Murid Korban Lumpur Ujian Lesehan

RADAR SIDOARJO Rabu, 14 Mei 2008

Belum Tahu ke Mana setelah Lulus
SIDOARJO – Puluhan siswa MI Darul Ulum, Desa Besuki, Kecamatan Jabon, terpaksa mengikuti ujian nasional dengan mengungsi ke rumah warga. Ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) itu diungsikan karena sekolah mereka masih terkena lumpur. Mereka tetap ingin lulus.

Ada 30 murid yang mengikuti ujian di rumah warga setempat. Mereka duduk lesehan di lantai, memanjang dari teras, ruang tamu, hingga ruang tengah rumah. Sebagian kepanasan sehingga harus menggunakan kipas angin. Untung lantai rumah warga sudah dikeramik sehingga seragam putih-putih anak-anak tersebut tidak kotor.

Murid-murid yang mengikuti ujian di tempat darurat itu rata-rata masih tinggal di tenda-tenda pengungsian bekas jalan tol Porong-Gempol Kilometer 40. Selama berada di tenda, mereka sulit belajar dengan tenang.

Kepala Sekolah MI Darul Ulum Iil Umrotus Mustaidah mengatakan, madrasah tersebut berjuang agar siswa-siswa bisa terus melanjutkan sekolah meski jadi korban lumpur. Selama ini, siswa belajar di rumah warga yang tidak terendam lumpur. Menjelang UASBN, belajar kelompok itu semakin digiatkan agar efektif.

“Kami upayakan belajar kelompok di rumah siswa yang tidak terendam lumpur. Meski kondisinya seperti ini, kami berharap semua siswa lulus dengan nilai memuaskan,” tegas Umrotus.

Sebenarya, lanjut dia, beberapa ruang sekolah masih bisa ditempati. Namun, karena tidak nyaman dan masih terdapat endapan lumpur, sekolah memindahkan tempat UASBN ke rumah warga. Agar muat 30 siswa, MI Darul Ulum meminjam dua rumah warga.

Meski ujian dalam kondisi darurat, 30 siswa menyatakan ingin mendapatkan nilai baik. “Saya terpaksa belajar di tenda. Kadang juga belajar kelompok di rumah teman,” ujar Anita Indayani, salah seorang siswa yang ikut UASBN.

Anita mengatakan belum tahu akan melanjutkan sekolah ke mana. Sebab, hal itu bergantung ke mana orang tuanya akan pindah. “Nurut bapak dan ibu saya, mau disekolahkan di mana,” tuturnya setelah mengikuti UASBN.

Umrotus menambahkan, saat ini jumlah siswa MI Darul Ulum 190 anak. Namun, dia pesimistis saat pendaftaran siswa baru nanti bisa menjaring siswa lagi. Sebab, saat ini warga masih menanti uang ganti rugi setelah Besuki dimasukkan peta yang bakal mendapat ganti rugi. “Tapi, kami tetap menjalankan tugas mengajar sebaik-baiknya. Masih ada ratusan siswa,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo melakukan inspeksi mendadak (sidak) UASBN di sejumlah sekolah di Gresik kemarin (13/5). Sidak dilakukan, antara lain, di SDN Sidokumpul 2 Gresik Jl J.A. Suprapto, SDN Petrokimia Gresik Jl Ahmad Yani, dan MI Miftahul Ulum Jl Gubernur Suryo.

Imam didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jatim Rasiyo. Dalam sidak kemarin, Imam mendapatkan masukan dari SDN Sidokumpul 2 Gresik bahwa ada seorang siswa yang nilainya jeblok, yakni 4,25. Padahal, rata-rata siswa lain meraih 7,00. Sekolah kemudian kasihan untuk menentukan kelulusan dengan standar 7,00.

Kepala SDN Sidokumpul 2 Gresik Haniah mengatakan, peserta UASBN di SDN Sidokumpul 2 Gresik sebanyak 112 siswa. “Kalau satu siswa itu dikeluarkan dari SD sini, saya berani menargetkan nilai standar kelulusan 7,00,” tegas Haniah. “Kasihan kalau tidak lulus, nanti orang tuanya protes,” ujar Haniah.

Selesai sidak, Imam Utomo mengungkapkan, standar nilai kelulusan berbeda di masing-masing SD. Sebab, memang tidak ada patokan standar yang berlaku secara nasional. “Hasil sidak ini akan kami evaluasi. Kami akan mencoba mengusulkan adanya standardisasi nilai kelulusan untuk tahun depan,” kata Imam. (nuq/yad/roz)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: