Polisi Kukuh, Semburan Lumpur Akibat Kelalaian

[ Sabtu, 14 Juni 2008 ]

Polisi Kukuh, Semburan Lumpur Akibat Kelalaian
JAKARTA – Belum dimulainya penuntutan kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo dikeluhkan Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Mantan Kapolres Sidoarjo itu mengatakan, Polda Jatim saat ini menghadapi kendala karena kejaksaan berulang-ulang mengembalikan berkas penyidikan milik para tersangka. Kapolri berharap, ada juri yang adil dalam proses itu.

”Mekanisme penyerahan berkas ke kejaksaan harus dibatasi. Kami menyarankan RUU KUHAP (mengatur) soal kelengkapan berkas supaya P-19 tidak bolak-balik,” kata Kapolri dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi III DPR yang berakhir Kamis tengah malam (12/6). Saat ini KUHAP tidak membatasi berapa kali sebuah berkas bolak-balik antara polisi dan kejaksaan. ”KUHAP harus diperbarui,” imbuhnya.

Mabes Polri memberikan pendampingan kepada Polda Jatim dalam proses tersebut supaya tidak ada penyimpangan dalam penyidikan. Polda Jatim sudah menetapkan belasan tersangka dalam kasus semburan lumpur Lapindo yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu. Mereka adalah Slamet B.K., Slamet Rianto, Rahenold, Subie (PT Medici Citra Nusa).

Lalu, juga ada William Hunila, Edi Sutriono, Nur Rahmat Sawolo (PT Lapindo Brantas Inc), Sardianto, Lilik Marsudi, dan Sulaiman bin Ali (PT Tiga Musim Mas Jaya). Yang lain adalah Yenny Nawawi (Medici), Imam P. Agustino (GM Lapindo), dan Aswan P. Siregar (mantan GM Lapindo). Polisi yakin, semburan lumpur Lapindo yang menyengsarakan rakyat di sekitarnya itu adalah kelalaian karena pengeboran tanpa menggunakan chasing.

”Kami tetap akan konsisten dan kami berpendapat masalah Lapindo terjadi karena kelalaian,” kata Kabareskrim Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri di tempat yang sama. Mantan Kaditserse Polda Jatim itu melanjutkan, titik soal yang dipermasalahkan jaksa adalah terkait keterangan saksi ahli. ”Saat (saksi ahli, Red) yang pertama bilang kelalaian, jaksa sepakat. Tapi, jaksa minta lagi saksi ahli dari Lapindo, dan tentu dari Lapindo menyatakan ini adalah bencana alam,” beber Bambang.

PT Lapindo Brantas awalnya berada di bawah PT Energi Mega Persada Tbk (EMP) yang juga Grup Bakrie. Namun, kini perusahaan tersebut berada di bawah Minarak Labuhan. EMP kini hanya menjadi pemegang saham minoritas di Lapindo.

Di tempat terpisah, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum) Abdul Hakim Ritonga mengatakan, keterangan saksi ahli memang merupakan salah satu di antara lima alat bukti yang diatur dalam KUHAP. Namun, hal itu tidak bersifat mutlak karena berdasarkan ilmu pengetahuan masing-masing. ”Mana yang paling mendekati kebenaran. Nah, dalam hal ini harus hati-hati,” kata Ritonga di Kejagung kemarin (13/6).

Bagi jaksa, lanjut dia, membuktikan bahwa semburan adalah akibat dari pengeboran merupakan hal penting. Penyebabnya, dari situ pihaknya baru bisa menyalahkan orang. ”Pokoknya, carikan alat bukti kuat,” tegas mantan kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulsel itu.

Bagaimana usul dinyatakan P-21 dan diuji di pengadilan? Ritonga menjelaskan, logikan tersebut salah. Dia lantas menegaskan bahwa tugas polisi sebagai penyidik ialah mencari bukti. “Yang menilai cukup atau nggak itu jaksa,” katanya.

Tanggapan Wapres

Sementara itu, publikasi temuan ilmuwan Inggris yang menyebutkan semburan lumpur disebabkan pengeboran di sumur Banjar Panji-1 menimbulkan desakan agar PT Lapindo Brantas membayar seluruh kerugian penduduk. Merespons desakan itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Lapindo Brantas sejak awal telah membayar seluruh ganti rugi bagi warga.

“Sejak awal, semua ganti rugi dibayar Lapindo, tidak ada yang dibayar pemerintah. Pemerintah tidak punya uang untuk membayar ganti rugi. Karena itu tanggung jawab Lapindo, sebenarnya sudah jalan. Keppres juga berbunyi seperti itu,” ujar Kalla di kantornya kemarin (13/6).

Wapres mengatakan, pemerintah hanya mengeluarkan anggaran untuk memperbaiki prasarana di luar wilayah semburan lumpur, seperti memperbaiki jalan tol dan rel kereta api. “Itu saja yang ditanggung pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, dalam artikelnya di jurnal ilmiah Earth Planetary Science and Letters, geolog Richard Davies menolak teori yang menyatakan semburan lumpur panas Lapindo akibat pengaruh gempa bumi di Jogjakarta. Pasalnya, gempa bumi terjadi dua hari sebelum lumpur panas itu menyembur.

Kalla menyatakan, pendapat geolog Richard Davies adalah salah satu teori yang terkait dengan asal-muasal semburan lumpur yang menenggelamkan puluhan desa tersebut. “Kita boleh mendengar pendapat orang Inggris itu, tapi yang memutuskan (Lapindo bersalah atau tidak, Red) bukan orang Inggris, tapi pengadilan Indonesia. Tentunya setelah mendengar bermacam-macam pandangan,” kata dia.

Sehari sebelumnya, tim investigasi Komnas HAM menyelidiki kasus semburan lumpur Lapindo Brantas dengan meminta keterangan Departemen ESDM dan Lapindo Brantas. Selain bertemu Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Komnas HAM juga meminta keterangan Kepala BP Migas R. Priyono dan Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso. (naz/fal/noe/nw)

6 Balasan ke Polisi Kukuh, Semburan Lumpur Akibat Kelalaian

  1. inyo mengatakan:

    Hal yg baik emang hrs selalu diinget bang, tapi rindu abang kapan terobati ??

  2. usil mengatakan:

    Ck..ck..ck.. pak Inyo masih ingat betul ulasan pakar kita itu ya?
    Terus terang sampai saat ini, gak ada lagi yang bisa membahas
    sedetail uraian pak RIrawan…….ya to? Apalagi jika duet dengan si Om.

    Ibarat lagu: RINDU….AKU….RINDU…..

  3. inyo mengatakan:

    YTH. Bapak Narayudha

    Masalah “penurunan debit semburan lumpur”. sudah ada sedikit penjelasan dr postingan Bp. RIrawan, Agustus 30th, 2007,sbb:

    Menurut hemat saya, ada 3 alasan logis:
    1. Seperti komentar pertama ompapang, debit aquifer di bawah sana berkurang akibat musim kemarau, sehingga produksi gas uap air juga berkurang. Namun saya ragu tentang ini.
    2. Tambahan semacam mangkok penampungan extra akibat amblesan: h = 2 cm/hari dipusat semburan.

    Dengan luas genangan A = 700 ha (=  . r²), setiap hari terbentuk cekungan penampungan extra tanpa menambah tinggi permukaan genangan. Maka daya tampung extra itu: Ve = ⅓ .  . r² . h = ⅓ . A . h = ⅓ x 700 ha x 10^4 m²/ha x 2 cm/hari = 46.667 m³/hari.
    3. Tambahan penguapan selama musim kering akibat terik matahari dan makin meluasnya genangan. Terpaan sinar matahari yang jatuh ke bumi 1366 watt/m² tegak lurus, tetapi 6% dipantulkan dan 16% diserap oleh atmosfir, sehingga tersisa 1020 watt/m² yang menerpa permukaan tanah di puncak katulistiwa dalam keadaan udara sangat jernih. Katakanlah di musim kering ini ada rata-rata 30% tambahan energi panas yang menerpa 700 ha genangan lumpur, maka dalam 1 hari ada tambahan daya panas sebesar: P = 30% x 1020 watt/m² x 700 ha x 10^4 m²/ha x 8 jam/hari = 17.136.000 Kwh/hari = 6,16896 x 10^10 KJ/hari. Dengan nilai kalor penguapan air: e = 2250 KJ/Kg, maka energi panas itu cukup untuk menguapkan tambahan air lumpur sebanyak: V = P / e = 27.417.600 Kg air per hari ≈ 27.417 m³/hari.
    Jika dijumlahkan: (46.667 + 27.417) m³/hari = 74.084 m³/hari
    Ini pas setengah dari debit semburan yang 150.000 m³/hari, bukan?

    Jadi bukan debit semburannya yang berkurang, melainkan yang tampak meluap keluar di pinggiran tanggul seolah-olah berkurang separuh!

  4. Tonas mengatakan:

    18 Juni 2008, 10:58:02, Laporan Eddy Prasetyo

    Kapolda: Kasus Lapindo Tidak Dilanjutkan

    suarasurabaya.net| Kasus semburan lumpur Lapindo di Porong dipastikan tidak akan dilanjutkan diranah hukum. Ini setelah Irjen Pol HERMAN SURYADI SUMAWIREDJA Kapolda Jatim menyatakan BAP yang sudah berkali-kali bolak balik Polda-Kejati Jatim tidak akan diajukan lagi ke Kejati Jatim.

    “Kita tidak akan limpahkan berkas kasus Lapindo ke jaksa karena sudah pasti mereka tidak akan memberikan status P-21 (tuntas tanpa koreksi-red). Jadi buat apa kita teruskan kasus ini?,” kata Kapolda Jatim. Dengan nada pesimis Polda Jatim menyatakan kasus tersebut sudah cukup dan tidak perlu diteruskan.

    Sementara ketika ditanya soal SP-3 atau surat penghentian perkara HERMAN SURYADI tidak bersedia berkomentar.

    Kasus Lapindo ini telah memasuki proses hukum. Ada 13 tersangka yang BAP-nya disusun ada tujuh berkas. Kejati Jatim menerima 5 berkas dalam 2 pengantar dari Polda Jatim. Dalam pengantar tersebut ada 5 tersangka yang disebut namanya. Masing-masing WILLIAM HUNILA Company Man Lapindo Brantas Inc, Ir RAHENOLD Drilling Supervisor PT Medici Citra Nusa dkk, SOLEMAN bin ALI dkk selaku Rig Manager.

    Pada pengantar berikutnya dibagi menjadi 2 berkas masing-masing dengan tersangka EDY SUTRIYONO Supervisor Drilling dan YENY NAWAWI Dirut PT Medici Citra Nusa dkk.

    Kasus ini mandek di dua instansi tersebut karena Kejati Jatim menilai Polda Jatim belum berhasil menguatkan dakwaannya. Dalam BAP terdapat dua opini ahli yang saling bertolak belakang yaitu semburan lumpur akibat kesalahan manusia dan akibat bencana alam.(edy/kho/ipg)

    INI INFO TERBARU, AKHIRNYA POLDA-JATIM “LEMPAR HANDUK” MENGATASI KONSPIRASI DI ARENA HUKUM….???? BAGAIMANA MAU MENYERET “LAPINDO” WONG MENANGANI “MASINAH” PAHLAWAN BURUH PORONG SAJA SAMPAI SEKARANG NGGAK JELAS…!!!! BETUL NGGAK PAK “KAPOLDA”, ATAU “APARAT” POLDA JATIM UDAH “TERMASUK” DALAM KONSPIRASI JUGA, SOALNYA BEGITU ADA AKSI MASYARAKAT KORBAN LUMPUR, JUMLAH APARAT YANG DI TERJUNKAN SELALU LEBIH BANYAK DARI WARGANYA YANG TURUN JALAN….

  5. narayudha mengatakan:

    Yang terhormat rekan rekan semua,

    Walaupun dari jauh, saya mengikuti perkembangan lapindo ini, tetapi ada berita menggembirakan menurut saya, dari sekian banyak berita mengenai lapindo selama ini.

    Adapaun fenomena menurut saya progresnya membaik adalah berdasar analisa peristiwa mulai februari 2008.

    Semenjak bulan februari 2008 sampai dengan sekarang medio juni 2008, tidak terdengar lagi luapan dari semburan lumpur lapindo, asumsi saya bahwa semburan lumpur lapindo sudah tidak segarang dulu lagi, walaupun staf BPLS selalu berpegang bahwa semburan tetap 100.000 m3/hari. Namun asumsi saya berlainan bahwa semburan tersebut cenderung menurun dan kalau tidak salah sekarang ini yang keluar hanya air saja, analisa saya ini berpegang pada tiga amblesan yang besar di titik 4 – 61, titik 45 dan titik 44, kalau pendapat staf tersebut benar, dengan tiga amblesan besar tersebut tentunya luapan lumpur yang megalir akan segera memenuhi pond 2, tetapi kenyataannya pond 2 juga tidak bertambah volumenya, di pond 1 sekarang ini lumpur sudah mulai mengering, bahkan jalur air dibuatkan dengan alat berat untuk ke kelai porong, tetapi yang saya lihat aliran ke kali porong juga kecil sekali, karena hanya satu pompa yang bekerja, penutupan amblesan yang penanganannya juga sampai sekarang juga kesannya hanya asal mengurug sirtu saja tanpa ada tekhnologinya, jadi hanya lip service seolah olah lumpur lapindo masih ganas dan mengerikan.

    Mengenai semburan baru sesudah maret di siring barat, memang sempat muncul beberapa titik kecil tetapi sekarang sudah berhenti, analisa saya bahwa itu disebabkan karena amblesan tanah mulai banyak terjadi sehingga kantong gas membentuk aliran keluar, tetapi begitu habis, aliran gas yang dikatakan sebagai munculnya semburan baru, tidak muncul lagi.

    Yang menarik justeru kenapa bisa muncul amblesan dengan kedalaman yang cukup tinggi, menurut saya bahwa tekanan lumpur dari dalam sudah berhenti, sehingga rongga bawah tanah setelah sumber lumpur sudah menutup maka berat volume lumpur diatasnya yang akan ambles ke bawah. dan ini akan terus menerus terjadi, amblesan amblesan baik di pond 1 maupun di pond 2 ex perumahan TAS.

    Saya juga mendengar bahwa aktivitas alat berat juga tidak sebanyak bulan maret 2008 kemarin, bahkan kondisi sekarang alat alat berat terlihat takut untuk bekerja karena takut amblas. truck sirtu yang dulu sempat hampir 500 truck perhari sekarang ini sudah dibawah 100 truck per hari, jadi aktivitas dari minarak lapindo jaya selaku kontraktor juga sudah jauh menurun. Saya melihat dari dekat bahwa beberapa peralatan baik pompa, mapun peralatan yang lain banyak yang tidak berfungsi, padahal biaya tersebut juga sebagian ditanggung oleh negara. termasuk gaji gaji yang berwenang disana staff BPLS baik pusat maupun di lokasi.

    namun yang saya herankan, bahwa gejala membaik tersebut tidak diberitakan dengan baik, atau diwacanakan untuk di teliti kembali apakah volume semburan masih sebanyak yang dulu ataukah justeru terus berkurang. Apakah masih besar kandungan lumpurnya, ataukah tinggal air saja ( karena kelihatan hanya air saja yang mengalir).

    Semoga ini pertanda baik, bahwa tidak selamanya kita harus berpikir pesimis dan berfikir harus 30 tahun lagi baru berhenti, marilah berpikir positif, gejala gejala berakhirnya semburan lumpur sudah terlihat, aliran kali porong juga dangkal sekarang, yang menadakan aliran lupur yang dialirkan ke kali porong sesui kepres juga tidak besar. semburan baru yang dikhawatirkan menjadi daerah terdampak baru juga tidak menjadi kenyataan. dan sudah 5 bulan lebih tidak mendengar lagi luberan lumpur lebih dari ring terluar, yang terlihat justeru semakin mengering. seperti pond di siring.

    saya hanya berkeyakinan bahwa amblesan akan terus terjadi, terutama di ring 1 ( utama ) ini dalam beberapa hari mendatang, dan insya Allah dalam beberapa bulan mendatang, sudah berhenti.

    Allah S.W.T pasti mendengar doa yang terkena dampak, dari kita semua bangsa indonesia yang prihatin melihat peristiwa ini terjadi, dan melihat bagaimana penanganan semburan dan korban yang tidak terkoordinasi dengan baik. tetapi saya juga yakin Gusti Allah masih sayang dengan kita semua, sehingga tidak akan membiarkan penderitaan umatnya berkepanjangan.

    Semoga kita semua, baik yang sudah terlibat sebelumnya, Pemerintah – BPLS, Minarak lapindo jaya, lapindo Inc, LSM dan Pers. Alim ‘Ulama dan Tokoh tokoh masyarakat di jawa timur khusunya di porong sidoarjo, peduli dengan fenomena dan perkembangan yang terjadi disana, sehingga tidak berita berita yang ada disana tidak di tutup tutupi demi keuntungan keuntungan pribadi mapun penggunaan anggaran yang “dibenarkan” atas nama kondisi darurat dan kemanusiaan, yang justeru akan melibatkan institusi KPK, karena kasus lapindo sendiri sampai saat ini masih belum jelas mengarah kemana.

    Semoga Allah S.W.T meridloi niatan baik kita semua, saya akan tetap mengikuti dan melihat lapindo walau dari jauh.

    terimakasih.

    narayudha.

  6. Tonas mengatakan:

    Lumpur Sidoarjo Bukan Karena Pengeboran Sumur BJP – I
    Ditulis Oleh riz
    Senin, 16 Juni 2008
    Porong – Berdasarkan hasil studi tim pakar independen yang terdiri dari para ahli di bidang pengeboran, mekanika batuan, mud vulcano dan ahli geologi, menyimpulkan data pengeboran dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo bukan disebabkan pengeboran di Sumur BJP – I, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong.
    Fenomena semburan lumpur sangat menyedot perhatian, tidak hanya masyarakat Indonesia, namun juga internasional. Beberapa peneliti dari luar negeri pun ikut penasaran untuk melakukan penelitian mengenai semburan tersebut. Sebut saja Prof. Jim Mori, Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University, Jepang. Kemudan Adriano Mazzini, peraih gelar Phd bidang hydrocarbon seepage system dari University of Aberdeen. Juga Dr Amanda Clarke, pakar geologi dan gunung berapi dari Arizona State University, Amerika Serikat.
    Penelitian yang mereka lakukan untuk mengetahui apakah ada kaitannya semburan lumpur Sidoarjo dengan mud vulcano yang memang bisa keluar di daerah lembek terkait adanya aktifitas magmatik. Mengingat daerah Porong banyak rekahan yang berhubungan dengan Gunung Arjuno, Welirang dan jika ditarik garis lurus tembus hingga ke Arosbaya di Bangkalan, Madura.
    Adriano Mazzini, beberapa waktu lalu mengatkaan bahwa keluarnya lumpur bisa saja di picu oleh gempa bumi di Jogjakarta atau faktor lainnya. Meski begitu, dari penelitian yang pernah dilakukan di bebarapa tempat yang muncul mud vulcano seperti di Azerbaijan, Laut Tengah, Laut Hitam, dan Laut Norwegia, dipastikan bahwa semburan yang ada di Porong merupakan kejadian mud vulcano terkait dengan aktifitas magmatik.
    Prof Jim Mori, yang melakukan penelitian juga mencotohkan tentang terjadinya semburan mud vulcano yang di picu oleh guncangan gempa bumi, seperti yang pernah terjadi di Niikappu, Jepang.
    Sedangkan Amanda Clarke, dalam penelitiannya mengatakan bahwa jika dilihat dari peta geologi, posisi semburan berada di garis lurus antara Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno, yang biasa dikenal dengan Sesar Watukosek. Dimana diantara dua gunung tersebut terdapat lapisan tanah yang lemah dan tipis, dan bisa memicu keluarnya air menembus ke atas, seperti yang terjadi di Porong. Sebab lumpur panas ada hubungannnya dengan gempa bumi, lapisan tanah, maupun gunung berapi.
    Sampai dengan saat ini semburan terjadi tidak hanya ada di pusat semburan di Siring, Porong, namun juga terjadi di kawasan lain. Bahkan lokasinya jauh dari pusat semburan, seperti di Mindi, Pejarakan, Renokenongo dan Jatirejo.

    DAN INI LAPINDO JUGA BERSIKUKUH BAHWA “DIA” YAKIN TIDAK BERSALAH …????!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: