Lima Tahun Semburan Lumpur Lapindo

Lima Tahun Semburan Lumpur Lapindo

Headline News / Sosbud / Jumat, 27 Mei 2011 09:30 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Tragedi Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, sudah memasuki tahun kelima. Namun luapan lumpur akibat kesalahan pengeboran itu terus menyembur dan mengancam kehidupan masyarakat sekitar. Padahal luapan lumpur itu telah menenggelamkan sejumlah perkampungan, berikut harta benda warga sekitar pusat semburan. Ironisnya proses ganti rugi berjalan di tempat.

Luapan lumpur Lapindo kini sudah mencapai 150.000 meter kubik per hari, dan telah melalap 800 hektare tanah warga sekitar. Sejumlah geolog dari 17 negara mengadakan simposium dan bersepakat Lumpur Lapindo tidak akan berhenti menyembur.

Ahli Hukum Lingkungan Muspani menegaskan dilema lumpur semakin dikukuhkan dengan tidak adanya tanggungjawab negara. Peraturan Presiden berbenturan dengan Undang-Undang No 24 tentang Bencana Alam. Peraturan Presiden hanya mengatur penanggulangan masalah lumpur dan kerugian yang dialami masyarakat.

“Perpres tidak menjelaskan Lumpur Lapindo sebagai bencana apa, dalam UU bencana ada tiga yakni alam, teknologi, kerusuhan. Perpres hanya memberikan kewajiban kepada Lapindo untuk ganti rugi. Namun, negara tak menyatakan siapa yang bersalah dalam bencana itu,” ungkap Muspani.

Sementara itu, ahli pengeboran minyak Institut Teknologi Bandung Susila Lusiaga menegaskan sumber semburan berasal dari pengeboran sumur (drilling). Selama ini, semua pihak melihat fenomena bencana Lapindo terjadi karena gempa di Yogyakarta pada 2006.

“Kekuatan gempa Yogya hanya 6,3 skala Richter, dan di seluruh dunia tak pernah gempa 6,3 SR menyebabkan mud volcano dengan jarak 300 kilometer. Gempa Yogyakarta tidak akan pernah mengakibatkan semburan lumpur Sidoarjo,” ungkap Susila.

Luapan lumpur Lapindo pun menjadi masalah sosial. Namun, entah mengapa negara membiarkannya selama lima tahun. Pemerintah tidak tegas dalam mengadvokasi warga.

Kini, lima tahun telah berlalu. Semburan Lapindo masih menghantui warga. Potensi semburan diperkirakan terus keluar bahkan hingga puluhan tahun ke depan. Namun, pemerintah tetap bergeming. Hak konstitusional warga untuk mendapat perlindungan tak jua didapat. Lumpur Lapindo telah menjadi satu catatan kelam dalam perjalanan Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.(****)

4 Balasan ke Lima Tahun Semburan Lumpur Lapindo

  1. MOHD mengatakan:

    Kembalilah kepada Allah
    Tutp cepat pusat pelacuran terbesar dunia di surabaya.

    Allah yang berkuasa.

    taubat semua rakyat Indonesia

  2. Suhadak mengatakan:

    Aqu Takut pulau jawa akan rusak,,
    t0l0ng Pak Presiden bantu lah kami yg sedang ksusahan.,
    jangn h!dup senang sendiri sj

  3. ari putra mengatakan:

    kembalilah kamu pada lelurmu…………………….. pasti kamu akn dapat jawabanya

  4. filesindo mengatakan:

    perkenalkan saya orang gedang-porong yang tinggal 150 meter sebelah barat tanggul lumpur lapindo,

    dengan tidak ada kejelasan nasip kami terus terang warga kami resah dan gelisah.

    didaerah kami mengalami pencemaran air sejak 2007, air tidak dapat lagi digunakan untuk minum dan bahkan untuk mencuci pakaian pun tidak bisa karena kotor dan deterjen tidak berbusa seperti air deterjen tercampur minyak tanah. sama halnya buat mandi dan keramas, habis berapapun sabun dan samponya ga bakalan bisa berbusa. apalagi waktu musim kemarau air semakin pekat dan tambah kuning bahkan ada yang hitam kaya air selokan.

    pihak pemerintah dan lapindo hanya memberikan bantuan air bersih dengan didirikannya tandon2 air yangjauh dari kata cukup, untuk sekarang tandon diisi pada hari senen-jumat janjinya. ternyata hari jumat sudah tidak dikirim lagi. entah itu dikurangi jatahnya oleh BPLS ato disalah gunakan oleh si pengirim, air tersebut dari PDAM.

    sebelum ada lapindo air didapat dengan mudah dan tak terbatas jumlahnya, setelah tercemar, warga harus mengantri untuk mendapatkan air bersih dan itupun terbatas. tandon diisi satu jam langsung habis. itupun harus berebut jadi senggol sana senggol sini. kata2 kotor takterbendung. marah, kecewa, jengkel dirasa bila tak dapat bagian. itulah warga yang terpaksa ngantri untuk sedikit memenuhi kebutuhan air bersih.

    tidak semua yang ngantri kebagian air, bagaimana dengan warga yang sudah usia lanjut yang ga bisa ngantri…

    kenapa semua ini tidak dipertimbangkan oleh pemerintah, dampak sosial, ekonomi dan kesehatan warga kami.

    mereka lupa, tidak tau atau tidur …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: