Terkait Lumpur Lapindo, Ada Apa Dengan KOMPAS?

Hari ini (30 April 2010) harian KOMPAS kembali menurunkan berita mengenai kondisi Porong, Sidoarjo terkait lumpur Lapindo.

Sekilas tidak ada yang aneh dalam berita di harian KOMPAS terkait lumpur Lapindo hari ini (30/4). Namun bila kita amati secara agak detail ada yang beda dari tulisan KOMPAS terkait dengan kasus Lapindo hari ini dengan yang lalu-lalu.

Dimana letak perbedaannya?

Biasanya bila menuliskan berita mengenai lumpur di Sidoarjo, harian KOMPAS selalu menuliskannya secara lengkap ; LUMPUR LAPINDO. Namun hari ini KOMPAS ternyata menghilangkan kata LAPINDO. Yang tertera di judul atas menjadi LUMPUR; Percepat Relokasi Jalan Porong.

Pertanyaannya tentu saja adalah, mengapa menjelang empat tahun lumpur Lapindo tahun ini, harian KOMPAS justru menghilangkan kata LAPINDO dari pemberitaan yang menyangkut kasus semburan lumpur?

Ada apa dengan KOMPAS? Apakah ini sebuah kekhilafan redaksi atau kesengajaan?

Saya sih berharap kejadian ini hanya sebuah kekhilafan redaksi KOMPAS saja bukan sebuah kesengajaan untuk meringankan (atau bahkan melindungi) Lapindo dari desakan publik untuk lebih bertanggungjawab atas tragedi tersebut.. Semoga!

sumber : http://politikana.com/baca/2010/04/30/terkait-lumpur-lapindo-ada-apa-dengan-kompas.html

12 Balasan ke Terkait Lumpur Lapindo, Ada Apa Dengan KOMPAS?

  1. Tonas mengatakan:

    Mediasi Korban Lumpur Macet
    PT MLJ Mengaku Kehabisan Uang

    SIDOARJO – Proses ganti rugi bagi korban lumpur Lapindo macet di tengah jalan. PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) mengaku kehabisan dana. Pertemuan antara PT MLJ dan warga korban lumpur yang dimediasi Pansus Lumpur DPRD Sidoarjo gagal menemukan jalan keluar.

    Korban maupun PT MLJ masih ngotot dengan pendirian masing-masing. ”Belum ada kesepakatan pasti. Yang jelas, kami sudah mempertemukan korban dengan PT MLJ dua kali,” ujar Ketua Pansus Lumpur DPRD Sidoarjo Sulkan Wariono.

    Dia menegaskan, beberapa warga yang berdemo di depan DPRD ikut sebagai wakil. Hasilnya, warga yang ikut tetap ngotot untuk meminta bayaran cash and carry.

    Sementara itu, pihak PT MLJ tidak mau mengalah. Vice President PT MLJ Andi Darussalam Tabusalla menyatakan bahwa Lapindo kehabisan uang dan tidak bisa membayar. Jangankan untuk membayar 80 persen sekaligus, membayar cicilan saja masih tersendat. ”Dia (Andi, Red) menyatakan dulu bisa membayar lancar karena BRI memberikan talangan Rp 1 triliun. Sekarang dana talangan tersebut habis dan BRI tidak mau menalangi lagi,” terang Sulkan.

    Dalam pertemuan selama dua hari tersebut, pihak MLJ hanya bisa menjanjikan pencairan sebulan, yaitu Rp 15 juta seminggu sebelum Lebaran. Itu pun belum bisa dipastikan apakah bisa dilakukan atau tidak.

    Warga yang menuntut cash and carry sekarang ngotot untuk bertemu dengan Presiden SBY di Jakarta. Mereka meminta agar warga yang berada di peta terdampak dalam Perpres 14 (dibayar Lapindo) dimasukkan ke Perpres 48 (dibayar pemerintah). ”Ini kan balik ke awal lagi jadinya,” ujar Sulkan. Dia secara pribadi menyatakan tidak setuju dengan pergantian Perpres 14 ke Perpres 48. Sebab, sangat kecil kemungkinan pemerintah mau mmberikan dana talangan bagi Lapindo. ”Namun, karena dulu DPR sepertinya memberikan sinyal, pansus berani mengusulkan untuk ditalangi pemerintah dulu,” tegasnya.

    Andi saat dikonfirmasi membenarkan bahwa MLJ saat ini sedang mengalami kesulitan finansial. Karena itulah, pembayaran tersendat-sendat. Menurut dia, asetnya memang banyak. Tapi, tidak semudah membalikkan tangan untuk menjualnya.

    Hanya, dia membantah soal BRI yang menghentikan dana talangan itu. “Tidak ada yang seperti itu. Tidak ada,” tegasnya. Menurut Andi, pertemuan dengan pansus hanya membahas kendala pembayaran dan tidak menyinggung BRI.

    Dia menambahkan, rencana pembayaran cicilan sebelum Lebaran pun belum pasti. Sebab, saat ini hal tersebut masih diusahakan. Karena itulah, dia belum memastikan jumlah korban yang akan mendapatkan haknya. (sha/eko/c13/ib)

    Inilah hasil kerja konspirasi yang sudah di rekayasa sejak 3 tahun yang lalu oleh Pemerintah dan Korporasi Bakrei Group di Juanda tahun 2007. Sampai kapan pembayaran ganti-rugi ini akan terselesaikan, apa menunggu kesabaran korban untuk bergejolak lagi…

  2. selly mengatakan:

    semoga tidak ada intervensi apapun..
    amin..

  3. Ade Sudarman mengatakan:

    Saya setuju dengan pendapat Pak Kersam, ada asap ada api, ada kejadian ada penyebab. Cuma waktu zaman dulu sewaktu BPPKA dibawah PERTAMINA action itu cepat dilaksanakan, seperti kejadian blow out gas Arun, PERTAMINA cepat membantu, tetapi sekarang BP MIGAS, sepertinya sendiri tidak punya pasukan untuk mengatasi kejadian2 seperti ini, padahal semua kegiatan migas dibawah control BP MIGAS.
    Mari kita renungkan.

  4. Kersam Sumanta mengatakan:

    Saya ingin meluruskan komentar Sdr SHP “semburan lumpur lapindo akibat kesalahan pemboran hanya dugaan2 saja”, hal itu tidak benar, semua ada buktinya yang dicatat secara otomatis dlm peralatan yg disebut “Data Unit” ketika pemboran dilakukan ditambah lagi oleh bukti2 “Laporan Harian Pemboran” (DDR) yang dibuat oleh drilling supervisor yang bertugas dilokasi; dan inilah yang kita setarakan/ibarat “black box” dalam pesawat terbang. Justru pendapat2 yang mengatakan “bencana alam sebagai akibat gempa bumi” yang tidak ada buktinya sama sekali hanya hypotesa belaka. Justru para penegak hukum yang memutuskan “sebagai bencana alam” yang sangat mengherankan, mengerti drilling eng. pasti tidak, memanggil untuk minta penjelasan para pakar pemboran D.N./ L.N. pun tidak. Penjelasan Lapindo (sebagian geologist) akibat gempa bumi yg sedemikian besarnya sehingga tdk dapat dicatat oleh seismograph karena sdh “over scale”, sangat menggelikan, karena kalau benar over scale magnitude gempa tsb sdh lebih dari 9 pd skala Richter, dn kalau itu benar seluruh bangunan di Porong dn Sidoarjo sdh akan rata dengan tanah, tetapi nyatanya semua bangunan masih utuh tidak ada yg runtuh, bahkan retak pun tidak.Bandingkan dgn kekuatan gempa di Aceh dn Padang.
    Marilah kita belajar berfikir kritis, benar dan jujur.

    • Tonas mengatakan:

      Sepakat Pak Kersam, opini untuk menggiring masalah Lumpur LAPINDO ke arah Bencana Alam di ciptakan oleh “Konsultan-2 Handal” yang sengaja di kontrak oleh BAKRIE Group agar bisa terlepas dari Tanggung Jawab baik secara Moril maupun Materiel terhadap Warga Korban Lumpur LAPINDO. Dan ini salah Satu-nya HASIL Kerja MEREKA saat INI…..

      Mediasi Korban Lumpur Macet
      PT MLJ Mengaku Kehabisan Uang

      SIDOARJO – Proses ganti rugi bagi korban lumpur Lapindo macet di tengah jalan. PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) mengaku kehabisan dana. Pertemuan antara PT MLJ dan warga korban lumpur yang dimediasi Pansus Lumpur DPRD Sidoarjo gagal menemukan jalan keluar.

      Korban maupun PT MLJ masih ngotot dengan pendirian masing-masing. ”Belum ada kesepakatan pasti. Yang jelas, kami sudah mempertemukan korban dengan PT MLJ dua kali,” ujar Ketua Pansus Lumpur DPRD Sidoarjo Sulkan Wariono.

      Dia menegaskan, beberapa warga yang berdemo di depan DPRD ikut sebagai wakil. Hasilnya, warga yang ikut tetap ngotot untuk meminta bayaran cash and carry.

      Sementara itu, pihak PT MLJ tidak mau mengalah. Vice President PT MLJ Andi Darussalam Tabusalla menyatakan bahwa Lapindo kehabisan uang dan tidak bisa membayar. Jangankan untuk membayar 80 persen sekaligus, membayar cicilan saja masih tersendat. ”Dia (Andi, Red) menyatakan dulu bisa membayar lancar karena BRI memberikan talangan Rp 1 triliun. Sekarang dana talangan tersebut habis dan BRI tidak mau menalangi lagi,” terang Sulkan.

      Dalam pertemuan selama dua hari tersebut, pihak MLJ hanya bisa menjanjikan pencairan sebulan, yaitu Rp 15 juta seminggu sebelum Lebaran. Itu pun belum bisa dipastikan apakah bisa dilakukan atau tidak.

      Warga yang menuntut cash and carry sekarang ngotot untuk bertemu dengan Presiden SBY di Jakarta. Mereka meminta agar warga yang berada di peta terdampak dalam Perpres 14 (dibayar Lapindo) dimasukkan ke Perpres 48 (dibayar pemerintah). ”Ini kan balik ke awal lagi jadinya,” ujar Sulkan. Dia secara pribadi menyatakan tidak setuju dengan pergantian Perpres 14 ke Perpres 48. Sebab, sangat kecil kemungkinan pemerintah mau mmberikan dana talangan bagi Lapindo. ”Namun, karena dulu DPR sepertinya memberikan sinyal, pansus berani mengusulkan untuk ditalangi pemerintah dulu,” tegasnya.

      Andi saat dikonfirmasi membenarkan bahwa MLJ saat ini sedang mengalami kesulitan finansial. Karena itulah, pembayaran tersendat-sendat. Menurut dia, asetnya memang banyak. Tapi, tidak semudah membalikkan tangan untuk menjualnya.

      Hanya, dia membantah soal BRI yang menghentikan dana talangan itu. “Tidak ada yang seperti itu. Tidak ada,” tegasnya. Menurut Andi, pertemuan dengan pansus hanya membahas kendala pembayaran dan tidak menyinggung BRI.

      Dia menambahkan, rencana pembayaran cicilan sebelum Lebaran pun belum pasti. Sebab, saat ini hal tersebut masih diusahakan. Karena itulah, dia belum memastikan jumlah korban yang akan mendapatkan haknya. (sha/eko/c13/ib)

  5. jemmy mengatakan:

    mugkin karena beberapa tahun belakangan ini. lumpur sudah di tangani oleh pemerintah yang sekaligus di latar belakangi pak .sby..
    maaf jika ada kekeliruan

  6. SHP mengatakan:

    Whatever you think, please also think the opposite !
    Bisa jadi itu pertanda ada peningkatan kesadaran hukum di pihak Kompas, sehingga tidak lagi memakai jargon yang tendensius. Saya lihat justru kompsa makin waspada, di mana setelah empat tahun tidak satu pun karya tulis yang bisa menyajikan bukti konkrit yang sah dan meyakinkan bahwa lumpur itu adalah akibat pemboran, semua hanya dugaan-dugaan saja. Dalam hal hukum, sebenarnya prinsipnya mudah saja : no evidence, no compensation. Tidak bisa kita menghukum seseorang dengan dugaan-dugaan, semua harus dengan alasan yang konkrit. inilah, kenapa berkas Lapindo selalu dikembalikan oleh kejaksaan: tidak adanya bukti konkrit ! Karena dalam urusan ini kita ada dalam hukum, bukan keilmuan di mana hipotesa dan teori mendapat tempat.

    Jadi harus dilihat bahwa pemilik Lapindo, dalam hal ini kelompok Bakrie mengeluarkan uang adalah lebih karena panggilan kemanusiaan atas musibah yang dialami oleh masyarakat di mana dia beroperasi, sedangkan di sisi lain orang ramai sibuk saling tuduh siapa yang harus bertanggungjawab. Mungkin juga dengan terpaksa, karena tekanan emosional masyarakat dan pembentukan opini lewat pers secara tidak adil.

  7. Miners mengatakan:

    Melakukan explorasi itu bukan perkara yang mudah dan mahal, sehingga yang mengandung resiko itu pasti amat dihindari. Masyarakat Indonesia memang mudah untuk dipengaruhi hal-hal yang tidak rasional. Kalau memang itu bencana memang susah diterima karena masyarakat Indonesia memang maunya untung saja tanpa kerja keras (azas manfaat), karena kalau Lumpur Sidoarjo (LUSI) dikatakan bencana, pemerintah bingung cara mengatasinya karena memang tidak ada SOP untuk kasus seperti LUSI, tapi kalau dikatakan kesalahan dalam pengeboran hasilnya; jelas siapa yang harus dapat langsung bertanggung jawab alias (bagi-bagi uang, mumpung ada kesempatan). Seperti kasus Tsunami Aceh pasca bencana setiap korban termasuk yang mengaku korban mengambil kesempatan untuk memanfaatkan dana bantuan. Jadi kalau sudah Bencana Alam janganlah mencari “Kambing Hitam”.

  8. minipop mengatakan:

    saham bakrie kan lg menguat euy… ada hubungannya ga yaa

  9. lodysetiadi mengatakan:

    Masalah Lumpur Lapindo 100% dapat diatasi/dicontrol oleh putra2 terbaik bangsa ini.

  10. Damar Dwiyadi Pratama mengatakan:

    Yah, saya gak ngerti mau komentar apa, tapi, saya takut kalo ada teori konspirasi disini! http://artikelmenarik.wordpress.com

  11. agung mengatakan:

    pak dhe memang waspada. yo kuwi kalau tarik menarik kepentingan yg akhirnya yg punya duit yg menang. kan krisis global juga karena greedynya para CEO dan pemimpin. udah ah yg penting, kan masalah pilihan. mau jadi terhormat secara nyata atau cuma terhormat dalam wacana ( media). jujur sudah menjadi sesuatu yg aneh. karena semua pingin growth jadi kaya materi dan sombong. sabar….. sampai kapan…..sabar.. kan ada yg Maha Kuasa…….sabar….sampai kapan…..hus sabar…..yakin ada hikmahnya….bagi siapa?……sabar!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: