5 Tahun Lumpur Lapindo, Mewaspadai Amblasnya Tanah

5 Tahun Lumpur Lapindo, Mewaspadai Amblasnya Tanah

Friday, 27 May 2011 18:39 Rony Sitanggang

Jelang 5 tahun semburan lumpur Lapindo, di Surabaya, Jawa Timur digelar simposium membahas semburan itu. Acara yang diadakan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo dan Lembaga Swadaya Masyarakat asal Australia, Humanitus Foundation tersebut menuai protes. Protes datang dari Andang Bachtiar, Ketua Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), diantaranya karena tak dilibatkannya ahli geologi dari kampus di Indonesia sebagai pembicara. Dia juga mengungkapkan perlunya survei seismik 3 dimensi   untuk melihat kondisi di bawah gunung lumpur itu. Data itu akan berguna untuk menjawab diantaranya masalah tanah amblas di kawasan itu. Selengkapnya kita simak perbincangan yang diudarakan dalam program sarapan pagi berikut ini;

Ada 17 peneliti datang dalam simposium yang diadakan bertepatan dengan lima tahun peringatan lumpur Lapindo. Anda melihat ada kejanggalan di sini?

Tidak janggal, Biasa saja. Jadi, usaha- usaha secara Internasional untuk meneliti sesuatu, sebab fenomena yang spektakuler secara geologi memang wajar saja. Orang pasti ingin datang, ingin meneliti, ingin presentasi, dan sebagainya. Yang tidak wajar adalah bagaimana itu diselenggarakan dan siapa saja yang disuruh bicara, itu yang tidak wajar.  Tapi kalau banyak orang tertarik dari seluruh dunia kesitu, wajar sekali. Itu memang fenomena dunia.

Kalau anda sendiri, apa alasan anda  tidak hadir dalam konferensi ini ?

Saya tahu sekitar 1,5 bulan yang lalu atau 2 bulan yang lalu ketika saya bersama- sama dengan kawan- kawan dari IAGI dan HAGI membantu tim dari pemerintah, dari badan geologi untuk coba mencari data yang lebih bagus dengan nge-run 3D seismic, merencanakan, dan sebagainya. Dikasih tahu BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo), bahwa akan ada itu seminar atau simposium bulan Mei, dan sebagainya. Saya pikir, bagus juga partisipasi dalam artian untuk mempresentasikan hal- hal kedepannya seperti apa pengelolaannya, itu yang saya maksudkan waktu itu. Tapi saya 2 minggu yang lalu diundang oleh penyelenggara. Di situ, disebutkan kalau yang diundang presentasi sepuluh peneliti dari luar negeri dan dua dari Indonesia. Dan dua dari Indonesia itu satu dari BP Migas, dan Lapindo. Terus saya minta, kalau bisa ada pembicara dari Universitas Indonesia dong, masa ini orang dari luar negeri semua, terus dari Indonesia dikit sekali, ada dari satu BP Migas, satu dari Lapindo.

Mengapa hanya 2 dari Indonesi ?

Pertama kali seperti itu, saya protes. Sudah 2 minggu yang lalu saya kirim surat ke mereka. Terus saya akan dipertimbangkan, terus setelah itu saya coba dihubungi lagi untuk datang. Sementara saya coba atur waktu saya. Saya tanya ke mereka, nanti bagaimana kita disana? Ya, dengerin aja mereka, terus ikut diskusi. Tapi saya tanya apa ada sesi khusus brand storming atau segala macam, mereka tidak tahu. Jadi saya pikir, buat apa juga saya kesana dengan komposisi pembicara seperti itu, hanya mendengarkan. Paling tanya jawab 1 menit 2 menit, setelah itu selesai. Lebih bagus sebenarnya kalau presentasi di depan, mengemukakan apa yang akan dilakukan ke depan. Karena itu, saya tidak bisa. Saya rasa mungkin lebih baik orang- orang yang ingin belajar sesuatu dari mereka yang datang ke sana. Saya sendiri, posisi saya, saya tahu pendapat mereka dan penelitian mereka yang terbaru itu pun, saya juga sudah monitor.

Artinya anda melihat, bahwa acara ini tidak produktif ?

Ya kalau mau lebih produktif, ada produktif juga. Artinya, dari segi ada temuan baru di beberapa hal. Misalnya, tentang bagaimana ke depannya, ada usulan harus ada dana 25.000 dollar per tahun untuk research secara internasional, harus dilakukan secara internasional, dan sebagainya.  Tapi kalau mau lebih produktif  sebenarnya, kalau mau ke depan, undang orang-orang atau badan atau lembaga yang punya rencana 3D seismic running di sana butuh bantuan sekali, untuk desain, untuk ini, dan sebagainya. tapi tidak ada yang diundang untuk bicara dari badan geologi.

Biasanya   ahli geologi,  mengolah data berdasarkan hasil- hasil informasi yang eksak. Ini sudah lima tahun peristiwa terjadi, tapi sampai sekarang masih ada beda pendapat. Apa sebetulnya yang menyebabkan ?

Beda pendapat sangat biasa di dalam geologi. Data yang sama pun, orang dengan background pengetahuan yang berbeda dan experience yang berbeda juga akan berbeda pendapat tentang suatu data di bawah permukaan. Kenapa ada yang berbeda ? secara scientific saya bisa mengerti. Ketika, seseorang dengan background tektonik yang dari pengetahuan tentang tektonik regional, tentang  gempa, kuat sekali, sementara pengetahuan dia tentang teknik- teknik pengeboran tidak ada. Maka, dia akan lebih ngomong ke tektonik regional daripada teknik pengeboran. Sementara orang yang tahu tentang teknik pengeboran, dan tidak tahu tentang tektonik regional dia akan ngomong lebih banyak pengeboran daripada tektonik regional. Jadi, wajar.

Ada   Geolog asing  yakin bahwa semburan lumpur sudah masuk masa puncak. Ini maksudnya seperti apa? Kondisi terkini, dari hasil kajian anda terkait dengan lumpur Lapindo ini, seperti apa ? apakah sama seperti yang diungkapkan oleh ahli- ahli  asing ?

Saya me-refresh kembali ke November 2010, ketika terjadi pertentangan antara data yang diambil oleh ITS waktu itu yang mengatakan, ini mengenai Out flow-nya dari lumpur itu. Sebenarnya, tidak turun- turun banget, itu ada data dari mereka. Bahkan, mereka masih menghitung sekitar 80.000 – 90.000 meter kubik per day. Tapi sementara itu, ada statement dari kawan- kawan, ini sudah sekitar 25.000 – 30 atau 40.000 meter kubik per hari. Dari dua angka yang berbeda itu, waktu itu saya tanyakan, metodologinya seperti apa? Yang satu mengatakan, pengamatan visual biasa saja. Yang satu mengatakan, lumpur begini- begini. Dari situ saja terlihat, bahwasanya fakta saja yang tadi anda tanyakan mengenai fakta yang tepat, itupun berbeda- beda, itu yang pertama. Yang kedua, tetapi dari segi kenampakkan permukaan saja, sekarang dari satelit kita bisa lihat bahwa, lebih banyak lumpur yang keluar, mengeras di sekitar pusat semburan. Itu anda bisa lihat di satelit. Artinya, fasenya mungkin sudah agak berbeda dengan fase sebelumnya banyak sekali cairan yang keluar. Tapi, apakah ini sudah sampai puncak kemudian mengecil ? Saya juga tidak tahu. Karena, ini juga mungkin bagian dari simpangan dari keseluruhan proses yang ada. Simpangan itu jadi asing lagi. Jadi, bisa jadi setelah ini membesar lagi, mengecil lagi, membesar lagi. Masih butuh pengamatan yang cukup lama untuk hal ini.

Setelah lima tahun semburan lumpur Lapindo, perhatian dari ahli geologi itu, apakah masih berpusat pada apa yang menyebabkan semburan itu terjadi atau sudah mengarah kepada perhatian yang lain? Misalnya, ini manfaatnya apa, dan seterusnya?

Kalau saya sendiri mengamati yang datang kesitu, terutama kalau yang dari luar negeri itu masih utak- atik itu lagi, itu lagi, kenapa tektokniknya, bagaimana, dan sebagainya. Tapi kalau di dalam, secara internal itu di Indonesia sendiri, kita ini yang dari dulu concern tentang hal itu sudah tidak mengurusi mau penyebabnya apa, yang penting sekarang ke depannya daerah mana lagi yang mesti diselamatkan, mana yang mesti amblas, dan sebagainya. Untuk itu harus ada penelitian yang mengarah lebih ke situ. Misalnya monitoring yang continue. Kemudian, di bawah seperti apa, makanya kita usulkan tahun kemarin, coba di run 3D seismic. Padahal,  usulan itu sudah sejak tahun pertama kita  sampaikan, baru kemarin  disetujui  oleh pemerintah. Sekarang lagi direncanakan untuk di run disitu.

Konkritnya itu nanti seperti apa gambarannya ?

3D seismic itu bisa melihat gambaran di bawah permukaan dari seismik secara 3 dimensi. Yang selama ini, gambaran di bawah itu hanya gambaran yang diambil seismik akhir tahun 90-an. Bahkan, sebelum ngebor pun belum ada data terbaru. Apalagi, setelah terjadi kejadian seperti itu, belum ada data seismik terbaru. Kita coba usulkan itu, dan akhirnya disetujui pemerintah. Kita monitor semua dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia itu, ikut membantu untuk merencanakan secara volunteer, secara sukarela. Tiba- tiba ada simposium seperti ini, orang ngomong lagi penyebabnya dan sebagainya.

Jadi mengalihkan lagi, mundur lagi seolah-olah ya?

Saya tidak tahu juga. Memang tujuannya ini untuk penyelesaian ke depan. Tapi, bagaimanapun kontroversi itu terus akan ada. Apalagi peneliti dari luar negeri. Bahkan, ada yang lucu, ada satu peneliti yang presentasi, yang saya baca dilaporan Pak Awang, itu dia presentasi bukan tentang Lapindo. Tetapi tentang kasus di luar negeri. Apa-apaan ini. Daripada kaya gitu, mending orang yang research disitu, disuruh presentasi.

Kalau   prediksi anda. Akan seperti apa ke depan  Sidoarjo? Karena kemarin ada demo warga yang di luar peta terdampak.

Seperti apa kedepannya, saya juga tidak berani bicara sebelum melihat hasil 3D seismic terbaru. Tetapi kalau mau kira- kira seperti apa, kita melihat amblasan yang terjadi terus.  Yang kemungkinan jelas-jelas di luar daerah yang sudah ditanggul di daerah barat sudah pasti. Orang hanya melihat data permukaannya saja. Apakah nanti daerah itu akan meluas ? ya dan tidak saya jawab. Karena, evaluasi tentang itu tergantung bagaimana kita mengevaluasi secara detail 3D seismic yang akan kita run.

Butuh waktu berapa lama kira- kira untuk kita bisa membaca ?

Sampai akhir tahun. Sekitar Desember mudah- mudahan selesai. Karena, run-nya sendiri mungkin cuma sebulan dua bulan saja. Tapi untuk sosialisasi, kontrak segala macam, saya tidak tahu. Repotnya lagi, lagi repot- repot mau mendekati masyarakat, mau coba run di bawah dan penyelesaiannya bagaimana. Tiba- tiba ada yang mau ngebor lagi di sebelah, kan repot juga. Jadi agak susah, memang itu didukung oleh BP Migas, kalau tidak salah Lapindo mau ngebor.

Itu ada dampaknya ?

Saya juga tidak tahu ada dampaknya atau tidak. Tapi kalau jawabannya adalah, dulu waktu ngebor di sekitar Tanggulangin tidak apa- apa. Itu dulu, sebelum tahun 2006, kalau sekarang usulan saya, kalian bikin percobaan dulu, diawasi betul. Jangan ngomong mau ngebor gas atau minyak. Walaupun lebih dangkal, tapi daerahnya lebih dekat. Jombang, Mojokerto saja tidak mau di seismik oleh Exxon Mobil, kok ini yang 2,5 kilo dari situ mau di bor. Menurut saya, kawan- kawan yang di BP Migas maupun Lapindo kurang Strategis.

http://www.kbr68h.com/berita/wawancara/6903-5-tahun-lumpur-lapindo-mewaspadai-amblasnya-tanah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: