Nyembur Lagi di Siring Barat

RADAR SIDOARJO Kamis, 08 Mei 2008

SIDOARJO – Siring Barat kian resah. Semburan baru (bubble) kemarin kembali muncul di tengah permukiman, tepatnya RT 12 RW 2, Siring Barat, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong. Bubble yang menyembur setinggi 50 sentimeter itu mengeluarkan pasir dan gas. Amankah?

Ustman, 45, salah seorang warga, mengatakan bahwa semburan itu sebenarnya sudah terlihat saat masih berupa gelembung kecil sekitar dua bulan lalu. Namun, Kamis (1/5), semburan itu membesar. Semburan tersebut langsung menyala ketika disulut dengan api. “Kami langsung lapor ke BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Red),” ujarnya.

Menurut Usman, selama ini warga sudah resah dengan munculnya semburan-semburan lumpur. Sebagian warga tidak berani tidur di rumah karena waswas. Sebagian berjaga-jaga untuk antisipasi kondisi. Staf Humas BPLS Ahmad Khusairi mengatakan sedang berkoordinasi dengan pihak yang terkait untuk pengamanan kawasan tersebut. “Tujuannya, menjaga keselamatan warga,” kata dia.

Berdasar laporan tim pemantau gas, PT Fergaco, semburan baru di Siring Barat memiliki sifat dingin. Gas yang dikeluarkan ialah hidrocarbon (HC) dengan kadar 35 sampai 67 persen. Jumat pagi, kadar gas itu mulai turun jadi hanya 10 persen. “Menurun karena terjangan angin besar,” ucap Dody Ermawan, anggota tim Fergaco yang kembali mengukur, kemarin (2/5) pagi. Bupati Win Hendrarso datang ke lokasi semburan baru dan menemui warga. Dia mengunjungi pabrik rokok, pabrik es, dan gorong-gorong yang juga ditempati semburan. Dia mendengarkan kekhawatiran warga. “Saya akan mengoordinasikan aspirasi mereka,” katanya.

Win menyatakan akan berusaha mempercepat rekomendasi untuk mengambil tindakan preventif bagi warga. “Paling tidak, membuat kehidupan sosial warga Siring nyaman,” tambah dia.

Sementara itu, puluhan pengungsi di Pasar Porong Baru (PPB) mulai mengemis masal kemarin. Mereka berjajar di Jl Raya Porong dari jalur Pasuruan-Sidoarjo. Sambil membawa kardus dan poster, mereka meminta-minta kepada truk dan kendaraan yang melintasi jalur tersebut. Mereka beralasan tidak memiliki uang untuk makan. “Cuma uang hasil ngemis ini kekayaan kami,” ujar salah seorang warga yang mengemis uang kepada sopir truk.

Menurut wakil pengungsi, Sunarto, warga mengemis karena terpaksa. Mereka tidak memiliki uang untuk membeli makan. Sejak bantuan makan dihentikan, warga hanya makan nasi aking yang dikumpulkan dari sisa nasi sebelumnya. “Supaya bisa makan, mereka terpaksa mengemis,” kata Sunarto. (nuq/riq/roz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: