Lumpur Sidoarjo masih 26 tahun lagi

Februari 25, 2011

Jumat, 25/02/2011 20:28 WIB
Lumpur Sidoarjo masih 26 tahun lagi
BBCIndonesia.com – detikNews

Peneliti memperkirakan semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur mungkin masih akan terus terjadi 26 tahun ke depan.
Para peneliti ini juga mengatakan semburan tersebut berasal dari gunung berapi lumpur yang meletus Mei 2006 dan memuntahkan 180.000 meter kubik per hari atau setara dengan kapasitas air 50 kolam renang standard Olimpiade.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Mayoritas Fraksi DPRD Sidoarjo Setuju Pansus Lumpur Lapindo

Februari 23, 2011
foto Selasa, 22 Februari 2011 | 16:57 WIB

TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif, Sidoarjo – Sebagian besar fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sidoarjo setuju Panitia Khusus Lumpur Lapindo dibentuk kembali. Mereka berjanji akan memperjuangkan kepentingan korban lumpur Lapindo.

“Pembayaran ganti rugi dan jual beli lahan masih belum tuntas,” kata Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Taufik Hidayat, Selasa (22/2).
Baca entri selengkapnya »


Sumur Warga Sidoarjo Diduga Tercemar Lumpur Lapindo

Februari 23, 2011
fotoSenin, 21 Februari 2011 | 11:24 WIB
TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif, Sidoarjo – Warga Desa Besuki Timur Kecamatan Porong mengeluhkan sumur air minum diduga tercemar air lumpur Lapindo.

Akibatnya, air sumur warga berubah keruh berwarna kuning dan rasanya berubah asin. Sehingga, warga harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli air minum. “Air sumur tak layak konsumsi,” kata warga setempat Adib Rosadi, Senin (21/2). Baca entri selengkapnya »


Terendam Lumpur Lapindo, Petani Minta Sawahnya Dibeli

Februari 23, 2011

Selasa, 22 Februari 2011 – 12:07 WIB

SURABAYA(Pos Kota)- Keresahan terus menyelimuti petani Gempolsari, Tanggulangin yang sawahnya berbatasan lansung dengan tanggul kolam penampungan lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur. Semenjak lumpur menyembur, sawah mereka sudah tidak produktif. Warga mendesak agar BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) segera membeli lahan sawah mereka. Baca entri selengkapnya »