Kawasan Tidak Layak Huni Meluas

Selasa, 10 Agustus 2010 | 02:32 WIB KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Korban lumpur Lapindo yang tergabung dalam Aliansi Korban Lumpur Sembilan RT berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Senin (9/8). Mereka menuntut permukiman mereka masuk peta terdampak lumpur dan dapat ganti rugi.

SURABAYA, KOMPAS – Hasil penelitian Tim Kajian Kelayakan Pemukiman menunjukkan kawasan tidak layak huni akibat semburan lumpur Lapindo meluas. Saat ini bertambah 45 RT, yang letaknya di seputar kolam penampungan lumpur.

”Tahun 2008 lalu sembilan RT di Desa Siring, Jatirejo, dan Mindi sudah dinyatakan tidak layak huni. Sekarang tambah 45 RT lain,” papar anggota Tim Kajian Kelayakan Pemukiman (TKKP), Putu Artama, dari Pusat Studi Kebumian dan Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Senin (9/8) di Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya.

Ke-45 RT yang dinyatakan tidak layak huni itu berada di empat desa, yaitu Desa Mindi (kini semua RT dinyatakan tidak layak huni) di Kecamatan Porong, Desa Besuki Timur di Kecamatan Jabon, Desa Ketapang di Kecamatan Tanggulangin, dan Desa Pamotan di Kecamatan Porong.

Menurut Putu, ada delapan kriteria untuk mengukur tingkat kelayakan hunian permukiman warga di seputar kolam lumpur. Kedelapan kriteria itu adalah penurunan tanah, terjadinya gelembung gas bercampur lumpur, pencemaran udara, pencemaran air permukaan, pencemaran air sungai, aspek kerusakan aset/infrastruktur, aspek kesehatan masyarakat, dan aspek psikososial masyarakat.

”Dilihat dari delapan kriteria tersebut, ternyata seluruh kriteria terpenuhi. Karena itu, permukiman warga di sekitar kolam lumpur kami tegaskan tak layak huni. Survei kami lakukan sejak Desember 2009 hingga April 2010,” kata Putu.

Melubernya lumpur Lapindo ke arah tanggul sisi barat pada Jumat lalu semakin mengkhawatirkan warga sembilan RT. Meski sudah dinyatakan sebagai daerah tak layak huni oleh TKKP, hingga kini nasib mereka belum jelas. Mereka hanya menerima bantuan sosial berupa uang kontrak rumah sebesar Rp 2,5 juta per tahun.

Asisten Kesejahteraan Masyarakat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Edi Purwinarto mengatakan, pasca-lubernya lumpur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur langsung mengirim surat kepada Menteri Pekerjaan Umum, Jumat lalu. Isinya, meminta agar sembilan RT dan 45 RT lainnya dimasukkan dalam area peta terdampak lumpur dan selanjutnya diperlakukan seperti korban lumpur lain yang masuk peta terdampak. (ABK)

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/10/02324229/Kawasan.Tidak.Layak.Huni.Meluas

Satu Balasan ke Kawasan Tidak Layak Huni Meluas

  1. subagiyo mengatakan:

    Saya warga pamotan yg sdh empat tahun ini kehidupan terusik oleh hadirnya explorasi yg ngawur ditengah2 pemukiman warga.Benar tidaknya perijinan yg tahu orang2 pinter itu juga tapi kadang juga dipake minteri.yang pasti sangat tdk tentram hidup dipinggir kolam LUMPUR PANAS .Gak usah pemetaan tetek bengek,kalau memang ini kategori proyek besar langsung aja beli lahan2 sesuai peraturan harga atau musyawarah semua warga agar tak terkatung katung hidup.Sebab disini adalah membuat penyakit yg pelan tapi pasti akibat polusi lumpur panas ini.SILAHKAN para pencipta proyek ini coba hidup dekat warga yg terdampak agar bisa merasakan keluhan warga yg merasakan tiap harinya jadi tdk hny MENDENGARKAN keluhan saja tapi BISA merasakan apa yg diungkapkan warga. Dari segala aspek terganggu bahkan usaha kerja saya turun hg 90% tentg pekerjaan jasaku.bidang elektronik service.Kiranya pemerintah dan perusahaan melihat dan segera merealisasikan apa yg diminta warga akibat ulah explorasi.Apa sih yg dicari manusia kalau mati.hartamu dan sbgnya gak akan dibawa.INGATLAH ITU JANGAN SERAKAH DAN SUKA MENYENGSARAKAN ORANG LAIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: