Semburan Gas di Indramayu Belum Selesai Dikaji

Jumat, 2 Mei 2008 | 19:57 WIB

INDRAMAYU, JUMAT – Semburan gas yang terjadi di lahan persawahan di Blok Bendungan Desa Dukuh Jeruk, Kecamatan Karangampel, Indramayu sejak sebulan lalu, belum selesai dikaji penyebab serta dampaknya yang mungkin dapat terjadi. Namun, dari hasil penelitian sementara menyatakan, kandungan gas yang disemburkan itu tidak membahayakan.

Menurut Muntaha (60-an), salah seorang petani yang lahan sawahnya menyemburkan gas, warga sudah tidak panik seperti dulu lagi. Sebab, sejak dilaporkan kepada aparat desa, PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Region Jawa telah berkali-kali datang memeriksa ratusan titik semburan tersebut.

Warga dan para petani pemilik lahan sawah yang menyemburkan gas menjadi lebih tenang, karena pihak Pertamina maupun aparat desa menginformasikan bahwa semburan gas tidak berbahaya. Oleh sebab itu, mereka tetap menggarap sawahnya, meski jumlah titik semburan semakin banyak dan membesar. Bahkan, aktivitas pertanian, seperti membajak dan menyemai berjalan seperti biasa.

Akan tetapi, hingga hari ini, kata Humas PT Pertamina EP Bambang Budi, Pertamina belum memiliki hasil kajian terhadap semburan gas yang terjadi di lahan persawahan itu. “Hasil kajian masih belum selesai. Kajian yang dilakukan adalah meneliti kadar gas dan unsur-unsur lainnya,” ujar Bambang.

Di lokasi semburan, tampak beberapa peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menguji kadar, jenis, serta tekanan gas yang ditimbulkan dari setiap titik semburan. Penyelidik Bumi Madya PVMBG Akhmad Zaenuddin menjelaskan, mereka mengkaji titik-titik semburan tersebut menggunakan alat sensor multiwarm, yang mendeteksi empat jenis gas, yiatu CH4, CO2, CO, dan H2S.

Alat sensor tersebut akan memperlihatkan tekanan gas yang mudah terbakar atau tidak dengan indikator low explosive limit atau LEL. “Hasil sementara yang kita peroleh di lapangan, jenis gas yang menyembur hanya satu, yaitu CH4 atau metana. Rata-rata tekanannya di tiap titik semburan masih di bawah batas ambang. Jadi, sampai saat ini belum berbahaya,” ujar Zaenuddin.

Namun, ada satu titik semburan yang tekanan gas metananya melewati batas ambang, dan punya risiko membakar apabila disulut api tepat di atas titik semburan. Selebihnya, relatif tidak berbahaya, dan tekanan semburan gasnya lemah. Bahkan, tidak ada perubahan suhu dan bau yang terlalu menyengat.

Ganti rugi

Muntaha menambahkan, Pertamina EP Region Jawa berencana memberi ganti rugi kepada petani yang lahannya menyemburkan gas. Nilai ganti ruginya seharga satu ton gabah kering panen (GKP) per 100 bata dalam satu kali masa tanam. Apabila mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP), yaitu Rp 2.200, berarti per 100 bata nilai ganti ruginya sebesar Rp 2.200.000. “Katanya, ganti rugi yang akan dibayarkan Pertamina adalah per musim tanam. Kalau masih terus menyembur, ganti rugi akan terus dibayarkan. Tetapi soal ganti rugi itu masih belum pasti rumusannya,” kata Muntah.

Kompensasi ganti rugi itu diakui Bambang sebagai bentuk kepedulian Pertamina terhadap masyarakat. Bentuknya adalah sewa lahan selama satu musim tanam dengan tujuan mempermudah Pertamina melakukan penelitian dan mengambil tindakan selanjutnya.

THT
Sumber : KOMPAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: