Dicari, Penguat Keramik dari Lumpur Porong

RADAR SIDOARJO Senin, 07 Apr 2008

SIDOARJO – Tangan dingin Trikardiana, 55, tergoda oleh luapan lumpur yang tumpah ruah di Porong. Perajin keramik yang sudah mengekspor ke berbagai negara itu mencoba keramik dari lumpur Porong. “Sayang, masih cepat retak,” kata Diana -panggilan Trikardiana.

Berkreasi dan berinovasi merupakan bagian hidup wanita pengusaha yang tinggal di Perumahan Griya Permata Hijau Waru, Kecamatan Candi, tersebut. Tangannya “gatal” melihat lumpur Porong yang keluar dari perut bumi hingga puluhan ribu meter kubik setiap hari. “Saya mencoba-coba membuatnya jadi berbagai bentuk keramik,” tutur Diana yang kini punya ruang pamer di Malang dan Sidoarjo itu.

Dia mencetak lumpur Porong jadi interior rumah dan suvenir. Misalnya, lampu dan hiasan meja maupun suvenir pernikahan. Saat pertama uji coba, ibu satu putra itu mengambil dua ember lumpur. Selama dua hari, lumpur diproses seperti pengerjaan keramik. Mulai mencetak, membakar, dan melukis. Hasil dari lumpur tersebut terlihat kuning keputihan.

“Setelah jadi dan dibiarkan seminggu, keramik itu (dari lumpur, Red) retak,” ungkap perajin yang mengirimkan produknya ke Malaysia, Kanada, dan Uni Emirat Arab itu.

Umumnya, tambah Diana, lumpur bahan keramik bertekstur padat. Namun, tekstur lumpur Porong luwes dan elastis. “Jika sudah jadi keramik, tidak awet. Mudah retak dan pecah,” tegasnya.

Hingga kini, Diana mengatakan terus mencari tambahan bahan kimia yang bisa dicampur sebagai bahan dasar keramik. Misalnya, kaolin, kuarsa, velspaad, dan ballclay. Dia berpikir pasti ada bahan yang bisa dicampur dengan lumpur Porong agar kuat jika jadi keramik.

Saat ini, keramik dari lumpur Porong belum dilepas ke pasar. “Kualitasnya masih jelek. Saya terus mencoba memperbaiki teksturnya,” ucap Diana yang beromzet sekitar Rp 20 juta per bulan itu. (nuq/roz)

Iklan

2 Responses to Dicari, Penguat Keramik dari Lumpur Porong

  1. keramik88 berkata:

    memang mestinya ditambahkan campuran lain seperti feldspar, kaolin dan silika dan pemakaian lumpur lapindo dikurangi,saya belum tahu seberapa liat lumpur tsb. Kalau pembakarannya sekitar 1200C, mungkin feldsparnya sekitar 10%, silika sekitar 15%, kaolin sekitar 20%, lumpur lapindo sekitar 25%, kalau ada grog (pecahan keramik yang digiring) ditambahkan. tetapi kalau setelah bakar retak seribu atau crack, mestinya tiap bahan dianalisa. supaya bisa pas. semoga bisa membantu.
    dari: keramik88.wordpress.com

  2. rizal berkata:

    saya mau jual lumpur bekas pengolahan emas yg katanya bisa
    dijadikan bahan keramik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: