Diskusi HDCB

disc2.pngDiskusi HDCBHigh Density Chained Ball
Sudah banyak diskusi OmPapang dan R Irawan juga rekan-rekan lain disini

Nah aku pikir lebih tepat kalau aku berikan kolom khusus buat siapa saja untuk mengasah otak disini, dengan link khusus

silahkan ditulis di komentar :)

316 Balasan ke Diskusi HDCB

  1. yogie mengatakan:

    saya hanya orang desa mungkin bisa bermanfa’at bagi ahli geologis indonesia untuk pemikiran saya tersebut
    blh sekali kalo ada yang mau jawab ke email saya yogie2009@yahoo.com

  2. yogie mengatakan:

    percuma dulu pake’ bola beton soalnya semburan tidak disatu titik,dan kalo dikasih bolabetan pasti akan keluar diselah2nya bola beton tersebut.
    kalo pake’ pengeboran juga percuma soalnya ngak bisa tembus pada lubang pengeboran awal itupun juga mustahil
    dan ini menurut penelitian saya semburan terjadi pada titik pengeboran awal dan letak posisinya ditengah2 lubang sumur, atau retak pada sambungan pipa yang ditanam pada sumur tersebut
    sedangkan sam-pai saat ini SDM YANG DIPAKAI NEGARA seperti BPLS HANYA MEMENTINGKAN KEPENTINGAN PRIBADI dan hanya mengambil untung semata alias kkn
    kesalahan pribadi yang nanggung negara ngak logis sama sekali
    manusia yang dicari hanya uang tidak pejabat kecil besar apalagi bisa2 nnegara bisa juga dijualnya
    sekolah gratis tapi banyak yang tidak sekolah
    fikirkan itu wakil rakyat

  3. yogie mengatakan:

    sekarang tak perlu saling menyalahkan gimana cara untuk penghentiannya
    saya punya cara apakah menurut geologi indonesia bisa atau tidak
    blm pernah dilakukan penyumbatan melalui titik pengeboran awal,dengan cara dibor ulang dan memasukkan cubing lebih kecil dari pengeboran awal tersebut.
    menurut penelitian saya bahwa terjadi kebocoran waktu pengeboran awal tersebut. dan letak dari pada kebocoran itu saya perkirakan antara 1500m kedalamannya dalam tahap awal pengeboran adalah 3000m kemungkinan besar seprti itu
    tergantung dari ahli geologi
    trimah kasih bagi yang membaca dan ahli geologi indonesia

    Balas

  4. Selud mengatakan:

    Semoga cepet berakhir aja masalahnya ….Puziiing dahhhh

  5. wahyu mengatakan:

    gak capek apa cuma membahas….?mkanya cari orang cerdas jgn orang pintar,,orang pinter y gini cm di bahas beda klo orang cerdas.mereka lbih cepat dan berani mangambil keputusan tentunya yang tidak terlalu merugikan…wani piro..???

  6. usil mengatakan:

    Hanya segelintir orang saja yang bisa jawab pertanyaan2 pak Lippman dan Bara
    diatas.

    Siapa2 mereka? Tanya pak Dhe Rovic.

  7. bara mengatakan:

    tanda2, penyebab, cara pengatasannya terhadap beban torsi,tension dan buckling pada pipa bor apa yaaaa, makasih

  8. lippman mengatakan:

    mohon bantuannya rumus2 tentang tekanan, yang ditekan itu rubber yang punya density(kekentalan) tertentu didalam tabung, yang mana ruber tersebut tadinya keras kemudian dipanaskan dengan waktu tertentu akan meleleh, selanjutnya ditekan dialirkan kebeberapa dititik dengan dia yang mengecil dalam waktu tertentu, karena rubber tersebut sifatnya akan mati atau keras dalam waktu tertentu,
    yang menjadi pertanyaan berapa kecepatan dan waktu tempuh yang dibutuhkan, dan diameter(area) yang cocok untuk perubahan dia mengecil,

    mohon bantuaanya kalo bisa ada contoh rumusnya

  9. AlFarid mengatakan:

    Sejauhmana dampak (pengurangan) semburan lumpur terhadap pemasangan Bola Beton..lalu apa upaya yang akan dilaksanakan saat ini dan ke depan..

  10. Budiyono mengatakan:

    Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di optimaidea@plasa.com terima kasih.

  11. Budiyono mengatakan:

    Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di optimaidea@plasa.com

  12. mang Ipin mengatakan:

    Sori baru kembali dari Garut habis ngeliat PLTPB di Kamojang,begitu buka favorit blog
    ini waaaah!!! sudah sangat ramai dengan pencerahan dari beberapa para pakar qta,
    maaf yo bung Usil masih belum pindah ke diskusi HDCB part II masih ndompleng aza
    dsini…. namun ulasan terakhir dari mdm Hime mengenai fail dari trial n error dua PT ter
    kenal ndak ada sanksinya alias tanggung jawabnya??????? yaah barangkali itu me-
    rupakan jawaban kenapa BPLS tidak tolah toleh kepada usulan2 yang suangaat reason
    able dari para pakar di blog ini yaaa????????mbuh, lam kompak

  13. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Om Papang betul, sama sekali tidak ngawur, pak usil yang baik.
    Kesimpulan pak usil logis, dan tentu saja benar!
    Karakteristik semburan2 liar itu persis Bejana Berhubungan, sebab pangkalnya dapat dipastikan berawal atau bercabang pada lubang semburan utama. Dilubang semburan utama, tekanan hidrostatis dikontrol oleh tinggi genangan di pond. Maka tinggi semburan liar (statis) tidak bakal melebihi tinggi genangan dilubang semburan utama ditambah tekanan gas di semburan liar.

    Pemikiran pak usil yang diilhami adanya Bejana Berhubungan antara semburan liar dengan lubang semburan utama, seharusnya menjadi dasar tim ITS membuat tekanan “kontra hidrostatis”, yakni keyakinan bahwa tekanan semburan liar tidak bakal jauh berbeda dari sekitar 20 m. Hanya metode mereka saja yang bikin repot diri sendiri dengan pakai pralon setinggi gedung 5 lantai segala. Sehingga konsep yang sudah benar itu dan seharusnya pasti sukses, malah membingungkan para penontonnya. Pralonnya goyang sedikit, muncul hujan.

    Wah, ternyata om Papang sudah sejak awal awal kritis atas metode tim ITS: “kog primitif sekali, ndadak pakai pipa setinggi 24 m, mbok pake relief valve +manometer kan lebih bisa diketahui tekanan airnya. …………….”
    Ternyata om Papang lah yang pertama kali memikirkan dan mengusulkan metode alternative yang lebih masuk akal. Pada dasarnya usulan om Papang perfect. Hanya seperti om Papang sudah menegaskannya: “Kalau tidak kuat pasangan pipa berbentuk huruf T tersebut akan jebol keatas.” Oleh sebab itulah saya usulkan agar dipakai plat baja sebarat total gaya tekan dari semburan liar yang bekerja pada luas penampang pipa. Dengan injakan plat baja itu, pipa akan tertanam aman.

    Tetapi disini ini aneh, ya om.
    Yang dijalankan dilapangan bukannya usulan om Papang yang sudah jelas logis, melainkan tetap pemasangan pralon kurus setinggi gedung 5 lantai yang lucu itu. Ya sudah pasti goyang2 dan terus bikin hujan.
    Persis seperti HDCB nya tim ITB. Sudah dikritik dan dikupas habis2 an dengan perhitungan rinci dan dalil2 yang sangat kuat. Nyatanya tetap dikerjakan dengan argumen trial & error yang sangat ngawur, bahwa bola menyerap energi friksi, rotasi dan translasi. Setelah sekarang benar2 muncul banyak semburan liar, apa tanggung jawabnya?

  14. ompapang mengatakan:

    Nggak ngawur pak Usil, memang dalam beberapa bejana yang berhubungan dengan luas penampangnya berbeda satu terhadap lainnya seperti disebut Bu Hime, tinggi permukaan air senantiasa semua sama tak tergantung luas permukaan, (kecuali bila berbentuk kapiler).Hal tersebut disebut HIDROSTATIS PARADOKS. Coba tanya Bu Hime kalau gak percaya….sekali lagi :pak Usil nggak ngawur….he 3X.

  15. ompapang mengatakan:

    Bu Hime, saya pernah komen pada tgl 26/6 -07 pada topik “Was-was ,ITS stop semburan” mengenai menutup semburan dengan bantuan relief valve +manometer.
    Btw, ompapang gak ada prasangka buruk lho, sesama murid perguruan Eyang Bernoulli sudah wajar kalau muncul ide yang sama atau mirip. Yang jelas mesti lebih mudah menemukan titik temu, sebab pakai bahasa yang sama.

  16. usil mengatakan:

    Koq Bejana Berhubungan……ngawur aku!
    Ompapang…jangan ketawain dong!!

    Wuuups! pecah 300 posting disini……MURI ngkali ya??

  17. usil mengatakan:

    Yaaaa??? yang diatas itu usil posting sebelum baca komennya non Hime!
    Amburadul deh susunannya….ya wis!

    Tapi penjelasannya non Hime itu, apa berkaitan dengan Bejana Berhubungan?

  18. usil mengatakan:

    Iya betul juga yang Bang Rud bilang tentang selang.
    Usil ingat kalo lagi cuci bajaj usil dan air pam lagi soak, ujung selang
    harus dicekik agar semprotan bisa nyampe ke bajaj yang lagi parkir
    di jaoh sana.

    Uuups….sori! seharusnya diposting di HDCB-2. Yuuuuk!!!…

  19. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Duh, bang Rud ini bagaimana? Bang sudah menulis sendiri: “Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar.”

    Sebelumnya om Papang sudah menjelaskan dengan gamblang: “…….bila pada tinggi pralon 20 meter PAS pada saat itu tidak ada semburan(SEMBURAN BERHENTI).”

    Sayapun juga sudah menuliskan: “Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan “kontra hidrostatis”, maka v = 0.”

    Lalu, apanya yang bertentangan dengan hukum Bernoulli? Tujuan pipa pralon tim ITS adalah membuat semburan dinamis menjadi kondisi statis atau semburannya berhenti.

    Bang Rud: ‘Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.’

    H: Duh, logika apaan ini?
    Asumsi awal: tekanan semburan dari bawah adalah 20 m.
    Maka setelah tinggi pralon tim ITS mencapai 20 m, semburannya pasti berhenti. Mana bisa naik jadi 40 m? Mau pipanya 1 cm, 1 m atau 100 m, tetap airnya cuma bisa naik 20 m. Berhenti ya berhenti, titik!

    Bang Rud: ‘Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan.’

    H: Ya tergantung!
    Kalau saya sambungkan slang air itu ke pralonnya tim ITS pada ketinggian 21 m, meskipun diperkecil lubangnya sampai 1 mm, tetap tidak bakal keluar airnya. Sebab airnya sudah berhenti pada ketinggian 20 m.
    Tetapi, kalau saya sambungkan slang air itu kebagian bawah pralonnya tim ITS, lalu saya arahkan mulut slang vertikal keatas dan ujung slang saya perkecil, maka hasilnya sbb:
    - air mancur keatas, tetapi jauh dibawah angka absolut 20 m,
    - air mancur makin tinggi, bila dipakai slang yang lebih besar (lubang diujung slang tetap sama kecil),
    - air mancur makin mendekati 20 m dalam ruang vakum tanpa hambatan udara.

    Bang Rud: ‘Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja.’

    H: Ya tidak ada yang aneh.
    Pada pipa berdiameter kecil, aliran air naik dengan cepat. Sedangkan di ember, naiknya air lebih lambat. Tetapi katakanlah, embernya dibuat sangat tinggi, maka tetap air akan naik dan berhenti pada 20 m. Dan meskipun kita pakai pipa 1 cm, airnya tetap berhenti di 20 m.

    Om Papang: ‘Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat lempengan besi W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.’

    H: Oh, om sudah pernah usul mengganti pralon panjangnya ITS (yang aneh dan merepotkan itu) dengan valve + relief valve + manometer? Aduh, dimana om? Saya tidak niatan mencuri ide. Tetapi bagus sekali, dengan tambahan relief valve dan manometer pada pipa cabang-4 + plat baja, maka metode penyumbatan semburan liar akan bisa lebih cepat dilakukan. Namun kita perlu hati2, lubang pipa sebelah atas tidak boleh tertutup permanen, melainkan harus pakai sekat ring karet dan plat baja sebagai counter-weight. Sehingga kalau berat platnya kurang, air tetap bisa menerobos keluar, tanpa menyebabkan sisa tenaga tendangan semburan dari bawah membuat pipa yang ditanamkan tercabut naik keatas.

    Pak Rovicky yang punya blog ini bagaimana? Rubriknya dipotong diakhir dan kita disuruh pindah, konteksnya ya tidak nyambung, apalagi yang baru membaca. Usulnya adalah 20 texts terakhir dipindahkan ke HDCB 2. Tetapi terserah.

  20. ompapang mengatakan:

    Bu Hime, saya setuju dengan ide menutup semburan ‘yang masih kecil’ dengan plat baja dan maaf saya salah mengartikan ketikan kp sebagai kilopascal . Mengenai tekanan =density X 2g.h , seperti telah saya tulis diatas , harga 2g.h adalah pengganti v^2, sebab menurut saya untuk energi potensial air setinggi h , akan menimbulkan energi kinetik dengan kecepatan v= V2g.h (akar 2g.h)Jadi disini dianggap ada semburan air keluar dari pipa yang berdiameter 10 cm dengan kec.epatan v. Untuk menahan semburan yang mirip nosel tersebut dibutuhkan Gaya F= 3,14 X 0,1^2 /4 X1000 kg/m3 X 2X 10 m/det2 X 20 m = 3140 kN. Tetapi bila cara perlawanannya dengan metode Bu Hime,memang yang dilawan bukan tekanan hidrodinamik,tetapi hidrostatik. Jadi menurut saya metode Bu Hime lebih cerdas, sebab tekanan hidrodinamiknya sudah dibocorkan/by pass oleh kran/valve.
    Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat lempengan besi W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.
    Btw, karena rasanya HDCB sudah marhum, maka saya setuju diskusi penutupan semburan baru dibuatkan forum baru seperti diusulkan PapaTITA.Setuju Pak Dhe?

    • otak kancil mengatakan:

      memang otak orang kita ini memang cerdas..cuma kadang2 tidak ada yang menghargai secara layak.. ironis lagi sering idea2 kreatif dibajak oleh plagiator.om2, bapk2, ibu2,pakar, saya sudah membuat model miniatur alat untuk menutup sumur lapindo. tentunya menggunakan idea2 kreatif dan ilmiah, cuma bgmn cara mempresentasikan model tersebut ? kepada siapa/ lembaga apa dst? mohon pencerahan dan informasi..terimakasih, matur nuwun, kamsia

  21. Bang Rud mengatakan:

    Maaf Mbak Hime, saya minta waktu sedikit lagi untuk klarifikasi beberapa hal yang masih mengganjal.

    “Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===> tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon.”

    Ini sangat bertentangan dengan hukum Bernoulli untuk fluida dinamis. Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar. Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan.
    Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.
    Persamaan Bernoulli utk ini bisa dilihat di Wikipedia :
    http://en.wikipedia.org/wiki/Bernoulli%27s_principle

    Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja. Kenapa demikian? karena dengan bertambah lebarnya pipa/ember, kecepatan fluida akan mengecil dan membuat fungsi Energi potensialnya (p.g.h) dapat lebih berperan dan ini sangat sesuai dengan hukum Bernoulli di atas.

    Salam…

  22. Rovicky mengatakan:

    Diskusi selanjutnya silahkan ke Diskusi HDCB-2
    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-2/

    trims idenya Papa Tita

  23. PapaTITA mengatakan:

    Diskusi ini cukup panjaaaang … salut buat para guru besar disini.
    Tidak puas-puasnya saya ikuti tiap saat, namun bagi yg cuma pakai dialup spt saya loadingnya jadi lama hanya untuk melihat posting terakhir.
    Pak Dhe apa mungkin dibuat per bagian misal per halaman 20 posting seperti di forum2 atau kalau tidak memungkinkan maka dibikin kelanjutan DISKUSI HDCB Bagian II.

    Cuma bisa usul.
    Salam

  24. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Aduh, pak Usil dan mang Ipin ini memanas-manasi dan menyoraki terus, padahal saya harus kerja kembali. Tolong maklum, kalau saya sering cuti ngeklik.

  25. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Yang semula sudah betul om Papang. Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan “kontra hidrostatis”, maka v = 0, sedangkan tekanan dibagian bawah pipa pralon: p = density X g.h [bukan: density X 2.g.h]. Sehingga harga F = luas penampang X p = density X luas penampang X g.h = 1000 Kg/m3 X phi X 0,1^2/4 m2 X 10 m/s2 X 20 m = 1570 Kgm/s2 = 1570 N.

    Eh om, saya tidak salah ketik. Memang maksud saya 157 Kp (Kilopound = 9.80665 N atau dibulatkan menjadi 10 N), yang merupakan satuan Force atau Weight = 1570 N = 157 (x g) Kg = 157 Kp. Sebab Kg adalah satuan “mass”. Namun menurut “kebiasaan” dilapangan, om Papang juga benar, Nilai besaran suatu benda umumnya yang disebutkan adalah Massa-nya (Kg) yang selalu abadi, bukan Gaya-beratnya yang dipengaruhi oleh resultant gravitasi dan percepatan geraknya.
    Setahu saya, kalau Kilopascal menulisnya harus KPa. Bukan begitu, om?

    Tetapi sangat bagus penjelasannya om Papang. Mudah2 an dapat berguna bagi banyak orang untuk memahami hakekat alam.

    Tujuan menaikkan pipa pralon adalah membangun tekanan “kontra-hidrostatis” terhadap tekanan semburan liar. Karena semburan liar itu merupakan cabang kecil dari lubang semburan utama, maka tekanan semburan liar relatif hanya ditentukan oleh tinggi genangan diatas semburan utama, atau quasi statis. Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===> tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon. Atau sebaliknya, semburan atau hujan akan otomatis berhenti, bilamana tingginya sudah melebihi tekanan semburan liar.

    Prinsipnya saya yakin, metode “kontra hidrostatis” bisa dipergunakan untuk menyumbat semburan liar. Namun metodenya harus praktis dan cerdas, tidak perlu bersusah payah memasangkan pipa pralon setinggi gedung 5-10 lantai.

    Maka saya usulkan begini:
    Sediakan pipa (sebaiknya baja, tidak pralon) secukupnya. Ukuran pipa disesuaikan dengan perkiraan debit semburan liar (Q). Rekomendasi kecepatan (u) antara 0,4 – 0,6 m/detik, sehingga diameter pipa: d = 1,46 x Q^(0,5) [satuan Q dalam m3/s, dan d dalam m]. Kalau terlampau kecil, maka semburan tidak bakal mau lewat dalam pipa, melainkan menerobos lewat samping2 luar pipa. Kalau terlampau besar malah mubazir. Setelah pipa ditanam kuat dan cukup dalam, maka bagian atas pipa diberi cabang-4 bentuk palang (╬). Dikiri-kanan dipasangkan stop kran (valves). Jika besar pipa sudah benar dengan kecepatan aliran tidak melebihi u = 0,6 m/detik, maka tinggi pipa tegak-lurus diatas titik percabangan cukuplah: H = 5.(u)^2/(2g) + 0.2 m = 29 cm. Bibir pipa teratas harus rata dan diberi ring-karet sebagai perapat, lalu letakkan plat baja diatasnya. Jika kedua stop-kran dibuka penuh, maka seluruh semburan akan hanya mengalir kecabang dikiri-kanan. Tutup perlahan-lahan kedua stop-kran. Jika air masih menendang plat baja keatas, maka tambahkan beban yang menekan plat baja itu. Teruskanlah penutupan kedua stop-kran dan terus tambahkan beban secukupnya diatas plat baja. Begitu seterusnya hingga kedua stop-kran tertutup rapat dan seluruh semburan berhenti total. Tidakkah cara ini jauh lebih mudah dan praktis daripada memasang pipa pralon vertikal puluhan meter keatas?

    Betapapun, terima kasih pula Bang Rud atas tanggapannya terhadap ungkapan saya yang dirasakan kurang benar.

    1) Bang Rud: ‘Tidak ada seorangpun didunia ini yang mampu menghentikan energi panas bumi, kecuali nanti waktu kiamat, buminya hancur sendiri.’

    Sumber panas bumi itu umumnya tenang dalam selubung mantel-isolasinya. Kecerobohan manusia telah melukai mantel itu. Kebetulan diatasnya ada sumber air tanah bertekanan tinggi, sehingga terbentuklah uap air superkritis, mirip di-proyek2 PLTPB yang mengebor untuk memperoleh uap dari energi panas bumi. Uap murni akan diperoleh, jika sumurnya diberi casing. Bila tanpa casing, maka uap akan menyeret tanah disekitar lubang, yang menyembur keluar berbentuk lumpur. Sumur2 di PLTPB harus ditutup kembali, bila tidak diperlukan lagi. Caranya: sumur harus didinginkan dengan injeksi air dingin, lalu menginjeksikan semacam bahan isolasi yang mencegah air tanah menyentuh sumber panas bumi, sehingga sumur tidak lagi memproduksi uap. Proses ini dinamakan killing-well.

    Di Lula ini sulit dilakukan killing well, sebab tidak ada peta geometri lubang, terlampau dalam dan genangannya sudah terlanjur sangat besar.
    2) Bang Rud: ‘Tapi kalau “membatasi” luberan dengan metode “kontra hidrostatis” itu mungkin… Logikanya begini : anda punya panci yang dipanasi terus menerus. Katakanlah panci itu terisi air yang cukup banyak sehingga begitu dipanasi langsung mendidih dan meluber-luber. Kalau anda bisa membatasi dengan menambah bibir panci tsb, maka luberan itu tidak akan keluar dari panci. Jadi metode “kontra hidrostatis” tidak bermaksud untuk menghentikan energi tsb, dan energi tetap dikeluarkan dalam bentuk panas, dan gas juga tetap keluar. Hanya saja metode tsb membatasi agar lumpur dan air tidak keluar ke mana2, sehingga boleh dibilang yang dilawan oleh metode ini hanya “kecepatan fluida” nya saja!!’
    Logika ini ada benarnya.
    Tetapi untuk menutup cabang kecil semburan liar, sama sekali tidak perlu memakai logika ini. Cukup memakai metode pipa cabang 4 dan plat baja “kontra hidrostatis”. Tujuannya hanya memaksakan semburan kembali lewat lubang utama.

    Sedangkan untuk “membatasi” luberan dilubang utama, saya tetap tidak percaya logika ini bisa dipakai. Misalnya pakai double cover dam Jepang atau tembok cincin gandanya pak Bambang Bahriro, yang maksudnya juga membangun tekanan “kontra hidrostatis”. Sumber energi disana sangat besar, bisa menyemburkan lumpur 150 ribu m3/hari dari -3000 m. Sedangkan diameter mulut kawahnya sudah 70 m. Apalah artinya ditambah lagi dengan genangan dalam tembok silinder setinggi 40 m? Namun, bila temboknya sangat tinggi, jauh diatas 40 m, teoritis memang ada kemungkinan terjadi seperti logikanya bung Rud (lumpur dan air tidak meluber, hanya uap dan gas yang keluar). Tetapi pada saat itu, berhamburanlah semburan2 liar di-mana2, bisa di Sidoarjo, Juanda, Surabaya, dll. Pendeknya menurut saya, konsep ini tidak layak diterapkan.

  26. ompapang mengatakan:

    Pak Usil, etungan saya rada lucu lho! harusnya v^2 = 2g.h,bukan v^2/2g =h, sehingga harga F= density X luas penampang X 2.g.h =2 X 1570 kN =3140 kN=314 kg.
    Jadi secara hidrostatik didapat gaya berat W=157 kg seperti hitungan Bu Hime,sedangkan untuk melawan ‘exerted force’ akibat adanya ‘kecepatan aliran fluida’ dibutuhkan gaya F = 3140 kN atau dibutuhkan plat besi seberat W’=314 kg (2 X W )

  27. usil mengatakan:

    Apa benar mang Ipin gak mau nonton nih!!
    Beginilah style omPapang yang kita kenal jika pembahasan sudah
    memasuki fase ‘etung-mengetung’
    Sebetulnya yang lebih ‘nggilai’ sewaktu si Om duet sama pak RIrawan
    tempo hari itu.
    Kalo begini, tanpa dikomandoi juga usil ‘SIAP MELURUSKAN’ barisan!!!

  28. ompapang mengatakan:

    Bang Rud, yang dilawan itu energi (katakan dari panas bumi ). Energi itu sendiri sifatnya konstan=Energi potensial +energi kinetik. Kalau kita bicara hidrostatik,berarti yang kita bahas energi potensial, kalau bicara kecepatan fluida , kita membahas energi kinetik dari hidrodinamik. Dalam hal ini bila tidak terjadi kehilangan energi, maka energi kinetik yang mengecil akan diikuti tenaga potensial yang membesar. Disini terjadi perubahan inergi potensial menjadi inergi kinetik,dimana seperti disebut besaran energi senantiasa konstan sebagai penjumlahan energi kinetik +potensial. Adapun besarnya tenaga kinetik=energi ‘uap dari panas bumi’ -energi potensial berupa tinggi kolom fluida dari sumber energi sampai permukaan lubang dimana fluida mengalir keluar. Jadi apabila fluida masih dapat mengalir keluar, berarti masih ada sisa energi berupa energi kinetik yang oleh tim HDCB ,setelah dikalikan berat jenis /specific weight, mereka sebut RESIDUAL PORE PRESSURE. Energi berupa tekanan inilah yang akan dilawan dalam usaha PENYUMBATAN.Adapun besarnya gaya untuk
    melawan adalah minimal F = density X debit X kecepatan semburan.=densityX Luas penampang saluran X kecepatan pangkat dua. Bila kecepatan pangkat dua (v^2) kita bagi dengan 2xgravitasi (2g),maka kita akan mendapatkan besaran energi persatuan berat,yaitu h. Jadi F=density XLuas penampang X h. Besaran F ini adalah = W menurut perhitungan Bu Hime diatas. Coba kita lihat untuk diameter 10 cm dan tinggi 20 m seperti contoh bu Hime, bila kita hitung akan ketemu F=1570 kN=157 Kg. Jadi bila pada tinggi pralon 20 meter PAS pada saat itu tidak ada semburan(SEMBURAN BERHENTI),maka bila pralon kita ambil, maka untuk melawan ‘kecepatan semburan’ kita dapat menggantinya dengan plat baja seberat 157 kg. ( ctt: Bu Hime salah ketik,harusnya ditulis 157 Kg, tapi diketik 157 Kp, mungkin nanti bisa dikira Kilopascal Bu!)
    Jadi kesimpulannya, melawan kecepatan fluida = melawan energi kinetik/hidrodinamik yang bila berhasil dihentikan (v=0)akan berubah menjadi energi potensial dalam bentuk hidrostatik, sebab energi (potensial+kinetik) senantiasa konstan.

  29. usil mengatakan:

    Maaf..maaf! hampir ketinggalan sahabat kita pak Inyo!

  30. usil mengatakan:

    Thanks Bang Rud atas respon yang begitu cepat!
    Mudah2an diskusi tambah hidup, apa lagi kalo teman2 lama seperti:
    pak Arsolim, pak Chilo, pak Wandi dll bisa ikut urun-rembug. Kan semuanya
    untuk tujuan mulia…mencari solusi Lula. Mudah2an mbak Hime masih
    sempat ngeklik lagi, sehingga kita bisa saling share, gitu to Bang Rud?
    Mang Ipin!! apa omPapang sama pak Dhe hari ini lagi cuti?? Uuuuh!

  31. Bang Rud mengatakan:

    Terima kasih Mbak Hime atas jawabannya, saya akan coba menanggapi beberapa hal yang rasanya masih kurang benar.

    “Tetapi memperbesar diameter pipa, apalagi bahan pralon, jelas absurd dan tidak cerdas, sebab malah menaikkan tenaga tendangan air keatas (hydraulic force) yang proporsional terhadap luas penampang pipa.”

    Itukan teori yang dipakai utk aplikasi dongkrak, jadi kalau mau semburan tadi tenaganya kecil (mudah ditutup) ya cukup pakai pipa diameter kecil. Tapi kalau dalam konteks supaya tidak timbul “hujan” seperti yang disampaikan Ompapang, yang diperhitungkan jelas kecepatan fluida nya. Dan kecepatan meluncur fluida selamanya akan lebih besar kalau pipanya menyempit. Seperti contohnya semburan baru yang tinggi semburannya tidak sampai 1 m, karena lubang kawahnya 3 m. Mbak Hime yang tahu rumus2 Fluida, pasti juga tahu akan hal ini.

    Berikutnya :
    “Namun jangan berharap menghentikan semburan utama dengan metode “kontra hidrostatis” atau memasukkan benda2 dari atas secara bodoh. Tidak mungkin! Semburan dilubang utama itu jelas berasal dari panas bumi seperti pertama kali dikatakan oleh pak RIrawan, atau tungku raksasa yang terus-menerus memproduksi energi.”

    Tidak ada seorangpun didunia ini yang mampu menghentikan energi panas bumi, kecuali nanti waktu kiamat, buminya hancur sendiri. Tapi kalau “membatasi” luberan dengan metode “kontra hidrostatis” itu mungkin…
    Logikanya begini : anda punya panci yang dipanasi terus menerus. Katakanlah panci itu terisi air yang cukup banyak sehingga begitu dipanasi langsung mendidih dan meluber-luber. Kalau anda bisa membatasi dengan menambah bibir panci tsb, maka luberan itu tidak akan keluar dari panci.
    Jadi metode “kontra hidrostatis” tidak bermaksud untuk menghentikan energi tsb, dan energi tetap dikeluarkan dalam bentuk panas, dan gas juga tetap keluar. Hanya saja metode tsb membatasi agar lumpur dan air tidak keluar ke mana2, sehingga boleh dibilang yang dilawan oleh metode ini hanya “kecepatan fluida” nya saja!!

    Salam….

  32. usil mengatakan:

    OmPapang, mang Ipin! usil mau kuliah lagi dah!!
    Pingin belajar rumus Euler, agar bisa ngetung seperti pak RIrawan
    dan non Hime.
    Agar lain kali bisa ikut diskusi TEKNIK, gak kayak sekarang, bisanya
    nyebelin mlulu…
    Tapi, mahluk apa lagi itu EULER ya Om?

  33. usil mengatakan:

    soriiiiii…baru buka blog, dan….
    Aduuuuuuuh…senengnya! Bisa baca lagi komen dari non Hime.
    Walo belum berhasil mengajak pak RIrawan agar kembali ke ‘habitatnya’,
    tapi dengan adanya non Hime, sama saja. Bukankah dulu omPapang
    pernah bilang telah muncul super WGM??
    Ha?? pasti omPapang lagi senyum simpul dibalik layar!
    Bukan main! penjelasan tentang silsilah kel Bernoulli, ternyata begitu to?
    Juga tanggapan tentang ‘kontra hidrostatis’
    Sekarang! diundang seluas-luasnya agar datang tanggapan dari ITS/ITB..
    Monggo……gitu kan mang Ipin?

  34. mang Ipin mengatakan:

    Waoow !!!!! selamat ya yntuk bung Usil! dan juga arigato gozai masu untuk pen-
    cerahan yang sangat gamblang dari madame Hime mengenai silsilah dari para pakar
    Bernoulli’s fam,kita kagum berat atas begitu rincinya yang diterangkan oleh Madame
    Hime!ogut yakin sekiranya dipadukan masukan2 dari para pakar LuSi di blog ini dalam
    suatu urun rembug untuk mencari way out agar penanganan si LuSi yang liar tsb akan
    membuahkan suatu solusi yang suanget bermanfaat dan ekonomis sekali…. bagaimana
    ogut usul untuk bung Usil membuat suatu program agar kita dapat mengumpulkan para
    pakar dapat bertemu bersama di Porong,Sidoarjo????of course harus di sponsori oleh
    LBI c/q BPLS dan minta mereka menyediakan sarana2 yang diperlukan semisal : trans
    port, akomodasi, meal dan last but not least tempat untuk berdiskusinya!nanti ogut
    akan membantu sebagai pencatat notulennya?….setuju bung Usil,karena biaya2 yang
    sudah dipersiapkan oleh BPLS untuk kedepannya daripada mubazir!!!! tanpa ada memberikan hasil yang real lebih baik dialokasikan untuk yang lebih bermanfaat…….
    iya ndak bro???????lam kompak selalu

  35. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Kebetulan hari ini saya klik ke blog ini dan tergelitik sentilannya pak usil. Bernoulli tidak tunggal, melainkan nama keluarga yang sejak 3,5 abad lampau melahirkan sedikitnya 8 mahaguru yang berjasa besar bagi pengembangan matematika selama 100 tahun (4 generasi). Dimulai dari Nikolas Sr Bernoulli (1623-1708), tiga anaknya: Jakob, Nikolas Jr dan Johan juga menghasilkan rumus2 yang hebat bagi dunia matematika, seperti: calculus, teori probabilitas, seri infinite, bilangan Bernoulli (Bn), polynomial Bernoulli dll. Kiprah keluarga itu dilanjutkan oleh generasi ketiga: Nikolas-I (anak Nikolas Jr) dan anak2 Johan (Nikolas-II, Daniel dan Johan-II), semuanya adalah professor yang menghasilkan rumus-rumus matematika yang mengagumkan. Begitu pula generasi keempat Bernoulli juga adalah tokoh2 besar dunia matematika.

    Tetapi yang paling fenomenal adalah Daniel Bernoulli (1700-1782) yang dikenal dengan bukunya “hydrodynamica” (1738). Teorinya “the Bernoulli’s principle” sampai kini menjadi basis untuk memahami perilaku fluida, baik yang bisa mampat (compressible) maupun yang incompressible, sebagai penerapan hukum kekekalan energi, kontinum massa dan rumus persamaan gerak Newton pada fluida. “The Bernoulli’s principle” menegaskan, bahwa jumlah energi dalam segala bentuknya dari fluida yang bergerak adalah selalu tetap (konstan) pada setiap titik sepanjang lintasannya (enclosed motion path). Om Papang diatas telah memberikan penjelasan awal yang baik. Lalu pak RIrawan dengan indahnya telah menghitung dan memaparkan perilaku dinamis lumpur yang komplex melalui rumus Bernoulli yang sempurna, dengan derivasi yang diturunkan dari integrasi persamaan Euler.

    Upaya penghentian semburan yang dikatakan memakai hukum Bernoulli, menurut saya terkebur. Upaya itu berangkat dari asumsi sederhana, bahwa semburan terjadi akibat tekanan hidrostatis yang konstan. Namun seperti pernah dikritik sebelumnya oleh om Papang, metode experimennya kurang cerdas. Buat apa repot memasangkan pipa pralon sampai puluhan meter vertikal keatas? Hasil yang persis sama dapat diperoleh, jika mulut pipa sebelah atas ditutup dengan plat baja yang beratnya dapat dihitung dengan sangat sederhana: W = π . d²/4.ρ.g.h ; maka dengan diameter pipa 4 inch (d = 10 cm), density air: ρ = 1 Kg/liter dan tinggi kolom air: h = 20 m; dibutuhkan plat baja dengan berat: W = 157 Kp. Untuk itu cukup plat baja berdiameter 50 cm dan tebal 10 cm saja. Jauh lebih gampang, bukan? Jadi, memasangkan pipa pralon setinggi 20 m, apalagi 40 m, adalah lucu dan mubasir. Betapapun upaya berlogika sederhana itu hanya pantas disebut “kontra hidrostatis”, belum memakai rumus Bernoulli.

    Menurut saya, metode “kontra hidrostatis” ini dapat dan layak diterapkan untuk menghentikan semburan2 liar diluar semburan utama. Akibat gangguan HDCB yang merusak dan menghambat lubang utama, pasti bermunculanlah cabang2 semburan kecil2 itu. Maka upaya menghentikannya bisa sederhana saja: 1) tanamkan pipa (sebaiknya baja, bukan pralon) sekuat dan sedalam mungkin pada lubang semburan liar, 2) letakkan plat baja secukupnya untuk menutup semburan diatas mulut pipa. Menutup cabang lubang2 kecil dengan “kontra hidrostatis” itu berarti memaksakan aliran seluruhnya hanya lewat lubang semburan utama. Tetapi memperbesar diameter pipa, apalagi bahan pralon, jelas absurd dan tidak cerdas, sebab malah menaikkan tenaga tendangan air keatas (hydraulic force) yang proporsional terhadap luas penampang pipa.

    Namun jangan berharap menghentikan semburan utama dengan metode “kontra hidrostatis” atau memasukkan benda2 dari atas secara bodoh. Tidak mungkin! Semburan dilubang utama itu jelas berasal dari panas bumi seperti pertama kali dikatakan oleh pak RIrawan, atau tungku raksasa yang terus-menerus memproduksi energi.

    Pak usil, saya jarang sempat klik kesini, jadi maaf ya pak usil yang budiman, sekiranya terasa saya kurang tanggap.

  36. mang Ipin mengatakan:

    Yup …yup , bung Usil ogut sich setali 3 renceng juga dgn anda!!! sebagai pemandu
    sorak alias cheer leader aza untuk diskusi ilmiahnya para pakar LuLa kita, karena kalo
    pencerahan dari si Om papang,Pak.Dhe or Pak.R.Irawan dll yang bersifat ilmiah dan
    IPTEK baru ada nilai plusnya iya khan???????baru selembar aza pencerahan dari si
    Om Papang uda menjabarkan keingin tahuan kita mengenai teory nya si embah/eyang
    Bernoulli, tul nggak??????? coba kalo ogut yang disuruh nerangin ????? bisa2 gak ketemu jawabannya!…bravo tuk para pakar kita ! lam kompak

  37. usil mengatakan:

    Naaah!!! kan? clear dan lurus dengan sendirinya!!
    Dasar omPapang, jaoh2 hari uda ngerti apa yang dipikirin usil
    dan mang Ipin.
    Ternyata ‘makalahnya’ cukup selembar saja, persoalan langsung beres!!
    Iya gak, mang Ipin???

  38. Bang Rud mengatakan:

    Betul Ompapang, karena itulah pada bubble baru di koran hari ini (31-7-07), tinggi semburan tidak sampai 1/2m (hanya 30cm), karena diameter kawahnya saja sekitar 3m. Jadi hujan di uji coba kemarin itu hanya masalah diameter paralon yang kurang besar. Ok, clear, sudah “Lurus”!!

  39. ompapang mengatakan:

    Bang Rud dan Ninung, maksud saya, tekanan hidrodinamik itu itu sebagai komponen persamaan Bernoulli. Sebab yang ditanyakan kan berkaitan dengan penerapan hukum Bernoulli. Pemahaman saya , hukum Bernoulli mengatakan energi persatuan berat atau head (h)dari aliran fluida senantiasa tetap sepanjang tidak ada kerugian energi dalam perjalanannya. Adapun komponennya adalah selisih tinggi (z), tekanan hidrostatik dan tekanan hidrodinamik.
    Dalam kasus air masih bisa menyembur keluar dari muka tanah, maka berarti disitu masih ada energi hidrodinamik sebesar = v1^2/2g. Bila letak mulut lubang semburan ditinggikan, berarti terjadi penambahan selisih tinggi (z) yang berarti terjadi penambahan tekanan lawan dalam bentuk tekanan hidrostatik. karena energi (head) tetap,maka akan terjadi pengurangan energi hidrodinamik dalam bentuk menurunnya kecepatan dari v1 menjadi v2 dengan catatan bila penampang pipa pralon tetap luasnya. Makin tinggi pralonnya,makin kecil kecepatannya,berarti makin kecil pula debitnya.Bila v2 menjadi =0, tidak ada energi hidrodinamik lagi, berati tak ada aliran,debit Q=0, saat itulah terjadi keseimbangan tekanan hidrostatik antara tekanan dari bawah sana melawan tekanan tinggi kolom air yang dihitung dari sumber tekanan yang berada pada kedalaman -sekian ribu meter naik keatas sampai muka air didalam pipa pralon tersebut.(bisa 20 ,30 bahkan 60 meter) dengan catatan air yang bertekanan tersebut tidak mencari jalan keluar ditempat lain yang lebih mudah ditembus olehnya.
    Soal buble,menurut saya dalam persamaan Bernoulli hanya berpengaruh dalam besaran masa jenis/density air(rho), dalam arti air yang mengandung bubble mempunyai density lebih kecil tinimbang yang tanpa buble.
    Untuk Pak Usil, sekarang pasukan sudah berjajar tapi belum lurus.Untuk itu sebagai Komandan, Pak Usil silahkan memberi aba: “Luruskan !!” dan jangan malah menoleh kepada ompapang sambil ikut-ikutan bertanya : “Luruskan ??”

  40. usil mengatakan:

    Mbak Hime! bisakah usil ajak diskusi tentang Bernoulli?
    Kalo gak, terpaksa usil yang “luruskan”!!

  41. Bang Rud mengatakan:

    Maaf Ompapang saya terpaksa meluruskan untuk komentar yang terakhir :
    “Kalau gak salah hasilnya sisa tekanan ( tekanan hidrodinamis)nya tidak dapat dilawan tekanan hidrostatis dengan pipa pralon setinggi 20 meter sehingga menimbulkan hujan setempat.”

    Tekanan hidrodinamis yang timbul karena menggunakan pipa pralon (yang berleher sempit) menimbulkan efek kinetis/kecepatan yang lebih tinggi, daripada kalau diterapkan menggunakan pipa dengan diameter yang lebih besar. Untuk penghematan biaya, maka digunakan pipa dgn diameter yg kecil (karena ini hanya uji coba). Dan Hujan itu timbul menunjukkan bahwa bubble2 yang mendorong air ke atas tidak terjadi secara kontinyu. Dan waktu itu bentuknya memang bukan seperti air mancur yang meluber keluar secara kontinyu.
    Kalau mau melawan tekanan ini dengan menggunakan pipa paralon diameter yang sama, tinggal tinggikan lagi saja, misalnya tambah lagi 10m (masih kurang? ya tambah lagi 10m – bercanda). Jadi bubble2 tsb lebih sulit lagi menyeret air sampai melewati pralon yang tinggi tsb. Dan dijamin tidak ada air sedikitpun yang keluar. Cuma kan itu tidak perlu dilakukan, karena cukup dengan uji coba tersebut telah terbukti kalau tekanannya bisa dilawan.

  42. usil mengatakan:

    Olala…kalo tahu yang nyembur itu PAM doang, ngapain ngerecokin
    omPapang dan pak RIrawan. Tak kiraken mau minta bantuan etung pake
    teorinya eyang Bernoulli.

  43. ompapang mengatakan:

    Pak Usil jangan salah tafsir, didekat lapindo ada semburan air PAM.Pertanyaannya : Bagaimana menerapkan ajaran eyang Bernoulli untuk menghentikan semburan air tersebut?.
    Sebelum Pak Usil umak-umik baca mantera panggil JIN, biar kubantu njawabnya, yaitu : 1.Matikan booster pump yang mengalirkan air PAM tersebut.
    2.Bila booster pump melayani beberapa wilayah, tutup stop kran tempat air masuk pipa ybs.
    Btw, bila air bukan dari PAM, sudah dibahas ditopik lain dimana Tim ITS sudah mencobanya. Kalau gak salah hasilnya sisa tekanan ( tekanan hidrodinamis)nya tidak dapat dilawan tekanan hidrostatis dengan pipa pralon setinggi 20 meter sehingga menimbulkan hujan setempat. Sebaiknya yang bantu biar ybs dari ITS ya pak Usil ?

  44. usil mengatakan:

    Mana pentolan2 ITB/ITS??
    Kalo mereka gak mo bantu mbak Ninungnya..
    Apa perlu usil panggil RIrawan, omPapang, mbak Hime???

  45. ninung mengatakan:

    Tolong dikasih tahu penerapan hukum bernoulli terhadap penghentian semburan air dekat lapindo?
    trimakasih
    085657218888

  46. dina mengatakan:

    Luar biasa. Orang2 seperti ibu Hime ini otak dan kepinterannya diatas rata2. Lebih enak membaca analisanya daripada pakar2 yang lain. Tapi sayang rupanya ia kerjanya diluar. Kesini cuma liburan. Kenapa ya orang2 terbaik kita pada kerja diluar?

  47. ompapang mengatakan:

    Setuju Bu Hime,sambil menunggu peta geometri lubang, yuk kita pindah di “Diskusi Penanganan Permukaan”.
    Disana sudah ada konsep kanal V nya pak RIrawan, Pak Syahraz,Pak Herman dll.

  48. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Baiklah Chilo, saya tidak mau mengecewakan semangatmu. Kesetaraan perlu dibuktikan dengan prestasi, tidak akan langgeng dengan hanya meneriakkan slogan.

    Sebenarnya bukan niat saya men-smash siapapun, tetapi akan lebih banyak korban apabila bencana lumpur ini ditangani secara buruk dan tidak rasional. Berdebat dengan argumentasi ilmiah dan sikap terbuka akan bisa menghasilkan pencerahan dan kesimpulan bersama yang bermutu. Tetapi metode bola beton sangat lemah fondasi akademisnya dan kacau pemahaman teori-teori yang dipakai oleh pendukungnya (Maaf, terbatas apa yang saya baca dimedia dan disini). Sekiranya masih dalam lingkup wacana, maka silahkan saja. Saya dan banyak komentator lainnya tentu tidak akan cerewet. Tetapi bola beton ini sudah berbahaya, sebab langsung dilaksanakan. Lebih buruk lagi, para pendukungnya menyalahgunakan emosi “spirit de corps” dan slogan patriotisme, yang menurut saya sudah tidak etis lagi dan keluar dari rel kejujuran ilmiah, sebab memaksakan kehendak dan mau mematikan suara para penentangnya, tidak peduli benar atau salah, tidak peduli berapapun resiko dan korbannya.

    Sesuai permintaanmu Chilo, saya coba menjawab semua pertanyaan. Tentu dalam batas kemampuan saya dan saya juga tidak beranggapan bahwa jawaban saya ini mewakili kebenaran mutlak.

    “energi dibawah bola = energi friksi + energi diatas”
    Istilah energi friksi ini misleading. Tidak benar energi (friksi) bisa menghilang terus menerus ditelan atau diserap oleh bola beton, sebab itu bertentangan dengan hukum kekekalan energi. Akibat friksi dan penyempitan/pencekikan, maka sebagian energi berubah menjadi energi panas dan energi kinetis. Dan panas itu akan ikut naik bersama aliran lumpur yang kecepatannya juga naik diantara bola2 beton. Itulah yang menyebabkan lumpurnya bertambah kental, karena tambahan panas mengurangi kondensasi uap.

    Apakah debit air berkurang setelah ada 100 batu dalam pipa atau setelah dicekik 32% dengan valve? Tergantung. Bila sumber air adalah pompa centrifugal, pencekikan yang menyebabkan kenaikan tekanan sebelum batu/valve akan berakibat pada turunnya penyerapan energi oleh pompa dari drivernya, maka debit air akan turun. Tetapi bila sumber air adalah pompa positive displacement (misalnya pompa torak, plunger, rotary-screw, dll), maka pompa akan menyerap lebih banyak energi dari drivernya untuk memaksakan debit air yang sama tetap mengalir.

    Memasukkan pasir? Berkali-kali saya menegaskan, bahwa ide ini juga naif, bilamana maksudnya untuk menghambat semburan lumpur seperti metode bola beton. Saya hanya melihat kesalahan konsep bola beton yang belum tentu bisa masuk sampai ke dasar sebab bisa tersangkut atau keburu hancur. Bola beton juga merusak dinding. Tetapi pasir sintetis yang berat dan tahan panas, jika berhasil sampai kedasar mungkin dapat melapisi batuan panas, menjadi semacam isolasi thermal, yang mencegah air menjadi gas bertekanan tinggi yang mendesak naik keatas.

    Dik Wandi, saya sama dengan banyak bapak/ibu yang sudah menyampaikan pendapat disini, sebelum memetakan geometri lubang dan memperoleh kejelasan tentang sumber semburan, sebaiknya segala upaya difokuskan ke soal penanganan lumpur dipermukaan.

  49. ompapang mengatakan:

    hiya, pemandu soraknya (Pak Usil) ngacir ! Takut digebukin sana sini ‘kali!

  50. chilo mengatakan:

    pak usil,
    ibu yang katanya pak usil jago-smesh itu koq tidak menjawab beberapa pertanyaan aku, begitu juga beberapa pertanyaan mas boxal sebelum pamit pulkam, itukan ada beberapa tanggapan mas boxal yakni: ttg metoda memasukkan pasir dari atas, notabene ide ibu hime sendiri dan juga tentg debit dari sebuah valve yang tercekik 32%, berapa persen pengurangan debitnya? jatuh-jatuhnya jadi mirip HDCB juga tuh..
    pak usil juga mau kemana? walaupun pak usil hanya penonton saja & tidak terlalu banyak urusin masalah teknis tapi pak usil cukup berguna untuk memanas-manasin suasana, ntar kalau pak usil pergi siapa yang panas-panasin dua kubu ini?
    kan sesuai namanya, pak usil-lah ahlinya hihihi..

  51. Arsolim mengatakan:

    Pak Chilo, dari atas ngak masuk akal, dari samping bawah juga kemungkinan kecil, jadi harus dari dua arah pak…, kemudian kalau aliran/semburan lumpur sudah berhasil dikendalikan mematikannya akan jang lebih mudah, ini menurut saya lho pa !

  52. chilo mengatakan:

    yaaa bu hime juga pergi tanpa menggubris pertanyaanku

    hiks..hiks..hiks..
    kalau relief sulit jadi harus gimana? mau gak mau harus dari atas bu, iya gak?

  53. Arsolim mengatakan:

    Ok Om betul katakanlah debit semburan lilubang utama bertambah kecil sedikit, tapi kali ini kalau keluarnya lumpur di lubang semburan utama dihalangi atau dipersulit maka sudah pasti lumpur akan mencari jalan keluar lain tidak dengan cara meruntuhkan dinding sumur tapi lewat jalan tol (relief well) yang sudah kita sediakan ya kan om ?

    tambahan untuk hdcb, untuk mengendalikan supaya hdcb tidak meluncur terus keperut bumi dan bisa mengapung dikedalaman tertentu maka usul saya salah satu dari rangkaian bola2 tesebut terbuat dari bola fiber hampa udara sehingga gaya berat bola beton/besi bisa diseimbangkan dengan tekanan lumpur + gaya apung bola.

  54. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Bapak, Ibu sekalian, saya kaget dengan sambutannya, tetapi terima kasih. Bencana ini memprihatinkan. Tetapi disini sudah banyak saran dan tulisan menarik yang sangat bagus dan ilmiah, dari mereka yang kelasnya guru dan senior saya. Yang mengherankan, dilapangan situasi dan tindakan kelihatan sangat buruk.

    Tentang Relief Well, saya cenderung sependapat dengan Om Papang. Relief Well hanya bertujuan menginjeksikan bahan penyumbat untuk menghentikan semburan lumpur. Tetapi melihat besarnya lumpur yang keluar, sudah terlambat, genangan lumpur sudah sangat tinggi dan tepinya sudah jauh dari pusat semburan. Diameter lubang sudah sangat besar, Relief Well terlalu kecil untuk dapat mengimbanginya. Dan pusat semburan kemungkinan besar hanya gas tekanan tinggi.

    Saya sebetulnya bukan orang perminyakan. Hanya kebetulan berlibur dan prihatin atas kejadian ini. Sayapun harus pamit untuk kembali ketempat kewajiban saya saat ini, yang praktis tidak menyisakan waktu luang. Tetapi membaca tulisan dan komentar2 disini, saya percaya Indonesia memiliki orang2 pandai yang mengungguli para ahli luar negeri. Mungkin hanya perlu diselaraskan dengan para pejabat pemerintah, agar tidak malah mengerjakan metode yang sudah jelas tidak masuk akal.

    Salam dan semoga sukses.

  55. ompapang mengatakan:

    Pak Arsolim, kalau lubang bor ditambah satu tidak berarti debit yang pertama mengecil karena reservoir sumber tekanannya sangat luar biasa besarnya. Ibarat ruang tamu ada lampu menyala, kemudian lampu teras dinyalakan, lampu ruang tamu tidak bakalan redup, bahkan dilihat dari depan rumah menjadi lebih terang, karena daya PLN tak terbatas untuk tambahan beban seukuran lampu teras rumah.

  56. Arsolim mengatakan:

    maaf, tambahan jadi Relief Well & HDCB bisa diimplementasikan secara bersamaan, karena dinding lubang semburan utama tidak akan runtuh tapi semburan akan pindah kelubang relief well yang telah disediakan untuk dibuang kekali Porong langsung tanpa melalui spillway lagi (Utk Pak Boxal produk expat & anak negeri bisa saling berdampingan pak !)

  57. Arsolim mengatakan:

    Mohon Comment nya, seandainya menurut Pak/Ibu Hime peluang relief well untuk menutup semburan kecil, bagaimana kalau relief well ini kita ubah tujuannya (dengan asumsi kita bisa mngarahkan mata bor tepat kesasaran kepusat semburan paling bawah) jadi tujuannya bukan untuk menutup semburan tapi untuk mengeluarkan lumpur ketempat lain secara terkendali (ie diberi valve control) yaitu mulai dibor dari posisi di tempat kosong tapi dekat dengan kali porong sehingga tidak perlu repot2 lagi dengan spillway, setelah semburan terbagi dua, tentunya tekanan di pusat semburan utama akan sangat berkurang dan secara pelahan2 mulai diupayakan untuk ditutup.

  58. usil mengatakan:

    Satu yang pasti, Pak Boxal sukses memperpanjang rekor postingan
    dijudul ini. Dia juga berhasil memaksa keluar srikandi2 yang selama
    ini ngumpet. Entah cara apa yang dia pakai, mungkin juga “multi wajah”,
    tapi usil tetap harus angkat topi sama pak Boxal. Congrat. !!

    Protes buat non Hime! lain kali jangan pakai smes-loncat dong!
    Akibatnya…ya..begini…sepih! tak ada tontonan!!

    Karena tak ada tontonan, terpaksa usil juga angkat kaki.
    Usil kembali lagi jika ada adegan menarik.
    Maaf kalo ada salah kata….permisiiiii!
    Daaaag…semuanya, omPapang, pak Dhe, RIrawan dll……..

  59. chilo mengatakan:

    pak boxal jgn plg dulu, diskusinya nanggung nih. grrrrr
    kok malah pulang disaat seru2nya, uuuuuhhh payah ah, kacaulah
    kan kasian pemirsanya: aku, pak usil, sama yang lain
    jadi tdk ada yg berantem lg/// publik enemynya pergi ““upz“` sori
    tp cpt gabung lg yach
    emang univ/institusi apa ya pak boxal ini, tanggal segini sdh liburr? pulkamnya kemana? jangan2 kampungnya di porong? :) grrrrrr

    numpag tanya, buat ibu hime kalo ternyata lumpur tidak lewat lubang bor banjarpanji, apakah metode ‘relief well’ bisa dipakai untuk menembak saluran lumpurnya?
    jadi metode yang tidak memasukkan benda-benda dari atas, selain relief well, apa ya sebaiknya? ibu sebagai orang perminyakan pasti ada solusi to, bagi infonya ya bu hime thhxx

    bu hime hidup kaum perempuan, emang cowok aja yg bisa grrrrr

  60. wandi mengatakan:

    Balik jumatan buka blog ini ada massege dari pak usil. thanks Pak usil

    Pertama welcome to uor new comer Dek Mia n Bu Hime. Saya yakin keduanya udah lama baca blog ini tapi baru sempat ngasih coment. sama seperti saya. hehe
    *Dek mia pasti suka anime ya? komik favoritnya apa? sory melenceng dari topik, tapi berhubung saya jaga suka mana tau bisa share……….
    *Biasanya kalau pake angka di belakamg initial artinya angkatan masuk kuliah, jadi saya tebak bu hime angkatan 93. Gimana kalo saya manggil mbak aja?

    Sebenarnya saya juga yakin kalau metode relief well merupakan metode paling canggih minimal sampai saat ini. Tapi seperti kata mbak hime, metode ini peluangnya sangat kecil untuk lapindo. Pak Rovicky juga udah ngebahas penyebab kegagalan di posting2 sebelumnya.

    jadi, ada usul ga mbak, metode apa yang paling baik? saya yakin mbak hime lebih memahami masalah kecelakaan di pemboran karena menurut feeling saya mbak juga orang minyak?

  61. usil mengatakan:

    Ompapang tetap aja kawan kita pak Boxal punya jasa besar.
    Gara-gara dia bisa muncul Super Woman Grand Master he..he..
    Ha!! ini bagus, GM jangan laki mlulu.
    Ayo om! WGM ini tua atau muda? Hayo tebak kalo bisa.

    Neng Mia kalo betul lagi skripsi, nanti usil tunjukin
    dimana bisa dibaca “perhitungan kecepatan turun HDCB”
    usil gak minta fee koq.

    Eh pak Wandi! koq jadi mahal komen sih?

  62. usil mengatakan:

    Halaaaa..kecewa aku! Mendingan Om sama RIrawan dll gak usah keluar!
    Percuma om! Ternyata….tong kosong seperti usil juga.

  63. boxal mengatakan:

    aduh senang berdiskusi dengan bapak/ibu… amat menarik sangat.. sayangnya mesti cabut dulu.. pulkam (libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembiraaaaaa),
    tapi saya akan usahakan tetep online, i promise..

    hormat saya

  64. boxal mengatakan:

    Segger nih hari ini, banyak komentar +ada anak Sekolah… Hi Mia.. hebat bahasa jepangnya.. sehebat gurunya yang jago mengklaim konsep HDCB tuh salah… trus yang benner konsep apa dong..? titip pertanyan ini ya untuk gurunya…
    adek, no hp dong :) ikutan nge-bakso yuk ama pak usil kapan2…

    Bu hime yth,
    energi dibawah bola = energi friksi + energi diatas (sori bu salah tulis…)
    maksud saya: energi friksi itu = energi dari yang diserap Gaya Friksi (ibu pasti orang teknik deh/ atau dosen… teliti bgt sama satuan)

    ‘anda ini nonteknik?’ sy sangat familiar dengan kata2 itu, apalagi kalau kena marah dari dosen saya bu’..

    masalah kata “mencekik” ada sedikit missunderstanding… kalau saya mikirnya kalau kita dicekik berarti sudah tidak ada udara yang bisa lewat lg dari leher, sehingga si-orang itu ga bisa bernafas.. (tercekik = 100% tersumbat… salah ya..) kalau gitu kita samakan saja persepsi tentang arti mencekik bu’, aku ikut perepsi ibu lah..

    “Cobalah pelajari teori2 yang diajarkan oleh Prandt, Colebrook, Moody, Nikuradse, Blassius” pasti ibu orang hebat.. buku2 ini udah dilalap habis, aku denger judulnya aja belum pernah… maklum bu’ jam terbang sy masih kurang, jadi baru bisa melalap beberapa halaman dari majalah bola

    “Jika anda mengerti dinamika fluida, maka anda bisa menghitung secara akurat, bahwa misalnya anda masukkan 100 batu diameter 1 cm kedalam pipa yang mengalirkan air, maka itu dapat disimulasikan dengankarakteristik yang persis sama oleh sebuah valve yang anda cekik 32%.”
    terus kalau benar begitu bu’, apa debit air yang keluar berkurang gak bu? dibandingkan sebelum ada batu… coba tolong diukurin lagi…

    “Kalau anda tidak tahu kenapa jaring mau ditaruh di -1300 m, kenapa tidak minta dosen anda di tim HDCB menerangkannya dengan cara yang masuk akal?”
    nuduh lagi nih aku dari itb…. hehehe kayak salah satu abang yang diposting sebelah..

    kalau ibu gak tahu apa itu overpressure, kenapa tidak minta mahasiswa anda atau rekan anda diperusahan yang mnerangkannya dengan cara yang masuk akal? (mirip yah sama kata2 ibu diatas barusan… hehe)

    “Metode menghentikan semburan dengan memasukkan benda2 dari atas hanya pantas muncul dari orang awam, bukan dari komunitas teknik-akademis” ???
    waduh, ibu sendiri malah mau masukin PASIR tuh…. pasirkan juga BENDA bu’…
    gimana tuh bu’, jadinya kita sama2 orang awam dong….
    (asyik ada temen orang orang awam..)

    intermesso:
    pak usil, kapan ngebaksonya nih, aku dah ajak adek cewek satu lagi.. mudah2an dia skolahnya ga dijepang, biar bisa ikutan

  65. usil mengatakan:

    OmPapang! usil usul agar Om dan Pak RIrawan, Pak Herman, Pak Dedi
    dll tahan dulu komennya terhadap madame Hime ini.
    Usil yakin pak Boxal akan segera bereaksi sebagaimana kebiasaannya.
    Salam kenal….madame Mia.

  66. ompapang mengatakan:

    Pak Usil, mana ini pak RIrawan, ada Bu Hime teman main catur baru kelas grand master sekelas pak RIrawan lho, ayolah pak, kita rindu dengan ulasan-ulasan Pak RIrawan.

  67. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Relief Well adalah metode baku, pak Arsolim. Referensi suksesnya banyak. Basis teorinya kuat pula. Membekukan pusat semburan, memanfaatkan jepitan dinding lubang dan tekanan hidrostatik diatasnya. Tetapi untuk lapindo ini, peluangnya sangat kecil.
    Gabor ultrasonic mungkin dapat memetakan geometri 3D aktivitas dibawah sana.

    Metode menghentikan semburan dengan memasukkan benda2 dari atas hanya pantas muncul dari orang awam, bukan dari komunitas teknik-akademis. Sama seperti dirasakan oleh pak Rovicky, HDCB ini sarat dengan angka2 yang tidak jelas formula dan alur perhitungannya, bahkan menjengkelkan sebab ada yang menabrak logika paling sederhana. Seperti dikuatirkan pak Wandi, sumbatan di -1300 m akan serta merta menaikkan tekanan dibawahnya, sehingga gas dan fluida akan membuat jalur2 baru semburan liar ke-mana2.

    Maaf Boxal, anda non-teknik? Gaya friksi itu dimensinya Newton, sedangkan energi itu dimensinya NewtonMeter. Bagaimana hipotesa tentang insersi HDCB dapat anda jelaskan dengan mengatakan bahwa 5 ayam yang kemarin dibeli = 3 telur + 2 ayam dikandang?
    HDCB tidak mencekik leher? Aduh, teori apa ini? Jika anda mengerti dinamika fluida, maka anda bisa menghitung secara akurat, bahwa misalnya anda masukkan 100 batu diameter 1 cm kedalam pipa yang mengalirkan air, maka itu dapat disimulasikan dengankarakteristik yang persis sama oleh sebuah valve yang anda cekik 32%. Cobalah pelajari teori2 yang diajarkan oleh Prandt, Colebrook, Moody, Nikuradse, Blassius, maka anda akan dapat menjelaskan dengan lebih baik ke publik tentang konsep HDCB itu. Kalau anda tidak tahu kenapa jaring mau ditaruh di -1300 m, kenapa tidak minta dosen anda di tim HDCB menerangkannya dengan cara yang masuk akal? Memasukkan pasir juga bukan metode yang pantas, bilamana tidak didasari oleh terori yang kuat dan perhitungan yang jelas, tetapi lebih logis daripada bola beton. Lalu apa yang anda maksudkan dengan overpressure?

    Dik Mia benar, semoga sukses.

  68. ompapang mengatakan:

    mbak Mia, jebulannya Hime itu artinya putri to ?Berarti bahasa Jepangya the moon= mun. Kalau “ke Bulan “=to Moon =muntu .Furunama =Purnama.Wah ,aku mesti belajar bahasa Nipong. Kebetulan aku punya buku Teach your self Japanese karangan C.J.Dunn and Yamada, biar tak teruskan baca-baca , siapa tahu ada nama Jepun lagi muncul di blog ini..

  69. Mia_Fatimah mengatakan:

    Wah, menarik bgt diskusinya… Aku baru ketemu pas nyari bahan buat tugas sekolah… Tadinya aku pikir orang-orang nggak ada yang mau mikirin kalau konsep bola beton tuh salah.. setidaknya itu kata guruku… He3.. Aq jadi tertolong banget ada diskusi kayak gini.. Tapi Om Papang, kayaknya bukan Pak Hime dhe. Mestinya Bu Hime.. Hime Furuumun artinya Putri Bulan Purnama dalam bahasa Jepang. Gimana Bu/Pak Hime??

  70. usil mengatakan:

    Om! kalo nanti beneran datang ke Jkt, bilang aja melalui blog ini.
    Aku pasti kasih no. cel aku dan jemput omPapang, biarpun diujung
    mana Jkt sekalipun. Acara ngebaso pasti itu. Aku malah udah
    janji sama pak Boxal koq.
    Tapi “pelurunya” tetap ditunggu om! jangan lupa itu.

  71. ompapang mengatakan:

    Pak Usil, aku nagih janji, besok kita ngebaso di Lapangan Tembak Senayan yang terkenal itu lho.Disana banyak pelurunya, jadi ompapang kagak perlu siapin pelurunya.

  72. usil mengatakan:

    Ha?? usuil bikin keliru lagi ya? bagusnya usil tidak sebut Lapindo menjadi
    lapindi. Makasih koreksinya, pak Boxal. Wow!..belum 30 udah
    se-smart ini? Hanya mungkin panasnya yang perlu dikurangi dikiiit aja.
    Ntar! setelah kita nge-baso, usil kaish emailnya….sabar ya?

    Pak Rino itu bagaimana to? memang sebelumnya ada perang? wong
    usil hanya pernah mengalami perang PERMESTA doang, itupun baru
    umur 3-4 tahun, tatkala mana jij belum lahir to?

    Ompapang lagi sedia peluruh berapa belas lembar Om? hayo ngaku!

  73. Dedi Ganedi mengatakan:

    To Boxal, untuk bola kayu dapat dilihat di http://ganedio.wordpress.com

    Tambahan, tali rangkaiaan menggunakan bahan anti karat.

  74. rino mengatakan:

    hehe…..
    ada yang udah damai niy….
    bikin perjajiannya di helsinski pak?
    Jangan2 mau bikin blok baru ya?

  75. boxal mengatakan:

    thanks om/pak usil,
    bapak sdh SMEA thn 70 saya baru lahir 10tahunan lebih sesudahnya….
    tapi kipling itu apa pak ya?
    kliping kali ya… oke ntar kalo dah bikin pasti dikirimin…
    emailnya apa, pak?

  76. ompapang mengatakan:

    Pak dhe, di Bpj 1 welldata sheet ( kotak baca ini dulu), tertulis saat pengeboran mencapai kedalaman 2,833 m dengan diameter 12 1/4 ” terjadi incident. Ada juga angka 3050 m yang mungkin sebagai target pengeboran.Jadi pada kedalaman 3000 meter dianggap sebagai sumber tekanan yang harus disumbat. Tapi angka 1300 meter mungkin yang tahu tim HDCB.

  77. usil mengatakan:

    Dari pagi beresin urusan rutin, begitu buka blog ini….ha…ha….
    rame buanget…kiraken ada gempa bumi!

    Eh, pak Wandi! Waktu usil di SMEA awal tahun 70an punya teman
    cewek namanya juga kebetulan Wandi. Orangnya sih memang juara
    kelas melulu, tapi sikapnya pemalu, rendah hati. Apa memang kalo
    nama “Wandi” begitu sifatnya? Hormat usil buat pak Wandi.

    Ha??? pak Boxal memberi gelar usil, profesor? wah…wah… selama
    ini usil paling banter jadi “pemandu sorak” doang, itupun usil udah
    bersyukur sama omPapang yang rela memberi beslit.
    Wah!!! setelah usil baca ulasan pak Boxal yang begitu dalam dan
    tehnis, ternyata sesuai dengan suaranya yang keras dan panas.
    Yang pasti, usil ingin kipling semua bahasan tehnis dari pak Boxal,
    untuk koleksi pribadi. Sapa tahu bisa jadi refrensi dibelakang hari
    jika terjadi semburan mirip LuLa ditempat usil.
    Memang betul kata orang: Generasi muda seperti pak Boxal, segera
    akan menggantikan generasi tua…..selamat!

    He..he..omPapang jadi tahu dong sekarang dengan umur usil.
    Bedanya gak banyak ya om?

  78. boxal mengatakan:

    pak arsolim,
    sori kalau kalimat terkhir saya agak sinis, i am so sorry..
    saya cuman punya penglaman kecil sama expat di pameran IPA
    mereka punya tower crane yang bagus, trus saya bilang kalau tower cranenya itu sangat cocok untuk dipakai di lusi, dan dengan spontan mereka menjawab, “no no no for lapindo mereka gak punya uang… semua sudah tahu kalau lapindo punya banyak hutang”
    jadi saya menerjemahkan bahwa mereka selalu ‘money talk…’
    kalau masalah pengalaman dengan sumur bocor mereka mungkin banyak pengalaman pak (salah satunya relief well), tapi kasus kita berbeda bisa jadi lumpurnya bukan berasal dari sumur, tetapi dari uret retakan yang entah dimana posisi tepatnya..
    jadi ini bencana unik pertama di dunia yang terjadi di ditengah2 pemukiman…
    dan psetahu saya lagi, penanggulangan bencana ini sudah ditawarkan ke beberapa service/oil company (setelah baker atlas tentunya).. tapi kenapa belum maju2 pasukannya…

    tetapi whatever-lah itu saya akui salah menulis dengan cukup sinis dan minta maaf, mungkin bapak punya teman baik expat, sampaikan maaf sy juga ok.. ok pak..
    saya minta maaf kepada all of expats yang ada dimuka bumi ini…

  79. boxal mengatakan:

    to mas DEDI GANEDI, ide bola kayu boleh juga tuh, revolusioner…
    kira2 butuh berapa berat rantai untuk bisa menenggelamkan bola kayu pak? berapa volume rantainya ya? jangan-jangan jadi insersi rantai besi..?
    trus airnya kan asam, jadi rantai pastinya mudah berkarat, kalau suatu saat rantainya putus, bolanya lepas dong ke atas?
    mohon penjelasan master!!!

  80. Arsolim mengatakan:

    Kang Boxal, kalimat terakhir akang ini yang agak menkhawatirkan terutama jika pendapat akang “mengapa kok harus pake tenaga expat” ternyata mewakili pendapat masyarakat banyak, alergi terhadap produk/jasa expat akan menjadi kendala besar dalam penanganan LUSI tsb, karena memang expat ini yang mempunyai pengalaman dalam operasi spt ‘Relief Well” dan pengadaan devices yang lain, bahkan mungkin pengalaman mereka sudah puluhan tahun, sementara ahli2 kita baru dalam taraf uji-coba dalam ide2/metode2 baru spt hdcb, spider web dan yang lain.

    Kalau boleh saya ingatkan sebenarnya sebagian besar dari kita-2 ini secara tidak sadar telah memakai/menikmati barang/produk expat contohya komputer, TV, mobil dstnya cuma karena tidak di-exposed jadi tenang2 saja.

  81. edogawa mengatakan:

    saya tidak bermaksud membela metoda apapun dalam menganggulangi semburan lumpur ini. namun, ada hal yang ingin saya cermati terhadap proses pelaksanaan yang telah dilakukan selama ini.

    metoda relief well, terlepas dari pro dan kontra yang ada, sebenarnya juga senasib dengan bolton. berhenti di tengah jalan lalu diklaim gagal.
    pelaksanaannya di lapangan tidak maksimal karena terbentur biaya operasional yang “tidak lancar” dari pihak pemberi dana. dalam seminggu pekerjaan, paling hanya sektar 3-4 hari saja yang beroperasi, sehingga target tidak pernah tercapai. belum lagi pekerjaan selesai, lalu dihentikan di tengah jalan dan diklaim gagal.

    saat ini muncul pula ide mencoba metoda yang ditawarkan pihak Jepang.
    saya tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan lapindo dan pemerintah. sebenarnya mereka ini serius atau tidak membantu rakyat?

    yang paling merasa bahagia saat ini saya rasa adalah Bpk. Basuki, ketua tim pelaksana Timnas BPLS terdahulu. bahagia karena terlepas dari konspirasi kotor pemerintah dan korporat (serta DPR mungkin?).

    Saya tidak ingin masuk k tataran politis, tapi mau tidak mau hal ini memang sudah dipolitisir. berapa banyak lobi2 politik yang telah dan akan dilakukan antara Pemerintah, DPR dan korporet, dalam hal ini Lapindo.

    Interpelasi yang digulirkan juga sepertinya akan mendapat tantangan yang tidak mudah, oknum2 korporat dan DPR mungkin saat ini sudah mulai melancarkan lobi2nya pada pihak pengusul.

    duh..kalo begini isunya. pada siapa lagi rakyat seperti kita ini akan mengadu…? pada rumput yang bergoyang?

    buat mas rovic. mohon maaf kalo jadi agak melankolis dan politis.
    saya melihat, orang2 seperti bapak2 dosen di institusi sepertinya dijadikan bahan olok2 dan dipingpong sana sini karena permainan2 kotor politikus2 yang berkomplot dengan korporat.

    mereka orang2 yang cukup idealisme. rekan saya sudah cukup lama kenal dengan Bapak2 itu mengatakan bhw tidak sedikit tawaran riset dari luar negeri yang mereka tolak; malaysia, brunei, jepang, kanada.

    kalau memang materi yang menjadi orientasi hidup mereka, tidak mungkin mereka bertahan dalam lingkungan institusi pendidikan, bahkan seperti ITB sekalipun. mereka adalah profil orang2 yang membangun laboratorium riset beserta fasilitasnya dengan hasil keringat sendiri. Hasil-hasil riset mereka diakui oleh peneliti dan industri dari luar negeri tapi di negeri sendiri.. duhh.. :(
    jika ternyata di luaran ada orang2 yang memiliki penilaian miring terhadap beliau2 ini, mohon dapat dikoreksi, atau jika perlu silahkan datangi tempat mereka membesarkan anak2 bangsa : laboratorium dan kampus.

    salam

  82. boxal mengatakan:

    pak hime-furmuun93, bagaimana dengan over pressure yang mungkin saja muncul kalau pakai pasir pak hime??
    minta penjelasan dong pak hime??
    ditunggu yah?

  83. boxal mengatakan:

    bener pak rovic,
    tujuannya memang menyumbat (asumsi lumpur dari sumur)
    tadi saya hanya bilang ‘salah satu tujuannya’
    ‘salah satu tujuannya juga’ adalah membuktikan itu bencana lapindi (dari sumur) atau bencana alam pak… jadi itu bukan tujuan utama pak,
    jelas tujuan utamanya adalah menutup pak, iya gak pak?

    (tapi sayangnya mahal banget dan mesti berurusan lg dengan expat pak…)

  84. boxal mengatakan:

    setahu saya dengan metode HDCB tidak akan terjadi penumpukan tekanan di bawah bola atau jaring, pertama karena jaringnya juga melewatkan lumpur, begitu juga bola2 beton, ada celah yang dibuat oleh bola beton untuk jalur keatas lumpur/gas sehingga tetap terjadi pressure release.. (makanya pakai bola biar pori2 yang terbentuk ooptimal)

    masalah hukum kekekalan energi mungkin bapak agak kurang paham sepenuhnya, energi dari gas/lumpur diubah dalam bentuk gaya friksi (kalau dinamika sederhana sama seperti gaya gesek), akibat adanya gaya friksi itu adalah energi lumpur/gas akan diapaki sebagian untuk berjalan berliuk-liuk melalui celah2celah bola, sehingga:

    energi dibawah bola = gaya friksi + energi release

    jadi energi akan tetap kekal.. tidak akan terjadi penimbunan energi dibawah bola untuk mencegah over pressure..

    jadi sekali lagi HDCB tidak sama dengan ‘mencekik leher’ tetapi menciptakan hambatan bagi jalan lumpur, agar energinya terkurangi disitu… sehingga akan ada perbedaan pressure yang cukup signifikan antara bawah bola dan atas bola jadinya tidak akan merusak dinding..

    jaring laba2 saya juga kurang tahu,kayaknya untuk menghindari bila jatuh sampai ke lambung kali, atau untuk menciptakan hambatan di beberapa tempat (sehingga lumpur dihambatnya tidak di satu posisi saja)
    jadinya bertingkat2 gitu deh kayak lift yang naik ketingkat pali atas tapi melewati beberapa lantai dulu.. hehehe…. kali…

    kenapa jaring laba2 mesti 1000m atau 1300m atau 1500m entahlah, tapi mungkin benar kata mas wandi, mungkin mereka punya line seismik daerah situ atau punya data well bjp-1 sehingga mereka bisa tahu posisi formasi batuan yang paling kuat/ideal untuk memasang jaring…
    ga tahulah pokoknya masalah kedalaman itu kuncinya ada di -> line seismik & data log bjp-1

  85. wandi mengatakan:

    hehehe benar pak rovicky kirain saya yang ga nyimak dari awal. asal 1300 m dan 3000 meter ini dari mana ya?

    Saya ga tau gimana kelanjutan HDCB ini. Yang pasti sampai sekarang kita masih mendiskusikannya, jadi saya pikir mungkin aja dilanjutin.

    Kalau seandainya dilanjutin sebaiknya harus dipikirkan juga cara untuk mengukur debit semburan. Sebaiknya ini dilakukan oleh pihak netral (bisa BPLS) sehingga sukses atau gagalnya HDCB merupakan suatu fakta.

  86. wandi mengatakan:

    Akhirnya kita kembali ke relief well,
    Bisa jadi dari dulu ini cara terbaik untuk menghentikannya. Tapi langsung divonis gagal, sementara skenario awal belum dijalankan semua. Kalau boleh tahu alasan menyatakan relief well gagal apa ya?

    Masalah kedalaman 3000 m atau 1300 m mungkin ita punya pendapat sendiri2. Tp menurut saya kita harus mempelajari data seismiknya supaya dapat memprediksi lithology pada kedalaman2 itu.
    - Sampai saat ini ga ada yang tau kedalaman pusat semburan terbawah ataupun sumber lumpur itu sebenarnya berupa apa (reservoir lumpur apa shale keras). jika diasumsikan kedalaman tersebut 3000 meter tapi berbentuk berbentuk lumpur upaya penyumbatan dengan metode apapun ga akan berhasil jika dilakukan pada kedalaman ini.
    - Kalau kita nyumbat di kedalaman 1300 meter dikhawatirkan lapisan yang tepat dibawah kedalaman tersebut berupa lapisan lunak yang gampang digerus. Ini dapat mengakibatkan lumpur membuat jalur baru (persimpangan dimulai pada kedalaman ini)

  87. Rovicky mengatakan:

    Quote –> setahu saya relief well ditujukan salah satunya untuk menutup sumur bjp-1 saja, salah satu tujuannya untuk membuktikan ini adalah BENCANA LAPINDO atau BENCANA ALAM….
    Aku perlu koreksi.
    Relief well <b>bukan untuk membuktikan bencana lapindo atau bencana alam. tetapi Relief well ditujukan untuk menyumbat sumur dengan ASUMSI bahwa bencana ini akibat sumur yg salah urus. </b> Kalau asumsinya salah tentunya ngga akan berhasil juga. HDBC justru tidak begitu mempedulikan apa penyebabnya tetapi langsung menyerang symptome yang terlihat dipermukaan.
    Keduanya semestinya salaing membantu dengan data-data yang hingga kii diperoleh.
    Tapi yang hingga kini saya heran munculnya angka-angka menyumbat entah dengan HDCB ataupun pasir atau batukali di kedalaman 1300 meter dan 3000 meter itu angkanya darimana sih ? Moga-moga bukan sekedar tanya dukun :P

  88. boxal mengatakan:

    waduh menarik nih….

    pak arsolim, waduh kayaknya sulit tuh ngebor relief well sampai 3km… boleh ngecek sama orang drilling.. mana struktur tanahnya juga sulit (mostly sand)
    ada sedikit perbedaan antara kasus relief well sumur bor dengan kasus relief well LUSI, kalau di sumur bor driller-nya sudah tahu posisi (koordinat) sumur, sementara disiodarjo sumur cuman 2km yang diketahui.. itupun kalau lumpurnya lewat sumur, kalau ternyata tdk lewat sumur? gak ada satu orang pun yang bisa tentukan dimana posisi tepatnya urat retakan yang dilewati lumpur tadi.. so mau ngebor ke arah mana?

    setahu saya relief well ditujukan salah satunya untuk menutup sumur bjp-1 saja, salah satu tujuannya untuk membuktikan ini adalah BENCANA LAPINDO atau BENCANA ALAM.
    kalau skenario tutup sumur bjp-1 berhasil dan lumpur terhenti berarti ini =BENCANA LAPINDO karena lumpurnya lewat sumur bjp-1, tapi kalau sumur bjp-1 berhasil ditutup dengan relief well dan lumpur masih tetap keluar berarti ini =BENCANA ALAM karena tidak lewat (tdk ada hubungannya) dengan sumur bjp-1…
    Jd kalau ternyata benar tidak lewat sumur, orang relief well mesti ngebor kearah mana ya? tar gak nemu2 uratnya tapi cost-nya meluncur terusss… muahal lg… bisa habis Triliunan nanti (pake duit syapa ya bayarnya?)

  89. Arsolim mengatakan:

    Jadi kesimpulannya masih jauh lebih hebat metode RELIEF WELL juga ya pak daripada metode lain yang sudah (dan akan) diupayakan selama ini, karena metode relief well kan bertujuan untuk menyumbat langsung sedekat mungkin dengan pusat semburan terbawah (3000 meter) dan kunci/syarat utama untuk melakukan ini harus diketahui lebih dulu bentuk, ukuran dan situasi wellbore sumber blowout tersebut, sehingga bisa mengarahkan mata bor secara tepat dan akurat.

  90. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Tidak sepenuhnya begitu om Papang. Yang tetap adalah pancaran sumber energi atau daya: P = rho . g . Q. (sigma H); meskipun lubang di -3000 m tetap, rugi geser aliran sepanjang lubang: Hr equivalent u^2 mengecil sebab kecepatan u melambat, sehingga sigma H berkurang. Maka dengan sendirinya debit Q akan bertambah besar.

    Logika menyumbat dikedalaman -3000 m dengan asumsi itulah diameter lubang terkecil adalah jauh lebih cerdas daripada ide jaring di -1300 m. Se-hari2 kita sudah diberitahu oleh alam. Kita bisa dengan santai memampetkan selang 1/2 cm2 dengan jempol, meskipun tekanan didalamnya 2 bar, tetapi telapak tangan orang terkuatpun tidak akan bisa menutup ujung selang 3 inches dengan tekanan yang sama.

    Tetapi sungguh, terlampau naif ingin menghentikan semburan dengan memasukkan benda2 dari permukaan kedalam lubang. Masalahnya tidak sesederhana menghentikan semburan selang air.

  91. ompapang mengatakan:

    Pak Hime, walau lubang diatas membesar , tetapi lubang dikedalaman 3000 meter tidak membesar/tetap sempit, maka debit semburanpun akan tetap , yang berkurang kecepatan semburan mendekati permukaan. Maka kelihatan semburan tidak melonjak-lonjak sebagaimana ketika lubang diatas masih kecil. Jadi yang penting target penyumbatan adalah kedalaman 3000 meter.

  92. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Bagus penjelasan pak Dedi tentang bahayanya bola beton, apalagi dikumpulkan dikedalaman 1300 m pakai jaring. Energi dibawahnya akan terkumpul, memperbesar tekanan, mempercepat arus gas dan fluida. Hakekatnya tidak beda dengan mencekik jalur lintasan semburan, maka dinding yang rapuh akan rontok dan lubang menjadi lebih besar.

    Mengurangi energi semburan? Killing mud softly? Energi itu kekal. Kita pelajari hal ini pada awal belajar fisika. Jika energi dari kedalaman -3000 m sudah naik kelevel -1300 m, maka kumpulan bola beton dijaring hanya bisa menghambat ‘sementara’ mengalirnya energi keatas, sehingga terakumulasi dibawah kumpulan bola beton.
    Ini berbahaya!
    Bola beton I sempat menghentikan semburan 30 menit karena dinding runtuh. Tetapi sumbatan itu jebol akibat kenaikan tekanan dibawahnya, sehingga bola2 beton dan runtuhan dinding amblas kebawah. Setelah itu, dengan lubang yang lebih besar, lumpur dan gas lebih leluasa naik keatas dengan tekanan yang lebih kecil (less back-pressure due to less flow resistance). Sebaliknya bubbles atau semburan gas di-lubang2 kecil sekitar lubang utama mengecil. Jelas, sebab tekanan gas dilubang utama mengecil. Logika ini didukung laporan, bahwa tinggi semburan diatas permukaan mengecil pasca HDCB sebab dengan diameter lubang yang lebih besar, lumpur dan gas naik dengan kecepatan yang lebih lambat. Tetapi debit keluaran mestinya makin besar dan makin sulit dikendalikan.

  93. Dedi Ganedi mengatakan:

    Maaf Wandi dan Usil, saya baru baca sekarang.

    Volume gas dari dalam bumi tidak akan berkurang dengan ditutup tumpukan bola-bola beton di atas spider net. Bola-bola beton dikhawatirkan mengurangi keluarnya gas sehingga menyebabkan akumulasi gas di bawah spider net meningkat. Tekanan gas yang meningkat akan mencari jalan untuk keluar ke permukaan melalui samping spidernet sehingga akan menggerus dinding lubang. Lubang akan semakin membesar. Gas pun akan keluar kembali dengan lancar.

    Bola-bola beton seharusnya berfungsi sebagai memperlambat kecepatan gas tetapi volume gas yang keluar tetap jumlahnya. Artinya meredam momentum gas yang ditembakan dari sumber gas. Ibarat deretan mobil di jalan Toll, yang dihambat kecepatannya, tetapi mobil-mobil tetap berjalan tidak mengalami kemacetan dan penumpukan.

    Bola-bola beton harus tetap mengapung tidak boleh mendarat dan menumpuk di spider net agar ada celah yang besar untuk keluarnya gas.

    Saya telah mengusulkan sebelumnya, agar bola-bola dijamin mengapung bola beton diganti dengan bola kayu.

  94. wandi mengatakan:

    pak usil dan nom papang, saya ga ngomong kalau HDCB I sukses. tapi mempertanyakan apa gitu maksud pak dedi? gimana pak dedi?

    Kalau saya pribadi berpendapat wajar aja kita atau orang2 lain bahkan wartawan ngomong HDCB gagal karena ga ada efek yang langsung kelihatan. kalau melihat hasil saya juga berpendapat begitu.

    Tapi disisi lain ada beberapa catatan dari saya mengenai HDCB, penanggulanagn semburan lumpur, dan diskusi2 kita:

    1. Vonis terhadap penanggulangan terlalu cepat diberikan (apalagi kegagalan). Baik itu snubbing unit, relief well atau bolton ini.
    Saya pikir ini juga wajar sebab ini merupakan masalah nasional dan berdampak sosial maupun politis, jadi semua orang ingin masalah ini cepat selesai. Akan tetapi kalau semua metode cuma dijalankan setengah2, cara apapun saya pkir ga akan berguna. Mungkin aja orang2 relief well juga beranggapan mereka ga gagal karena belum dilaksanakan sesuai skenario awal mereka.

    2. Dari diskusi2 sebelum, sepertinya banyak juga yang setuju dengan metode insersi HDCB. Terbukti banyak ide2 lain insersi High Density tapi bukan Chain Ball.

    Om Papang, masalah kedalaman berapa berhasil saya juga ga tau karena saya ga punya data. Tapi menurut saya seharusnya orang2 lapindo punya penampang seismik yang dapat memprediksi di kedalaman berapa sumber lumpurnya.

    Pak usil jangan panggil pak deh. Saya masih kecil apalagi dibandingin om Papang. hehe…..

  95. boxal mengatakan:

    oh iyya setahu saya kerikil yang seperti kerikil jalanan tidak pernah muncul keatas, cuman lumpur yang mengeras dan berbentuk gravel (mirip bentuk kerikil) tapi gravel itu dapat dipatah2kan/dihancurkan pakai tangan kita… (sedangkan kerikilkan tidak)

  96. boxal mengatakan:

    iyya mungkin boleh juga pakai pasir, tapi kalau pakai pasi rberarti tujuannya sudah berebrda dengan metoda bolabeton..
    bolabeton tujuannya mengurangi energi semburan… atau killing mud softly
    sedangkan pasir jadinya pasti menutup langsung… entahlah secara spontan atau nggak..
    bagaimana dengan overpressure yang mungkin saja muncul pak hime?

  97. usil mengatakan:

    Eh Senior! bukan alergi, tapi perlu diingatkan terus agar orang tidak
    lupa atas “jasanya” Lapindo….gitu lho. Kalau lupa, bisa CELAKA.
    Btw, kayaknya kita kedatangan banyak teman baru yang kritis.
    Asyik juga nih, biar Senior dll itu gak kesepian to?

  98. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Karena itu harus pasir dari bahan sintetis yang sangat kuat dan BERAT. Untuk mencegah blowout, drilling company juga memasukkan lumpur berat. Pak RIrawan telah menunjukkan rumusnya, berapa density yang diperlukan agar bisa tenggelam. Tetapi metode inipun rasanya terlampau sederhana dan asal2 an, walaupun jauh lebih logis daripada bola beton.

  99. ompapang mengatakan:

    Dapatkah pasir tenggelam disembur lumpur keatas? Kerikil saja bisa keluar dari dalam,apalagi pasir! Kalau kecepatan semburan kurang dari 1m/detik saya kira pasir dapat tenggelam.

  100. Hime_furuumun93 mengatakan:

    Para ahli yang saya ajak diskusi bingung tetapi juga senyum. Naif sekali berharap dapat mengatasi semburan dengan memasukkan bola beton biasa. Mineral alam yang dipermukaan menjadi batuan keras, logam dsb, dulunya banyak yang berasal atau ditambang dari kedalaman itu. Namun oleh suatu tenaga yang sangat kuat, ternyata bisa dihancurkan dan disemburkan keatas berupa lumpur. Metode bola beton ini rasanya kelewat sederhana untuk bencana alam sedasyat ini. Mungkin kalau yang dipakai adalah material sintetis yang sangat khusus, kuat dan berat, masih ada setitik nalar yang mendasarinya. Tetapi logikanya tentu bukan 40+ 20 cm, melainkan pasir, yang tidak merusak dinding dan lebih terjamin sampai ke dasar semburan. Betapapun, tetap terasa terlampau menyederhanakan masalah.

  101. ompapang mengatakan:

    Pak Wandi, Bapak tidak menyebut pada kedalaman berapa bolton berhasil. Saya sependapat dengan Pak Dedi pada dikedalaman 1300 meter. Tapi dikedalaman 3000 meter mungkin bolton dan jaring baru efektif dengan catatan bila tidak HANCUR.
    Btw, pak Usil kok masih alergi dengan LUSI ya, selalu nyebut LUKA (Lumpur Celaka) . . . eh LULA.

  102. usil mengatakan:

    Pak Dedi mungkin kelupaan menjawab, pertanyaan pak Wandi ini.
    Ayo dong pak Dedi! Atau ada yang bisa bantu jawab ke pak Wandi?
    Mumpung diskusi HDCB lagi hangat dengan urusan klaim mengklaim
    soal honor SUKSES!!!
    Siapa tahu sukses mengendalikan LuLa ini justru lahir dari salah
    satu ide para komentator disini?

  103. wandi mengatakan:

    to pak dedi

    menarik pendapat pak dedi.
    yang saya simpulkan bolton pertama berhasil mengurangi kemunculan bubble. Tetapi jika pake jaring2 spider ditakutkan malah akan memperparah?

    Bekitukahanalisa Bapak, mohon pembetulan..

  104. usil mengatakan:

    Mereka yang bilang Harimau Tua “macan ompong”? Berarti tidak
    membaca secara lengkap tulisan2 sang Harimau, terutama pada
    bulan Feb s/d Apr 2007

  105. ompapang mengatakan:

    Tapi Harimau Tua-nya bukan “macan ompong” lho Pak Usil, komentarnya pasti menggigit, paling tidak ditelinga pasti terasa panas seperti digosok pake balsem cap macan (ngabangke kuping). Gak sia- sia aku kasih beslit pemandu sorak buat pak Usil !!

  106. usil mengatakan:

    Pak Dhe! kalau Harimau Tua sudah turun gunung, tanggung yang lain
    menyusul.
    Hanya saja, Biang Harimau nya masih ngumpet. Kapan turunnya ya???

  107. usil mengatakan:

    Wah!!! kaget aku, pak Dedi baru muncul lagi di judul ini, sejak akhir Maret lalu.
    Sebagai penggemar komen bapak, saya merasa kehilangan lho!
    Kemana aja pak Dedi dan pak Syahraz? Saya sengaja “paksa” omPapang
    posting ulang komennya disini, dengan maksud agar: Harimau turun gunung.
    Benar juga! sudah ada 1 yang turun…ho..ho..
    omPapang pasti udah senyum disana…

  108. Dedi Ganedi mengatakan:

    Usil, saya numpang nimbrung tentang bolton + spider net.

    Pendapat saya mengalirnya lumpur ke permukaan akibat dorongan gas.

    Munculnya bubble karena terjadi akumulasi gas yang tertahan di dalam rongga bawah tanah yang tidak dapat langsung keluar menuju permukaan. Kumpulan gas ini baru bisa keluar setelah mencapai jumlah yang melebihi kapasitas ruang dalam rongga.

    Adanya bola-bola beton ini mungkin juga telah menghancurkan rongga-rongga perangkap gas sehingga perjalanan gas ke permukaan menjadi lebih mulus dan bubble menjadi jarang terjadi.

    Adanya bola-bola beton bisa juga malah membentuk perangkap gas di bawah jaring laba-laba membentuk tekanan yang semakin lama semakin besar. Kemudian yang dikhawatirkan proses terjadinya semburan akan terulang kembali seperti pada kejadian malapetaka pemboran sebelumnya yaitu gas yang membawa lumpur akan mencari celah baru untuk keluar ke permukaan. Apalagi jaring laba-laba akan di taruh pada kedalaman 1300 m, sedangkan pada awalnya gas dengan mudah menerobos kepermukaan ketika lubang bor telah mencapai 3000m.

    Kecuali aliran gas dari bawah tanah tidak dihambat, dan dialirkan bersama airnya dengan sedikit membawa butiran lumpur.

  109. ompapang mengatakan:

    Terima kasih Pak Usil, ini komen saya pada topik APA KABAR HDCB yang ditulis oleh Pak Bagus Endar Nurhandoko dari Tim HDCB ITB saya kopi pastekan dengan sedikit pembetulan.
    Terima kasih PaK Bagus sudah memberi penjelasan mengenai hasil-hasil HDCB dan rencana memasang jaring laba-laba pada insersi berikutnya.
    Kami memang menunggu- nunggu tulisan dari tim HDCB.Syukurlah sekarang sudah ada.Dari tulisan tersebut kami ingin bertanya tentang hal-hal yang belum tertulis disitu, misal berapa “distribusi” diameter lubang saluran mulai dari permukaan kebawah tiap 50 meter kedalaman hingga kedalaman 3000 meter (pada penampang memanjang) atau kalau tidak ada data sampai 1200 meter sajalah. Pertanyaan ini saya kemukakan berkaitan dengan rencana Tim HDCB untuk memasang jaring laba-laba yang bila membuka akan berdiameter 3 m pada kedalaman 1200 meter.
    Walaupun tidak Bapak jelaskan fungsi jaring, kami “menduga” pemakaian jaring laba-laba adalah untuk menghindari HDCB BABLAS kebawah tertelan perut bumi seperti kekhawatiran saya pada awal Bapak melakukan insersi HDCB yang pernah saya tulis di blog ini..
    Andaikan diameter lubang dikedalaman 1200 meter itu kurang dari 3 meter, misal sekarang hanya satu meter, mengingat diameter bornya saja hanya sekitar 13 inci (33 cm), terus bagaimana, apakah jaring dapat berfungsi?.
    Atau andaikan diameter dikedalaman 1200 meter itu ternyata lebih besar dari 3 meter,misal 15 meter , terus jaring tetap dibuka atau tidak ?
    Menurut tulisan Bapak , HDCB yang sudah masuk berfungsi dengan baik, lha sekarang keberadaannya pada kedalaman berapa? Kalau HDCB berada dikedalaman kurang dari dari 1000 meter, misal 500 meter maka jaring laba-laba yang direncanakan akan membuka secara otomatis pada kedalaman 1200 meter tentunya tidak akan membuka karena belum mencapai kedalaman yang diinginkan berhubung terhalang oleh kumpulan HDCB, belum lagi bila dikedalaman tersebut diameternya kurang dari 3 meter.
    Kalau ternyata HDCB yang sudah dimasukkan BABLAS kebawah atau hancur dan tidak diketemukan pada kedalaman 1000 – 3000 meter, sedang dimeter dikedalaman tersebut boleh dikata homogen sekitar 5 meter, mengapa diameter jaring laba-laba tidak dibuat 5 m dan dibuka dikedalaman 3000 meter misalnya. Dengan tanpa dihalangi HDCB maka membuka jaring dikedalaman tersebut bukanlah tidak mungkin, bahkan sangat ideal, karena kedalaman 3000 meter adalah mendekati pusat semburan, hingga dampak negatif munculnya semburan ditempat lain dapat dihindarkan.
    Menurut saya ,ada keuntungan lain bila Bapak dapat membuka jaring entah berapa diameternya dikedalaman 3000 meter, yaitu apabila berhasil memperlambat kecepatan semburan keatas kurang dari kecepatan aliran lumpur disungai Porong, tentu lumpur akan mengendap dan pada gilirannya akan menyumbat lubang semburan. Bila sumbatan dilubang semburan bisa bertahan 3 – 4 jam saja, maka seluruh material padat akan mengisi lubang semburan , sedang dibagian atas yang berupa air ( 70 % dari volume lumpur ?) yang terpisah dari endapan material padat bisa Bapak usir dengan menuangkan campuran beton tanpa air (kering) sehingga sesudah beku dapat berfungsi sebagai counter weight untuk memperkuat sumbatan dari endapan lumpur tersebut. Selamat bekerja, saya tetap mendukung seperti sejak awal, tetapi tetap saya kritisi, kalau perlu saya cemooh bersama pemandu sorak Pak Usil, huuuu . . ., supaya tim HDCB tahan banting.!!

  110. usil mengatakan:

    Ompapang! (komen 04-06-07 at 7:41 am), seharusnya posting
    disini juga. Biar kronologisnya (topik HDCB) nyambung, gitu om.

  111. usil mengatakan:

    PapaTITA benar, sudah lama kami sangat mengharapkannya.
    Kalau Team HDCB sungkan tampil “vulgar”, boleh aja dengan
    nama samaran misalnya. Yang penting bisa berdiskusi sehat, saling
    melengkapi dengan para komentator2 blog ini, seperti: omPapang,
    Yanatan, Herman, Dedi, Syahraz, Arsolim, Otnaidah, RIrawan dll.

  112. PapaTITA mengatakan:

    Ah syukurlah ternyata ada juga anggota team HDCB yg posting disini:
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/06/03/apa-kabar-hdcb/
    … meskipun dengan teknik baru (Jaring Spiderman) semoga saja dengan datangnya si “NEW” BOLTON si LUSI cepet KO.

    Sayangnya berbagai ide2 yg muncul di situs2 ini ataupun pertanyaan2 soal HDCB, dari “Team HDCB” sendiri ndak ada yg nanggapi.

  113. ompapang mengatakan:

    Pak Dhe dan Pak Usil, ompapang sudah posting komen di “apa kabar HDCB” terima kasih.

  114. usil mengatakan:

    Jangan kuatir pak Syad,
    pasti omPapang dan RIrawan lagi siapkan PELURU jawaban. sabar aja…

  115. Syad mengatakan:

    Tulisan yg menarik dari Pak Bagus E.B.Nurhandoko, trimakasih Pak atas informasinya.

    Melihat lebih lanjut dari tulisan tsb sepertinya akan ada “insersi HDCB plus jaring laba2″
    Gunanya buat apa yak?? apa krn baru terinspirasi ama pelem spiderman 3 hehehe (jokes) Jadi makin aneh ajah, ato ini yg d sebut hi-tech :D

    Om om.. klo ngerti tolong jelasin dong….
    Klo pake jaring laba2 artinya nanti bolanya berhenti d kedalaman 3600kaki dong (sesuai tulisan tsb) krn ada jaring ini, tp buat apa yah? (just curious)

    Pak Ismail,
    dari kutipan berikut apa ada kemiripan ama MDF?
    “Pantauan kadar air dari lumpur secara harian dari pusat semburan mulai menaik pasca insersi, ini mengindikasikan bahwa mekanisme filtering dari bola‐bola beton ini mulai bekerja dengan memerangkap material padatan dan mengalirkan material halus, gas plus airnya, mekanisme filtering ini terjadi pada kedalaman lebih dari 1000 meter yang merupakan zona yang cukup aman.”

    Bisa minta tolong d berikan sedikit penjelasan ttg MDF ini??
    thx

  116. usil mengatakan:

    Pak Dhe, omPapang!
    Jangan2 pak RIrawan sama dengan omPapang, belum sempat baca
    artikel diatas (pak Bagus…)
    Koq hari segini, belum ada response dari beliau?

  117. usil mengatakan:

    Thanks! pak Dhe. Iya disitu om.

  118. ompapang mengatakan:

    Pak Usil,penjelasan Pak Bagus E.B.Nurhandoko tentang HDCB dapat dibaca dimana ya?

  119. usil mengatakan:

    Penjelasan pak Bagus E.B. Nurhandoko tentang HDCB sangat bagus
    dan disertai data2. Ini merupakan kemajuan pesat dari tim ITB,
    sebab data2 dibuka ke publik. Tentu ini bisa diartikan, bahwa publik
    yang berminat untuk sumbang-saran…..monggo!
    omPapang, pak RIrawan dll, silahkan dibantu berupa sumbang-saran,
    kritik, tambahan ide, dll. demi suksesnya HDCB jilid-II

  120. Arsolim mengatakan:

    Pak Ismail, metode MDF ini kalau hanya memisahkan bagian2 material padat cair dan gas trus kira2 tujuan akhirnya apa ? apakah akan mengurangi volume semburan atau melancarkan jalannya air lumpur atau memudahkan kerjanya operator dilapangan ?
    tolong diperjelas pak !

    Selain itu gimana mengartikan “Mountain Demester Floating” apa artinya gunung “Demester” yang mengapung, karena kata “Demester” ini ngak ditemukan dalam kamus Inggris pak, trims penjelasannya.

  121. ompapang mengatakan:

    Silahkan Pak Ismail presentasi di blog ini, kami akan menyambutnya dengan hangat penuh keakraban bersama pemandu sorak Pak Usil.

  122. Ismail mengatakan:

    apabila, ada pihak yang ingin mengetahui teori MDF lebih lanjut, saya siap mempresentasikan.

  123. Ismail mengatakan:

    saya mempunyai teori yang lain mengenai cara mengatasi “Lusi” dengan cara MDF (Mountain Demester Floating) sehingga dengan cara memisahkan material – material padat dan air serta gas dapat dipisahkan. material padatnya ditahan, airnya dialirkan dan uap gasnya dilepaskan ke udara.

  124. D Y mengatakan:

    Maaf, ikut nibrung, apa dr rekan2 dpt memberikan update data2 teknis agar para peminat discusi juga bisa update dengan progress dari aktivitas “Lusi” (tiap bulan)agar bisa timbul gagasan yg lebih jitu;
    al: tekanan, # flow, vertical cross section , fiscosity, % air, data chemical, dsb?
    Proposal Okumurah apa ada yg dpt memberkan kejelasan?, at least dimensi dr Construksi?;
    bagaimana dgn concept detail dr Pak Syhraz ?, apa hub dgn proposal dr Pak Djaja Laksana yg lagi gugat Okumura?;
    Salam

  125. Wandi mengatakan:

    Kemaren saya liat pameran IPA(Indonesian Petroleum Asosiation). Di sana juga ada standnya tim HDCB ITB (bolTon). Dari data-data yang mereka tampilkan terlihat penurunan semburan. Mereka mengakui kalau keberhasilan sangat sulit ditentukan karena perhitungan debit absolut belum bisa dihitung. Tapi Debit relatif berkurang. Ini dapat dilihat dri frekuensi dan ketinggian sembutan.

    Tambahan lagi saya juga sempat tanya, kalau masalah pembayaran yang sempat diomongin oleh om usil (udah dapat bayaran ga peduli lagi). mereka menyampaikan kalau bayaran tahap satu samapai sekarang masih bermasalah bahkan mereka nanggung sendiri sebagian biaya di sana.

  126. usil mengatakan:

    Iya om! Sudah gitu libur akhir pekan nanggung lagi, coba 1 minggu penuh,
    bisa besuk anak sekolah diluar kota to?

  127. ompapang mengatakan:

    karena tak ada tontonan, pemandu soraknya nganggur he 3X.

  128. usil mengatakan:

    Sayangnya hitung2annya tidak dipaparkan secara terbuka, agar
    bisa “dikeroyok” oleh omPapang Cs. Kita jadi kehilanagan
    tontonan yang menarik deh..

  129. ompapang mengatakan:

    Dari informasi bocah Pati, bayangan saya konstruksinya seperti lingkaran dalam dari pon susun Pak Syahraz hanya beda dalam bahan,yaitu menggunakan baja, sedang Pak Syahraz dari beton. Untuk ketinggian dam sekitar 40 meter sudah pernah didiskusikan dalam salah satu topik diblog disini. Mudah-mudahan dengan diameter 120 m ,dam tidak ambles, sukur-sukur lumpur dapat bersirkulasi didalam kawah atau ketinggian permukaan lumpur yang 40 meter itu sudah dapat mengimbangi residual pore pressure tanpa mengakibatkan semburan ditempat lain seperti yang dikhawatirkan selama ini, sehingga cara ini dapat mengatasi bencana yang tak kunjung berhenti.

  130. bocah Pati mengatakan:

    mBah bagaimana dengan gagasan baru dari tim ahli dari Jepun? (keng putu saking pati)

    GAGASAN BARU, Tim ahli Jepang didampingi sejumlah menteri diterima Presiden SBY di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin, untuk membahas cara menanggulangi semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jatim.

    JAKARTA (SINDO) – Pemerintah akan menerapkan metode baru untuk mengurangi debit luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang masih sulit dikendalikan. Metode teknologi Jepang yang disebut control buffer dam ini diprediksi dapat menutup sumber lumpur secara perlahan.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menjelaskan, metode ini diperkirakan akan menghabiskan dana maksimal Rp600 miliar. Menurut Djoko, metode ini dilakukan dengan cara memagari sumber luapan untuk menahan semburan lumpur dengan membentuk satu tembok yang terbuat dari baja yang disebut dengan double coffer dam. Selanjutnya, lumpur yang tersembur diharapkan mengendap dalam tembok baja dan dapat menyumbat sumber semburan.

    Sementara itu, lumpur bercampur air akan keluar melalui satu pintu yang dibentuk untuk dialirkan ke Kali Porong. ”Sehingga lumpur yang masuk seimbang dengan lumpur yang keluar, jadi kalau seimbang lumpurnya tidak akan masuk ke Kali Porong, tapi hanya airnya saja,” ujar Djoko Kirmanto seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. Djoko menambahkan, lumpur yang masuk ke Kali Porong akan menjadi endapan.

    ”Padahal, Kali Porong itu merupakan pengendali banjir di daerah itu,” ujarnya. Menteri PU hadir bersama tim ahli dari Jepang yang mengerti metode ini,yang menjabat sebagai Presiden Direktur KATAHIRA Engineering, Takashi Okumura. Selain itu, hadir pula tim ahli dari Departemen PU, Junius Hutabarat, Andy Siswanto, dan Deny Sutedja (KATAHIRA) serta beberapa ahli geologi lain.

    Sementara Presiden didampingi Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkeu Sri Mulyani,Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Mensos Bachtiar Chamsyah, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, dan Ketua Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sunarso. Djoko menjelaskan, pertemuan kali ini untuk melaporkan hasil aktivitas BPLS selama satu bulan sejak terbentuk.

    Dari tiga tugas yang dibebankan yaitu masalah sosial dan perbaikan infrastruktur, pembicaraan hanya menyinggung masalah upaya penutupan sumber luapan lumpur. Di hadapan Presiden, dipresentasikan satu metode baru hasil diskusi para ahli teknik sipil dan geologi pemerintah maupun Lapindo.Metode ini dijelaskan tim ahli, yaitu Okumura, yang pernah menangani masalah seperti lumpur Lapindo di Filipina.

    Okumura melanjutkan, sebelum ada putusan,masih dibutuhkan waktu satu pekan untuk menyinergikan teknologi ini antara para ahli teknik sipil dengan geologi. Biaya penerapan teknologi ini akan dibebankan kepada PT Lapindo Brantas. Okumura mengaku, metode ini bukan teknologi baru karena sudah banyak diterapkan,tidak hanya di Jepang, tapi beberapa negara,termasuk Filipina. Secara teknis dijelaskan, dam atau sumur yang terbentuk mempunyai kedalaman dan diameter tergantung dari kondisi geologis, dengan kisaran kedalaman sekitar 10 meter sampai 50 meter atau diameter hingga 120 meter.

    ”Selama ini teknologi ini cukup efisien untuk mengendalikan semburan. Jepang sudah mengimplementasikan dan sudah ada beberapa kontraktor yang berpengalaman di sana. Cara ini cukup efisien dan beroperasi selama 24 jam. Bahan bakunya baja,” jelasnya. Perihal biaya yang dibutuhkan, Okumura mengungkapkan masih bersifat sementara dengan kisaran maksimal Rp600 miliar. (nurmayanti)

  131. Arsolim mengatakan:

    Iya pak, kita simpulkan mereka ini termasuk type orang yang tidak mau mengakui kegagalan, ciri-ciri nya kalo berhasil akan Jingkrak2 dan di expose besar2an, tapi kalo gagal diam2 ngeloyor pergi tanpa pesan !

  132. usil mengatakan:

    Ompapang! aku udah ketemu sendiri, ternyata ada di “rovicky”
    Itu loh om! diskusi tentang “bahayanya PLT Nuklir” yang Ompapang
    dan RIrawan paparkan bahayanya, jika SDMnya alpa.

    Makasih Pak Arsolim, tapi aneh juga karena team ITB tetap nekat
    masukkan Bolton-1 itu. Sekarang setelah tidak berhasil, tetap tidak
    ada keterangan apapun dari mereka. Seolah-olah, “yang penting
    sudah terima bayar” selanjudnya MASA BODOH!

  133. Arsolim mengatakan:

    P. Usil, menanggapi soal Bolton itu tidak usah rumit2, secara nalar aja sudah kelihatan jeas sekali bahwa kekuatan tekanan lumpur yang konon lebih dari 20,000HHp dan kedalaman lebih dari 3000m maka sudah pasti bila semburan tsb dihalangi oleh bolton2 maka pinggiran sumur semburan akan tergerus semakin besar dan bahkan tidak mustahil Bolton2nya juga tergerus hancur berkeping-keping.

    Terus terang metode ini jadi bahan tertawaan oleh pakar2 well control di LN
    mereka bilang perkerjaan sia2 buang waktu dan biaya, karena mereka pernah mengalami Tower pengeboran bersama puluhan alat2 berat dan kendaraan besar ambles kedalam sumur dalam kecelakaan pengeboran eh ternyata tidak ada pengaruh apa2 terhadap semburan yang terjadi.

    Memang kalau ternyata metode ini berhasil mereka akan sangat terkaget-kaget mosok metode sesederhana ini aja mereka ndak tahu bodoh amat ?

  134. ompapang mengatakan:

    Dalam kontek LULA (bukan LUSI), RUMUS itu mistikannya SUMUR ,jadi ada kaitannya,masak pak Usil lupa!.
    Diskusi PLTN itu ada di dongeng geologi,topik Nuklir atau Batubara ?

  135. usil mengatakan:

    Ompapang! kemarin itu saya sempat baca diskusi PLTN
    antara ompapang dan teman2. Tapi saya lupa blognya..tolong dong om!

  136. usil mengatakan:

    Maksud aku, dulu bolton-1 main dimasukkan tanpa hitungan. Tapi
    berharap akan mengurangi semburan sekian % (40 atau berapa?).
    Belakangan dibantah oleh RIrawan dan Ompapang cs yang disertai
    dengan hitungan (NGERUUUUMUS), dan ternyata….betul! Bukannya debit
    lumpur berkurang, malahan namba.

    Sudah barang tentu kalau mereka masih “nekat” lanjudkan bolton-2,
    harus mutlak disertai dengan hitungannya dong!
    Saat itulah akan terjadi “pesta” kupas-tuntas rumus oleh….he…he..
    tau sendiri lah….
    Kalau ngomong ANGKA dan Rumus, Pak dhe disana pasti sudah pada senyum.

  137. ompapang mengatakan:

    Yang akan dikupas- tuntas RUMUS mereka untuk SUMUR bpj-1 atau boltonnya, pak Usil ? Sebab lubang semburannyanya sekarang sudah gedhe lho!

  138. usil mengatakan:

    Mas Syad, harapan kita semuanya sih agar BPLS bisa buka mata dan
    menampung bahkan kalau bisa segera dicoba, usulan/ide yang sudah
    matang diuji-publik di blog ini.
    He..he..Mas syad, sama dengan aku dong! bisanya baca doang…
    hore! ada teman….

    OmPapang! team ITB pasti lagi pasang kuda2 sebelum bolton jilid 2
    dimasukakan. Paling tidak hitungannya akan lebih canggih lagi.
    Soalnya mereka tahu bahwa, pasti ompapang, Mas RIrawan, Mas Herman
    dan yang lainya akan kupas-tuntas RUMUS mereka.

  139. ompapang mengatakan:

    nunggu edisi bolton berikutnya, kok nggak dimasukin lagi tu boltonnya sejak Timnas diganti BPLS.

  140. syad mengatakan:

    wah wah wah… ternyata sejak 18aprl blum ada lagi diskusi yg menarik, pada kemana ni…
    bagi2 ilmu lg donk… benar tu kata bang usil, harusnya baca-nya dari awal2 bgnt spy ngerti alurnya kayak gmana, jgn asal nge judge ajah…
    om om maap yak klo sy cman bisa baca… :)
    thx

  141. ompapang mengatakan:

    lha rak gitu !

  142. usil mengatakan:

    Wah…maaf….maf Seniorpapang jadi salah lagi deh!
    Tentu ditujukan kepada mas Irwan Cahyono.

    Buat mas Irwan, mohon maaf! tanpa sengaja nama nya kena DIMISTIK.
    Untung dikoreksi sama suhuPapang…

  143. ompapang mengatakan:

    Yang dimintai maaf pak Usil itu mas IRAWN,IRWAN atau IRAWAN , kok main dimistik!

  144. usil mengatakan:

    Orang yang teliti dan berpikiran positif dan yang telah mengikuti blog
    ini secara lengkap…pasti tidak punya kesimpulan “pamer kepinteran”
    Kecuali punya bakat negative thinking.

    Ajakan “save something” mungkin punya maksud yang mulia, tapi caranya
    bagaimana? Lain halnya jika di mass media (TV, koran) yang sudah ada
    rekening penampungannya.

    Jadi…janganlah dengan susah paya orang justru lagi sharing iptek untuk
    mencari solusi lumpur lapindo…tapi malahan dibilang Pamer Kepinteran.

    Maaf mas Irawn….ini hanya pendapat saya loh?

  145. t mengatakan:

    @irwan cahyono Says:
    Mei 2nd, 2007 at 2:28 adalah ….

    (submitnya barengan tadi, tapi keluarnya cuma satu jadi saya submit ulang):

    Ada yang aktif, bergerak di lapangan seperti yang Bung Irwan lakukan (sudahkah?).
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/01/30/pemerintah-tidak-bisa-hentikan-semburan-lumpur-lapindo/#comment-12817

    Ada yang diam, duduk di belakang meja, berpikir analitis dengan DASAR yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita tidak bisa mengambil semua peran sekaligus, itulah gunanya tim werk!

    Bandingannya juga ada di bagian ini.
    http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg18276.html

    Ing Ngarso sung Tulodo,
    Ing Madyo mangun Karso,
    Tut wuri Handayani.
    Selamat Hari Pendidikan Nasional.
    Terima kasih.

  146. ompapang mengatakan:

    maunya sih mau urun rembug, tapi kalau dikatakan pamer sih tergantung , kalau aku terserah saja apa kata orang , wong aku juga dapat keuntungan tambahan ilmu diblog ini ,nggak ada salahnya memberikan pengetahuan yang sedikit kepada yang lain, dan pendapatku yang tadinya kuanggap benar ternyata juga bisa salah setelah dikaji oleh pengunjung blog yang lain. Jadi bagiku ada take and give dalam transfer of knowledge. Yang jelas ada keuntungan tambahan ilmu apa saja disini, diusia senja ini aku perlu belajar dari yang muda,bukankah belajar itu seumur hidup?

  147. t mengatakan:

    Ada yang aktif, bergerak di lapangan seperti yang Bung Irwan lakukan (sudahkah?)
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/01/30/pemerintah-tidak-bisa-hentikan-semburan-lumpur-lapindo/#comment-12817

    Ada yang diam, berpikir di belakang meja. Berpikir analitis dengan DASAR yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Toh setiap orang punya kemampuan dan kelebihan masing-masing dan kita nggak mungkin mengambil semua peran, itulah gunanya tim werk!

    bandingannya lihat di sini juga:
    http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg18276.html

    Terima kasih.

  148. irwan cahyono mengatakan:

    waduh………..semua pamer kepinteran di sini. “Move out go save something or there will be anything left”.

  149. RIrawan mengatakan:

    mas tzc, tanggapannya saya submit di rubrik “Mengalirkan Lumpur Secara Optimal”

  150. tzc mengatakan:

    Pertama, kemarin sudah liat ide pond susunnya P. Syahraz, tetapi jpg nya nggak ada, hari ini pun nggak ada, berarti bukan ada error di kompie saya. Kalau berkenan mohon P. Syahraz memeriksa kembali websitenya. Terima kasih.
    Kedua, terima kasih atas penjelasan P. RIrawan.
    Tanya lagi boleh ‘kan.
    1. Kalau melihat suatu mata bor, maka terlihat ulir sepanjang mata bor itu, yang berfungsi mengeluarkan material yang dibor. Dapatkah kita terapkan mekanisme ini di dalam pipa aliran? Artinya kita pasang liner berulir ini untuk membantu mengalirkan lumpur padat dan mengikis / mengurangi sedimentasi. Jadi liner berulir ini berputar searah keluarnya lumpur.
    2. Di atas dan di artikel lain, sempat disebut mekanisme corong. Bagaimana bila dibuat corong terbalik untuk mengarahkan arah semburan? Idenya adalah menangkup / mengarahkan semburan dan karena ujung corong pasti lebih kecil dari diameter mulutnya tentu daya dorong yang dihasilkan tentu lebih besar lagi (seperti pipa yang dipencet itu lho). Karena diameter semburan 50m, tentu akan raksasa bentuknya dan berat. Dibuat agar dapat “duduk” stabil di atas mulut semburan (dibantu dari berat corong itu). Kira-kira berapa chinook yang diperlukan untuk menempatkan corong terbalik raksasa itu di mulut semburan ? :))). Sekedar ide. Kalau disuruh ngitung, terus terang nggak ngerti. Mohon maaf untuk hal ini. Terima kasih.

  151. RIrawan mengatakan:

    Dari dimensi teknis ada 2 urusan utama:
    A) Urusan bawah permukaan. Sedihnya, sampai sekarang belum ada kepastian, bahkan belum ada kesepakatan diantara para geologist, apa yang terjadi di bawah sana dan apa sebab lumpur + gas nyembur begitu besar. Menurut pak dhe Rovicky, geologi itu memang bukan ilmu pasti. Tetapi menurut saya, tidak ada kemungkinan lain selain geotermal/hidrotermal. Perhitungan2 pada diktum termodinamika klop dengan banyak fakta serta data di lapangan. Singkat kata, apabila sumbernya geotermal, maka seluruh tindakan dan upaya yang intinya “menutup lubang atau menghambat aliran”, baik yang sudah dikerjakan maupun masih berupa konsep, seluruhnya salah! Namun saat ini sudah sangat terlambat kalau mau menangani urusan ini.
    B) Urusan permukaan. Yang telah dikerjakan adalah penanggulan, spillway-1 dan pemompaan. Sedihnya, semua perhitungan dan sasarannya juga salah total. Ada logika sederhana yang tidak jalan di sini. Penanggulan tidak mungkin menjadi solusi, kecuali tindakan antara, sebab selain lumpurnya keluar terus-menerus, tanggul juga tidak bisa terus ditinggikan karena gaya tekan yang diderita oleh tanggul adalah pangkat-dua terhadap tinggi permukaan fluida.
    Spillway lebih parah, disain dan format kanalnya salah, sehingga tidak bisa mengalirkan lumpur.
    Puluhan pompa yang dioperasikan salah jenisnya dan tentu saja macet dan mubazir, terutama semua yang berjenis pusingan (sentrifugal).

    Saya coba menanggapi pertanyaannya mas tzc:
    1. Benar, pipa mencegah penguapan, sehingga suhu panas bertahan, tetapi tidak berarti mencegah sedimentasi. Jika ingin pakai pipa mengalirkan seluruh debit lumpur 150000 m³/hari dari BPJ1 ke Kali Porong sejauh 2000 m, perlu pipa bergaris-tengah 1,15 m dengan tinggi kemiringan (∆H) 39 m. Itupun masih ada resiko endapan dengan butiran diatas 2 mm. Persoalannya: endapan di pipa sangat sulit dibersihkan, sebab menyerupai kerak yang keras dan liat.
    2. Ide brilliant, jika bisa mengunakan sumber tenaga dari lubang semburan. Artinya, lubang BPJ1 diihubungkan langsung dengan pipa. Teoritis, tekanan sumber itu sangat cukup bahkan bisa sampai ke Selat Madura. Kendalanya: bagaimana memasangkan pipanya (menurut pak dhe, kepundan BPJ1 50 m), bagaimana agar lumpur dapat seluruhnya diarahkan ke pipa dan tidak bocor ke samping-samping atau membuat lubang-lubang semburan baru?
    3. Kegagalan mengalirkan lumpur melalui pipa dan pompa. Selain problem endapan dan pengerakan, aliran melalui pipa menimbulkan geseran yang sangat besar, lumpur lapindo bersifat dilatant, kekentalannya (viskositas) naik jika menderita tegangan-gesernya yang besar. Jenis pompa yang mampu mendorong lumpur lapindo adalah jenis yang mendistribusikan tenaga pada bidang geser yang luas dengan delicate-handling. Tetapi energi yang diperlukan juga besar.
    4. KASKADE adalah deretan KANAL-V (sudah cukup kecil, sebab lebar cuma 1 m) yang dihubungkan secara estafet menuju tujuan. Lumpur 150000 m³/hari dari BPJ1 harus bisa dibuang seluruhnya ke tujuan, agar tidak meluber dan menelan rumah, pabrik, dll. Bila KASKADE dibuat lebih kecil, maka harus banyak dibuat paralel dan tidak ada gunanya serta lebih mahal, lebih boros energi.
    5. Amblesan atau land-subsidence juga membuktikan proses geothermal dengan sembuaran gas kecepatan tinggi, yang menarik air dan lumpur, sehingga terjadi rongga-rongga kosong, maka permukaan tanah ambles. Di bom, bisa menjadi alternative menghentikan proses geotermal, asalkan bomnya bisa meledak pas di jalur injeksi air ke dapur magma.
    6. Saya berharap blog ini diakses pula oleh mereka yang berwenang dan bertanggungjawab.

  152. usil mengatakan:

    Pak tzc anda benar, masak dengan populasi 200 jutaan tidak ada satupun
    local genius yang muncul. Beberapa tahun terakhir saja, adik2 kita SMA
    bisa juara olimpiade fisika. Persoalannya TimNas yang lalu sok egois, tidak
    mau melibatkan “orang2 biasa” hanya terperangkap dengan sentimen entah
    kepentingan apa.

    Dari blog ini saja yang mungkin hanya diakses oleh segelintir orang,
    sudah muncul mereka2 yang hanya mengaku “orang biasa” sperti:
    ompapang, Syahraz, Herman, RIrawan, Dedi Ganedi dll itu.

    Tapi coba telaah ide2 mereka itu….apa mereka kalah dengan yang ngaku
    pakar dari institusi2 ITB lah??…ITS lah??…UI lah??..dll lah…??

    Rasanya kita perlu “paksa” Pak Dhe Rovicky agar situs ini bisa
    dipromosikan ke pihak Penguasa LULA=Lumpur Lapindo

  153. tzc mengatakan:

    Hai, Ketemu lagi Mas, baru sekarang sempet ngakses. Wah jadi kalang-kabut juga baca artikelnya (semua artikel menarik, jadi bingung sendiri mau mulai dari mana). Akhirnya ketemu yang ini, sekalian ini merupakan “next stage” upaya “menghentikan” atau kalau nggak bisa kita katakan saja “mengendalikan” malapetaka ini (semoga saja cepat berubah menjadi berkah).
    Jadi relief well dan spill way dilupakan dulu, stage berikut adalah bola beton. Dari diskusi di awal sebenernya sedikit yang saya bisa ikuti (mohon maaf fisika saya di bawah rata-rata Mas), singkat cerita, kalau nggak salah baca (speed reading akibat harus nguber artikel yang lain) diskusinya nge”luber” :(( nggak fokus dalam arti kalau mengelaborasi solusi. Maaf, Jadi bingung sendiri nich.
    Pertanyaan saya untuk forum ini,
    1. Kalau daya dorong lumpur demikian besar (memenuhi lahan yang luas dengan ketinggian di sekitar pusat >15meter ??) mengapa diperkirakan pengaliran melalui pipa “yang lebih manageable” bisa menyumbat pipa (diameter pipa kurang besar???). Bukankah pipa tertutup mencegah penguapan yang dapat mempercepat sedimentasi. 2. Kalau dapat dimanfaatkan tenaga dari PUSAT semburan, apakah tidak cukup mendorong lumpur atau airnya saja mengalir melalui pipa?
    3. Benarkah kegagalan mengalirkan lumpur melalui pipa karena memaksakan untuk memompa / mengisap lumpur menggunakan pompa raksasa secara langsung dari jarak yang cukup jauh (di ujung pipa yang panjangnya 20 km???)
    4. Dari gambar Mas RIrawan (file .doc,), metode cascade canal, mengapa tidak diubah sedikit menjadi pengisapan bertahap, pompa yang lebih kecil dan penampungan dibuat setiap 1km atau jarak yang lebih appropriate hingga ke pembuangan akhir (tidak harus ke laut / Selat Madura :((). Tidak harus satu pompa guueedhe banget yang sumber energinyapun seperti menaruh semua telor di satu keranjang).
    5. Sudah ada fakta penurunan permukaan tanah sekaligus terasa lumpur semakin tinggi atau dalam. Ada pilihan drastis, disumbat (saya tidak tahu pastinya, dibom mungkin, struktur tanah aslinya bagaimana?) biar permukaan tanah kembali “membuncit” (bisakah???) atau dialirkan (kemana???) dan kita bersiap untuk danau raksasa ???
    6. Triliunan sudah dikeluarkan dan hasilnya so..so saja, ekonomi lokal ndak tambah bergerak kecuali kontraktor pemasok sirtu :)). Sudah saatnya semua data temuan diumumkan dan kita pelajari bersama, siapa tahu ada ide dari local genius yang berguna. Semoga.

  154. ompapang mengatakan:

    Sakiyun curang pakai HP pak Dhe, supaya nggak ada kecurangan, sekarang pakai drum penuh air diberi kran. Saat kran dibuka dan air dari drum mengalir keluar, Ibu Nelly harus bisa menghentikan kucuran air di kran. Diberi waktu sampai air didrum habis. Kalau gak bisa nutup, berarti Bu Nelly tidak mampu. Agar tidak mengundurkan diri sebelum acara dimulai, Ibu Nelly diharuskan memberi jaminan uang penyelenggaraan audisi ini. Bila telah selesai dengan hasil berhasil maupun gagal ,uang jaminan dikembalikan. Cukup adik kan? Pak Dhe yang jadi E O nya.!

  155. Janatan mengatakan:

    Wah geli juga membaca penawaran dari ibu Nelly ini ditujukan kepada siapakah ?
    sedangkan Proposal Penghentian Lumpur yang komprehensif dari para pakar Well Control LN yang sudah pengalaman dalam bidang kecelakaan pengeboran belum tentu diterima kok !

    Seperti yang sudah pernah saya tulis di milis ini proposal harus dipresentasikan dan dibutikan terlebih dahulu bahwa metode yang akan dipakai telah berhasil diimplementasikan ditempat lain dan anda harus membiayai sendiri terlebih dahulu (prefinancing proyect), kalau ngak berhasil ya otomatis ngak dibayar ibu !

    Lha kalau ibu Nelly belum-belum sudah minta bayaran dulu, bagaimana nanti kalau ternyata membeli kucing dalam karung ?

  156. nelly mustika mengatakan:

    saya bisa menghentikan semburan lumpur lapindo ,
    tapi mengenai penanganan lumpur tersebut itu bukan urusan saya
    mengenai biaya nya berapa yang akan di bayarkan pada saya .
    harga pantas untuk saya dan si punya dana,tidak ada yang merasa di kedua belah pihak merasa dirugikan,saya tunggu jawabanya di email saya nellymustika@yahoo.com

  157. a_otnaidah mengatakan:

    Wa…..betul itu muncul sudah semburan baru di desa mindi.
    Terbukti ramalan RIrawan bahayanya HDCB.
    Ini jamannya ilmu pengetahuan exakta yang memimpin.

  158. ompapang mengatakan:

    Pak Dhe, kalau kecepatan semburan lumpur 3 m/detik, salurannya berkelak- kelok kira -kira sudut belokannya sampai berapa derajat ya, apa bisa kurang dari 170 derajat , mengingat jarak lubang semburan hanya 100 meter dari sumur bor dan kedalaman pengeboran hampir 3000 meter,sehingga kalau ditarik garis lurus sudut dibentuk oleh tgX =100/3000=0,033 atau sudut X=2 derajat. Bila semburan berasal dari lubang bor dikedalaman 1000 meter yang tanpa casing, bila lurus saluran dan sumur bor akan membentuk sudut 5,7 derajat.

  159. Rovicky mengatakan:

    –> Mas Hendro,
    Ada banyak alasan mengapa tidak diteruskan pengeboran relief-well
    - Lokasi didekat sumur sudah kebanjiran lumpur.
    - Lokasi tapak sekitar semburan (bekas lokasi BPJ-1) sudah tidak layak untuk menempatkan Rig pemboran.
    - Jalur semburan tidak diketahui pasti (jadi di mana yg harus “diserang”)
    - Pengeboran relief well kemarin menunjukkan tanah sudah retak-retak sehingga lumpur pemboran malah muncrat keluar.
    - Biaya
    - ….

  160. Hendro Nugroho W. mengatakan:

    Bolton sebetulnya dimaksudkan utk menghambat lumpur, syukur2 bisa menyumbat kalau Bolton tsb bisa masuk sampai ke lubang utama asal lumpur (yg timbul dari lubang pengeboran Lapindo). Gambar bisa dilihat di Dongeng Geologi, ada banyak gambar yg menggambarkan proses terjadinya Lusi ini. Tetapi kenyataannya, karena jalur kawah nya itu sebetulnya berbelok, maka tumpukan Bolton ini menjadi tidak efektif utk menghambat lumpur tsb. Dan sekalipun lumpur bisa terhambat, dia akan mencoba keluar lewat jalur di atasnya, sehingga membentuk jalur mirip leher angsa nya toilet/WC. Setelah itu akan terjadi kolaps pada bagian atasnya yang memungkinkan lubang tsb tersumbat beberapa saat (35 menit), sebelum akhirnya jalur terbuka lagi.

    Pertanyaannya, apakah kita mau mengulangi langkah tsb di atas dan menghabiskan ribuan Bolton, sebelum Bolton tsb sampai di titik lubang bor Lapindo tsb? Apakah tidak bisa dilakukan pengeboran persis di samping lubang bor Lapindo, sehingga proses pemasukan Bolton bisa berlangsung sampai ke titik yg dimaksud secara vertikal?

  161. Isal mengatakan:

    ‘David and Goliath’ battle against mud volcano

    http://uk.news.yahoo.com/afp/20070403/tsc-indonesia-environment-mud-science-1a5f3f5.html

    By Sebastien Blanc AFP – Tuesday, April 3

    JAKARTA (AFP) – Scientists are observing with keen interest and some scepticism a novel attempt in Indonesia to plug a “mud volcano” by dropping hundreds of concrete balls into its yawning crater.
    (Advertisement)

    This David and Goliath battle is a world first with high human and environmental stakes.

    The unique solution was dreamt up by three scientists at the Bandung Institute of Technology (ITB), which produces Indonesia’s top engineers.

    Their mission is to “tame” the uncontrollable mud flow which erupted on May 29 last year close to the town of Sidoarjo on the island of Java.

    According to the majority view, the catastrophe was caused by exploratory gas drilling which pierced a layer of strata under pressure at a depth of 2,830 metres (9,340 feet).

    In the past 10 months the disaster has claimed a dozen lives and forced more than 15,000 people to flee their homes.

    Whole villages, a highway and about 25 factories were swallowed by the sea of stinking grey mud which is still advancing.

    Mud continues to spew forth at a rate of between 100,000 and 150,000 cubic metres a day, equivalent to the volume of about 50 to 75 Olympic size swimming pools.

    After an intense brainstorming session, the ITB trio came up with the idea of creating a giant plug, formed from an interlaced network of heavy chains and balls.

    “We realized this mud volcano is rather unique so we needed a unique solution,” Satria Bijaksana, one of the three engineers, told AFP.

    Each chain, weighing 196 kilograms (430 pounds), comprises four balls: two of 80 kilos and two of 18 kilos.

    In order to release them in the centre of the 50-metre wide crater into the scorching and viscous liquid, it was necessary to build a bridge equipped with a mobile crane.

    Since the end of February, the chains have been released one after another and disappeared into the bowels of the volcano.

    The unfathomable crater has already swallowed nearly 400 chains as if they were pills.

    Some officials say they have detected a “fall in flow,” while recognising that it was difficult to evaluate and that hundreds more chains would be necessary.

    Professor Bijaksana defends, with modesty, his novel method.

    “We are just three scientists who try their best. We will fight.”

    This battle of man against powerful geological forces has aroused interest far beyond the borders of Indonesia, an archipelago which seems to concentrate all conceivable natural disasters.

    “We do receive emails from all over the world,” said the 42-year-old Indonesian.

    But opinions are often circumspect.

    “So far no one has attacked this problem directly,” the geologists insist.

    Mads Huuse from the University of Aberdeen in Scotland said more data was needed to determine if there really was a feasible method of stopping the flow.

    The geologist warned it was impossible to say how long the volcano would continue to spew.

    “In the worst case the volcano could go on for many years,” Huuse told AFP in an email interview.

    “I don’t think anyone can say for sure.”

    Fellow geologist Richard Davies said he was also intrigued by the plan but remained sceptical about its chances of success.

    “No one has ever stopped a mud volcano,” he told AFP.

    The earth sciences expert from Durham University in northeast England was the first to carry out a study of the mud volcano dubbed “Lusi,” (from “lumpur,” the Indonesian word for mud, and “Sidoarjo”).

    Beware of “oversimplification,” he said.

    The underground route of the mud flow is too winding and the volume piped out too vast to be stopped by concrete balls and chains, according to him.

    “They think it’s like a funnel,” Davies said, although he believes “the plumbing of the mud volcano is probably not simple.”

    “It could be composed of a number of complex fractures,” he said.

    The chained balls “may have some small effect but I would be surprised if they had an (significant) impact.”

    Davies however is more optimistic about an incident which occurred on March 19, when Lusi abruptly ceased spewing mud for 35 minutes before resuming.

    “The fact it has stopped completely suggests something quite catastrophic happened in the conduit. Probably it collapsed,” he said.

    According to the geologist, the “coughing” is a good sign.

    The volcano could choke itself, due to the natural subsidence of the walls the crater.

    “Perhaps it is starting to collapse,” he said.

  162. Isal mengatakan:

    detail mengenai progress HDCB
    http://ai3.itb.ac.id/~basuki/hdcb/

  163. ompapang mengatakan:

    Kalau yang dimaksudkan untuk menutup ruang didalam saluran sehingga balonnya harus dibuat besar dalam arti diameternya lebih besar dari bola beton,maka bila jumlah bola beton tidak cukup untuk pemberat,bisa jadi balon baja yang besar dan kosong itu tetap mengapung dipermukaan kawah.
    Misal balon beton berdiameter 2 X diameter bola atau 80 cm,maka volumenya menjadi 8 kalinya. Dalam keadaan tidak melawan arus saja, mungkin butuh 16 bola beton berdiameter 40 cm untuk bisa menenggelamkannya. Bila bola beton berdiameter 40 cm , beratnya 100 kg, maka berat total menjadi lebih dari 1600 kg. Dengan berat sekian akan sulit memasukkannya kedalam kawah bila tetap dipakai teknologi ” kawat jemuran.”
    Tetapi bila bola baja tersebut diisi beton, berat menjadi 800 kg,mungkin lebih mudah memasukannya dibanding bila pakai bandul bola beton. Ide seperti ini barangkali sudah diusulkan oleh orang SOLO.

  164. Komaruddin mengatakan:

    Tujuan dari balon/ tangki baja adalah agar ruang yang tertutup akan lebih luas, sedangkan bola beton hanya berfungsi sebagai pemberat agar balon tsb mencapai kedalaman yang diinginkan.

  165. ompapang mengatakan:

    kenapa balon baja dibiarkan vakum, tidak diisi campuran semen beton seperti yang ompapang usulkan sebagai bola dari besi tuang yang diisi campuran semen sebagai pemberat. Membuat balon dari baja lebih sulit dari pada membuat balon (bola beronggga )dari besi tuang, butuh mesin press yang kuat untuk ketebalan kulit balon 5 mm.

  166. Komaruddin mengatakan:

    Penggunaan bola beton dapat di kembangkan lagi, yaitu dengan memberi balon pada bola beton tsb. Balon tsb berupa tangki baja yang vakum. Dengan pemberat bola beton, maka balon tangki tersebut akan masuk ke lubang lumpur. Tentu perlu kalkulasi lebih detail untuk menentukan size balon tangki dan berat bola betonnya sehingga keduanya dapat mencapai tempat yang diinginkan.

  167. herman mengatakan:

    Pak Syahraz

    Kalau umurnya Pak Syahraz sih , secara metateorema .. sudah dari dulu saya tebak di
    http://nemu.wordpress.com/about/ ; terus tidak ada batasnya dalam imajinasi disini :
    http://nemu.wordpress.com/2007/04/02/khayalan-laboratorium/

    Selamat bertugas , kembali mendekati nenek moyang, hati-hati … jangan gubrak-gubrak lagi, nanti katanya sih : …. nya mohon maaf ………… bisa nempel didinding.

    Kalau mau komunikasi , pakai aja PDA ….. atau pakai satelit : Kabelvision, Astro

  168. ompapang mengatakan:

    Pak Syahraz, 27 dari 2 dan 7, 2+7 =9, saya 63, jadi 6+3 = 9, jadi menurut numerologi pak syahraz itu undha undhi ( sebaya ) dengan saya. Betul nggak ?

  169. syahraz mengatakan:

    Buat pak ompapang :
    di https://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/16/hari-ini-bola-beton-mulai-sumbat-lumpur/ pak ompapang pernah menebak umur saya… hehehe… waktu itu pak ompapang menebak range usia saya 30-35 tahun….Sedikit melenceng sih pak… tapi perkiraannya sudah mendekati sekali….

    Sebetulnya usia saya 27 tahun.

    Salam untuk pak Rovicky, pak ompapang, pak Irawan, pak herman, pak dedi ganedi, dan pak/bu/saudara lainnya …. Untuk sementara waktu saya tidak bisa online (lha wong lokasi saya di hutan).

    JANGAN BERHENTI MENGKRITIK, TAPI JANGAN PELIT MEMUJI

  170. syahraz mengatakan:

    wah, ternyata saya tidak bisa lama-lama di situsnya pak rovicky ini karena saya harus kembali ke “habitat” saya di pertambangan batubara di Kalimantan.

    Saya mohon maaf apabila semua tulisan saya menyinggung Bapak/ibu/saudara sekalian.

    Untuk pond susun, silakan lihat di http://lapindo.topcities.com , silakan lihat & baca dengan teliti karena dari berbagai pertanyaan yang masuk ke saya, membuktikan bahwa banyak sekali orang yang hanya membaca sekilas & tidak menyeluruh sehingga jawaban pertanyaan mereka sesungguhnya ada didalam makalah itu sendiri.

  171. RIrawan mengatakan:

    Dari gejala yang muncul dan yang sudah diberitakan, saya coba menghitung-hitung ulang. Saat ini dipastikan debit lumpur dan gas lebih besar daripada sebelum insersi HDCB. Ada tambahan energi 15-20 Mw yang melejit keluar, tetapi sebagian energi itu sudah masuk ke jalur-jalur di samping lubang utama.

    Kalau diceploskan lagi 500-1000 HDCB, kerusakan lubang akan makin parah. Tekanan dibawah onggokan HDCB dan guguran dinding akan cukup besar untuk membuat terobosan, sehingga bakal muncul banyak lubang-lubang semburan-semburan baru. Tekanan itu bisa cukup besar, hingga semburan lumpur dan gas bisa muncrat tinggi di lubang-lubang baru.

    Perhitungan thermodynamic dengan metode yang sama seperti pernah saya paparkan dalam diskusi HDCB sangat jelas menunjukkan besarnya resiko itu. Saya harap banyak pihak lain yang kompeten mau ikut melakukan kajian mendalam tentang resiko ini.

  172. herman mengatakan:

    kalau boleh tambahan usulan disamping bolton-yu ( bola beton dan kayu )

    wire ropenya biar krakatau steel bikin profil dengan bermacam-macam diameter beserta yield stressnya berapa…..daripada hanya VSL, BBRV import terus gak seru ….
    sorry nyebut merek dan pabrik … sudah kadung kecemplung. … .timnas perjuangan

    terus bikin detailed engineering desain (ded) typical jembatan gantung dengan bentang misalkan ( 200m , 250m, 300m, …….., 500m dst) dengan perhitungan seperti …klik namaku ….

    jembatan ini murah sebab : live load / dead load sekitar 10x lipat sehingga material jembatan hanya 1/10 nya.. dibanding jembatan konvensional DL/LL sekitar 1

    lagi-lagi kriteria penentuan anggaran ABT/PAK ..APBNP…. mendesak karena banyak desa tertinggal terpisah oleh sungai….kalau ada orang sakit harus memutar melalui jemabatan puluhan kilometer….payah, menyeberang memalui perahu kecil diarus deras …bahaya.

    urgen karena nilai ekonomis tinggi ( affordable) , shortcoming …. itu tuh…bahan kampanye ..2009

  173. ompapang mengatakan:

    juga telusuri wire rope dengan google

  174. ompapang mengatakan:

    Pak Dedi,kalau mau cari daftar ukuran dan kekuatan wire rope di buku “Pesawat Pengangkat”(Material Handling Equipment) misal karangan N Rudenko ( Rusia) atau di Vademecum Teknik,ASME handbook ,HUTE (Jerman),Vraagbaak (Belanda) dsb.

  175. RIrawan mengatakan:

    Aduh pak Bima, kita kan terlanjur nunggu 10 bulan?
    Laginya banyak yang lebih kreatif daripada saya.
    Saya baru paparkan, kalau angka-angkanya sudah klop untuk dibuatkan simulasinya. Dan saya masih menghitung siang malam.
    Sabar ya pak.

  176. Bima Sankerta mengatakan:

    *smile*
    Ompapang…
    Iya… iya deh… bolton itu BELUM TENTU hasil contekan.
    *wider smile*

    Alamak ! Masak dua minggu Pak Irawan ?!?!?!
    Ide dasarnya dulu pak… detailnya nanti… kalau ada yang berani tanya…

    Nah ! Itu ide bagus Pak dhe… tiap solusi dikasih satu thread. Jadi pembahasannya tuntas. Mungkin judulnya bukan diskusi HDCB lagi… tapi “Tim Nas perjuangan” dan HDCB jadi salah satu link dibawahnya… sejajar dengan pond-nya Pak Syahraz, Bolyu (Bola kayu)-nya Pak Dedi… dst. Jadi pembahasan bisa fokus. Kalau fokus mestinya tuntas. Kalau tuntas mestinya berhenti jadi teori…

    And maybe this still end happily ever after…

  177. Dedi Ganedi mengatakan:

    Ya Ompapang, wire rope ada berbagai ukuran dan kekuatan. Menggunakan tambang atau tali cellulose perlu diuji daya tahan dan kekuatannya.

  178. ompapang mengatakan:

    ” wire ROOP ” yang dimaksud pak Dedi “steel wire ROPE” = tali baja ?

  179. Dedi Ganedi mengatakan:

    Menurut saya pond susunnya Pak Shahraz perlu disempurnakan terutama dari segi perhitungan konstruksi sipilnya. Nampaknya lumpur akan terdesak keluar lewat pond bawah. Juga tanggul nampaknya lemah bisa ambles tanpa tiang pancang. Juga perlu diperhitungkan studi kelayakan ekonomisnya biayanya nampak sangat mahal yang Lapindo bakalan tidak mampu yang mungkin memilih membeli tanah penduduk saja. Metode ini membutuhkan perencanaan jangka panjang.

    Pak Bima dan Pak Dhe saya sudah buat makalah kecil untuk menanggulangi semburan lumpur jangka pendek yang kini sedang dlakukan. Bisa dilihat atau dicopy di http://ganedio.wordpress.com/usaha-menangani-semburan-lumpur-lapindo/

  180. RIrawan mengatakan:

    Terima kasih pak dhe.
    Aku butuh 1-2 minggu lagi.
    Masih dihitung terus dan diuji silang.

  181. herman mengatakan:

    Alternatif nomor.2

    1. Dengan data-data yang ada ditinjau kemungkinan artificial recharge. Artinya arnya (lumpur) dimasukkan lagi kedaerah-daerah yang diduga akan terkena subsidence.
    2. Secara perlahan memadamkan kompor lumpur
    2. Berdoa dan taubat, mohon ampun sedalam-dalamnya

  182. syahraz mengatakan:

    saya juga punya usul untuk aeratornya :
    Daripada bikin aerator mending kali porong disudet sedikit trus airnya dimasukkan ke kanal. Jadi tidak perlu ada mesin apapun. Cuma sudetannya ya jangan jauh-jauh….

    Sudetan harus diletakkan pada posisi dimana lumpur belum mengendap. Jadi ya setiap sekitar 300 meter. Jangan lebih, karena untuk mengantisipasi musim kemarau dimana debit kali porong mengecil.

    From nature then back to nature

  183. ompapang mengatakan:

    Pak Bima, kalau pak Bima meneliti komentar – komentar di Blog ini, mungkin Pak Bima akan tahu bahwa ide pond pak Syahraz hampir sama dengan ide seorang mahasiswa fak Ekonomi( Ini keterangan pak Syahraz lho ) dan ide BOLTON tidak hanya DUA,dari Solo dan dari Bandung, tetapi TIGA yaitu satu lagi yang juga lebih dahulu mengirim PROPOSAL/MAKALAHnya ke Presiden SBY sebelum ITB, silahkan cari siapa orangnya di blog ini, dia juga komentator diblog yang Bapak ikuti. Kalau Bapak teliti tentu akan tahu orangnya.

  184. syahraz mengatakan:

    nama ga disebut juga bodo amat

  185. Rovicky mengatakan:

    –> MAS RIrawan
    Silahkan kirim ke aku nanti aku buat lokasi khusus diskusi tehnisnya
    Aku tunggu :)

  186. RIrawan mengatakan:

    Hehe pak Bima, inventor atau tukang cipta tidak sama dengan tukang hitung. Aktivitasku memang sarat dengan angka untuk memahami kemauan alam secara pasti dan benar. Tetapi baiklah, aku coba bikin suatu konsep dengan model math yang rada komplex dan panjang. Pak dhe, bisa aku kirim, ada gambar dan perhitungan detilnya? Soal dicontek, biarin. Malah perlu dibedah dan dikritisi seluas-luasnya.

  187. herman mengatakan:

    Ini solusi nomor.1 saya :

    Segera digali saluran dari tanah menuju kelaut ( apa saja yang murah, jalan inspeksi kali brantas, damija, tanah negara, tanah ganjaran dll) pokoknya murah kasihan Lapindo.

    Terus setiap 300 m – 500 m bisa dipasang aerator tergantung ukurannya :

    manfaatnya
    1. mengurangi COD, fenol, xylene dan lain-lainnya sehingga di laut sudah aman terhadap lingkungan.
    2. tenaga aerator dapat mendorong dan menarik air lumpur kelaut secara estafet.
    3. sedimentasi yang terjadi dilaut dikemudian hari dapat diperkeras
    4. tanah oloran ini boleh dimanfaatkan lapindo dan pemeritah.

    Pak RIrawan bisa menghitung/ mendisainnya, atau saya buka buku-buku di gudang dulu atau buanyaak ahlinya bertebaran, menunggu order.

  188. Bima Sankerta mengatakan:

    Wah… pantes… sudah pakai bola beton kok diskusi yang saya temukan masih berkutat sekitar spillway… basi ! Rupanya dikumpulin disini… :P

    Membaca postingan disini, membesarkan hati juga ternyata masih banyak yang waras menghadapi musibah lumpur ini. Yang mau pakai otak dan nalar. Yang murni mau solve problem… bukan karena cari untung atau cari nama. Kayaknya jadi ada harapan nih…

    Nuff basi-basi.
    Meski saya nggak ngerti proses perhitungannya… tapi kesimpulannya HDCB itu secara teori nggak efektif gitu to ? Pak Irawan malah kelihatannya yakin sekali menyumbat pusat semburan itu praktis sudah nggak mungkin dilakukan karena sumber energinya nggak konstan (Geothermal) alias ada ‘kompor’-nya. Kalau dipaksakan malah berbahaya.

    Lha terus alternatifnya apa ?
    Kan lumpurnya keluar terus Pak ? Kalau dialirkan…. kan sudah gagal ?
    Mau di keruk ? Dulu mungkin masih kebayang mungkin bisa pakai teknologi orang tambang tapi sekarang dengan size segede itu… apa masih bisa dikeruk ?

    Maaf ya Bapak-Bapak semuanya…
    Jangan keasyikan maen teori dong… yang konstruktif dan produktif gitu lho. Ya… meskipun masih lebih baik ketimbang saya sih… yang cuma bisa minta…

    Saya lihat yang produktif baru Pak Syahraz yang sudah bikin makalah yang bisa dikaji dan mengilhami solusi yang lebih baik (kalau ada). Dan bisa direalisasi (kalau niat).
    Yang lain gimana ?
    Ompapang ? Pak Dedi ? Pak Irawan ? Pak Herman ?
    Mana makalahnya ?!??!
    Kalau takut dicontek kayak nasib wong Solo itu… Pak Rovicky jadi saksinya deh. Semua percaya kan sama reputasi Pak Rovicky. Jadi lewat beliau saja…

    We are running out of time gentlemen…
    THEY are running out of time.

  189. lontong mengatakan:

    dan mata bor yang tertinggal : 400 m seberat 25 ton vertikal adalah seperti elemen pemanas air listrik ( dengan airnya diganti air soda atau minuman keras kontinyu) dalam pipa . Sesuatu yang panas bisa terjadi sepanjang 400m itu tergantung lapisan batuan/ sedimenya.
    dan itu adalah gas yang gelembungnya punya kecepatan 20 – 25 meter/detik
    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-12057

  190. RIrawan mengatakan:

    Menurut saya, geothermal mulai terjadi persis saat bor melubangi mantel magma atau memecah selubung lidah magma. Dimana, 3000 m atau 8000 m atau diantaranya, itu masih tidak jelas, tetapi fakta fisika diatas sangat jelas: geothermal!
    Gempa sama sekali tidak ada hubungannya, jauh, sangat kecil energi dan amplitudonya.
    Yang om papang uraikan sudah jelas toh, meskipun data otentik tidak diumumkan. Bagian bawah tidak dipasang casing, bor terjepit, dirojok (jarring), tiba-tiba muncul tekanan sangat tinggi, kaget, dimasukkan fluida berat dan lubang atas ditutup. 2 hari kemudian nyembur lumpur dan gas di BPJ1, 150 m di samping lubang bor yang ditutup.

    Magma ada dimana-mana, tetapi umumnya tidur tenang dalam selubung mantelnya. Persoalan jadi gawat, kalau selubungnya dilubnagi dan air masuk ke sana, maka terjadilah aktivitas geothermal.

  191. RIrawan mengatakan:

    Ide pak Syahraz dengan pond susun itu bagus dan logis. Ada 2 faktor utama, yang seirama dengan adagium realitas fisika di sana:
    1) mengkonversikan sumber tenaga menjadi energi potensial (mgh), yang terkandung dalam massa lumpur (m), sehingga dapat bergerak sendiri mengalir (u) ke arah yang dituju,
    2) memberi jedah waktu cukup untuk suatu pekerjaan besar jangka panjang, dengan menampung lumpur, agar tidak melebar kemana-mana.

    Tetapi hitung-hitungan tetap sangat perlu, agar kita bisa tahu persis apa yang harus dikerjakan dan bagaimana, supaya hasilnya pasti sukses.
    Kalau tidak, itu nama trial & error, padahal perkiraan manusia selalu lebih banyak salahnya daripada benarnya, kecuali sudah pernah dialami.

  192. ompapang mengatakan:

    Buat Pak Herman, pertama -tama saya membaca tulisan pak Herman mengenai metateorema, saya teringat akan AHP (Analytic Hierarchy Process) yang pernah saya pakai dengan soft ware EXPERT CHOICE versi 8. nDilalah saya buka website nya pak Herman kok juga ada ulasan mengenai AHP. Apakah metateorema yang bapak uraikan itu ada hubungannya dengan AHP yang dikembangkan oleh ahli matematik Thomas L.Saatydi Wharton Scool of the University of Pennsylvania ?
    Dalam Expert Choise versi 8, banyak kelemahannya,bahkan saya dapat merekayasa/memanipulasi skala prioritas suatu kegiatan sehingga seolah-olah kegiatan tersebut menduduki rangking atas karena kriteria yang dipunyainya berbobot tinggi. Selain itu juga muncul juga bobot tinggi yang menurut nalar seharusnya bobotnya rendah
    Kalau benar ada hubungannya dengan AHP, harus selektif memilih soft ware Expert Choice nya ( versi berapa yang terbaru?), kalau seperti versi 8, bisa tidak kena sasaran, misal untuk rumah sakit yang besar harus membuat urutan antrian pasien yang akan dioperasi dengan AHP. Kalau AHPnya membuat antrian pasien yang dioperasi ternyata salah kan dapat berakibat fatal. Demikian pula kalau pabrik mobil merk tertentu akan memproduksi beberapa type untuk tahun 2008, dengan menggunakan AHP, didapat hasil type A diproduksi :100 ribu,type B: 50 ribu dan C : 40 ribu. Ternyata AHPnya salah membuat urutan, seharusnya C,B,A. disimpulkan A,B.C seperti diatas. Jadi hati-hati memilih soft ware nya, walau itu buatan Amerika.
    Terus kalau AHP digunakan untuk lumpur Lapindo, mestinya Timnas punya soft warenya. Mana yang harus dikerjakan dahulu, “menyembelih AYAM atau menggoreng TELUR”, soalnya sulit lho menjawab AYAM dan TELUR dulu mana.

  193. ompapang mengatakan:

    Sekarang Pak R Irawan, pertanyaannya kapan geothermal mulai bekerja,sesudah terjadi gempa atau sesudah terjadi pengeboran.
    Kalau sesudah gempa, berarti sebelumnya geothermal belum bekerja, baru kemudian sesudah batuan retak, ada akses air masuk kemagma atau mendekati magma,dipanaskan selama 2 hari lalu muncul tekanan tinggi yang kemudian mampu menembus rintangan melalui celah-celah bebatuan yang berlapis lapis atau melalui lubang bor Lapindo menuju permukaan berupa semburan lumpur. Bila ini yang terjadi,maka relief well yang berusaha menutup lubang bor Lapindo tidak akan menghentikan semburan lumpur, karena sumbernya bukan hanya dari lubang bor Lapindo.
    Kalau sebelum gempa geothermal sudah bekerja, berarti sudah ada tekanan yang luarbiasa tetapi tertahan oleh lapisan batuan yang keras sehingga tidak dapat menembus kepermukaan. Baru kemudian sesudah mata bor melobangi batuan yang menahan tadi, terjadilah “tendangan” dari tekanan 400 bar yang menyebabkan alat bor bengkok karena tekanan belum mendapat perlawanan dari tinggi kolom lumpur.(kolom lumpur belum ada). Sesudah lumpur dapat keluar kepermukaan,tekanan sudah mendapat beban tinggi kolom lumpur dan geothermal tetap bekerja sampai sekarang menyemburkan lumpur panas kepermukaan.
    Jadi kalau geothermal bekerja sebelum ada gempa, dapat diduga penyebab semburan lumpur adalah pengeboran oleh Lapindo, karena Lapindo dengan kegiatan pengeboran berarti MEMBUKA KOTAK PANDORA,kotak bencana.

  194. syahraz mengatakan:

    Wah… itungane ruwet…. hehe… maklum otak saya terbatas :) nganggo matrix ik…

    tapi seperti yang saya lihat, dimasukkannya bolton memang tidak mengurangi volume semburan lumpur. Ya karena penyempitan ruang akibat bolton tidak berpengaruh apa-apa terhadap debit.

  195. RIrawan mengatakan:

    Wacana om papang sangat bagus.

    Coba om lihat di tabel-matrix:
    p0 = 1 bar → kran 100% → Qa: 7,17 ltr/det
    p0 = 3 bar → kran 50% → Qb: 7,17 ltr/det

    Sekarang mulut kran disambung dengan 5 m pipa-vertikal ke atas (a’la pond susun pak Syahraz):
    p0 = 4 bar → kran 50% + 5 m pipaV → Qd: 7,75 ltr/det

    Nah, debit tidak bekurang, meskipun kran dicekik 50%, ataupun mulut kran disambung dengan pipa vertikal naik ke atas.
    Kenapa?
    Sebab itulah, ada sumber aktif, yang mampu menambah tekanan (p0), manakala dibutuhkan untuk membebaskan energi keluar. Analoginya seperti pompa piston yang bergerak terus maju, atau boiler yang apinya nyala terus, kalau outputnya lancar terbuka, maka tekanannya rendah, tetapi bila outputnya dihambat maka otomatis sumbernya menaikkan tekanan.

    Dan itulah yang tampak di BPJ1.
    Sangat jelas!
    Geothermal → thermodynamic + hydrodynamic!
    Maka melanjutkan HDCB, setelah fakta-fakta ini, adalah logical error yang keterlaluan.

  196. ompapang mengatakan:

    Pak R IRAWAN,
    Terima kasih atas hitungannya, semoga dapat menjadi pencerahan bagi semua yang mengapresiasi pelaksanaan HDCB, saya membuka wacana penyempitan saluran oleh HDCB dengan contoh stop kran untuk mencari tahu pengaruh HDCB terhadap debit lumpur. Kalau 2000 bolton dalam 500 rangkaian dimasukkan semuanya, mungkinkah aliran lumpur seperti debit air yang melalui kran dibuka 50% atau 25 %? Kalau tidak mungkin, bisa jadi bola-bola itu hancur jadi bubur dan kerikilnya keluar bersama lumpur menjadi seolah-olah semburan lumpur sudah mencapai fase kedua. Menurut Bapak Amien Widodo dari Pusat Studi Bencana Alam ITS, kalau semburan bercampur kerikil adalah sebagai tanda mud vulcano memasuki fase kedua.

  197. RIrawan mengatakan:

    Om papang, kembali soal kran,
    apabila mulut krannya langsung mancur ke atmosfir, maka
    dibuka 100%, mancurnya: Q = A.√(2.p/ρ)
    dibuka 50%, mancurnya: Q/√3
    dibuka 25%, mancurnya: Q/√15
    semua bukaan lain juga dapat dihitung pakai bernoulli.
    Begitu pula kalau mulut krannya dihubungkan ke pipa, baik horizontal maupun vertikal.

    Misalnya:
    diameter kran 1 inci (A = 507 mm²)
    ρ = 1000 Kg/m³
    p = 1 bar

    Maka:
    dibuka 100%, mancurnya: 7,17 liter/detik
    dibuka 50%, mancurnya: 4,14 liter/detik
    dibuka 25%, mancurnya: 1,85 liter/detik

    Tentu saja kalau dipraktekin beneran, bakal ada sedikit perbedaan.
    Itu akibat rugi geser.
    Tetapi juga sangat gampang bisa dihitung dengan enhanced bernoulli.
    Dan ANGKA nya sangat exact cocok antara hitungan teori dan empiris.

  198. RIrawan mengatakan:

    Ooo … Herman,
    I can’t comment about Metatheorems. I am really blank.
    Maybe I am too old for this unconventional logic.
    I am working now on complex mathematical model as alternative integrated mode of mud handling. It would be nice, if you can review it using the Metatheorem.

  199. herman mengatakan:

    RIrawan

    Tolong baca juga ini : http://getuk.wordpress.com/2007/01/07/kreasi-dan-inovasi/
    http://nemu.wordpress.com/about/

    Ini sebetulnya urusannya Depdikbud : mana Universitas nggak ada yang …… nongol …………cuma ITB,ITS doang ….terus 20% itu untuk apa…. ?????

  200. herman mengatakan:

    RIrawan

    Indeed, Lontong is also my Nick Name, also Gita
    Now, You are still not very sure about The Metatheorms ????

    OK !!!!??? …. Metatheorema is very coolllllll…..
    Kalau kita nggak dapat tambang minyak
    Tambang ilmu metatheorema ….. kapan saja siap dibor…

    Siapkan undang-undang hak cipta…, manajemen…, PP
    Akan ada rush penemuan…demam ( seperti malaria) ….lewat metatheorema….
    imagination gold … gold … gold

    NB:
    oleh sebab itu obat anti malaria disebut quinine , karena mathematical logic ini pengarangnya adalah \copyright Willard van Orman Quine, Harvard University Press, Cambridge,1958 \copyright

  201. RIrawan mengatakan:

    Maaf om papang,
    tabel-matrix nya terbalik sedikit:
    p0 …….. Qa …. Qb …. Qc …. Qd …. Qe
    1 bar : 7,17 ; 4,14 ; 1,85 ; 2,95 ; 1,32
    2 bar : 10,13 ; 5,85 ; 2,62 ; 5,08 ; 2,27
    3 bar : 12,41 ; 7,17 ; 3,21 ; 6,55 ; 2,93
    4 bar : 14,33 ; 8,27 ; 3,70 ; 7,75 ; 3,47
    5 bar : 16,02 ; 9,25 ; 4,14 ; 8,79 ; 3,93

  202. RIrawan mengatakan:

    om papang, emboli pada sistim peredaran darah, masuk angin pada mesin hidraulik atau mesin diesel ataupun pompa, dalam dunia hydrodynamic dinamakan kavitasi (cavitation). Problem yang ditimbulkan selalu pada bagian sirkulasi balik atau bagian hisap (suction). Peristiwa ini bisa menimbulkan kerusakan yang cepat dan bisa menghentikan kerja mesin termasuk jantung.

  203. RIrawan mengatakan:

    lontong,
    you ‘re indeed clever with your smart question, your ‘re on the right logical way of thinking,
    kecepatan gelembung gas naik kepermukaan rumusnya:
    u = √{4.d.g.(ρm/ρg – 1)/(3.cg)}
    tetapi perhitungan rielnya membutuhkan numerik yang panjang dengan banyak parameter yang dipengaruhi oleh kontur lubang. Tetapi gas itu melejit dengan cepat, sekitar 20-25 m/detik, sehingga dalam perjalanan menyeret air, tanah, lempung, kerikil, dsb.

  204. RIrawan mengatakan:

    Stop-kran om papang:
    Luas Penampang Kran: A
    Tekanan sebelum Kran: p

    a) Kran dibuka 100%, Debit: Qa
    Jika mulut kran langsung ke atmosfir → pa = 0 bar
    Kecepatan: u = Qa/A
    Menurut Bernoulli versi konvensional (rugi geser diabaikan):
    p0/ρ = u²/2 = ½.Qa²/A²
    Qa = A.√(2.p0/ρ)

    b) Kran dibuka 50%, Debit: Qb
    Jika mulut kran langsung ke atmosfir → pb = 0 bar
    → Kecepatan sebelum kran: u0b = Qb/A
    → Kecepatan sesudah kran: u1b = 2.Qb/A
    Menurut Bernoulli versi konvensional (rugi geser diabaikan):
    p0/ρ + u0b²/2 = u1b²/2
    p0/ρ + Qb²/2A² = 2Qb²/A²
    Qb = A.√(⅔.p0/ρ)

    c) Dibuka 25%: Qc
    Jika mulut kran langsung ke atmosfir → pc = 0 bar
    → Kecepatan sebelum kran: u0c = Qc/A
    → kecepatan sesudah kran: u1c = 4.Qc/A
    Menurut Bernoulli versi konvensional (rugi geser diabaikan):
    p0/ρ + u0c²/2 = u1c²/2
    p0/ρ + Qc²/2A² = 8Qc²/A²
    Qc = A.√(0,13333.p0/ρ)

    d) Dibuka 50%: Qd
    Jika mulut kran dihubungkan dengan pipa vertikal keatas sepanjang ≈ 5 m,
    → pd = ρ.g.h = 0,4903325 bar
    → Kecepatan sebelum kran: u0d = Qd/A
    → Kecepatan sesudah kran: u1d = 2.Qd/A
    Menurut Bernoulli versi konvensional (rugi geser diabaikan):
    p0/ρ + u0d²/2 = u1d²/2 + pd/ρ
    p0/ρ + Qd²/2A² = 2Qd²/A² + pd/ρ
    Qd = A.√{⅔.(p0-pd)/ρ}

    e) Dibuka 25%: Qe
    Jika mulut kran dihubungkan dengan pipa vertikal keatas sepanjang ≈ 5 m,
    → pe = ρ.g.h = 0,4903325 bar
    → Kecepatan sebelum kran: u0e = Qe/A
    → Kecepatan sesudah kran: u1e = 4.Qe/A
    Menurut Bernoulli versi konvensional (rugi geser diabaikan):
    p0/ρ + u0e²/2 = u1e²/2 + pe/ρ
    p0/ρ + Qe²/2A² = 8Qe²/A² + pe/ρ
    Qe = A.√{0,13333.(p0-pd)/ρ}

    Om papang, kini kita buat tabel-matrix hasilnya:
    ρ = 1000 Kg/m³
    A (1 inci) = π . 0,0254² / 4 m = 0,000507 m²

    p0 [bar] = 1 ; 2 ; 3 ; 4 ; 5
    Qa [ltr/det] = 7,17 ; 4,14 ; 1,85 ; 2,95 ; 1,32
    Qb [ltr/det] = 10,13 ; 5,85 ; 2,62 ; 5,08 ; 2,27
    Qc [ltr/det] = 12,41 ; 7,17 ; 3,21 ; 6,55 ; 2,93
    Qd [ltr/det] = 14,33 ; 8,27 ; 3,70 ; 7,75 ; 3,47
    Qe [ltr/det] = 16,02 ; 9,25 ; 4,14 ; 8,79 ; 3,93

    Cobalah praktekkan.
    Asyik, bukan?

  205. RIrawan mengatakan:

    Pompa komersial berkapasitas besar mampu menghasilkan tekanan diatas 450 bar, artinya bisa naik dengan gampang hingga 4000 m vertikal atau dari muka laut hingga ke puncak Semeru. Di gedung bertingkat di Indonesia jarang dipakai, karena soal pipanya mahal dan persyaratan keamanan (25 bar kalau bocor atau pecah bisa membuat orang luka parah). Tetapi di sky-scrapers selalu dipakai pompa tekanan tinggi. Di Indonesia, pompa hingga 140 bar dipakai di pembangkit listrik, pipa Pertamina dari Cilacap ke Tasikmalaya. Pompa beton yang kuat bisa menghasilkan tekanan diatas 80 bar untuk mengirim adonan ke tinggian di atas 100 m, karena memompa beton diperlukan tekanan tinggi guna melawan rugi-geser di pipa.

    Tenaga geothermal tidak bisa dilawan dengan ketinggian lumpur di atas permukaan. Di bawah tekanannya saat ini 500 bar, kalau di atas permukaan lubang ditambah dengan tinggi lumpur 100 m, itu cuma 13,07 bar; maka dengan gampang sumber geothermal di bawah akan menambahkan tekanannya menjadi 513,07 bar dan lumpur tetap menyembur.

    Pond susunnya pak Syahraz adalah ide yang rasional, bermanfaat untuk mencegah melebarnya lumpur. Di kemudian hari dapat dipakai guna mengalirkan lumpur segar dari puncak meluncur turun melalui kanal yang sesuai.

  206. RIrawan mengatakan:

    Dari besaran fisika yang terukur diatas, sumbernya adalah lubang yang dibor hingga kedalaman diatas 3000 m (+++). Dari situ menyembur gas geothermal bertekanan 500 bar suhu 420ºC. Karena di bagian atas disumbat, maka gas panas tekanan tinggi itu membuat sendiri jalurnya, mulai dari tengah bekas lubang bor hingga ke BPJ1 dll. Akibat kecepatan yang tinggi, gas itu menarik lumpur dan air di sepanjang jalan, sehingga terjadi rongga-rongga kosong yang berpotensi ambles. Tetapi terjadi pula konveksi atau intrusi air + lumpur ke daerah sekitar, sebab di bagian atas diameter lubang semburan membesar yang memperlambat keceparan aliran, tetapi tekanan masih tinggi. Akibatnya ada laporan, bahwa sumur-sumur penduduk makin asin dan ada gas + lumpur yang keluar hingga di Gresik.

  207. ompapang mengatakan:

    mungkin lebih baik lagi bola teflon yang seringan kayu sekuat baja,anti karat, tahan benturan,tahan gesekan dll kelebihan lainya,tapi MAHAL, ( atau lebih Murah? )

  208. Dedi Ganedi mengatakan:

    Pada tekanan dan suhu yang sama A1.V1=A2.V2, Q1=Q2.
    V=(2gh)^2, h= hawal-hakhir, hawal adalah ketinggian benda mulai jatuh disini v=0; pada hakhir v=(2gh)^2.

    Tekanan bisa dalam satuan bar, atmosfir, bisa juga hfluida (head).

    Jika pompa mempunyai head 10m, maka dapat memompa air sampai ketinggian 10 m pada debit tertentu (biasanya dari pabriknya ada grafiknya Q vs h).

    Namun, kasus semburan lumpur Lapindo tidak sesederhana rumus-rumus itu. Banyak paramerter yang mempengaruhinya dimana kita sulit untuk mengukurnya di sepanjang lubang semburan.

    Karakteristik semburan lumpur Lapindo diketahui dengan memberikan aksi kemudian bagaimana reaksinya.

    Kita sudah mengetahui, bahwa setelah meberikan aksi berupa HDCB methode dengan ratusan bola-bola beton, debit semburan ternyata tidak berkurang. Hal ini memberikan beberapa asumsi tentang karakteristik semburan lumpur Lapindo. Antara lain,
    - lubang semburan tidak vertikal yang menyebabkan bola-bola menyangkut pada bagian lubang yang landai dan terkubur.
    - lubang semburan keluar dari banyak rekahan yang berada diberbagai lokasi ketinggian sebagaimana banyaknya mata air di sumur penduduk.

    Jika berfungsi sebagai peredam energi, bola-bola kayu dengan rantai terikat pemberat malahan lebih efektif karena bola kayu akan cenderung melayang-layang berada di aliran lumpur. Sedangkan bola-bola beton dapat tenggelam dan terkubur.

    Dengan ini saya menyatakan bahwa bola yang dapat terapung pada kecepatan aliran rendah lebih cocok daripada bola-bola yang tenggelam. Bola-bola yang tenggelam hanya berfunsi sebagai pemberat agar bola-bola yang melayang di dalam aliran tidak terapung ke permukaan.

  209. ompapang mengatakan:

    ada yang keliru tulis,” Kalau Q2=Q1,berarti kecepatan aliran v2 lebih besar dari v1″ seharusnya berbunyi :” kalau Q2 = Q1 berarti v2 =v1, kalau Q2 lebih kecil dari Q1 berarti v2 lebih kecil dari v1″

  210. ompapang mengatakan:

    Percobaannya jangan hanya pakai selang doang, pakai panjang selang kira-kira 40 cm saja ,kemudian disambung dengan pipa yang berdiameter sama sepanjang 100cm.Jadi susunanannya ,pipa –selang- -pipa .
    Pengukuran debit pertama sebelum selang dipencet, misal debit Q1,sesudah selang dipencet debit ,Q2. Kemudian bandingkan Q2 terhadap Q1, apakah sama atau berkurang. Kalau Q2 = Q1 berarti kecepatan aliran v2 lebih besar dari v1.
    Dalam percobaan tersebut kalau debit berkurang berarti debit lumpur terpengaruh HDCB, kalau tidak berkurang alias tetap berarti debit lumpur tidak terpengaruh lumpur atau debit tetap seperti sebelum ada HDCB.
    Adapun panjang pipa sambungan selang menggambarkan kedalaman posisi bolton dan pencetan selang menggambarkan energi yang diserap oleh bolton, yang dalam perhitungan dinyatakan sebagai coefisien discharge Cd, diekspresikan dalam rumus Q =Cd. Qi. Dalam hal ini Q1 diumpamakan Qi (debit ideal), Q2 =Q=Cd.Qi.
    Walaupun belum dicoba, kelihatannya bolton menimbulkan Cd,sehingga volume atau debit aliran akan berkurang, jadi berbeda dengan pernyataan pak Syahraz terdahulu bahwa volumenya akan tetap, karena kecepatannya bertambah.

  211. syahraz mengatakan:

    lho? maksud saya gini :

    Jika A besar, maka v kecil

    Sebaliknya,

    Jika A kecil, maka v besar

  212. syahraz mengatakan:

    …. karena pada nozzle luas penampang A2 lebih kecil daripada luas penampang A1

  213. syahraz mengatakan:

    …… karena pada nozzle luas penampang A2

  214. syahraz mengatakan:

    Kalau mau pembuktian ya silakan menyiram tanaman bersama seorang teman. Setiap orang memegang selang yang berbeda. Yang satu selangnya dipencet & yang satunya lagi selangnya ga dipencet. Akan terlihat perbedaan kecepatan yang signifikan akibat berkurangnya luas penampang selang akibat dipencet.

  215. syahraz mengatakan:

    untuk soal pembuktian bisa dilihat di contoh soal tabung venturi meter. Disitu kita bisa melihat bahwa v1 tidak pernah sama dengan v2. Kenapa? ya karena pada nozzle luas penampang A2

  216. syahraz mengatakan:

    Lho apa ga keliru pak ompapang?

    untuk zat cair pun, jika A >>…. Sebaliknya jika A >>> maka v >> maka v >>

  217. ompapang mengatakan:

    Buat Pak Syahraz .
    Kalau saya yang njawab, karena A1 lebih besar dari A2, dan fluida yang mengalir incompresible, maka pada head tertentu=h, debit Q ditentukan oleh penampang yang kecil yaitu A2 dengan kecepatan alir v2 =V2gh atau v^2 = 2gh. sehingga Q=A2.v2 Sedang besar kecepatan v1,menurut hukum kontinjuitas = Q =A1.v1 =A2.v2, maka v1=Q/A1.Jadi yang menentukan kecepatan terbesar adalah nilai V2gh, bukan A1/A2.
    Catatan : Menurut eyang Bernoulli, untuk total head =h, maka kecepatan maksimum dari discharge adalah v=V2gh. Dikaitkan dengan HDCB, maka bila penampang diperkecil oleh bolton,maka debit akan mengecil sesuai besaran v=V2gh dan luas penampang terkecil yang dilalui lumpur,dimana h=sisa head dari head total sumber tekanan.
    Pertanyaan yang kedua, kalau kran dibuka 100% ,debitnya mesti akan lebih besar dari kalau kran dibuka 50 % (tidak pakai selang lho), debit terkecil dicapai apabila kran dibuka 0%,alias ditutup 100%. Jadi penutupan penampang aliran oleh kran menjadi 50%nya tidak menyebabkan kecepatan aliran pada kran menjadi 2 X nya, alias debitnya tidak konstan.
    Dikaitkan dengan HDCB, bila bolton mempersempit saluran, maka kecepatan aliran bukan bertambah menurut perbandingan luas penampang saluran sebelum dipersempit dengan sesudah dipersempit, melainkan ditentukan oleh sisa energi yang berupa head
    dari head total sumber tekanan, karena lumpur termasuk incompresible fluid. Dengan demikian,kalau luas saluran dipersempit menjadi 50%, maka kecepatannya tidak menjadi 2 X nya, dan debitnya tidak lagi seperti semula, alias berkurang menjadi kira-kira 50% nya, seperti debit air kalau kita menutup atau membuka kran 50 %.
    Jawaban ini jelas berbeda dengan pak Syahraz yang mendukung teorinya pak RIrawan.
    Menurut saya, teori pak RIrawan benar apabila fluidanya compresible seperti udara atau gas lain. Sebagai contoh misal untuk mendapatkan kecepatan tinggi, maka terowongan angin dibuat mengecil pada bagian yang ditempati obyek percobaanberdasar hukum kontinyuitas A1.v1=A2.v2.
    Untuk fluida air, penyempitan penampang yang mengakibatkan kenaikan kecepatan hanya ada di open channel.Hal ini disebabkan karena pada sisi hilir dari kanal yang menyempit, air seolah terbendung dan permukaan air naik sehingga menambah tinggi y, dengan demikian energi untuk mengalir menjadi bertambah dan kecepatan aliranpun bertambah sehingga debit boleh dikata tidak berkurang atau A1.v1=A2.v2. Tapi dalam saluran pipa yang penuh air atau lumpur , penyempitan akan mengakibatkan debit yang berkurang secara signifikan pada head yang tetap (tidak ditambah), karena air atau lumpur tidak dapat dikompres/dimampatkan seperti udara/gas, walau tetap berlaku hukum kontinyuitas A1.v1=A2.v2.
    Jadi supaya teori Pak RIrawan benar,harus dibuktikan dengan perhitungan yang menyatakan pertambahan tekanan atau head pada saat terjadi penyempitan, misal luas penampang aliran menjadi 75 %nya.Berapa berkurangnya luas saluran lumpur,berapa bertambahnya tekanan dan berapa bertambahnya kecepatan dan apakah debit/volume tidak berkurang,perlu contoh perhitungan.

  218. syahraz mengatakan:

    Lho.. sik… sik… kalau velocity pakai simbol v saja, ya berarti yang dimaksud adalah velocity rata-rata karena pada kenyataannya kecepatan (v) tidak uniform pada penampang aliran, jadi biar gampang debit dihitung dengan kecepatan rata-rata pada suat penampang maka dipakai Q=A*v.

    untuk pipa dengan penampang tertentu, maka v1 adalah kecepatan aliran pada penampang 1, dan v2 adalah kecepatan aliran pada penampang 2, lha sementara v itu letaknya diantara v1 dan v2. Jadi v tidak terletak di penampang 1 maupun penampang 2.

    Kalau digambar, kira-kira letak total head (H) diatas HGL (Hydraulic Grade Line). Sementara P/(gamma) letaknya diantara pipa dan H. Lha z letaknya dibawah pipa, karena z adalah Potential Head.

  219. ompapang mengatakan:

    penjelasan dari eyang Bernoulli untuk pak Syahraz :
    Kalau aliran dari sumber dengan h(head) total =h,maka kecepatan discharge yang melalui pipa tidak homogen berpenampang A1 dan A2 adalah : v^2 =2gh atau v= V2gh dengan Q=A1.v1 =A2.v2.
    Pertanyaannya :kecepatan discharge v = V2gh , dipakai untuk menghitung debit Q di A1 sebagai v1 atau di A2 sebagai v2.?

  220. syahraz mengatakan:

    silakan dicoba :

    Kuras bak air pakai kran yang disambung selang, kemudian pencet selangnya sehingga luas permukaan jadi tinggal 50% saja, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengosongkan bak air akan sama dengan kalau tidak pakai selang.

  221. syahraz mengatakan:

    iso ik…. lha bolton yang menyumbat posting saya sudah hancur kena tekanan antispyware…. :)

  222. syahraz mengatakan:

    pertanyaan pertama, v=(akar) 2gh itu adalah v1.

    pertanyaan kedua, lha kalau nguras bak mandi kan tidak ada penambahan debit atau Q masuk tidak sama dengan Q keluar. Lagipula bak mandi kan termasuk “open channel”, sementara pipa merupakan “close channel”.

    Buku hidrolika ora tak gawa ik. rumuse njlimet tur lali :)

    Kalau kita membuka kran 100% dan menutup selang (setelah kran) 50% ya debitnya akan sama dengan bukaan kran itu.

    Jadi Q1 dalam pengurasan bak mandi bukan yang didalam bak mandi itu, tapi ya kran itu yang jadi Q1… Nah kalau di kran dipasang selang, maka ujung selang yang bebas adalah Q2.

    Jadi menguras bak mandi pake kran dan tanpa selang ya cuma ada Q1 saja, sementara kalau dipasang selang maka baru ada Q2.

  223. ompapang mengatakan:

    Pak Syahraz,
    Yang jadi pertanyaan eyang Bernoulli itu ;v =V2gh itu sama dengan v1 atau v2 ?.
    Pertanyaan yang kedua untuk jelasnya saya ambil contoh nguras bak air dari menara air. Pipanya TIDAK BERCABANG, langsung dari bak air, posisi kran misal 4 meter dibawah bak air. Kalau kran dibuka 1/2 ,debit =Q1.Kalau dibuka 1/4 ,debit= Q2 ,kalau buka full,debit=Q.
    Kalau dalam pertanyaan 1, Q = konstan= A1.v1=A2.v2, pertanyaan yang kedua apakah Q juga konstan=Q1=Q2?
    Pertanyaan ini terkait dengan pengaruh penyempitan lubang saluran lumpur oleh HDCB.
    aja misuh “ngonoik kakekane “lho, yen “telo” keno !

  224. Rovicky mengatakan:

    –> barusan ada yg masukin bolton kali …
    trus mampet g gelem metu :p

  225. syahraz mengatakan:

    lho piye tho? koq ora metu?

  226. ompapang mengatakan:

    buat Lontong,
    Saya ambil contoh dalam system rem hidrolik pada kendaraan atau system injeksi bahan bakar pada mesin diesel, kalau salurannya ada gelembung udaranya (istilahnya :masuk angin), tekanan untuk rem menjadi tidak efektif alias remnya blong, demikian juga pada system injeksi mesin diesel, nozzlenya tidak dapat menghasilkan kabut bahan bakar,sehingga mesin tidak dapat hidup.
    Didunia kedokteran,kemasukan angin dalam pembuluh darah yang dikenal dengan istilah EMBOLI juga dapat mematikan karena tekana dari jantung tidak efektif mengalirkan darah.Oleh karena itu, bila memberi infus kepada pasien,harus dijaga supaya jangan ada emboli atau gelembung udara.
    Dalam kasus lumpur panas, saya berpendapat selama lumpur dalam perjalanan naik keatas belum terbentuk gas, baru sesudah sampai permukaan, gas yang panas dapat melepaskan diri dari cairan lumpur karena TEKANAN nya melebihi TEGANGAN PERMUKAAN dari cairan lumpur. Seperti gas CO2 dalam Fanta atau Cocacola, kalau botolnya TIDAK digojog-gojog, gelembung gasnya sedikit,karena tekanannya tak dapat mengalahkan tegangan permukaan cairan. Jadi gas tetap larut dalam cairan, demikian pula gas yang terkandung dalam lumpur, walaupun suhu tinggi ,tetap larut dalam cairan,ia baru dapat lepas sesudah dipermukaan.
    Jadi karena tak terbentuk gelembung ya tidak dapat menyeret air keatas.(Ctt: ada gelembungpun tidak dapat menyeret air keatas, bisa dicoba sendiri dengan selang infus yang terisi gelembung dan cairan,nanti cairan tetap turun kebawah, walaupun gelembung naik keatas.), sebaliknya kalau sampai terbentuk gelembung gas, tekanan yang mendorong lumpur keatas menjadi tidak efektif ,sehingga lumpur tidak terdorong keluar, seperti contoh remblong atau emboli tersebut diatas.

  227. syahraz mengatakan:

    Lha jelas saja v1 tidak sama dengan v2. Karena luas permukaannya tidak sama. Tapi debitnya ya sama. Kalau pipanya bercabang ya tekanan air tidak menuju ke kran yang terbuka 50%. Karena itu jika kita membuka kran air dirumah sebesar 50%, maka debit yang keluar tidak sama dengan jika kran dibuka 30% atau 100%, karena pipanya bercabang.

    Lain ceritanya kalau pipanya tidak bercabang. Contohnya bisa kita lihat pada saat kita mencuci mobil di bengkel cuci mobil. Mereka cukup memakai kran biasa yang kemudian disambung dengan selang. Urutannya : Kran-selang A1-pompa-selang A2. Dimana A2

  228. Dedi Ganedi mengatakan:

    Tong lontong, proses pemisahan logam pada proses metalurgi juga ada yang menggunakan sistem gelembung udara. Gelembung udara mengikat dan membawa serbuk material yang lebih ringan kepermukaan. Jadi coba cari pada proses metalurgy.

  229. lontong mengatakan:

    oom-oom …. , mas-mas…
    coba tolong dihitungkan kecepatan gelembung gas naik kepermukaan dan berapa lama ?
    gelembung kecil-kecil gabung jadi besar apa sebalikanya? gelembung bisa menyeret air keatas apa tidak?.

  230. Dedi Ganedi mengatakan:

    Mungkin pak Shahraz bingung, soalnya kecepatan jatuh selalu sama untuk gesekan dan tahanan nol menyebabkan V selalu sama. Dan besar kecil kran menentukan jumlah debit yang menyebabkan Q enggak sama.

  231. ompapang mengatakan:

    eh,ada yang lupa, fluida yang mengalir berupa air bukan udara atau gas, karena air punya sifat incompresible,sedang gas sifatnya compresible. Jadi kalau gas tidak saya persoalkan,karena bila lewat saluran yang penampangnya lebih sempit,kecepatannya mesti bertambah seperti yang terjadi pada terowongan angin.(wind tunnel),berbeda dengan air yang incompressible.

  232. ompapang mengatakan:

    Sekarang saya tanya pak Syahraz,
    Bila h (head) konstan dan tak ada kerugian gesekan,kecepatan aliran v= V2gh, Q=A1.v1= A2.v2, dimana A1 lebih besar dari A2.
    Pertanyaannya 1 : v1=v ? atau v2 =v ?
    Soal lagi : bila pada pipa homogen dipasang stop kran, Q=debit pada saat kran membuka 100%, Q1= debit dalam pipa pada saat kran membuka 50%, Q2 =debit dalam pipa saat kran membuka 25%.
    Pertanyaan 2 :Apakah Q1 = Q2 =Q ? Kalau tidak sama bagaimana perbandingannya?

  233. syahraz mengatakan:

    Sebetulnya di semarang banyak orang sudah tau pemikiran saya ini….

    Contohnya ya di PDAM sampangan tho pak? apa ya bisa PDAM sampangan memompa air ke Perumahan Bukit Sari di Gombel?

    Betul kata pak Irawan, HDCB hanya akan mengurangi luas permukaan sumur yang tidak akan mengurangi volume dan tekanan akan membesar… Itu sama dengan menyambung pipa besar dengan pipa yang lebih kecil. Bukannya malah memperkecil volume (debit), tapi malah tekanannya akan membesar. Wong Q=A*v

    Jangan lupa juga bahwa tekanan itu menekan ke segala arah. Kira-kira sih begitu… maklum saya ini kan wong telo….

  234. ompapang mengatakan:

    cocok dengan pikiran saya pak Shahraz, wong kita pakai bahasa yang sama.

  235. syahraz mengatakan:

    aliran apapun tetap kalah dengan ketinggian. Mau aliran air atau aliran lumpur atau aliran adonan beton readymix dengan pompa sebesar apapun tetap bisa dikalahkan dengan ketinggian.

    Silakan liat di gedung bertingkat. Kalau mau memompa air ke lantai 20 ya harus dipompa berulang-ulang. mau pake 1 pompa dari dasar? mana kuat? itu yang saya lihat dari kacamata sipil lho pak…. kan ada juga ilmu plumbing. Kalau pompa bisa mengalirkan air sejauh 100 meter horizontal, maka kalau pipanya dibuat vertikal ya tekanannya ga sampai 100 meter.

    Kasus lapindo ibarat lumpur yang dipompa dari bawah. Cara menghentikannya adalah menghitung tekanan di permukaan kemudian bisa diketahui sampai berapa meter lumpur akan naik. Dari hitungan saya kira-kira tekanan permukaan sekitar 5 atm atau sekitar 38 meter…. Mung canda’an lho pak… Hitungan detailnya kayaknya otak saya tidak mampu… :)

    Just a simple logical thinking can solve the problem…

  236. ompapang mengatakan:

    saya membayangkan ada air terjebak lapisan batuan keras, batuannya dibor keluar air bertekanan tinggi, membawa material padat keatas menjadi semburan lumpur melalui saluran yang ditembusnya sampai kepermukaan(150 m dari sumur bor). Mungkin dibawah air yang terjebak ada rekahan yang berhubungan dengan magma dikedalaman 10.000 meter, tetapi keluranya air tetap dari bekas bor. Hal ini terbukti setelah berbulan-bulan debit lumpur relatif tetap, perubahannya tidak signifikan,disebabbkan karena debitnya ditentukan oleh diameter lubang bor dikedalaman 3000 meter. Lubang bor dibatuan keras inilah yang menentukan debit air yang kemudian jadi lumpur dipermukaan.
    Lubang berfungsi seperti ini kalau dikarburator mesin bensin dikenal sebagai spuyer (spruiyer, orifice) utama,lubang yang menentukan debit bahan bakar saat mesin bekerja /dibebani.
    Fungsi menentukan debit aliran juga terdapat pada venturi meter, dimana debit aliran ditentukan terutama oleh ukuran luas penampang dari tenggorokan (throat)venturi meter. Jadi disini lubang bor ibarat lubang tenggorokan.

  237. Dedi Ganedi mengatakan:

    Lubang bor itu sudah lama ditinggalkan dan selama itu tidak terjadi semburan dari kedalaman 3000 m. Berarti pusat semburan bukan di ujung kedalaman lubang bor pada kedalaman 3000 m melainkan dari samping yang berhubungan dengan rekahan dan patahan yang mempunyai hubungan dengan magma pada kedalaman lebih dari 3000 m.

  238. ompapang mengatakan:

    sekarang bentuk sumur mungkin sudah seperti perut ular sanca menelan babi lho, mulutnya kecil, kebawah makin besar berisi bola-bola beton, kebawah lagi besar sekali (seperti galon aqua kebalik) sebagai tempat bola-bola beton menumpuk, kemudian mengecil sampai kedalaman 3000 meter sesuai lubang bekas bor dibatuan dengan diameter sebesar 10 inci nan.
    BTW, kalau pak Syahraz guru silat,coba ciptakan jurus baru,JURUS NAGA MENELAN BOLTON, gerakannya boleh seperti Liong Barongsai mengejar bola angpao !(angpao = honor Timnas yang dibayarkan Lapindo ?)

  239. syahraz mengatakan:

    koq saya jadi kuatir ya pak ompapang,…

    begini, saya kuatir bentuk sumur seperti galon aqua dengan mulut menghadap atas. Kalau kelereng dimasukkan kedalam galon, kira-kira kelerengnya ga nyantol deh, tapi malah bablas ke dasar galon yang suhunya Wallahu A’lam….

    Ndak iyo pak?

  240. RIrawan mengatakan:

    Supaya jelas: bola 40 cm maunya turun ngebut dengan kecepatan 2,13 m/det, tapi bola 20 cm maunya alon-alon 1,118 m/det, sehingga terjadi tarik menarik dan untaian HDCB pasti turun dengan rantai lurus tegang. 2 bola besar dibawah, 2 bola kecil diatas, dengan kecepatan rata-rata 1,9278 m/det.

  241. RIrawan mengatakan:

    Pak dhe, jadi 8 Km absolute impossible?
    2x aku tanya (3 Okt 06): 8 Km? Beliau mengangguk.
    Kali betul juga ompapang, dengernya pakai mirror, 3 jadi 8.

    Apakah dyke dan diapir bisa naik sampai 3 Km?
    Aku utak-atik hitungannya pakai komputer, dibolak-balik, hasilnya sami-mawon: thermodynamic!

    Terima kasih penjelasan tentang H2S.
    Kapan bisa dapat hasil pemeriksaan isotop sulfur 34?

  242. RIrawan mengatakan:

    Konsep HDCB itu continuous backwashing pada tabung filter, jadi bola-bolanya cenderung mengembang terus kayak yang pak Herman bilang. Apakah rantai itu terinspirasi polielektrolit dan percepatan koagulasi agar pori tetap kecil, ini mesti dijawab oleh pembuat konsep HDCB. Tapi yang pasti aku temukan, mereka inginkan agar untaiannya meluncur lurus sampai ke bawah, sebab bola 40 cm kecepatannya 2,130244863 m/det dan bola 20 cm 1,117968395 m/det, bareng-barang menjadi 1.92778957 m/det. Kalau bisa nyampai ke 3000 m di bawah perlu waktu 26 menit.

    0,16 % HDCB menyerap energi dengan akrobat rotasi, translasi dan vibrasi itu maximal teoritis, kalau koagulasi akibat rantai itu terjadi, maka tidak akan ada akrobat, dus bola tidak menyerap energi. Makanya aku protes, penjelasan kog begitu, apalagi tanpa ANGKA.

  243. Rovicky mengatakan:

    –> RIrawan
    World deepest well sekitar 10 Km (10 000 meter) itu dilakukan oleh scientist rusia.
    Average well drilled itu sekitar 8000 – 10 000 feet (2500-3000 mtr)
    Sumur BPJ mengebor hingga 9000 feet atau sekitar 3000 meter

    Dapur magma Gunung Merapi itu sekitar 30 Km …
    itu dapurnya … lah ruang tamunya atau kepundannya ya dipunncak Garuda :p
    Kalau sudah mencapai 10 Km itu dalam geologi sering disebut “intrusi” atau terobosan, bisa disebut sill kalau mendatar atau dyke kalau memotong vertikal.

    Kalau soal H2S aku cuplikkan dari diskusinya para geolog ya

    Genesa H2S seperti banyak gas non-hidrokarbon lainnya bisa terbentuk dengan banyak cara. Isotop Sulfur-34 yang akan menentukan cara mana yang paling tepat untuk suatu kejadian akumulasi H2S. Katagenesis zat organik via thermal breakdown kerogen atau coal akan mengeluarkan sejumlah H2S, yang konsentrasinya semakin meningkat dengan bertambahnya temperatur. Sebelum masuk ke katagenesis pun H2S bisa terbentuk lewat reduksi sulfat oleh mikroba di lingkungan diagenesis, tetapi jumlah H2S biogenik ini bisa diabaikan.

    H2S yang tinggi biasanya berasal dari dua sumber :
    (1) dekomposisi termal minyak kaya sulfur di kedalaman yang lebih dalam dari oil window, dan
    (2) proses reduksi termokimia pada sulfat (TSR – thermo-chemical sulfate reduction) di air yang mengisi pori-pori batuan dan biasanya berasosiasi dengan oksidasi hidrokarbon.
    TSR sebenarnya reaksi antara mineral2 sulfat terutama anhidrit dengan hidrokarbon mulai pada temperatur 120 atau 140 Celsius. Hasil reaksi ini adalah H2S dan CaCO3. Karena anhidrit sering berasosiasi dengan sekuen karbonat, maka proses TSR seringkali berasosiasi dengan reservoir atau batuan induk karbonat yang panas dan terpendam dalam. Karbonat yang terpanggang panas pun akan mengeluarkan CO2, maka dalam kasus ini CO2 dan H2S bisa sama-sama tinggi (contoh di East Cepu High).

    Kalau ada panas yang tinggi >120 deg C, ada lingkungan reduksi, ada karbonat di dalamnya, maka H2S bisa tinggi. Di sekitar LUSI ketiga syarat ini saya pikir hadir, maka mungkin H2S-nya berasal dari proses TSR (thermo-chemical sulfate reduction), atau asal thermal breakdown kerogen di sedimen2 Upper Kalibeng dan Pucangan. Isotop sulfur 34 dari sampel gas H2S yang akan membuktikannya.

    aku ini lagi mumet sama tulisane mas Herman diatas itu je :) Filosopi berpikirku kok jadi ambyar ngene ya ;)

  244. ompapang mengatakan:

    Pak RIrawan,
    saya betulkan : “saya yang cermat mencerna”,maksud saya “saya yang tidak cermat mencerna ” dst.

  245. ompapang mengatakan:

    maaf,saya yang cermat mencerna, “tanda kurung” saya artikan “=”, jebulannya maksudnya “hanya 0,16 % kok dikatakan bola menyerap energi “. Mudeng saya pak!

    Pak Qurtubi bilang sama Bapak :TELU Km atau WOLU Km, sebab kedua-duanya mempunyai nilai yang sama dalam MISTIK judi,delapan bisa jadi 3,sebaliknya 3 bisa juga jadi 8 , lihat saja angka 3 di MIRROR kan jadi angka 8 he….he…he…ketemu soal angka lagi .

  246. RIrawan mengatakan:

    Pak dhe, tolong tanya, mungkin gak sih 8 Km itu?

  247. RIrawan mengatakan:

    Om papang,
    0,16 % itu kan saya yang menghitung. Itupun top extrem maximal imajiner, kalau bolanya bisa menari-nari disundul oleh lumpur dan ikut naik dengan kecepatan awal 3,8069 m/detik, lalu ditarik lagi oleh gravitasi dan berhenti setelah 0,3882 detik, turun lagi, disundul naik lagi, dst, maka terjadilah penyerapan energi secara maximal. Dalam praktek, jauh dibawah itu. Dengan pengandaian atas kontur lubang, bisa dihitung lebih akurat.
    Makanya saya bilang, penjelasan “bola menyerap energi” (0,16 %) itu tidak benar. Segitu kecil kog dijadikan dalil.

    Pak Herman,
    H2S dari mikrobiologi, termasuk bakteri anaerob saya kira tidak mungkin, karena suhu dan tekanan sangat tinggi. Kalaupun deposit ex masa miocene, mestinya sudah lama habis, lha ini 10 bulan malah naik. Tapi memang membingungkan, baru 3000 m kog bisa ketemu magma di daerah itu. Pak Qurtubi pernah bilang ke saya, ngebornya sampai 8 Km. Nanti akan saya konfirmasi, salah dengar nggak saya.

  248. ompapang mengatakan:

    Lho …kan sudah benar to pak RIrawan.
    100 % X160 Kw:100.000 Kw = 0,16 % kan sudah betul , kecuali kalau dibilang 16 %.

  249. Herman mengatakan:

    Contohnya :
    Sudah dua kali saya buat metateorema mengenai Bola Beton dan langsung tepat.

    Coba metateorema no.103 : Jika bola beton seperti filter air ( kalau seperti aquariumnya ompapang kurang tepat karena stagnant tidak bisa menampung kejadian bebas berupa aliran ) yang lebih tepat adalah tabung filter air minum. Ada sesuatu sedemikian sehingga filter itu buntu ( kotoran, pori yang kecil, adsorption, kohesi dll) karena air kotor maka seperti itulah sumur lapindo buntu juga ( Terbukti 35 menit sumur lapindo mandeg)

    Filter air itu ada periodenya untuk backwashing dalam hal ini pasirnya mengembang karena didorong dari bawah, namun bolton diberi rantai-rantai (yang ini pasti terinspirasi oleh polielektrolit untuk mempercepat koagulasi yaitu seperti rantai-rantai bolton itu) sehingga tidak bisa memuai dan porinya tetap kecil. Akhirnya buntu

    Mengapa 35 menit ?? Saya memang belum menghitungnya namun ini nampaknya adalah absorpsi gas H2S dalam air, menurut teori penetration, atau surface renewal teori maka absorpsi gas H2S butuh waktu untuk menjadi jenuh. Karena gelembung H2S diperkecil oleh Bolton (seperti mendidih). Ketika sudah jenuh dia nyembur lagi ( ….. ngawur yo ben ..namanya saja metateorema : apapun teorema yang dipilih menimbulkan teorema berikutnya yang lebih baik .) Lagi-lagi terbukti ada gelembung seperti mendidih

    Terus Metateorema berikutnya adalah Serangan Sulfat pada BOLTON. Saya tanya pak Syahraz apakah Trikalsium Silikat dan Trikalsium Aluminat tidak bereaksi dengan MgSO4 dan Na2SO4, nyatanya TimNas keder juga bikin beton tanpa fly ash atau semen type III.
    Meteteoremanya : Jika gunung lumpur seperti bekas dasarnya laut yang terlipat maka ….teruskan sendiri ….( kandungan NaCl nya … kandungan ion Mg …. ) ya to …

    Ini yang belum dapat jawaban metateorema lagi : dari mana datangnya gas H2S …??? Ada bakteri anaerob sedemikian rupa sehingga bakteri anaerob itu hidup ) ada makanannya … bisa dolomit bisa siderit …. bisa biomassa yang membusuk dimasa Miocene ….( jaraknya ke laut hanya 15-20 km, itupun belum dihitung sedimentasi dan tanah oloran kuat sekali dugaan bahwa dulunya laut.)

    Dugaan sementara :
    1. semburannya bukan dari magma –kayaknya terlalu dalam kecuali ditembus mata bor . Paling dari fist yang tertinggal adalah 400m dengan berat 25 ton. Besi ini penghantar panas yang bagus. Metateorema 103. Jika Fist seperti elemen pemanas air listrik..kecuali …… maka ……..teruskan sendiri.

    2. Jika fluida lumpur seperti cairan Coca Cola …kecuali ….. maka ….. dan seterusnya.

    3. Jika gunung lumpur sperti septic tank raksasa …kecuali …..maka …dst ….

    Begitu saja ya ompapang ….puas ..puas …puas …kata thukul

    jangan kuatir ini hanya metateorema awal ada 696 metateorema lagi yang lebih deterministik. Menurut hemat saya logika ini seperti jalan tol arau sumber ilmu baru-baru yang tak ada habisnya. Dan sangat mudah dan cepat praktis ….Menurut Howard Gardner ini adalah satu dari kecerdasan majemuk ( multiple intelligent)

  250. RIrawan mengatakan:

    Kembali tentang HDCB …., penjelasan ilmiah satu-satunya adalah konsep “backwash koral filter”, yakni konversi sebagian energi kinetis menjadi panas, yang dijelaskan lewat jalan-jalan tikus berkelak-kelok di Mangga Dua dll.
    Tapi diumumkan HDCB menyerap energi melalui rotasi, translasi dan getar. Menurut saya ini tidak benar. Namun, katakanlah bola-bola ajaib itu bisa berputar-putar, menari-nari dan bergetar-getar, maka energi maximumnya adalah (ini aku sederhanain banget-nget a’la nenek-moyang abad 18 ngitung kinematika, kalo masih memabokken, aku angkat tangan. Nyerah deh, biar pak Herman yang njelasin):
    d = 30 inci
    u(max) = Q/(π.d²/4) = 3,8069 m/detik
    h = u²/2g = 0.7389 m
    dt = u/g = 0,3882 detik
    n = 374 untai
    m1 (40 cm) = 2 x 100 Kg
    m2 (20 cm) = 2 x 12.5 Kg
    ΣE = n.2.(m1+m2).g.h = 62179 Joules
    Daya maximum yang diserap oleh tarian 374 untai bola-bola: P = ΣdE/dt = 160,18 Kw. Sedangkan daya yang disemburkan dari dapur magma di bawah sedikitnya 100Mw = 100000 Kw. Makanya saya bilang, penjelasan “bola menyerap energi” (0,16 %) itu tidak benar.

    Tetapi ada yang benar.
    Bola-bola itu memang bakal mencekik penampang aliran lumpur, dus menimbulkan friksi, yang mengkonversi sebagian energi menjadi panas. Oleh sebab itu, muncul lebih banyak uap dan gas. Awalnya memang debit lumpur sedikit berkurang. Apalagi ada dinding lubang yang ambrol, sehingga semburan pernah berhenti 30-35 menit. Andaikan sumber energinya bukan geothermal, konsep ini bisa berhasil. Tetapi kenyataannya semburan berlanjut, yang mendukung hipotesa geothermal dan sekaligus melemahkan asumsi hidrostatis. Maka hakekatnya HDCB hanya menghasilkan pembesaran lubang semburan.

  251. ompapang mengatakan:

    Pak Herman,
    Ompapang dapat matematika sudah 40 tahun lalu,dulu aku belum kenal metateorema, kalau di pemrograman sih ada logic-logic, juga algoritma pernah diajar, analisa numerik ya pernah, tapi METATEOREMA bagi ompapang sama sekali baru,mbok dijelaskan contoh penggunaannya, idep-idep ngangsu kawruh. LaTtex Equation ya sudah tak donlod,tapi penggunaannya belum tahu.Lha contohnya kok fungsi transien bilangan alam (e). Ah taknggo simpenan dulu aja. Terima kasih.

  252. RIrawan mengatakan:

    O aku klik lagi ….. keluar LaTEX nya.
    Tapi mesti nunggu beberapa detik.

  253. RIrawan mengatakan:

    interesting banget.
    Tapi LaTEXnya ga muncul.
    piye to pak Herman.

  254. Herman mengatakan:

    104. Jika \ulcorner\phi\supset\psi\urcorner dan \phi adalah teorema – teorema , maka demikian juga \psi adalah teorema – teorema juga.

    Ada bukti dari penggunaan ‘ jika – maka ‘ dan dari tabel kebenaran dari ‘\supset ‘ yang mengatakan bahwa \psi benar jika \ulcorner\phi\supset\psi\urcorner benar dan \phi adalah benar.

    Premis premis \ulcorner\phi\supset\psi\urcorner dan \phi yang menghasilkan kesimpulan \psi disebut modus ponens.
    Axioma-axioma kuantifikasi bersama-sama membentuk totalitas dengan ponensial-ponensial dari axioma-axioma tersebut adalah THEOREMA.

    Theorema dapat dikarakteristikkan sebagai berikut :
    a. axioma-axioma dari kuantifikasi adalah teorema
    b. Jika \ulcorner\phi\supset\psi\urcorner dan \phi adalah theorema – theorema , maka demikian juga \psi adalah teorema – theorema juga.

    Uraian keadaan – keadaan umum dimana statemen-statemen ( pernyataan / proposisi) nya adalah teorema-teorema disebut METATHEOREMA

    101 s/d 104 adalah “initial Metatheorm” (METATHEOREMA AWAL)

    Begitu saja kok repot….
    Anggap saja tulisan ini seperti orang mabok lagi nulis komentar, saya merasa terpanggil menulis ini.

  255. Herman mengatakan:

    103. Jika \phi seperti \phi‘ kecuali untuk menampung kejadian – kejadian bebas dari \alpha‘ dimana \phi mengandung kejadian-kejadian bebas dari \alpha, maka \vdash\ulcorner(\alpha)\phi\supset\phi\; \prime\urcorner

  256. Herman mengatakan:

    \left( \alpha  \right)\phi
    artinya
    segala sesuatu sedemikian rupa sehingga
    \phi

  257. Herman mengatakan:

    101 \vdash\ulcorner\left( \alpha  \right)\left( {\phi  \supset \psi } \right) \supset  \cdot \left( \alpha  \right)\phi  \supset \left( \alpha  \right)\psi\urcorner

    102 Jika \;\alpha\; tidak\;bebas \; dari\;\phi,
    \quad\vdash\ulcorner\phi  \supset \left( \alpha  \right)\phi\urcorner

    \ulcorner\quad\quad\urcorner adalah quasi quotation : yang artinya quasi adalah mempunyai sesuatu yang seperti ………….. , sedangkan quotation adalah suatu pangsa yang proporsionil, atau tugas untuk memproduksi, atau juga berarti proporsi yang tertinggi dalam suatu populasi.

  258. Herman mengatakan:

    100. \quad Jika \,\phi\quad adalah \,tautologus,\, maka \,\vdash\phi

    Semua pernyataan tautologous adalah benar secara logika, tapi tidak semua yang secara logika benar adalah tautologous

  259. ompapang mengatakan:

    maaf ini diluar topik,hanya sekedar info untuk Pak Hendro N, masih tentang angka rumit.
    contoh meramal 2 angka buntut yang sederhana: sanepa (kalimat sandi)nya berbunyi Harjinem lunga ngaji ( Harjinem pergi belajar keguru ngaji). Dirumus pertama menjadi :jinem=16,lunga =39,ngaji=91,setelah dirumus kedua dengan dimistik menjadi :16,61,19,91,39,93,89,98,36,63,86,68. Dengan harapan TEMBUS (dapat hadiah) biasanya penjudi beli 12 nomer tersebut. Hadiahnya 70 X harga kupon undian.

  260. RIrawan mengatakan:

    Waduh am papang, ini 10 generasi lebih maju daripada para ilmuwan di NASA dan lab Airbus380. Diterusin aja: ….. darcy, kirch planck, mama lauren, gendheng pamungkas, mbah gunung sewu, …..

  261. ompapang mengatakan:

    Tak bedhek pak Hendro N mesti belum pernah beli nomer buntutan. Angka buntutan hasil undian NALO(Nasional Lotere) etungannya jauh lebih rumit lho pak, istilahnya para penjudi : NGRUMUS angka,artinya pakai rumus segala.Ada yang dikaitkan dengan mimpi bahkan angka itu bisa diMISTIK, misal hasil ngrumus ketemu buntut 2 angka yaitu 85, itu di MISTIK, cara matematikanya dikombinasi dengan probibility theorem, menjadi deretan angka:85,58.35,53,28,82,23,32. Dalam menerjemahkan angka,suku kata LU,dapat berarti TELU (3),juga WOLU (8), angka lima (5),dibalik menjadi angka dua (2).
    Demikian juga angka 6 kebalikan 9,serta 4 dapat dimistik jadi 7.
    Ngrumus itu ada bukunya lho pak, tapi bukunya jelas berbeda dengan para ilmuwan yang ngrumus semburan lumpur ini. Mungkin para ahli nanti ngrumusnya, pake rumusnya Newton,Bernoulli,Fourier,Legendre,Bessel,Laplace,Lagrange,Darcy,Kirchof, Planck,dll.yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.Ikuti saja dengan santai pak,jangan dulu tanya koreralinya,nanti kalau sudah ada hasil akhirnya saja!

  262. RIrawan mengatakan:

    Korelasinya besar.
    Kehidupan dan keselamatan manusia sesungguhnya tergantung pada ANGKA. Misalnya orang diabetis stadium kritis, makannya kan harus ditakar, harus tahu detil apa komposisinya, lalu gram-nya harus persis.

  263. Hendro Nugroho W. mengatakan:

    Apa ya korelasinya kok malah membahas angka2 yg rumit?

  264. ompapang mengatakan:

    aku mau belajar pakai latex,malah latex Pak Herman gak keluar.
    18 butir-butirnya pak Heman ompapang belum dong lho, kesimpulannya njur gimana pak?

  265. Herman mengatakan:

    maaf latexnya gak keluar

  266. Herman mengatakan:

    Mungkin ini yang dimaksud dengan ANGKA nya Pak D Rovicky

    Sebuah pernyataan yang trivial :

    1. 9 adalah lebih kecil dari, atau sama dengan, atau lebih besar dari 0

    2. diterjemahkan dalam matematika dan simbol simbol logika menjadi

    3. 9 0 Akan tetapi pernyataan

    4. setiap bilangan yang lebih kecil dari, sama dengan, atau lebih besar dari 0, mengesampingkan tinjauan dari perakitan kembali no. (1) tidak dapat diartikan dengan setiap bilangan 0, persamaan (3) adalah benar , jika kita mengira bilangan imajiner tidak dimasukkan, sementara (4) adalah salah. Pilihan (4) mengatakan bahwa seseorang dari tiga kategori mengeluarkan semua bilangan, sementara (3) mengatakan hanya tiga kategori secara bersamaan mengeluarkan seluruh bilangan. (3) lebih merupakan perluasan dari pada beberapa bentuk tertentu sebagai berikut. Bilangan apapun yang anda pilih akan lebih kecil dari atau sama dengan atau lebih besar dari 0. Dengan notasi matematik dan secara logis :

    5. Apapun bilangan yang anda pilih, bilangan itu 0. Selangkah menuju notasi logika yang lebih jauh :meringkas (5) menjadi

    6. Apapun bilangan ( bilangan itu 0 ) . Catatan, secara kontras, bahwa notasi bersifat elementer ini merestui salah kaprah (4) dibandingkan dengan betuk berikut : apapun bilangan ( itu 0 )
    Apa yang (2) katakan tentang bilangan 9 adalah, seperti yang kita catat, benar pada semua bilangan. Kenyataan ini diekspresikan dalam (3) , dan lagi di (5) dan (6).. hal ini diekspresikan di (6) dengan meletakkan “ itu “ untuk “ 9 “ dalam (2) dan mengetrapkan amalan “ apapun bilangan “. Namun dapat dicatat saat ini bahwa apa yang (3) katakan tentang 0 adalah menjadi benar untuk semua bilangan. Satu pernyataan untuk efek ini dapat dibentuk dari (3) , hanya sebagai (6) sudah dibentuk dari (2).

    7. apapun bilangan (setiap bilangan adalah lebih kecil , sama dengan , atau lebih besar dari bilangan itu ). Sekarang, bagian yang ada dalam kurung kurawal (7), menjadi :

    8. setiap bilangan adalah lebih kecil dari, sama dengan, atau lebih besar dari bilangan itu. Tetap menghendaki penerjemahan kedalam notasi baru. Selama (8) berbeda dari (3) hanya dalam menampung “ bilangan itu “ sebagai ganti dari “ 0 “, penerjemahan (3) menjadi (6) menganjurkan penerjemahan dari (8) kedalam :

    9. Apapun bilangan ( bilangan itu bilangan itu ) . Namun penerjemahan ini tidak dapat diterima, yang merubah (7) menjadi :

    10. Apapun bilangan ( apapun bilangan ( bilangan itu bilangan itu )

    11. Dimana pembedaannya menjadi hilang diantara “ bilangan itu “ yang berkaitan dengan kejadian yang lebih luar dari “ apapun “ dan “ bilangan itu “ yang berhubungan dengan bagian yang lebih dalam dari kejadian “ apapun “.

    12. Kesulitan ini dapat diatasi dengan mengeluarkan kembali (6) dan (7) dan merevisi notasi dasar kita, untuk sejumlah penandaan “ apapun “ dan “ bilangan itu “ dengan satu atau subskrip lain untuk menunjukkan bahwa keduanya bergantungan satu sama lain. (7) dan (6) boleh dirinci satu persatu :

    13. apapun bilangan ( setiap bilangan adalah lebih kecil dari, sama dengan, atau lebih besar dari bilangan itu1 )

    14. ( apapun bilangan ( bilangan itu2 0 )

    15. Sekarang bagian didalam kurung dari (11), menjadi :

    16. setiap bilangan adalah lebih kecil dari, sama dengan, atau lebih besar dari bilangan itu1, berbeda dari (3) hanya dalam mengemas “itu1” sebagai ganti dari “0”. Paralel terhadap terjemahan dari (3) kedalam (12), kita dapat menerjemahkan (13) kedalam :

    17. Apapun bilangan ( bilangan itu2 bilangan itu1 ) Yang berbeda dari (12) hanya dalam mengemas “bilangan itu1 “ sebagai ganti dari “0”

    18. Apapun bilangan yang saudara pilih akan menimbulkan apapun bilangan yang saudara pilih selanjutnya yang akhirnya adalah lebih kecil dari, sama dengan, atau lebih besar dari “pembentuk”

  267. RIrawan mengatakan:

    Aduh, ngambek atau marah itu ga ada gunanya buat lagi susah disana. Aku sih cuma nimbrung kirim pikiran disela-sela kesibukan dan 100% gratis kayak yang pak dhe kerjakan dengan blog ini.
    Cuma aku berharap, mbok pemerintah mulai gitu, kerja pakai sistim yang rasionil. Soalnya aku seringnya bukan cuma senyum, tapi gemes ….. kog yang dikerjain kayaknya ngawur, angka-angkanya tidak ada yang cocok.

  268. Rovicky mengatakan:

    – mas rirawan
    Kalau mau membantu pengambil keputusan, bisa dibuat dalam beberapa skenario atau beberapa model. Nantinya pengambil kebijakan akan “memilih” yang sesuai dg kondisi situasi poleksosbud dan buget.

    Kalau hanya satu itu namanya nyuruh :) mesti ada alternatip. Dan kalau usulan kaga ditrima ya jangan ngambeg atau marah. Sapa tau suatu saat usulannya ditrima. Kan ngga mungkin smua usulan ditima kan.

    Idep2 membuat multi hipotesa untuk diuji mana yg bener mana yg ga bener.

    Rdp

  269. RIrawan mengatakan:

    Nggak apa pak dhe,
    ide-ide, monggo. Salah satu bisa jadi awal atau kunci inspirasi.
    Yang nulis disini sudah ada yang lumayan masuk akal. Aku juga ada beberapa.
    Tapi trus yang paling penting sekarang adalah ANGKA.
    Untuk itu dibutuhkan sedikitnya 10 pakar terbaik dari macam-macam bidang, plus 5 jawara math/fisika. Kumpulkan semuanya. Tugas mereka menganalisa/mengkaji semua ide, lalu menghitung. Semua aspek harus ada ANGKA nya, detil, rinci dan lengkap. Termasuk beaya, resiko, potensi hazard, perusakan lingkungan, korban, dll.
    Maka penguasa/pemimpin tinggal memilih dan menjalankan proses pengambilan keputusan, menyusun perencanaan, budget, dst.

  270. ompapang mengatakan:

    lho,coloceum kan lebih dari 50 meter diameternya pak Dhe !Gini pak dhe, kawah lumpur ini idep-idep jadi kawah condrodimuko pemikir-pemikir Indonesia, hasilnya tentu banyak orang bodo tambah pinter,orang pinter rumangsa bodo dalam bidang ilmu eksakta maupun sosial.

  271. Rovicky mengatakan:

    –> ANGKA
    Memang seringkali ide-ide terlontar begitu saja. Yang secara ilmiah memungkinkan, tetapi ketika berhubungan dengan realitas ANGKA, hmm pak RIrawan senyum deh :)

    Sebagai gambaran ulang diameter semburan ini 50 meter !!

  272. ompapang mengatakan:

    rasanya sudah ada yang usul bentuk cerobong,tapi tanpa bola. Lha kalau bentuk corong mestinya penampangnya yang atas lebih luas , seperti kerucut dibalik atau bentuk kawah .Idenya bagus juga, bolanya tinggal ngglundungke ,tidak perlu pakai crane. Trus corongnya diameter atas berapa dan dari bahan apa? Kalau dari baja mbawa dan masangnya punya kesulitan sendiri.Bila dari beton cor ,gimana buat bekistingnya. Apalagi tingginya 20 m= gedung tingkat 6. Idenya bagus ,tapi sulit dilaksanakan dilapangan saat ini, Mungkin dibuat diluar tanggul ring pusat semburan yang sekarang,seperti ide pond susun pak Syahraz. Tapi daya dukung tanahnya cukup nggak? Konstruksinya berat lho!
    Gambaran saya seperti arena gladiator atau coloseum di Roma.

  273. sony s mengatakan:

    Pakar-pakar sudah bicara banyak mengenai penanggulangan lumpur.
    saya sendiri kurang mengerti mengenai hukum hukum fisika yang bisa diterapkan,
    tapi saya ada usulan untuk membuat corong tepat diatas lubang lumpur.
    corong tersebut melebihi permukaan tanah 20 m. fungsinya untuk mengalihkan aliran lumpur ke bagian bumi yang lain. setelah dibuat corong tersebut baru dimasukan bola bola tsb.
    thank you

  274. RIrawan mengatakan:

    Orang girang melihat suksesnya HDCB 35 menit menghentikan semburan lumpur. kemudian meskipun semburan muncul lagi tetapi dengan debit lemah, tetapi gas dan uap makin besar. Harapan pada keberhasilan HDCB menjadi sangat besar.

    Gejala diatas merupakan konfirmasi bahwa sumbernya adalah energi geothermal/hidrothermal sebesar lebih dari 100 Mw dari kedalaman 3000 m. Semoga kita tidak lupa kegirangan, bahwa energi itu kekal. Selama 35 menit itu ada energi 209,88 GJ, yang tidak mungkin hilang begitu saja. Jika berhentinya lumpur 12 jam, maka energi yang mampat sebesar 4.3 TJ atau 1/13x bom atom Hiroshima 06/08/1945.

    Kalau saya salah, tidak masalah. Suksesnya karya agung HDCB bakal merupakan berkah yang sangat besar. Dan saya hanya ingin menyarankan, agar setiap langkah yang berhubungan dengan energi raksasa ini diputuskan secara berhati-hati.

    Tentang insersi HDCB sudah pernah saya menulis komentar No.57, Febr.21 at 1:49 pm dalam link diatas “Hari Ini Bola Beton Mulai Sumbat Lumpur”, 16 Febr.2007, yang saya kutip lagi ringkasannya disini:

    Kita bisa meruntut perkiraan aksi-reaksi yang terjadi:
    1. Bola-bola mempersempit penampang lubang,
    2. Tekanan fluida dibawah bola naik,
    3. Kecepatan lumpur menjadi lebih deras/cepat, melejit lewat samping-samping bola-bola. Jika bola-beton mencekik lubang hingga tersisa 10%, maka aliran lumpur membawa energi kinetis yang naik 100x dan menghancurkan dinding di atasnya.
    4. Pada suatu titik bisa terjadi keseimbangan antara gaya berat Bola-bola dan gaya keatas akibat arus, sehingga Bola-bola berhenti. Apalagi jika lewat rekahan miring horizontal,
    5. Uap dan arus lumpur panas yang lebih cepat akan mengikis dinding terowongan disamping tempat persinggahan Bola-bola, sehingga terowongan Lapindo menjadi lebih luas dan lega.
    6. Akibat makin leganya terowongan, bola-bola akan bergerak turun, meninggalkan terowongan besar diatasnya.
    Apa akibatnya dengan lubang yang membesar?
    Lumpur dan uap menjadi lebih santai melenggang naik lewat terowongan yang lebih luas dan lega, sehingga mesin energi di bawah sana merasakan berkurangnya beban yang dideritanya dengan:
    ½ .( λ1 . u1²/d1 – λ2 . u2²/d2). L/g , maka lebih banyak lumpur yang berhasil disemburkannya naik keatas. Kerja mesin energi di bawah sana menjadi lebih efisien menaikkan lumpur keatas, sebab lebih banyak energi yang berhasil dikonversikan ke energi potensial.

  275. ompapang mengatakan:

    Pak Gita,seluruh bangsa kita memang mengharapkan happy ending atas musibah Lusi ini.
    Salam !

  276. gita mengatakan:

    mohon maaf dengan komentar saya sebelumnya yang kurang bersyukur ini….semoga penderitaan dan keruwetan ini cepat berlalu…

  277. ompapang mengatakan:

    ya kalau ada yang membayangkan itu nikmat, bisa saja lha wong hanya angan-angan.Angan-angan ya tetap melayang-layang,bisa kesana .bisa kemari.Misal kita mengangankan lempung dari lumpur dijadikan keramik dinding dan lantai WC atau kloset untuk buang hajat besar, sama-sama untuk hajat besar tetapi kan tidak harus melalui proyek. Pemda tinggal pasang iklan, dijual lempung dari lumpur lapindo sebagai bahan tambang galian C dengan kandungan silikat X %,kandungan aluminium Y %,magnesium Z %,cocok untuk keramik KW I, jumlah total sebanyak 34 juta m3, harga perm3 Rp50.000,–, tinggal ambil, akses jalan masuk sudah ada. Saya kira banyak perusahaan keramik yang mau mengambil kesempatan ini, asal sudah ada penelitian awal lempung dari lumpur sebagai bahan baku keramik. Tidak perlu proyek-proyekan atau tender-tenderan,cukup seperti ambil pasir dari cekdam G.Merapi di Srumbung Magelang, Cangkringan di Klaten atau Kali Boyong di Yogyakarta. Disini yang berperan justru perusahaan pengangkutan pemilik truck yang nota bene perusahaan kecil/perseorangan untuk mengangkut ke pabrik keramik.

  278. gita mengatakan:

    Apabila proyek sewerage ini berhasil
    Bayangkan saja NIKMATNYA …!!!

    Buang hajat besar secara besar-besaran, yang disalurkan melalui proyek perpipaan besar, diatas kebodohan besar orang-orang
    besar, dipicu oleh ketamakan perusahaan besar, dinegara yang besar ini.Ini semua AKAN dikerjakan oleh perusahaan besar.

    Namun pemenang tendernya adalah PERUSAHAAN KECIL.

  279. ompapang mengatakan:

    OK,pak Herman setuju to? Kita usul bersama, siapa tahu pemda mau terima usulan kita, tapi jangan saya yang ditugasi, kita think tank nya saja bersama bapak-bapak yang lain.
    Untuk pipa sewer berbahan grabah, kita anjurkan menggandeng PT DUSASPUN, itu lho perusahaan gorong-gorong untuk sanitasi kota. Perusahaannya ada di Jakarta. Cetakan dia kan sudah punya mulai dari diameter 40 cm sampai 2 meter lebih.

  280. herman mengatakan:

    Musium LUSI ini dibangun dengan bahan bakunya minimal 80% Lumpur Sidoarjo.

  281. herman mengatakan:

    Musiumnya sudah ada di Sidoarjo, namanya musium Mpu Tantular .. lumayan besar juga besarnya tapi seperti biasa berisi sejarah dan perjuangan. terus … ompapang jadi ketua panitia sementara independen (ad hoc) pembangunan perluasan musium, sampai yang permanen terbentuk. Tentu saja semua dapat propery right.

    Lumayan untuk pariwisata….foto-foto saja sudah menarik. Terus leaflet … video clip … buku .. journal dll .. patung dan ornamen berbahan lumpur LUSI yang sudah disterilkan`… punya nilai tersendiri bagi konsumen ( seperti satu bungkus kecil runtuhan tembok berlin yang berharga 1 dollar )

    Harapan saya adalah kesepakatan seluruh kabupaten / kota memakai pipa sewer berbahan gerabah ( termasuk tapi tidak dibatasi berbahan lumpur LUSI dan dibuatnya peraturan deterjen/sabun bebas fosfat). Pipa gerabah ini dijamin bebas serangan sulfat dan bebas karsinogenik. Seperate sewer : saluran limbah domestik dipisah dari saluran limpasan air hujan. Di Belanda pipa beginian umurnya banyak yang sudah 50 tahun dan berfungsi sempurna.

  282. ompapang mengatakan:

    pak Herman. bagaimana kalau besok setelah masalah lumpur sudah teratasi,kita usulkan kepada Pemerintah Pusat maupaun Daerah, agar di Porong dibangun sebuah Museum Mud Volcano seperti Museum Merapi di Yogyakarta. Di Museum nanti dipamerkan selain HDCB dan RIG pengeboran Lapindo, juga dipamerkan alat -alat peraga lain yang belum pernah dicoba untuk penanggulangan semburan lumpur hasil pemikiran para ilmuwan maupun praktisi, misalnya desain pond susunnya Pak Syahraz, desain cerobong lumpur,kanal-kanal V nya pak R Irawan, usulan penutupan dengan ijuk, usulan penutupan dengan semen 20.000 zak, dengan batu kali, dengan plat baja ( oleh PII ) dll. Juga relief well dan snubbing unit dan pompa-pompa yang macet serta miniatur kanal yang penuh endapan. Pokoknya semuanyalah.
    Juga dipamerkan usaha-usaha melalui doa oleh tokoh agama, penutupan semburan dengan kambing hidup, ayam hidup dll oleh para normal termasuk usulan memanggil paranormal dari Purwakarta yang katanya dapat menundukkan penunggu bumi Porong yang berupa KEPITING RAKSASA.
    Saya rasa Museum yang memvisualisasikan usaha penanganan semburan lumpur baik dalam bentuk diorama maupun audio-visual dengan media elektronik akan banyak menarik wisatawan dalam dan luar negeri ( wisnu & wisman).
    Dimuseum nanti kita bahkan dapat membuka file-file web blog ini untuk melihat komentar-komentar orang-orang yang menaruh perhatian pada masalah mud volcano.
    Kalau museum nanti jadi terwujud saya akan menyumbangkan hasil othak-athik saya yang walau tak digunakan namun saya yakin dapat membuka wawasan bagi para pengunjung. Diantaranya adalah alat peraga beberapa simulasi yang pernah saya uraikan di blog ini, ditambah PAYUNG BAJA ber TOMBAK yang saya sebut sebagai Payung Fantasi. ( ctt : disesain untuk dipasang dikedalaman lebih dari 1000 meter, bertujuan mematikan semburan 100 % dengan bantuan grouting semen yang disusulkan mengikutinya sehari kemudian ) Mudah-mudahn ada orang Pemerintah membaca tulisan ini,terutama Dinas Pariwisata TK I/TKII.

  283. herman mengatakan:

    Peristiwa yang mahal dan penuh pengorbanan dan harapan ini seyogyanya menjadi satu opportunity/kesempatan bagi para ilmuwan mengerahkan segala sumberdayanya untuk menemukan sesuatu.

    Contoh abstrak :
    Kandungan air tanah biasanya mengandung besi [FeIII)] masalahnya apakah ini direduksi menjadi [Fe(II)], ini berarti ada reaksi dilingkungan akuatik sedimen anaerobik dari konsekuensi kimia organik dan anorganik di lingkungan ini. Apakah di lingkungan laut (bisa jadi lingkungan bisnisnya pak adit) bakteri-bakteri pereduksi sulfat (desulvovibrio) dapat memproduksi H2S, mereduksi besi oksihidroksida2 membentuk sulfida besi? Apakah siderit (FeCO3) hadir disedimen yang terbawa lumpur? Apakah siderit ini stabil dilingkungan H2S. Pada intinya apakah gas H2S ini dibentuk oleh bakteri ( proses geomikrobiologi) atau oleh proses geokimia dari reaksi sulfur dan air atau proses volcano? Yang pasti suhu air lumpur di kedalaman sudah terdeteksi oleh alat ukur.

    Atau abstrak-abstrak yang lain dari berbagai cabang ilmu pengetahuan bisa dibentuk dengan logika sederhana.

    Peristiwa yang menimbulkan banyak korban moril maupun materiil ini mohon jangan disia-siakan bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
    Monggo bapak-bapak peneliti ……….!!

  284. ompapang mengatakan:

    Pak dhe, rumangsa saya slingnya hanya untuk nyemplungkan,jebulannya difoto memang gak ketok rantainya.Saya lihat gambar bola diuntai dengan sling yang cetho welo-welo ya di buletin media centernya Timnas no 13.(Februari 2007 ).Heran saya itu lho pak dhe, kok dinamakan HDCB, mbok “Killing mud softly ” kan tidak bias pengertiannya. Dulu saya kira rantainya untuk menambah bobot supaya bisa melawan gaya sembur lumpur. Jebulannya ompapang tidak jeli mengamati gambar yang sebetulnya tidak ada rantai untuk untaian bola.
    Btw, pak dhe ya penggemar buku Winnetou to ? Howgh !!

  285. Rovicky mengatakan:

    Looh wong ditulis gini kok :
    Setiap untai terdiri atas dua bola besar dan dua bola kecil. Bola besar masing-masing berdiameter 40 sentimeter. Berat setiap bola berat 40 kilogram. Bola yang kecil, masing-masing berdiameter 20 cm dengan berat 16-17 kilogram
    Coba tengok fotonya sini :
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-semburan/

  286. ompapang mengatakan:

    Pak dhe Rovicky dll, ternyata HDCB tidak ada rantainya, tiwas dinggo eyel-eyelan, mumbul ora … mingslep …ora …. Piye yen rotasi,bundet rantene pora dsb..dsb
    Jebulannya bolanya dirangkai dengan sling baja. Kudunya bukan HDCB, tetapi HDSWRB (High Density Steel Wire Roped Ball), ngono kok dijenengke HD CHAINED BALL. Trembelane !!

  287. ompapang mengatakan:

    pak Dedi, itu sudah didesain oleh pak Syahraz,detil lagi,namanya pond susun .Coba tengok topik yang lalu (e,lupa, topik apa ya namanya pak Syahraz ? )

  288. Dedi Ganedi mengatakan:

    Kalau bisa tangggul terus dipertinggi dan diperlebar hingga menjadi danau di atas kota Sidoardjo. Wah luar biasa, bisa menjadi salah satu keajaiban dunia. Manfaatnya? Fantastis.

  289. RIrawan mengatakan:

    He he he pak Dedi, saya sih memang pernah lulusan SD.
    Tapi debit semburan ya jangan tambah besarlah. Sekarang saja tiap hari sudah seluas lapangan bola setinggi 15 meter.

  290. Dedi Ganedi mengatakan:

    Pak RIrawan, Pak Herwan

    Saya senang banyak penemu besar dari Indonesia, baik dari almamater saya atau bukan, lebih senang lagi dari lulusan SD yang berarti mencari ilmu pengetahuan tidak harus masuk perguruan tinggi yang mahal biayanya. Semoga bola-bola beton yang merupakan hasil karya bangsa Indonesia ini yang diterapkan pertama kali di dunia berhasil memberikan dampak positif. Jika lubang semburan bertambah besar karena bola-bola beton, diharapkan jumlah aliran lumpur bertambah besar pula, sehingga bertambah besar pula energi yang bisa dimanfaatkan.

    Rumus yang melibatkan banyak energi panas berupa derajat Kelvin menjadi energi listrik sulit diterapkan untuk turbin karena turbin membutuhkan energi kinetik untuk menghasilkan listrik. Saya pikir, panas hanya berpengaruh pada bobot isi fluida penggerak turbin dan berpengaruh tidak langsung untuk meningkatkan debit.

  291. RIrawan mengatakan:

    Terima kasih dan salam hangat, pak Herman

  292. herman mengatakan:

    Abaikan saja Formula does not parse

    Soalnya maunya contoh script ternyata dirender juga dan hasilnya
    Formula does not parse

    untuk contoh no.1 script LaTeX nya
    f(x)=\int_{-\infty}^x e^{-t^2}dt tapi untuk komentar harus diletakkan di spasi diantara
    $latex $

    Setelah ini Pak RIrawan coba buat teorema atau metateorema sendiri, sehingga analogi-analogi lebih berdasarkan logic dan ada buktinya secara matematis.

  293. herman mengatakan:

    Halo Pak RIrawan

    Juga ompapang , dedi dan rekan-rekan semua
    Coba dulu ini …. biar rumus-rumus tambah siiiip !!! Ok

    Pertama-tama download dulu LaTex editor yang kompak, download di
    http://test.izyba.com/equationeditor/equationeditor.zip
    atau langsung link ke
    http://www.codecogs.com/pages/submit/equationeditor.php

    Software yang lengkap banyak ….. tapi yang ini enak singkat dan kompak

    Terus utak atik dulu, kalau sudah OK
    Tulis rumusnya
    Terus ngetiknya di kotak komentar WordPress disini pakai script ini

    (........................formula yang anda inginkan.........)

    $latex $

    Contoh

    1.f(x)=\int_{-\infty}^x e^{-t^2}dt

    Hasilnya

    f(x)=\int_{-\infty}^x e^{-t^2}dt

    Silakan mencoba ….

  294. RIrawan mengatakan:

    makasih banget pak Herman.
    Aku gatek kalau soal ini.
    Tapi kalau baru dibuka, pas rumusnya suka muncul-hilang.

  295. herman mengatakan:

    Halo Pak RIrawan

    Juga ompapang , dedi dan rekan-rekan semua
    Coba dulu ini …. biar rumus-rumus tambah siiiip !!! Ok

    Pertama-tama download dulu LaTex editor yang kompak, download di
    http://test.izyba.com/equationeditor/equationeditor.zip

    Yang lengkap banyak …tapi ini enak singkat dan kompak

    Terus utak atik dulu, kalau sudah OK ngetiknya di Commets nya WordPress pakai script ini

    (........................formula yang anda inginkan.........)

    $latex $

    Silakan mencoba ….

  296. RIrawan mengatakan:

    ha?
    Pak Herman, bikin format rumus itu gimana?

  297. herman mengatakan:

    Pak Dedy

    Coba pakai LaTeX biar lebih cakep lagi OK !!!

    \frac{dE}{dt}=c\cdot\Delta T\cdot\rho\cdot\frac{dV}{dt}

  298. RIrawan mengatakan:

    Pak Dedi, penemu-penemu hebat sepanjang sejarah manusia umumnya bukan pakar ilmu atau profesor universitas, melainkan orang-orang kreatif, yang sebelumnya pekerja praktis atau anak desa. Begitu pula pengusaha sukses bukan pakar manajemen atau jawara analis bisnis.

  299. RIrawan mengatakan:

    Memasukkan bola-bola beton itu juga berarti menambahkan energi ke dalam lubang sebesar : E = mgh = 147 untai x 225 Kg/untai x 9,80665 m/s² x 3000 m = 973.064.846 Joules. Energi yang cukup untuk sebuah Kijang penuh penumpang dari Jakarta ke Bandung.

  300. Dedi Ganedi mengatakan:

    Pak RIrawan, Terima kasih. Lupakan saja mengenai perhitungan jumlah uang yang bisa tidak tepat dan juga membutuhkan perhitungan investasi dan cash flow. Anggap saja maaf hanya “terapi kejut”. Kita arahkan perhatian kita kepada jumlah watt yang dapat dihasilkan dari Semburan Lumpur Lapindo.

    Perhitungan watt yang kami gunakan adalah sederhana seperti yang digunakan oleh beberapa industri pembuat mesin turbin. Yaitu dengan rumus Watt = m(head) X liter/detik (flowrate) X 9.8 m/detik2 (gravitasi) X (% efisiensi).

    Tentu data yang kami gunakan bukan hasil penelitian kami, melainkan dari beberapa tulisan yang kami baca dari situs ini.

    Harapan kami tiada lain agar ada orang-orang yang berkepentingan melakukan penelitian lebih jauh dan tidak terburu-buru untuk memanfaatkan Semburan Lumpur Lapindo seoptimum mungkin yang memang seharusnya ada.

    Terima kasih.

  301. RIrawan mengatakan:

    Tentang gas H2S sudah pernah saya tulis komen Maret 1st, 2007 at 9:39 pada artikel DAMPAK INSERSI HDCB 1-2 MINGGU LAGI, Maret 1st, 2007, yang saya kutip ulang ringkasannya dibawah ini.
    Gas H2S dalam kadar kecil (sekitar 1 ppm hingga 5 ppm) dapat dikenali dari baunya yang seperti telur busuk, meskipun sebagian orang dapat mentolerirnya. Jika konsentrasinya naik, maka akan terasa makin memualkan. Tetapi pada kandungan diatas 100 ppm, indra penciuman tidak dapat lagi berfungsi, karena gas itu telah melumpuhkan syaraf penciuman.
    Bagaimana munculnya?
    H2S (hydrogensulfide) ditemui di semua lingkungan geothermal, seperti banyak di Selandia Baru, dan disana dinyatakan sebagai gas beracun yang sangat berbahaya. Senyawa (MS) antara mineral dan belerang atau sulfur yang ada dalam batuan cair (magma) dengan suhu 650 – 1300 derC jika ketemu air (H2O), akan bereaksi menjadi oksida mineral (MO) dan hidrogensulfida (H2S). Di lingkungan geothermal alamiah, H2S larut dalam air panas atau lumpur yang muncul ke permukaan. Pada proyek sumber tenaga geothermal, H2S ikut naik bersama uap air tekanan tinggi, tetapi biasanya dibuang lewat cerobong jangkung ke atmosfir sehingga hilang tertiup angin dan cukup aman, kecuali saat udara berkabut pekat sehingga H2S bisa turun ke tempat rendah dengan kadar yang membahayakan, sebab beratnya 1,189 lebih besar daripada udara.
    Adanya gas H2S itu menandai adanya aktifitas geothermal atau hidrothermal.
    Naiknya kadar H2S bisa disebabkan oleh naiknya temperature yang mendorong makin aktifnya reaksi kimia yang meningkatkan senyawa belerang dengan zat air. Naiknya temperature di sumber geothermal ditandai dengan makin banyaknya uap yang keluar dan tentu saja H2S. Oleh sebab itu, ada baiknya setiap hari dilakukan pengamatan atas naik-turunnya kadar H2S secara ketat selama proses insersi HDCB.

  302. RIrawan mengatakan:

    Pak Dedi Ganedi, Maret 9th, 2007 at 8:17, saya setuju bola beton menggerus dan memperbesar lubang. Disini berlaku hukum kontinuitas, bahwa penyempitan lubang akibat adanya bola-bola akan menaikkan kecepatan lumpur yang lewat disamping kumpulan bola-bola (seperti kita pencet ujung selang air). Akibatnya dinding lubang diatasnya rontok dan ikut arus naik keatas. Buktinya, LUMPUR YANG KELUAR MAKIN KENTAL.

    Om papang, Maret 9th, 2007 at 8:41, betul om, turbin kaplan bisa menghasilkan sampai 1 Mw lebih, asalkan diletakkan langsung di mulut semburan. Tapi semua lumpur harus diarahkan 100% lewat turbin itu oleh pipa yang ditanam ke dalam lubang semburan.
    Kalau lewat kanal U atau V terbuka, misalnya lumpur dinaikkan dulu 39 m pakai pond-susunnya pak Syahraz, maka lumpur bakal bisa mengalir turun sejauh 2 Km (kira-kira dari BPJ1 sampai ke kali Porong) tanpa ada endapan lebih-kecil 0,6 mm. Tapi katanya sekarang lumpurnya mengandung butiran yang lebih besar, sehingga mungkin perlu lebih tinggi lagi. Kalau kanal U atau V ini mau dipasangi turbin listrik, maka ketinggiannya harus naik lagi, sebab 39 m itu cuma pas untuk melawan geseran pada dasar kanal dan turbulensi yang cukup untuk mencegah endapan.

    Pakde Rovicky, Maret 9th, 2007 at 8:44, lha kekekalan energi adalah realitas paling dasar dari alam. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan, melainkan cuma bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lain, namun jumlah energi itu tidak pernah berubah. Dan ini yang tanda-tanya dalam konsep HDCB, jelas-jelas ada 100 Mw energi yang terus-terusan memancar, lalu mau dicekik 70% pakai HDCB, ya paling jadi panas. Itu rotasi/vibrasi/translasi kan cuma mekanisme yang menyebabkan perubahan bentuk energi.

    Pak Dedi Ganedi, Maret 9th, 2007 at 10:13, dari panasnya saja (uap dan lumpur panas) terkandung energi sebesar: dE/dt = c . ΔT . ρ . dV/dt = 4,18 KJ/Kg.K x 2 K x 1000 Kg/m³ x 125000 m³/hari = 12094 Kw. Ini sederhananya, kita anggap ada 125000 m³/hari air panas yang muncrat dan kita ambil cuma 2 derK panasnya. Jadi kalau cuma 200.000 Watt saja mestinya gampang (bukan 200.000 Kw atau Rp 40 juta/jam toh?). Tapi mesinnya sepraktis apa, pak Dedi?

    Om papang, Maret 9th, 2007 at 12:44 pm, 100% setuju sama om papang. Konsep HDCB kayaknya menabrak “the first law of thermodynamics” (Q = ΔU + W), bahwa panas bertambah sebanyak perubahan energi di dalam sistim ditambah kerja yang dilakukan di dalam sistim itu. Jadi HDCB tidak mengurangi jumlah energinya, cuma mengubahnya jadi panas. Dan sangat logis dugaan om papang, bahwa suhu turun, bisa jadi akibat oplosan tambahan material dari dinding yang tergerus.

    Pak Janatan, Maret 9th, 2007 at 12:54 pm, I’m in the same opinion as yours. Mud eruption could be stopped, if the source of 100 Mw energy, which I believe is hydrothermal, can be stopped, a.o. by hindering water entering into molten rock chamber beneath its overlying mantle, which was destroyed by drilling and jarring activities.

    Om papang, Maret 9th, 2007 at 1:52 pm, la abotè sa’iki nambah, soale rapat-jenise oplosan luwih gede ketimbang sak durunge.

    Pak Dedi Ganedi, Maret 12th, 2007 at 2:11, mesinnya kayak apa, pak?

  303. RIrawan mengatakan:

    Tentang insersi HDCB sudah pernah saya menulis komentar No.57, Febr.21 at 1:49 pm dalam link diatas “Hari Ini Bola Beton Mulai Sumbat Lumpur”, 16 Febr.2007, yang saya kutip lagi ringkasannya disini:

    Kita coba menebak apa yang kira-kira bakal terjadi dengan pencemplungan untaian Bola-bola Beton. Kita bisa meruntut perkiraan aksi-reaksi yang terjadi:
    1. Bola-bola mempersempit penampang lubang,
    2. Tekanan fluida dibawah bola naik,
    3. Sesuai hukum Bernoulli, kecepatan lumpur menjadi lebih deras/cepat, melejit lewat samping-samping Bola-bola.
    - misalnya Bola-bola menutup ½ lubang, maka kecepatan arus v naik 2x, energi kinetis ½.m.v^2 naik 4x
    - tapi kalau yang disumpel, bukannya ½ lubang, melainkan cuma 10% lubang yang disisakan, kecepatan arus akan naik 10x, sehingga lumpur yang nuncrat akan membawa energi kinetis 100x dan menghancurkan dinding didepannya.
    4. Pada suatu titik bisa terjadi keseimbangan antara gaya berat Bola-bola dan gaya keatas akibat arus, sehingga Bola-bola berhenti. Apalagi jika lewat rekahan miring horizontal,
    5. Uap dan arus lumpur panas yang lebih cepat akan mengikis dinding terowongan disamping tempat persinggahan Bola-bola, sehingga terowongan Lapindo menjadi lebih luas dan lega.
    6. Akibat makin leganya terowongan dan getaran arus, Bola-bola akan bergerak turun, meninggalkan terowongan besar diatasnya.
    Apa akibatnya dengan lubang yang membesar?
    Lumpur dan uap menjadi lebih santai melenggang naik lewat terowongan yang lebih luas dan lega, sehingga mesin energi di bawah sana merasakan berkurangnya beban yang dideritanya dengan:
    ½ .( λ1 . u1^2 /d1 – λ2 . u2^2 /d2). L/g , maka lebih banyak lumpur yang berhasil disemburkannya naik keatas. Kerja mesin energi di bawah sana menjadi lebih efisien menaikkan lumpur keatas, sebab lebih banyak energi yang berhasil dikonversikan ke energi potensial.
    Suatu ketika, dalam perjalanannya sang Bola masuk ke terowongan sempit dengan dinding-dinding granit yang sangat keras dan tahan erosi. Ia didorong oleh tekanan dan arus dari bawah, sehingga mestinya bisa kembali keluar atau mengambang bebas dalam arus lumpur. Namun Bola-bola susulan yang dicemplungkan setiap hari, menekannya dari atas. Alhasil, sang Bola terjepit diam bersama teman-temannya di terowongan batu granit. Maka lumpur-lumpur terpaksa memperlambat diri dan antri lewat, sebab jalan tol nya ditempati Bola-bola yang ngetem di tengah jalan.
    Tetapi mesin tungku panasnya dibawah sana belum dimatiin dan masih terus mengeluarkan energi 100 Mw? Energi itu menaikan suhu uap yang tidak dapat keluar, sehingga tekanan naik secara isentropic exponential. Tekanan yang tinggi itu bisa saja menendang lagi Bola-bola keluar terowongan granit, sehingga praktis lumpur-lumpur dapat mengalir bebas lagi. Tetapi bagaimana kalau Bola-bola itu kecepit, tidak mau keluar? Beberapa kemungkinan bisa diuraikan, misalnya: tungkunya pelahan-lahan mati sendiri sebab tekanan tinggi menghambat air turun ke magma panas, atau hanya uap panas tanpa banyak lumpur yang menerobos keluar sampai ke atas, atau ….. ini yang saya takutkan: lumpur dan uap akan mencari dan membuat sendiri terowongan-terowongan baru.

  304. Dedi Ganedi mengatakan:

    Shahraz,

    Turbin diletakan jauh dan aman dari lubang lumpur.

    Fluida yang keluar dari turbin mengalir melalui saluran yang dapat dimanfatkan untuk transportasi air atau rekreasi, PAM, perikanan, dan pertanian yang dapat meghasilkan keuntungan fantastis.

    Bagi kami, semburan lumpur Lapindo adalah berkah bagi PT Lapindo dan Pemda Jawa Timur.

  305. ompapang mengatakan:

    iya,ya,wong gak ono flow metere. Kabeh gur etung-etungan ono kertas,pira really flowing e yo ? Nek debit kali biso dietung, seepage bendungan ya ana bagian sing dianggo ngetung. Bareng semburan lumpur? Sapa sing memastikan yen 120 ewu m3/hari, aja-aja mung 50 ewu apa malah 200 ewu ya pak Yanatan ?

  306. Janatan mengatakan:

    It will only make the crater much bigger. If the crater walls were also concrete, it would indeed slow the flow very slightly due to the frictional pressure losses. It will not solve the problem and stop the flow. Of course, success will be claimed as who can know how much mud is really flowing.

  307. ompapang mengatakan:

    terima kasih kepada Pak Rovicky atas diberikannya ruang diskusi HDCB
    Kalau yang dimaksud dalam kasus pemasangan baling-baling, energi aliran lumpur akan diserap sebagian oleh baling-baling dan berubah menjadi berupa torsi (kg-m) dan melalui porosnya akan dapat dimanfaat sebagai daya out put yang dapat dimanfaatkan untuk memutar generator listrik.
    Apabila yang dimaksud energi yang diserap bola-bola beton akan dikemanakan sesuai hukum kekekalan energi, mungkin akan menjadi tenaga impact atau benturan antara bola-bola yang kemudian jadi kalor, seperti kalau kita bikin pisau dari paku,kita pukul dengan martil supaya gepeng,paku menjadi panas.Dapat juga karena bola-bola itu tidak berbenturan,tetapi menari-nari seperti gaya bertinju Mohamad Ali yang membikin lawannya kehabisan energi. Bola-bola itu dalam gerakan revolusi dalam aliran akan mengerem laju aliran,sehingga kecepatan aliran berkurang,sehingga tenaga kinetisnya berubah menjadi tubulensi. Gerakan turbulensi itu sendiri sudah menyerap energi hidroliknya, yang kemudian berubah menjadi panas/kalor. Kalau bola-bola tersebut mengadakan gerakan translasi melawan aliran, mereka dapat menyerap energi seperti gerakan revolusi tersebut saya percaya.Tapi kalau bola-bola berotasi seperti dijelaskan oleh TIM HDCB dalam usaha menyerap energi,saya tidak percaya, teneh rantene bundet!Mereka akan saling melilit dengan rantai yang terpasang padanya.BUNDET.
    Yang belum ketemu nalar saya itu adalah katanya keberhasilan bola-bola itu diantaranya adalah turunnya suhu lumpur sesudah sampai dipermukaan antara 1-2 derajat C. Ini bertolak belakang dengan pemahaman saya seperti uraian diatas.Seharusnya kalau energi kinetis lumpur diubah menjadi kalor akan menyebabkan KENAIKAN suhu. bukan PENURUNAN suhu. PARADOKS inilah yang membuat belum ketemu nalar saya. Saya kuatir jangan-jangan turunnya suhu lumpur disebabkan adanya tambahan material dari dinding yang tergerus atau dari bolanya sendiri yang hancur , sehingga mengoplos lumpur sampai turun suhunya,seperti usaha kita mencegah gelas pecah dengan menambah gula pada kopi/teh yang akan kita seduh menjadi kopi/teh tubruk. Jadi jangan-jangan turunnya suhu lumpur keluar bukan menunjukkan keberhasilan,tetapi kegagalan (?)

  308. Syahraz mengatakan:

    Nice Idea !!! Tapi butuh tinggi jatuh yang “tinggi” lho…. Nanti kan jadinya seperti PLTA.

    Kalau turbinnya didalam sumur ya suatu suaat bakal susah maintenance-nya

  309. Dedi Ganedi mengatakan:

    Semburan Lumpur Lapindo sedikitnya dapat menghasilkan energy listrik 200.000 watt. Harga 1kwh = Rp. 200. Satu jam menghasilkan 200.000 X 1 X 200 = Rp.40 juta. Sehari (12 jam) menghasilkan = 12 X 40 juta = 480 juta. Sebulan (25 hari)menghasilkan = 25X480 juta = Rp 12 milyar. Setahun menghasilkan Rp. 144 milyar.
    Tiga puluh tahun (umur Lapindo) = 30 X 144 milyar X 200% (inflasi) = Rp. 8.6 trilyun.

  310. Rovicky mengatakan:

    OmPapang
    Mestinya kita percaya adanya kekekalan energi kan ?
    Kalau dalam hal ini energi ini diubah, hilang atau secara alamiah dibuang kemana ya ?
    Ataukah menjadi energi swara gludug-gludug karena bolanya bersentuhan. Atau akan terkumpul, terkonsentrasi, dimana suatu saat menjadi besar dan kluar juga akhirnya, ntah kapan ?

  311. ompapang mengatakan:

    Kesulitannya adalah aliran lumpur butuh kemiringan (i) yang cukup dan penampang yang tidak sangat lebar. Ide pak R Irawan tentang pengaliran lumpur melalui kanal V,mungkin cocok untuk menghasilkan listrik bila dipasangi kinetik turbin seperti turbin air yang banyak dijumpai didesa-desa. Kalau memasang propeler/baling-baling kapal sejenis turbin Kaplan didalam lubang lumpur, mungkin dapat dilakukan dengan membuat by pass menggunakan culvert beton, sehingga sesudah melewati turbin lumpur masuk kesaluran pembuangan yang untuk ke laut masih butuh pemikiran.

  312. Dedi Ganedi mengatakan:

    Bola-bola beton hanya akan memperlebar lubang semburan lumpur. Turbulensi fluida dan bola-bola beton akan menggerus dinding lubang semburan yang berupa tanah lunak.

    Bola-bola beton pada akhirnya akan pecah karena suhu yang tinggi dan bentuan antar bola.

    Kami mempunyai solusi terbaik untuk mengatur aliran lumpur Lapindo yang dapat menghasilkan energi listrik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: