Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa

2008-08-30 07:22:00
20080830072008

BANDUNG–Para ahli geologi menyatakan bahwa potensi gunung lumpur (mud vulcano) membentang luas di daratan Pulau Jawa, sehingga di wilayah itu rentan terjadi semburan lumpur seperti yang terjadi di Sidoarjo, Jatim.

Staf Ahli geologi BP Migas Awang Harun Satyana mengatakan, terdapat jalur rentetan gunung lumpur yang terbentang luas dari Bogor hingga Sidoarjo.

“Masyarakat mungkin tidak akan pernah lupa terhadap kejadian fenomenal semburan lumpur yang terjadi di wilayah Jawa Timur itu, bahkan setelah dua tahun, lumpur Sidoarjo terus menyembur tanpa henti,” ujarnya.

Bagi ahli geologi, kata dia, kejadian tersebut merupakan salah satu contoh tidak tepatnya perlakuan manusia terhadap alam karena kurangnya pengetahuan terhadap kegeologian.

“Kejadian ini sebenarnya sangat alami, bahkan beberapa pakar telah memetakan Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap gangguan alam seperti itu,” urainya.

Awang menjelaskan, beberapa juta tahun lalu, tepatnya di wilayah Kubah Sangiran terjadi hal serupa. Berdasarkan penelitian, Sangiran merupakan tempat hidup manusia purba pertama di Pulau Jawa dua juta tahun lalu.

“Kubah Sangiran kemudian tererosi pada bagian puncaknya, sehingga membentuk sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara alamiah,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, gunung lumpur ini telah menenggelamkan sebuah kerajaan di Jawa Timur sekitar 400 tahun silam.

Sedangkan Edi Sunardi, Ketua Pengembangan Ilmu IAGI, yang juga dosen Geologi Unpad, berpendapat, secara geografis, daerah Jatim memiliki peta geologi yang spektakuler karena memiliki kandungan minyak, gas, serta gunung lumpur.

Bahkan, terdapat satu jalur dari arah Barat ke Timur sampai dengan Selat Madura yang dipenuhi dengan gunung lumpur.

Hal senada dikatakan Prof Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi struktur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa tidak menutup kemungkinan fenomena Kubah Sangiran terulang kembali di beberapa wilayah di Pulau Jawa.

Menurut dia, erupsi Kubah Sangiran terjadi akibat beratnya beban gunung api yang menjulang di wilayah itu, yang mengakibatkan keluarnya cairan dari dalam perut bumi.

“Artinya, kejadian itu bisa terulang kembali jika beban di atas permukaan tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa terlalu berat, misalnya oleh kepadatan kota,” ujarnya.

Dia mengatakan, pesatnya pembangunan tanpa diimbagi dengan kajian geologi, berpotensi membuat kejadian seperti lumpur Sidoarjo terulang kembali.

Kekhawatiran ini, lanjutnya, memang beralasan karena saat ini terlihat pesatnya pembangunan kota, dan bahkan terjadinya eksploitasi tanah secara besar-besaran untuk menghasilkan batu bara dan timah.

Di sisi lain, kata Asikin, kesadaran akan penghijauan lingkungan semakin berkurang, akibat tidak pahamnya masyarakat mengenai musibah yang mengancam.

“Kurangnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat mengenai geologi diduga sebagai penyebab awal terjadinya bencana. Pemerintah memberikan izin eksplorasi, dan masyarakat melaksanakannya tanpa berbekal pengetahunan geologi,” ujarnya.

Namun, kata dia, hal itu mungkin tidak menjadi masalah jika setiap lapisan tanah yang mengandung kekayaan alam tidak berpotensi menimbulkan bencana.

Pada kenyataannya, kekayaan bumi itu kerap berdampingan letaknya dengan potensi bencana, seperti kejadian lumpur Sidoarjo.

“Ini memang unik, di wilayah yang termasuk jalur gunung lumpur itu ternyata terkandung minyak yang cukup besar, kondisi ini mirip dengan kejadian pengeboran minyak di wilayah Azerbaijan dan Iran,” jelasnya.

Menurut dia, pengeboran minyak di wilayah itu menghasilkan sedikitnya 1,5 juta barel per hari, namun juga menyemburkan lumpur dari perut bumi mirip dengan kejadian di Sidoarjo.

Pihaknya melihat, atas beberapa peristiwa alam yang terjadi, sudah selayaknya perhitungan geologi menjadi pertimbangan sebelum melakukan eksplorasi.

“Pada dasarnya pengebor itu tidak salah, karena wilayah itu mengandung minyak. Permasalahan utamanya ialah, masih rendahnya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan sebagai basis pembangunan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, setelah terjadi bencana lumpur Sidoarjo, pengetahuan mengenai kegeologian menjadi penting, khususnya berkaitan dengan penemuan sedikitnya 20 cekungan baru di Indonesia.ant/ya

()

2008-08-30 07:22:00
Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/6400

[image: 20080830072008]

BANDUNG–Para ahli geologi menyatakan bahwa potensi gunung lumpur (mud
vulcano) membentang luas di daratan Pulau Jawa, sehingga di wilayah itu
rentan terjadi semburan lumpur seperti yang terjadi di Sidoarjo, Jatim.

Staf Ahli geologi BP Migas Awang Harun Satyana mengatakan, terdapat jalur
rentetan gunung lumpur yang terbentang luas dari Bogor hingga Sidoarjo.

“Masyarakat mungkin tidak akan pernah lupa terhadap kejadian fenomenal
semburan lumpur yang terjadi di wilayah Jawa Timur itu, bahkan setelah dua
tahun, lumpur Sidoarjo terus menyembur tanpa henti,” ujarnya.

Bagi ahli geologi, kata dia, kejadian tersebut merupakan salah satu contoh
tidak tepatnya perlakuan manusia terhadap alam karena kurangnya pengetahuan
terhadap kegeologian.

“Kejadian ini sebenarnya sangat alami, bahkan beberapa pakar telah memetakan
Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap gangguan alam seperti itu,”
urainya.

Awang menjelaskan, beberapa juta tahun lalu, tepatnya di wilayah Kubah
Sangiran terjadi hal serupa. Berdasarkan penelitian, Sangiran merupakan
tempat hidup manusia purba pertama di Pulau Jawa dua juta tahun lalu.

“Kubah Sangiran kemudian tererosi pada bagian puncaknya, sehingga membentuk
sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara
alamiah,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, gunung lumpur ini telah menenggelamkan sebuah kerajaan di
Jawa Timur sekitar 400 tahun silam.

Sedangkan Edi Sunardi, Ketua Pengembangan Ilmu IAGI, yang juga dosen Geologi
Unpad, berpendapat, secara geografis, daerah Jatim memiliki peta geologi
yang spektakuler karena memiliki kandungan minyak, gas, serta gunung lumpur.

Bahkan, terdapat satu jalur dari arah Barat ke Timur sampai dengan Selat
Madura yang dipenuhi dengan gunung lumpur.

Hal senada dikatakan Prof Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi
struktur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa tidak menutup
kemungkinan fenomena Kubah Sangiran terulang kembali di beberapa wilayah di
Pulau Jawa.

Menurut dia, erupsi Kubah Sangiran terjadi akibat beratnya beban gunung api
yang menjulang di wilayah itu, yang mengakibatkan keluarnya cairan dari
dalam perut bumi.

“Artinya, kejadian itu bisa terulang kembali jika beban di atas permukaan
tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa terlalu berat, misalnya oleh
kepadatan kota,” ujarnya.

Dia mengatakan, pesatnya pembangunan tanpa diimbagi dengan kajian geologi,
berpotensi membuat kejadian seperti lumpur Sidoarjo terulang kembali.

Kekhawatiran ini, lanjutnya, memang beralasan karena saat ini terlihat
pesatnya pembangunan kota, dan bahkan terjadinya eksploitasi tanah secara
besar-besaran untuk menghasilkan batu bara dan timah.

Di sisi lain, kata Asikin, kesadaran akan penghijauan lingkungan semakin
berkurang, akibat tidak pahamnya masyarakat mengenai musibah yang mengancam.

“Kurangnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat mengenai geologi diduga
sebagai penyebab awal terjadinya bencana. Pemerintah memberikan izin
eksplorasi, dan masyarakat melaksanakannya tanpa berbekal pengetahunan
geologi,” ujarnya.

Namun, kata dia, hal itu mungkin tidak menjadi masalah jika setiap lapisan
tanah yang mengandung kekayaan alam tidak berpotensi menimbulkan bencana.

Pada kenyataannya, kekayaan bumi itu kerap berdampingan letaknya dengan
potensi bencana, seperti kejadian lumpur Sidoarjo.

“Ini memang unik, di wilayah yang termasuk jalur gunung lumpur itu ternyata
terkandung minyak yang cukup besar, kondisi ini mirip dengan kejadian
pengeboran minyak di wilayah Azerbaijan dan Iran,” jelasnya.

Menurut dia, pengeboran minyak di wilayah itu menghasilkan sedikitnya 1,5
juta barel per hari, namun juga menyemburkan lumpur dari perut bumi mirip
dengan kejadian di Sidoarjo.

Pihaknya melihat, atas beberapa peristiwa alam yang terjadi, sudah
selayaknya perhitungan geologi menjadi pertimbangan sebelum melakukan
eksplorasi.

“Pada dasarnya pengebor itu tidak salah, karena wilayah itu mengandung
minyak. Permasalahan utamanya ialah, masih rendahnya kesadaran terhadap
kelestarian lingkungan sebagai basis pembangunan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, setelah terjadi bencana lumpur Sidoarjo, pengetahuan
mengenai kegeologian menjadi penting, khususnya berkaitan dengan penemuan
sedikitnya 20 cekungan baru di Indonesia.ant/ya

Iklan

4 Balasan ke Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa

  1. Student berkata:

    Jika melihat sejarah masa lalu 400 tahun yang lalu, berarti ada peluang sebuah kota di jawa tenggelam terkubur lumpur? Hanya Tuhan yang tahu dan berkehendak untuk itu ya. Btw, jika mengacu ke kekekalan masa atau energi, berarti ada tempat lain yang “kosong” atau “kopong” karena sejumlah lumpur keluar di sebuah lokasi.Benarkah?

  2. agung berkata:

    ya.. itulah, kalau duit selalu menjadi segalanya. jadi penyebab lumpur diarahkan kepada kejadian alam, biar opini digiring besok kalau ngebor lagi trus gagal nanti karena gunung lumpur. terserah mau bilang apa. coba dengar prajurit TNI yang mulai kepanasan sama Polri yang gajinya lebh gede. Mereka bilang, kalau ada huru hara, tidak mau bantu Polri. Sudah jelas dulu TNI terutama AD yang paling enak, coba lihat patinya semua punya bisnis, punya mobil mewah, jadi gurbernur, pejabat, ndak tahu malu malah mentang-mentang menunjukkan kekuasaan dan kekayaannya. memang jaman sudah terbalik, yang kaya makin dihormati entah uang darimana, beda jaman dulu, nama baik dan pengabdian lebih penting. Amit-amit

  3. Mahavatar Dhammaraja berkata:

    bagaimana dengan potensi ratu adil untuk membumihanguskan islam. cukup besar juga potensinya nih.

  4. Hardi Prasetyo berkata:

    ANTARA MUD VOLCANO DAN POTENSI MIGAS DI LAUT KASPIA

    Habis makan Saur pada hari ke 2 bulan puasa ini, saya sedang menuntaskan suatu kajian yang saya beri nama ‘Wargame’ Dari Sidoarjo ke Cape Town, Afrika Selatan: Debat penyebab Lusi. Untuk itu babakan yang dilalui adalah dengan menyusun baseline makalah utama (major paper) dari 5 ahli seperti layaknya ‘lawyer’ menterjemahkan keseluruhan makalah (full paper), memberikan kata kunci dari setiap paragraf, yaitu: (1) Davies, 2007-2008 (2) Mazzini (2007), (3) Bambang Istadi (2007), (4) Mark Tangay (2008), dan (5) Abidin (2008). Sebelumnya juga telah dilalui memahami TOR dari Debat Lusi di pertemuan internasional AAPG, 18 Oktober 2008, di Afrika Selatan.
    Saat ini saya menelusuri makalah-makalah pendukung dari 5 ahli tersebut di cyber net, dengan browser kata kunci ‘Davies mud volcano’ mendapatkan satu paper yang menarik ‘Largest Single Mud Volcano in the World Discovered in Caspian Sea’ penulis Davies and Steward (2006) pada http://www.sepm.us/publication/biot_reader.php?BiotID=314.
    Laut Kaspia tempat diketemukannya mud volcano tunggal terbesar di dunia, juga merupakan daerah penghasil migas utama di dunia.
    Pelajaran berharga dari fenomena Semburan Lumpur Panas Sidoarjo, khususnya bagi para ahli kebumian adalah bagaimana dari Zona Bogor sampai ke Jatim (Cekungan Jawa Timur) dapat lebih di citra keberadaan zona2 ‘overpressure’ dan diapirsm, yang dikendalikan oleh keberadaan tektonik ‘kompresif’.
    Disamping kawasan tersebut pada beberapa ekspedisi kelautan di KTI di tahun 1990an saya kebetulan bersama tim peneliti asing telah menemukan fenomena mud diapirsm dan mud volcano antara lain: (1) Sumba fore arc, (2) Sumba-Sawu backthrust, (3) Banda Ridge, (4) Flores Thrust Zone, (5) Bali-Lombok backarc basin. Khususnya nomor (4) dan (5) mempunyai kelanjutan arah tektonik ke timur dari Paleo Backarc Sunda-Arc (termasuk yang pak Awang sampaikan dari Bogor ke Jatim).
    sehingga pada kegiatan eksplorasi disamping memberikan optimisme keberadaan sumber daya migas juga kehati-hatian dalam melakukan tahapan pemboran eksplorasi.
    Situasi dampak psikologis saat ini pasca semburan Lusi yang telah menimbulkan rasa takut dari masyarakat dan rasa kurang nyaman dari industri migas terhadap upaya menemukan migas dengan melakukan pemboran eksplorasi, harus segera diantisipasi oleh semua pihak, antara lain melalui sosialisasi dan program-program pendidikan masyarakat (dikmas).
    Suatu analogikejadian. Saat saya dulu bergabung dengan Persatuan Terjun Payung AVES di Bandung, pasca kejadian fatal yang dialami anggota saat melakukan peterjunan, sehingga menimbulkan rasa ‘kurang nyaman dan kurang PD bagi para peterjun Junir’, maka pare senior AVES saat itu bersama-sama melakukan penerjunan, dengan tujuan untuk menghilangkan tekanan psikologis sekaligus membangunkan kembali kepercayaan diri.
    Mudah-mudahan para senior termasuk Prof. Sukendar dan Pak Awang dapat terus mengkontribusikan pemikiran dan ‘knowledge’ termasuk sosialisasi ke publik pada daerah terpilih bukan saja terhadap aspek teknis tapi juga aspek non teknis ‘psychological impacted after lusi Eruption”.
    Mohon doa restunya agar Musibah/Bencana Lusi dapat dilalui dengan sebaik-baiknya.
    Salam dan Hormat
    Hardi Prasetyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: