solusi penyumbatan “versi wong bodoh/thoon” :
    – Asumsi sumber semburan antara 4241 feet (posisi fish tertinggal) sampai kedalaman akhir lubang pada 9.297 feet
    – Buat relief well sampai ke kedalaman sekitar 6000 feet (kurang lebih sepertiga dari posisi tertinggalnya fish sampai ke dasar lubang)
    – Masukan “bahan peledak” dengan kekuatan yang telah diperhitungkan mampu melawan tekanan dari bawah, “bahan peledak” dapat dikontrol peledakannya dari atas. Jangan dimasukan “kill mud” karena gerowongan dilapisan bawah sudah sangat besar sekarang, sepertinya “kill mud” kurang efektif untuk kondisi sekarang.
    – Ledakan yang timbul diharapkan dapat menekan presure yang timbul dari bawah dan akan meruntuhkan lapisan2 di atasnya, akibat dari runtuhan tersebut diharapkan akan menutup rekahan2 yang timbul dan sudah mengalirkan lumpur.
    – Atau dapat juga “ledakan” dibuat melalui beberapa lubang pada kedalaman yang ber variasi pada lokasi disekitar lubang sumur Banjar Panji 1, prinsipnya untuk menutup lubang digunakan runtuhan2 dari lapisan di atasnya.
    – Bukankah kalau semburan didiamkan selama puluhan tahun, berhentinya semburan juga karena semakin berkurangnya tekanan dari bawah dan adanya runtuhan dari lapisan atas yang akan menutup sumber semburan; usulan “ngawur” ini diambil dari asumsi “asal-asalan” tsb tetapi prosesnya agak dipercepat, demi mengurangi waktu penderitaan para korban lumpur.
    – Gambling? mungkin saja!, menurutku semua yang berkaitan dengan pengeboran itu bersifat “gambling” , buktinya semburan lumpur bisa timbul. Bukankah tidak ada satupun manusia yang mengetahui secara “tepat dan benar” apa yang ada di lapisan bawah permukaan walaupun sudah banyak peralatan canggih sekarang ini. Bagi yang berkeberatan dengan asumsi ini, tolong jawab pertanyaan sederhana, pada kedalaman dan koordinat berapa pastinya sumber dari semburan?

    Matur nuwun,
    Buana-service@indo.net.id

  6. korban lapindo mengatakan:

    Weleh…weleh…

    ternyata mas jd ini humasnya Bakrie Grup toh
    pantesan aja komentarnya di berbagai tulisan intinya memang memastikan agar pendapat pemerintah yang sama dg pendapatnya lapindo yang sama dengan pendapatnya Bakrie grup, diterima oleh korban.
    masalahnya mas jd, kami tidak segoblok itu. kalau anda berani, ayo adu argumen dan data dengan saya, korbanlapindo.

    Ngomong-ngomong, sampeyan dibayar berapa sih?

    korbanlapindo.blogspot.com

  7. jd mengatakan:

    Lha, kalau kesimpulan keluar dari mulut menteri, harusnya itu diambil sebagai kesimpulan resmi pemerintah. Konsekwensi logis dari kesimpulan menteri ini yang segera harus diterima oleh masyarakat Porong. Yang pertama masyarakat harus terbiasa dengan perubahan terminologi dari ganti rugi menjadi bantuan bencana alam. Rentetan dari konsekwensi ini, jumlahnya harusnya sebanding dengan bantuan bencana alam lainnya seperti: tsunami di Aceh dan Pangandaran, korban gempa, korban banjir dan banyak lagi bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini yang kalau di-urut urut banyak yang disebabkan oleh keserangkahan manusia yang terlalu tangguh untuk dituntut pertanggung jawabannya. Selanjutnya, biar sekalian adil, Lapindo yang selama ini sudah begitu bermurah hati menerima tanggung jawab harus segera dibebaskan dari segala tuntutan malah harusnya semua dana yang selama ini dibebankan kepada mereka diganti. Untuk selanjutnya tanggung jawab bantuan bencana alam harusnya diambil alih pemerintah dan tentunya masyarakat porong harus memiliki kesabaran tinggi menunggu aliran dana yang berbelit dan melingkar ke-mana2. Kalau ratusan tahun nanti (mana tau bangsa ini sudah mulai mengenal peradaban) ternyata terungkap bahwa ini man made disaster, tokh bapak menteri dan para ahlinya serta bapak-bapak DPR kita, dan para petinggi Lapindo yang selama ini sudah sangat co-operative dalam mensupply dan menggaji orang bayaran untuk mengumpulkan data yang selama ini menjadi sumber perdebatan, sudah menikmati keabadian mereka di sorga sana.

  8. ucup mengatakan:

    pakar yang mana ya…?, pakar politik ?, pakar geologi, pakar pengeboran or pakar sosial ? bagi kita yang orang awam yang penting cepat putuskan bila itu merupakan syarat untuk penetapan hukum stutus lumpur lapindo. Korban lumpur sudah begitu banyak.. dan sudah lebih dua tahun menunggu keadilan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: