Mengalirkan Lumpur Secara Optimal

mengalirkan-lumpur.pngKalau anda mengikuti diskusi serius dengan angka-angka tentang HDCB tentunya anda mengenal RIrawan. Beliau sekarang tidak berbicara subsurface (bawah permukaan), tetapi beliau sekarang ebrbicara soal penanganan permukaan dan jangan kaget …

Komentar serta tulisan tanpa hitungan dan angka ? Wah itu bukan gaya RIrawan.

Penasaran isinya ? silahkan klick sini :

mengalirkan_lumpur_secara_optimal_rev-02.doc

Design kanal yang dibuatnya seperti dibawah ini. Desain ini tidak sertamerta digambar begitu saja. Dan sesuai dengan tujuan nya untuk efisiensi, maka hitungan detilnya bisa dilihat di disini

design-kanal.png

trimakasi Pak RIrawan

Iklan

161 Responses to Mengalirkan Lumpur Secara Optimal

  1. Zia Ade berkata:

    yaaaaaaa tinggalkan saja lapindo , indonesia ini kan luas , mending untuk bangun yang lain, di sekitar sidoarjo kan masih banyak tanah 2 negara yang kosong
    debat tidak ada habis-habisnya tipas kesel

  2. inyo berkata:

    iya bang, soalnya hr ini khan hari ultah “LuSi” yg ke 2, kita kumpulin lagi temen2, kita buka “warkop”nya dg wacana baru, biar lebih “seger”, gitu.

    • Imprasart berkata:

      OOOoooo, alllaaaa, sekarang sudah empat tahun, Pak,
      tulisan2 ga ada yang nggubris,,, mungkin BPLS itu,
      paling pinter sak ndoya, , , buktinya Pak Presiden ,
      kecewa , , , sudah 4,35 T , lho Pak , DIP and APBD,
      Wueenaakk , tennnaan , ,

      Apakah diantara Bapak2 sudah ada yang dihubungi BPLS?

      Wong upaya pendekatan Mulut sumur aja ,nggak ada ,?
      Bagaimana mau menutup mulutnya ? wadduuh, , ,
      Diakali ae rek ,

      Was,

      Imprasart.

  3. usil berkata:

    Eh tumben pak Inyo nongol nih!
    Memang 2-3 bulan terakhir pakar2 kita lagi bertapa cari wangsit….kali.
    Ato mungkin lagi kesel ngeliat upaya BPLS yang gak ada kemajuan,
    walo uda 2 taon lewat.
    Btw, kita doain anak omPapang agar cepat sembuh, agar beliau bisa
    bagi2 elmu lagi di blog pak Dhe ini.
    Pak Dhe, kapan waktu ke Jkt agar beri kabar, biar kita ajak ngebaso
    gitu he2x…….

  4. inyo berkata:

    Bang Usil, apa kabar ? teman2 lama skr pada kemana smua yah? koq sejak awal tahun 2008 hg skr ga muncul postingannya, saya sedikit punya usul nih, mungkin dah dipostingkan oleh OmPapang sebelumnya(payung fantasi), konsepnya Counter Wight( payung yg berlubang di tengahnya),
    begini:
    1. disisi bagian dalam sepangang tanggul ring-1(BjP-1) ditanam tiang beton(tiang pancang) berjajar & berhimpitan dg sudut kemiringan +- 60 D, kedalaman pancangnya hrs lebih panjang dr lebar tanggul, tujuannya disamping utk menahan lumpuryg keluar ke permukaan(diaplikasikan sbg counter wight), pun sekaligus utk menahan/penyangga amblesnya tanggul, diharapkan nanti yg keluar kepermukaan hanyalah air + gas aja dari poros payung yg berlubang.
    2. Dari poros payung yg belubang tsb sebagian dipasang kanal V utk mengalirkan air ke pond/kali porong/laut dan sebagian yg lain dipasang cerobong utk membuang gas-nya.
    3.saya ga tau angka2 tekniknya, sy harapkan P. RIrawan, OmPapang dan teman2 yg lain bisa menganalisa

  5. usil berkata:

    Mbak/Bu(?) Mayang, pak RIrawan sudah cukup lama gak muncul di blog ini.
    Mudah2an kalo beliau baca permintaan anda, dia bisa respons.

    Saya dan kawan2 juga sudah sangat rindu ingin baca komentar2 beliau
    yang sangat kompre itu…tapi kami juga tidak berdaya memunculkannya.
    Saat ini mungkin hanya pak Dhe Rovicky yang bisa ajak beliau agar bisa
    nulis lagi.

    Tapi saya bisa pastikan kalo pak RIrawan tidak akan keberatan jika
    etungannya di copy-pastekan. Hal ini beliau pernah utarakan kepada
    Ompapang tempo hari. Kalo mau tahu siapa Ompapang, silahkan baca
    HDCB1 dan 2.

  6. mayang berkata:

    wah.. mumet juga ya..
    pak rirawan, kalau saya mau copy paste itung-itungannya, boleh ngga?
    terimakasih

  7. Ridwan_AlFarid berkata:

    apakah ada yang punya data, viskositas rata-rata LUsi, dan partikel2 yang terkandung didalam LUSI (Lumpur Sidoarjo), Please help me???

  8. inyo berkata:

    nambah info PapaTITA: klo di mouse ga ada scrollnya, pada menu internet explorer(windows) pilih View —> Text size —> Largest

  9. usil berkata:

    Apa kataku? Terbukti to? Lihat tuh diatas…..langsung dibantu to?
    Thanks PapaTITA, aku bacanya jadi gak perlu kacamata lagi deh!

    Yang aku tahu sih…mang Ipin dan omPapang gak perlu kaca-mata baca.
    Wong hurup sekecil kutu masih bisa mereka lahap koq? sapa tahu!

  10. PapaTITA berkata:

    OOT: ndak jawab soal lain2 cuman kasih info saja soal tulisan yg kecil2, bila pakai mouse yg ada scroll diantara 2 tombolnya maka untuk mengubah secara instan huruf yg kecil menjadi besar cukup tekan dan tahan tombol [Ctrl] + Scroll kedepan, scroll sebaliknya untuk mengecilkan kembali.

  11. usil berkata:

    Ooooh…kalo soal ‘gak kuat’, sami miwon juga dengan aku lho, mas Ukhi.
    Tapi tenang aja, ikutin aja terus….pasti asyik kok! Banyak koq netter
    disini yang baek hati bisa menjelaskan.
    Terutama ada satu OM, selalu ada aja yang bisa dia share ke kita.
    Tapi jangan kaget, orangnya ceplas ceplos.
    Memang sudah hampir seminggu dia rest menulis, mungkin lagi libur dengan
    keluarga. Suabar aja! Jarinya kalo gak nulis….pasti guatal!!

  12. ukhi berkata:

    hhmmm… saya gak kuat nih kayaknya baca postingannya.. bahasannya jauh diatas garis pengetahuan saya.. mana tulisannya kecil2. tapi kalo gede2 alangkah panjangnya ya.

    ngomong2 pak.. Pak pemerintah itu tau gak sih tentang isi blog ini??

    atau udah dikasih tau blom segala simulasi dan semacemnya..
    kasian tuh mereka udah pada puyeng, dan seolah udah gak mau ngurusin lagi..
    kan ber A-B, C-D dst…

  13. usil berkata:

    Eh….sori pernyataan GRATIS itu baru dari pak RIrawan, sedangkan dari
    omPapang dan Herman aku belum tahu. Sapa tahu keduanya yang
    terakhir itu juga ‘minat’ dengan royalty? (ini aku ragu) Hmmmm…

  14. usil berkata:

    Apa ada yang kenal dekat dengan IR Djaja Laksana?
    Gak ada salahnya kenalkan kepada beliau blog ini, terutama judul ini.
    Sungguh sayang biaya besar yang beliau sudah keluarkan pada metode
    EBS menjadi mubasir. Mungkin juga beliau harus bayar ‘royalty kepada
    Prof. penemu EBS itu. STAR PUMP nya juga mungkin lebih banyak gagal
    ketimbang sukses.
    Diatas sudah ada KANAL-V pak RIrawan dan NOH omPapang+Herman.
    Sebentar lagi pak RIrawan akan sajikan pompa yang cocok untuk Lula.
    Apa betul IR Djaja tidak tertarik? Semuanya gratis lho?

  15. ganedio berkata:

    Coba deh pakai software “pipe flow expert”. Jaringan pipa yang paling rumitpun bisa dianalisa atau direncana dengan software ini. Misalnya jaringan gas atau air bersih di sebuah kota. Tentu saja lumpurpun yang sistem jaringan pipanya sederhana ini pasti bisa, tinggal masukan data suhu, density, viskosity. Kemudian cari brosur pompa, dan masukkan datanya ke dalam input software ini. Sehingga diketahui mana yang paling murah dan efektif sehingga menghasilkan output debit yang diinginkan.

  16. usil berkata:

    Apa iya begitu sederhananya?
    Ini pasti gak ngikutin dari awal…olala!

  17. ganedio berkata:

    Masalah pompa lumpur mah enggak usah repot-repot. Perusahaan pertambangan terutama yang mempunyai open pit pasti ahli dalam hal pompa memompa lumpur. sudah menjadi makanannya sehari-hari. Tengok saja PT Tambang Batubara Bukit Asam, yang punya openpit raksasa yang besarnya bisa mengubur seluruh manusia di muka bumi (sekarang mungkin sudah ditimbun kembali).

    Pompa lumpur biasanya menggunakan pompa submersible. Jadi pompa yang tenggelam dalam lumpur bekerja seharian mendapat pendinginan dari cairan lumpur. Tapi lumpur harus mempunyai kekentalam maksimum agar efisien dan efektif. Jika sudah terlalu kental, lumpur diangkat dengan backhoe.

  18. usil berkata:

    Semua yang rasionil, memang itu yang harus dikerjakan.
    Rencana BPLS membuang lumpur langsung kelaut, tidak melalui
    sungai Porong, mestinya sudah benar. Hal ini jaoh2 hari sudah
    diutarakan oleh pak RIrawan.
    Kelihatannya kanal-V gak terbantahkan lagi. Tinggal tunggu jenis
    pompa yang lagi di-etung sama pak RIrawan. Hanya saja muncul
    pertanyaan: Siapa yang mau mendanai?
    Tak jawab sendiri (gaya omPapang): Seharusnya Pemerintah/Lapindo.

  19. RIrawan berkata:

    Dari om Papang di blog Dongeng Geologi:
    Pak RIrawan, saya belum pernah nyoba, tapi hanya angan-angan saja. Begini, pompa dipasang 8 meter diatas muka air dan diujung bawah pipa isap tidak diberi foot klep(atau foot klepnya bocor ).Jadi pipa isap berisi udara.
    Saat mesin pompa belum dihidupkan, bila dilubang masuk dipasang manometer, alat itu akan menunjuk tekanan 0 bar dan setelah mesin dihidupkan air lama-lama akan memenuhi pipa isap dan selanjutnya masuk kepompa terus ditekan keluar lewat pipa tekan. Pada saat air mengalir masuk kepompa, manometer tersebut bila sensornya melawan arus mestinya akan menunjuk positif dan bila membelakangi arus akan menunjuk negatif.Yang tidak dapat saya bayangkan, tekanan negatif tersebut apakah setara dengan tinggi kolom air 8 meter atau lebih. Bila lebih, apakah lebihnya itu karena tekanan negatif dari kerja pompa, mengingat sebelum mesin hidup tekanannya =0.
    Yang kedua, untuk pompa pakai jet, paling efektif berapa bagian (%) dari total discharge yang disirkulasi kebawah untuk mendorong keatas.

    RIrawan:
    Komen ini saya ulang meskipun kemarin sudah saya submit di sini, namun ternyata tidak muncul.
    Baiklah om, saya akan coba mengutarakan pendapat saya, meskipun kebenarannya hanya dapat disahkan melalui data empiris. Apapun jenisnya, sebuah pompa akan sangat sulit untuk bisa bekerja dengan kedalaman muka air hs = -8 m, bilamana harus bekerja sendiri tanpa bantuan dari alat lain, seperti: booster-pump, venturi-jet, inducer dll, yang prinsipnya “MENAMBAHKAN USAHA” kepada tekanan alam 1 atm agar air di pipa hisap dapat naik lebih tinggi dan memasuki mulut pompa.

    Ompapang benar, kondisi sesungguhnya belum tentu sesuai dengan penunjukan yang terbaca pada alat ukur.
    Jika lubang tube-manometer di pipa melawan arus dengan kecepatan u, maka yang terukur adalah p1 = –ρ.g.(hs+hr) + ½.ρ.u², dengan rugi-geser hr = ½.λ.u².hs/(d.g) yang sifatnya memperkuat vakum dan tekanan-arus ½.ρ.u² yang mengurangi penunjukan vakum pada manometer.
    Jika lubang tube-manometer di pipa membelakangi arus dengan kecepatan u, maka yang terukur adalah p2 = –ρ.g.(hs+hr+hj), dengan tekanan-jet-factor hj yang sifatnya menambah penunjukan vakum pada manometer.

    Bagian (%) debit Qt yang perlu disirkulasikan ke bawah untuk mendorong air ke atas pada pompa-jet ditentukan oleh tinggi tambahan ht yang diperlukan agar muka air yang terlampau dalam dapat naik memasuki mulut pompa. Jika kinerja pompa: debit Q dan head h, maka dengan penyederhanaan dapat dipakai perbandingan kasar sbb:
    Qt/Q = ht/(ht+h)

  20. a_otnaidah berkata:

    huah……..iya, ini baru seru. diaduin yuk. mana lebi huebat, star pump atawa pompa tim komenlus.

    fakta sampe skarang:

    100% metode diluar tim komenlus gagal,
    meskipun uda abisin duit milyaran malah trilyunan
    ama ga ada etungan ilmiahnya.

    100% metode tim komenlus ga digubris,
    meskipun sanget lengkap etungan ilmiahnya
    ama ongkosnya murah.

    kalo keanehan gini uda brenti,
    la bukan indon yang diledekin malangsia mulu,
    tapi nusantara yang makmur en mampu ngatasi bencana

  21. inyo berkata:

    menambah saran P. Giusty utk Bang Usil,
    utuk nambah wawasan sytem design mohon putri Abang sekalian mempelajari sejak dini ttg teknik2 SCADA(System Control and Aquisition Data), OK ??

  22. inyo berkata:

    Usul saya khusus buat Om Djaja Laksana: “sudahlah Om…ga usah bikin “sinetron2″ lagi..lah!!!, skr belah aja pipanya menjadi 2 bagian dan dipasangkan, sembari nunggu hasil rancangan POMPA dr P. RIrawan yg skr masih dlm proses.”
    Kasihan tuh om…saudara2 kita yg di Porong…mereka sudah kehabisan “air mata”

  23. usil berkata:

    Whooo? (^-^) !!!
    mbesok tak konci bacotku!

  24. PapaTITA berkata:

    Seneng aku pak RIrawan mau bikin model pompa isep yg baru, setuju pak Dhe dibikinkan thread baru, biar yg lain pada nggggeh disini bukan cuma pandai kritik doang … kalau perlu disebar di media2. 🙂

  25. usil berkata:

    Hi…hi…hi…puas! puas! yang punya akhirnya datang juga. Malahan
    bakal dikasi judul khusus lagi. Pak Dhe, mbok sering nongol kesini.
    Mosok mang Ipin sampe gak kenal yang punya rumah, kan terlalu!
    Wadow! makasih banyak pak RIrawan, biar lamaaaaa…tetep kita
    pasti tunggu pak!
    Yang gak mau tunggu, mungkin pak Inyo dan Aa….he3x

  26. Rovicky berkata:

    Makasih Jawabnnya Pak RIrawan

    Kalau bisa tulisan hydraulic pumpnya dengan gambar lengkap sehingga dapat dipakai untuk membuat thread judul baru. Ini dah panjang euy ! biar hemat traffic 😉

  27. RIrawan berkata:

    Jika pompa air adalah jenis centrifugal biasa dengan 1 pipa-hisap dan 1 foot-valve, maka TIDAK MUNGKIN BISA menyedot air sedalam 16 meter, sebab bertentangan dengan hukum alam. Air bisa naik disebabkan oleh tekanan 1 atmosfir (1,01325 bar) atau 10,3323 m H2O pada 4 ºC, yang menekan permukaan air di luar pipa-hisap, sehingga air dapat naik ke dalam pipa-hisap yang divakumkan oleh pompa.
    Yang dimaksudkan dengan dobel-klep mungkin adalah venturi-jet, yang diletakkan di ujung bawah pipa-hisap. Pompa ini memerlukan 2 pipa yang masuk ke dalam sumur, yang pertama adalah pipa-hisap, yang kedua adalah pipa yang membalikkan sebagian air dari discharge ke venturi-jet, yang berfungsi untuk mendorong air agar naik lebih tinggi.

    Ok pak usil, saya akan coba merekonstruksikan bangunan hydraulic pompa, yang secara matematis dapat menangani lumpur secara efisien dan sesuai dengan karakter lumpur. Perlu waktu cukup lama untuk perhitungan dinamik-flownya di komputer. Bagaimana pak dhe, cukup saya tulis di komen atau naskah dengan gambar?

  28. Rovicky berkata:

    Mumpung berbicara soal pompa, di blog sebelah ada yang tanya mohon dibantu menjawab

    Penulis: roelyKomentar:kalao pompa air 125 Watt Panasonic bisa gak ya utk nyedot air sedalam 16 meter? Katanya bisa pake dobel klep, maksudnya apa ya? TrimsAnda bisa melihat semua komentar pada tulisan ini disini:http://rovicky.wordpress.com/2006/08/24/airtanah-apa-dan-bagaimana-mencarinya/#comments

  29. usil berkata:

    Eh kita harus angkat topi kepada Ir Djaja yang gak kenal menyerah.
    Katanya mau diteruskan dengan Star Pump. Padahal sudah puluhan
    pompa yang gagal dan geletakan di site. Seingat usil yang ahli dalam
    urusan pompa diblog ini adalah pak Yanatan, tapi ybs. udah lama gak
    muncul. Waktu yang lalu omPapang mengakui kalo dia kurang mendalami
    tentang pompa.

    Nah, usil ingin nanya sama pak RIrawan: Dapatkah pak RIrawan
    membuatkan konsep/design pompa lumpur dengan tingkat keberhasilan
    yang tinggi?
    Barangkali design pompa dari pak RIrawan dapat membantu upaya dari
    Ir Djaja yang baik hati itu dalam mengatasi LuLa.
    Tapi pak RIrawan, kalo permintaan ini jauh bertolak belakang dengan elmu
    yang bapak kuasai, mohon maaflah. Barangkali teman yang lain bisa bantu.

  30. usil berkata:

    Wuduuuuh! etungan diatas makin tak terbantahkan kalo apa2 semuanya,
    elmu eksakta menjadi ujung tombak. Elmu yang lain sampingan doang….
    maaf jangan tersinggung yo? tapi ini memang nyata.

    Usil jadi ingat minggu2 kemarin kita ngotot minta etungan EBSnya, tapi
    gak digubris. Sebetulnya gak perlu minta etungannya, hanya dengan
    bocoran gambarnya aja udah cukup bagi si Om dapat mengetahui garis
    besar ‘design’ dasar EBS. Setelah design dasar diketahui, giliran etungan
    ilmianya dituntaskan oleh pak RIrawan. Mana bisa lolos? Semuanya juga
    pasti ketebak hasilnya.
    PapaTITA! sebetulnya INILAH sebabnya kenapa ITB dan ITS gak mau
    tampil disini TITIK! Ya to bro Ipin?

  31. mang Ipin berkata:

    Rupanya tendangan pisang alias melintir dalam istilah pimpong yang
    Om Papang sdh tembakan menjadikan gawang EBS satu nol oleh team
    KOMENLUS..sebelum adanya pres release dari harian Surya ,sudah dpt
    bocoran ya Om????waduuuh sayangnya dana ratusan juta menjadi mubazir
    ya Om!!! ogut zadi menghayal seandainya dana tsb dialokasikan saza untk
    Kanal V dari P.RIrawan niscaya persoalan LuSi sudah dapat teratasi cara
    pembuangannya ..iya nggak bro???

  32. aburafdi berkata:

    Om dan bapak-bapak semua, kemarin (Rabu, 3-okt) ada berita besar (tapi sudah diprediksi secara tepat oleh tim blog ini) yaitu EBS gagal. Silakan cek di harian Surya hal 22. Dan kelanjutannya….Ir.Jaya akan mencoba lagi dengan pompa lumpur yang disebut “Star Pump”.

  33. a_otnaidah berkata:

    udah pake lintasan pisang yang cantik molek sampe gawang jebol ber-kali2, lawan ko letoi mulu, ga nyerang2. gimana ni om.
    wah, ini penjelasan ama etungannya pa rirawan slalu cakep, lebi afdol dan bikin otak jadi terang dibandingin kuliah taonan. angka2 nyang dietung pa rirawan ampe skarang belon ada yang terbukti kliru ato ga cocok ama kenyataan dilapangan.

  34. ompapang berkata:

    Iya pak Inyo, kalau bola bertranslasi sambil berotasi akan terjadi pusaran disekeliling kulit bola. Pusaran disini lebih tepat diartikan sebagai VORTEX, yang menghasilkan beda tekanan antara dua sisi bola sesuai arah translasinya. Jadi karena ada beda tekanan maka lintasan bola tidak lurus lagi seakan dibelokkan membentuk lengkungan seperti lengkungan buah pisang. Maka disebut tendangan (LINTASAN) PISANG . Dalam hal ini bola ditendang sedemikian hingga bisa berotasi sambil melayang. Tentu saja butuh latihan dan bakat untuk bisa memperhitungkan bola bisa masuk dicelah yang dikehendaki penendangnya. Tidak semua pemain bola dapat melakukannya. Contoh RAMANG ( PSM, MAKASAR tahun 50 an) yang legendaris sebagai penyerang, ia lebih dikenal sebagai penembak dengan tembakan GELEDEG, karena berkecepatan TINGGI dan LURUS yang sulit ditahan oleh kiper lawan. Sedang PELE dan RONALDINO dikenal suka menembak dengan lintasan PISANG.

  35. RIrawan berkata:

    Salam kompak dan selamat asyik bernostalgia, teman-teman.

    Setiap sempat saya selalu menengok ke blog ini. Kebetulan langsung ketemu pertanyaannya pak inyo tentang perhitungan dan pengaruh terik panas matahari yang menerpa pipa.
    Katakanlah daya-panas yang dipancarkan matahari ke pipa: P ≈ 1 Kw/m².
    Tiap 1 m pipa menerima terpaan panas matahari dengan projeksi bidang tegak-lurus seluas A = 1 m².
    Isi pipa Ø = 1 m dan panjang 1 m: V = 0.785398 m³
    Lumpur mengalir sepanjang pipa L = 4000 m selama t = 40 menit.
    Jika diambil:
    Panas Spesifik lumpur: c = 4,183 KJ/(Kg.K)
    Rapat Jenis lumpur: ρ = 1333 Kg/m³
    Berlaku persamaan:
    P.A.t = V.ρ..c.ΔT
    ΔT = 1 Kw/m² x 1 m² x 40 menit x 60 detik/menit / 0.785398 m³ / 1333 Kg/m³ / 4,183 KJ/(Kg.K) = 0,548 K
    Artinya lumpur-panas T1 = 110 ºC yang masuk ke pipa Ø = 1 m, setelah mengalir di bawah terik matahari sepanjang L = 4000 m, keluar menjadi T2 = 110,548 ºC. Perubahan ini tidak besar artinya, baik terhadap viskositas lumpur maupun kecepatan pengendapan atau penguapan lumpur. Itupun dengan pengandaian, bahwa tidak ada panas yang nerambat keluar lewat bagian bawah pipa yang bersentuan dengan tanah. Sehingga aliran lumpur di dalam pipa dapat disimpulkan quasi-adiabatis, sebab pengaruh panas terik matahari maupun rambat panas ke bumi sangat kecil dibandingkan besarnya massa lumpur yang mengalir.

    Benar pak inyo, pipa Ø = 1,5 m dibelah 2 bisa merupakan alternatif KANAL-V. Tetapi kalau beda-tinggi ΔH = 20 m, maka panjang-maximum hanya boleh L = 800 m, agar aliran lumpur bisa selamat dari pengendapan.

    Artinya, untuk jarak 4000 m, harus dikonstruksi sbb:
    1 jalur belahan-pipa Ø = 1,5 m, panjang L = 800 m, ΔH = 20 m, disambung dengan:
    10 jalur kaskade belahan-pipa Ø = 1,5 m, panjang L = 320 m, ΔH = 8 m

    Tentu saja diperlukan pula 10 unit pompa untuk menaikkan Q = 150000 m³/hari setinggi ΔH = 8 m pada setiap awal kaskade.

  36. usil berkata:

    Wah…terima kasih banyak pak Giusty atas bantuan infonya. Memang juga
    semua tulisan para pakar diblog ini, usil compile dan berikan ke anak untuk
    dipelajari. Sekali lagi terima kasih pak Giusty.

  37. Giusty berkata:

    Pak Usil, Kalo boleh kasih saran pada anak bapak, untuk electrical engineering, (berdasar pengalaman) biasanya yang paling sulit adalah mendesain sistem ( pada pabrik) untuk menjalankan mesin-mesin agar semua mesin berjalan dengan benar dan menghasilkan produk yang baik dengan hasil yang direject sesedikit mungkin (efisiensi yang tinggi). Dimana orang electrical enginering harus menguasai instrumentasi, cara kerja mesin, power yang diperlukan, perencanaan untuk waktu maintenance, dan yang terpenting adalah penyediaan spare-spare untuk penambahan atau perubahan dari mesin-mesin atau alat-alat yang lain. saya mohon maaf bila saran saya tidak berkenan pada pak usil.

  38. inyo berkata:

    Dear: OmPapang,
    saya lagi sibuk…tapi setia selalu koq, gerakan tendangan bolanya koq “Pisang” om, apa ga “Turbulensi” ?
    dear Bang Usil, dibalik maksud OmPapang mungkin “KEBERUSILAN EBS itu adl “KEGAGALAN” yg tertunda. 😛
    mungkin akan dilanjutkan ke episode “KEGAGALAN2” berikutnya…asyiik Bo…

  39. inyo berkata:

    mudah2an YTH. P. RIrawan setia memantau:
    khasus lumpur yg berada di dlm pipa, kayaknya dlm hitungan P. RIrawan lom menyertakan faktor temperature yah( panas lumpur + panas pipa akibat dr terik matahari) ? pdhl panas tsb mempengaruhi proses pengendapan/pengeringan jadi lebih cepat lagi, P. RIrawan, gimana ngitungnya proses pengedapan/pengeringan jika disertai panas akibat terik matahari misal >50 Dcelcius + lumpur >=100 Dcelcius menimpa pipa ? juga jika pakai kanal-V nya P. RIrawan sejauh 4000m.
    usulan saya(ambil jalan tengah EBS-Kanal-V)apa lbh baik pipa dg diameter 1,5 m itu dibelah 2 (mirip kanal-V trus dipasang sejajar ke tambak seluas 4000 Ha tsb), gimana yah??

  40. usil berkata:

    Uuuh! kata bersayap apa lagi ini?
    ha? ini perlu usil dalami, apa arti sesungguhnya?
    Tapi ini kelewat pendek seh.
    Usil sulit mengutipnya untuk ‘dikembangken’ lebih lanjud.
    ngkali mang Aa tahu? dengan dibantu pak Inyo!

  41. ompapang berkata:

    Iya ,memang, KEGAGALAN EBS itu KEBERH – USILAN yang tertunda !!Maka gak ada kabar nya.

  42. mang Ipin berkata:

    he..he..he tul juga yach ngkali???motivasi tuk putrinya bung Usil
    zangan putus asa..teruskan perjuangannya..kalo belum berhasil se-
    karang besok pasti akan berh.USIL..tariik terus n lam kompak selalu.

  43. usil berkata:

    Mang Ipin keliru, siapa bilang coman aku yang ingat si Lene itu.
    Coba simak apa maksudnya nulis GADIS DARI PANTAI SEBERANG.
    Kemudian diikuti dengan daftar nama pebulu-tangkis pria. Mang Ipin
    kan mesti ngerti kata2 bersayap yang sering dia tulis.
    Jadi mestinya usil gak salah tebak kalo dulu ada yang sering dijewer!
    Iya…..pasti begitu deh!

  44. usil berkata:

    Iya….boleh dong sambil nunggu tanggapan dari pihak EBS tentang
    etungan pak RIrawan. Kita kocok perut dulu biar gak stress gitu!
    Tapinya kalo sudah urusan intermezo begini, koq pak Inyo, papaTITA
    dll malahan gak respon, ada apa ya?

    Usil jadi ingat minggu kemarin pak RIrawan nanya jika ada cerita
    menarik pada hari2 pertama putri usil di PT.
    Alamak! beritanya justru dia KO pada fak Electrical Eng. Katanya
    angka yang paling tinggi dikelas 74, sedangkan dia cuman 59.
    Langsung nangis, dasar anak cewek!
    Katanya untuk fak yang lain seperti math, calculis, material sc. dll
    masih dapat lumayan, seputar 90.
    Disini bisa disimpulkan bahwa belajar electrical gak gampang. Dan
    memang dari pengalaman orang banyak, engineer dari electrical dengan
    gampang belajar elmu teknik yang lain. Contohnya….ya…itu? beberapa
    dari komentator ulung disini.
    Maaf keluar lagi dari topik….maklumlah! Daripada dijewer capar…
    Tariik…Mang!

  45. mang Ipin berkata:

    Iya Om Papang, maklum waktu zaman TVRI doank! masih hitam putih
    alias lom ada TV berwarna…yang ada hiburan coman si Unyil tok!..
    anehnya sampai sekarang si Unyil masih suka nongol di TV swasta
    tetap aza pancet gak berubah se-gitu2 aza??? apa kurang gizi kali
    ya????jadi nyimpang nich!! maksudnya mau menanyakan apa ada per-
    kembangan/berita dari para team ITS dengan metode EBS????? kok gak
    ada pres release ya????? insan pers jatim pada kemana nich??? mbuh!

  46. ompapang berkata:

    pak Usil & Mang Ipin, maksudku bukan Oak Unyil, tapi PAK USIL, maaf salah ketik !!

  47. mang Ipin berkata:

    he..he..he…gak mungkin Om qta kayak gitu bung Usil??? zangan2 malah
    yang ngasih komentar dijewer caparnya (waktu ntu pasti Bung Usil masih
    remaja ting2)…habis yang ingat sama si Lene Kopen coman ente??? iya
    nggak bro???zadi bernostalgia neeh ye!! salm kompak selalu.

  48. usil berkata:

    Mang Ipin! baca baik2 yang diatas itu. Karena hanya yang seumur
    kita yang kenal betul dengan nama2 atlit yang DIA sebutkan diatas.

    Tapi ada yang dia lupa, justru sicantik Lene Kopen. Mungkin juga DIA
    gak berani nyebut2 nama itu. Sapa tau dulu waktu lagi nonton Lene
    Kopen main sama Hiro Yuki. Walo bola sudah pindah ke Hiro, tapi mata
    sidia masih melotot terus kearah sicantik, sampe kena jewer sama
    nyonya rumah, sapa Tau! Hmmmmm…

  49. ompapang berkata:

    Oak Unyil, zaman dulu sebelum ada TV, Sambas aktif di RRI Jakarta, di Yogya reporter bolanya Sumardjono yang juga sutradara sandiwara radio yogya (godril dll)dengan nama samaran Sabikis dibantu untuk teknik dan montase : Rahutomo dan Samodro. Di RRI Surabaya kalau gak salah itu lho penyanyi yang bawakan GADIS DARI PANTAI SEBERANG ( ” Teringat masa lalu, waktu kau disampingku… memandang bulan terang , nan cemerlang…. Ingin dik kunyanyikan…senandung lagu merdu , sbagai rasa hatiku kepadamu …dst dst )
    Thomas cup sebelumn zaman Cristian dan Ade : Tan Yoe Hok , Rudi Hartono, Liem Swie King ( dari Denmark Erlanc Kop, India :Prakash Padukone dll )
    Btw,reportase TV butuh tempo lebih lambat dari Radio, yang paling cepat temponya adalah reportase radio pada pertandingan bulu tangkis dengan pemandu soraknya pak Usil yang menggunakan metode bandul matematisnya Newton yang konon sudah dipatenkan …hi 4X

  50. usil berkata:

    Aku jadi baca ulang komennya si Om diatas, dan baru sadar aku…jadi…
    hi…hi…hi….
    Koq bisanya si Om niru gayanya Sambas(reporter), dengan suara basnya
    yang khas itu lagi ‘siaran langsung’ RRI zaman dulu (waktu itu pak Inyo
    dan pak Otnaidah belum lahir to?).
    Ha? mang Ipin pasti begadang jika Sambas lagi reports Thomas Cup
    zaman Christian dan Ade Chandra duluuuuuu….skali.

  51. mang Ipin berkata:

    Siaaap tuembaak!!!! gol satu nol tuk team KOMENLUS yang di kapteni
    oleh Om Papang…..bukan main dech!..buat etungannya dari P.RIrawan di-
    atas sampai ogut ber-ulang2 mencermatinya….makasih ya Pak RIrawan &
    Om Papang buat elmunya yang sangat mendukung untuk mempercepat dlm
    mengatasi si LuSi binti LuLa….cuma sayang seribu sayang kenapa dari fihak
    yg berkompeten ngurusi LuSi ntu gak ada respon ya???belum lagi ngadepi
    musim penghujan yg gak lama lg akan tiba ,tapi usulan yg ciamik tsb masih
    kita harapkan akan mendapat respon dari yang empunya LuSi tsb ..iya nggak
    bro????coz dengan etungan Kanal V yg sangat ekonomis coman 100jutaan
    (menurut cttan terdahulu) sepertinya sdh dapat mengalirkan si LuSi ketempat
    yg aman,dibandingkan dengan ngebangun tanggul teruuuus dgn biaya yg sangat
    significant …rasa2nya gak salah kalo dicoba…iya kan bro???semoga aza!!!

  52. usil berkata:

    Ini Om begimana? Usil kan hanya sebagai suporter ‘fanatik’ dari
    keseblasan KOMENLUS aja, gak lebih koq.
    Sebagai suporter wajar saja kalo tereaknya paling keras dan cendrung
    ‘propokatip’ he…he…maksudnya sih, biar rame gitu. Kalo ada perlawanan
    bermutuh dari lawan, kan suporter ikut seneng. Disamping itu, solusi dari
    LuLa bisa cepat selesai.
    Tapi usil lagi tungguh balasan dari pihak lawan atas tembakan ‘pisang,
    dari pak RIrawan, hasil umpan dari si Emboli dan Akuarium itu lho..
    Apa mang Ipin udah siap memberi aba: TEMBAK!!!

  53. a_otnaidah berkata:

    wah om, dari etungan pa rirawan diatas, ebs no chance dong. ga ada harepan ngalir 4000 m kekolam tujuan. ya betullah, dari dulu udah belerot bukti ame conto. dulu ada pipa 20″, 12″, 10 inci segala. trus spilway 1 en 2, semuanye k.o. guagal, nongkrong ga kepake. karatan. bumpet kesumpel endapan lumpur. klop kaya etungan pa rirawan. tul ga om?

  54. a_otnaidah berkata:

    uah…….wah. asik ni je om. pas en kompak buanget komenlus e om. trus etungan huebat diatas tul ga om? ama prakteknye cocok ga om? aku lagi suebel ni om, tim komenlus udah ngajak baek2, ngasi etungan ame rumus, ampe nyindir. eh dari sono, yang namenye uni termashur, pakar, profesor, ko bungkem mulu. payah de, gimana ni sobat.

  55. ompapang berkata:

    Kita saksikan tim penyerang dari kesebelasan KOMENLUS (komentator Lusi) sedang KOMPAK beraksi …, Pak Usil menggiring bola (sungguhan,bukan bolabeton) , mang Ipin dan pak Inyo mengawal dan mengamankan jalan sampai belakang garis pertahanan lawan, ompapang memback up pak Usil ….. dan bola sudah berada pada jarak tembak… pak Usil mengoperkan bola ke ompapang mengecoh perhatian lawan ….selanjutnya bola diumpankan kepada Pak RIrawan disusul tembakan LINTASAN PISANG oleh pak RIrawan …dan goooll ….bola menggetarkan jaring lawan dengan bebas lewat sudut kiri atas gawang tanpa sedikitpun kena sentuhan tangan penjaga gawang. ….Ternyata tembakan dengan PERHITUNGAN yang cermat dari Pak RIrawan sempat mengecoh penjaga gawang yang mengira bola masuk disudut kanan atas, yang kenyataannya tendangan Pak RIrawan membuat bola berotasi sambil melayang , melengkung membentuk LINTASAN PISANG (parabola). . .Satu kosong untuk kesebelasan KOMENLUS.!!!!

  56. usil berkata:

    Aduh mak! ini pak RIrawan sama omPapang kalo sudah duet urusan
    tehnik, wuaaah, uenak tenan!
    Etungan pak RIrawan dipaduh dengan pengalaman omPapang, jelas
    siapapun ‘ngeri’ berbantahan. Tidak terkecuali dari kaklangan PT sekalipun.
    Dari etungan diatas, udah sangat jelas penerapan teori Bernoulli. Gak
    seperti ‘Paten teori Bernoulli’ yang justru gak jelas dimana etungan
    Bernoullinya…..hayah!!!

    Mestinya sekarang tim EBS udah menjadi jelas kenapa mereka gagal.
    Aneh! dengan segitu banyaknya prof, mosok gak ada satupun yang bisa
    ngetung seperti diatas?

    Eh Om, mang Ipin, pak Inyo…mestinya usil mau terusin etungan pak
    RIrawan sampai ke Persamaan Euler. Tapi tunggu! kalo ada bantahan
    dari kalangan PT maupun akademisi.

  57. RIrawan berkata:

    Benar om papang, analogi selang-air tukang-batu untuk mengukur tinggi, pasti berlaku pula jika selangnya diganti dengan pipa d = 1 m dan panjang L = 4000 m, yang diisi penuh dengan fluida. Bilamana satu ujung pipa kita naikkan dengan ΔH = 20 m, maka di ujung lain yang lebih rendah akan mancur keluar fluidanya. Persis seperti yang dijelaskan oleh om papang, fluida akan berhenti mancur (u = 0) setelah di kedua ujung sama tinggi!

    Marilah kita hitung sama-sama, berapa kecepatan (u) dan debit atau kapasitas (Q) yang mengalir, jika fluidanya air biasa dan jika fluidanya lumpur

    Di sini pendekatan hidrodinamis, kekekalan energi dan persamaan Bernoulli juga sepenuhnya berlaku:
    ΔH + u1²/(2.g) + p1/(ρ.g) = u2²/(2.g) + p2/(ρ.g) + λ.L.u2²/(2.d.g)
    Dengan penyederhanaan dan pengandaian asas kontinum di sepanjang aliran pipa, diperoleh:
    û = √{(2.ΔH.d.g)/(λ.L)}
    Koefisien-geser kita peroleh dari Re = û.d/υ dengan menentukan karakteristik aliran, dengan:
    rasio kekasaran pipa k/d = 0,005
    g = 9.80665 m/detik²

    Jika fluidanya AIR (υ = 1 cStk), diperoleh:
    Re = 1798159
    Re.k/d =8991 (rough area)
    1/√λ = 2.log(d/k) + 1,14
    Kecepatan: u = 1,798159 m/detik
    Q = 1,41227 m³/detik = 122020 m³/hari
    Waktu-tempuh AIR di pipa 4000 m ► t = 37 menit

    Jika fluidanya LUMPUR (υ = 100 cStk), diperoleh:
    Re = 16712
    Re.k/d = 83,558 (transient area)
    1/√λ = -2.log(2,51/Re/√λ + 0,269.k/d)
    Kecepatan: u = 1,671166 m/detik
    Q = 1,31253 m³/detik = 113402 m³/hari
    Waktu-tempuh LUMPUR di pipa 4000 m ► t = 40 menit

    Angka-angka di atas menunjukkan, bahwa hipotesa om papang benar secara qualitatif.

    Namun apabila LUMPUR dialirkan dalam pipa d = 1 m, maka tingkat turbulensi Re = 16712 tidak cukup untuk mencegah pengendapan (Re/2320 harus lebih besar ψ), karena lumpur mengendap ke dasar pipa dengan kecepatan:
    us = √{4.d.g.(ρs/ρm-1)/(3.cs)}
    sehingga partikel-padat akan mengendap dengan kecepatan:
    17 detik/meter untuk Ø = 0,6 mm
    293 detik/meter untuk Ø = 0,002 mm
    maka pipa lurus L = 4000 m dengan elevasi ΔH = 20 m, yang hanya memiliki elevasi α = 0,2865º tidak cukup memberikan koefisien-turbulen (ψ):
    ψ = (ρs/ρm) . (us/u)² / sin²α
    ψ ≈ 59,47 untuk Ø = 0,6 mm
    Karena Re/2320 = 7,2 yang jauh lebih kecil daripada ψ ≈ 59,47; maka terjadilah pengendapan yang sangat cepat di dalam pipa yang dialiri lumpur, sehingga pipa akan tersumbat alirannya dalam waktu kurang dari 6 jam. Itupun, bilamana pipanya lurus turun dengan sudut α = 0,2865º yang tetap sepanjang L = 4000 m

    Tetapi, pengendapan akan dipercepat menjadi hanya 2½ jam saja, jika pipanya berbentuk selang tukang batu, pertama turun 21 m, lalu belok horizontal 3978 m dan terakhir naik 1 m.

    Oleh sebab itulah, saya kemukakan pada komen sebelumnya:
     pipa d = 1,2 m ; Panjang-Pipa-Maximum ≈ 700 m
     pipa d = 1,5 m ; Panjang-Pipa-Maximum ≈ 800 m
     KANAL-V : 1 m; Panjang-Kanal-Maximum ≈ 1000 m
    agar LUMPUR yang dialirkan tidak mengendap dan menghentikan aliran.
    Mohon om papang memeriksa hitungan di atas, sekiranya ada yang keliru.

  58. mang Ipin berkata:

    he.he..he!! bung Usil zangan bilang sindiran aaah! tapi kita bilang sebagai
    kritik yang membangun!!cos kalo gak ada yang kasih kritikan..nanti pada ke-
    bablasan semua …iya nggak bro???ogut yakin si Om kita gak bakal ngejatuhin
    yang sudah gagal…paling2 doi bilang RASAIN LOE, GUE BILANG JUGA APA??
    segala Teori Nguras Aquarium dipakai untuk Nguras LuSi!!!! naah gitu dah kalo
    gak nurut kata ortu!!!!…tapi biasanya lumrah dibilang kegagalan itu adalah
    “Keberhasilan/sukses yang Tertunda”…semoga!!!! n tariik trus!!

  59. usil berkata:

    Iya deh mang! aku lupa kalo ternyata gak ada batas waktu. Tapi gimana,
    wong paten nya uda ditangan, apa masih valid tuh?
    Sindiran usil kan masih sangat ‘mendingan’, lha…kalo si Om, wow!
    bisa2 dia keluarin deklamasinya…..tahu rasa!
    Tariik!

  60. mang Ipin berkata:

    Whooi bung Usil zangan cepat pesimistis dulu aaah!!! khan baru juga 1/2 bulan
    kalo lom ada kabar berita dari insan pers Jatim ya lumrah lah…ingat nggak waktu
    nya masih ada 30 tahunan lagi…jadi ya pepatah alon2 asal kelakon dapat di-
    aplikasikan dalam teori EBS nya bapak Prof Made Djoni!!!! lah janjinya gak
    pakai time limit kok…artinya asal di coba dulu aza alias trial and error????
    jadinya kebablasan banyakan error melulu…iya nggak bro?????masih ingat
    akronim dari si Om Papang untuk EBS = ETUNGAN (nya) BESOK SAZA..
    he ..he..he..udah deh kembali ke usulan pakai metodenya Pak.R Irawan..
    yang so pasti etungannya suangat jelas kearah keberhasilannya…tarik teruus
    team cheer leader KANAL V….n lam kompak selalu.

  61. ompapang berkata:

    Pak Inyo, aku cuman nglanjutkan diskusi di EBS , disana intake nya sebagai pengandaian ditentukan sekitar 30 meter dari pusat semburan yang konon kawahnya berdiameter 70 m, lagian disini walaupun memanfaatkan gravitasi,tetapi tak ada proses NYEDOT, lha wong beda tinggi yang sebesar 20 meter (diusahakan konstan) mengandung energi potensial yang dapat mendorong aliran dan intakenya ada sedikit ( dalam contoh = 30 cm) dibawah permukaan, pipanya nembus tanggul , bukan seperti nguras akuarium yang pipanya dari dalam tanggul pakai naik dulu baru turun dilua tanggul.. Masalahnya adalah besarnya debit (Q) ditentukan oleh gesekan aliran dalam pipa sepanjang 4000 meter itu punya potensi mengerem kecepatan aliran ( menyerap energi kinetis ) sampai terjadi keseimbangan antara daya gesek dan daya dorong, sehingga berapapun kecilnya kecepatan, mesti ada , sebab tidak mungkin air diujung hilir berhenti begitu saja. Jadi tetap ada harga Q. Kalau berhenti gaya gesek =0, daya gesek juga =0. Kalau mengalir DAYA GESEK = GAYA GESEK X KECEPATAN aliran. = Daya dorong =DEBIT X BERAT JENIS (specific weight) X H (head) . (Satuannya N-m /detik atau Kw) . Jadi satu-satunya perlawanan dari arah hilir ,bila tak terjadi penyumbatan adalah DAYA GESEK.
    Btw, kalau sampai terbentuk uap, maka tekanan uap dalam pipa horisontal akan menekan kehulu yang memperlemah(mengurangi) gaya dorong dan tekanan kekanan akan memperkuat (menambah) gaya dorong, sehingga hasil akhirnya tetap ditentukan oleh energi potensial dari beda tinggi yang = 20 meter tersebut.

  62. inyo berkata:

    koreksi :
    maybe air dingin yg dituangkan Om tsb msh bisa success mengalir sampai tujuan tapi stlh airnya LuSi kesedot masuk ke pipa, prosesnya akan berhenti di tengah jalan jika temperature air masih tetep >100 Dcelcius
    Lebih baik nyedotnya air di pinggir tanggul aja Om, nunggu air dingin plus lumpurnya mengendap, bisa ngga ya ??

  63. inyo berkata:

    Om, air khan H2O(ada unsur oxygen didalamnya), gimana cara ngusir udaranya di dlm pipa?wong didlm pipa itu sendiri panas airnya masih >= 100 Dcelcius(masih terjadi proses pelepasan Oxygen/blekuthuk…blekuthuk), gitu ??

  64. usil berkata:

    Koreksi: yang benar, “malahan sudah bikin HEBOH dalam skala nasional”

  65. usil berkata:

    Tadinya aku heran, kenapa setelah menunggu sekian lama tidak ada juga
    kabar akan suksesnya EBS. Setelah membaca dengan cermat uraian pak
    RIrawan, berikut diskusinya dengan omPapang. Usil dapat menduga bahwa
    EBS praktis sudah gagal total. Hanya saja pers Jatim sungkan membuat
    berita yang mempojokkan pak Ir. Djaja Laksana yang sebenarnya adalah
    orang baik hati yang mau menanggung sendiri biaya EBS itu.
    Tentu saja yang harus disayangkan adalah justru Prof. I Made….sang
    penemu EBS. Astaga! Bagaimana bisa seorang ilmuan besar dari PT
    ternama melahirkan Temuan yang tidak jalan? Sudah gitu diberi nama
    yang keren lagi. Malahan sudah bikin dalam skala nasional.
    Ternyata setelah dibelek sama omPapang, ya ampun!
    jebulannya ternyata TEORI KURAS AKUARIUM. Itupun omPapang hanya
    cukup melihat dari gambar yang ada, karena selama ini memang tidak ada
    ‘penjelasan’ dari tim EBS
    Gak usah heran dari zaman HDCB gak ada satupun pentolan ITB yang
    berani kritisi etungan pak RIrawan, apalagi tim EBS yang sekarang….
    Sontoloyo!!!

  66. ompapang berkata:

    Pak Inyo, ORANG MENGGIGIT SATE SCOOBIDOO, TETAPLAH BERITA !!
    Pak RIrawan, tukang tukang batu itu kalau menentukan tinggi untuk benang pasangan batu kan pakai selang plastik diisi air. Selang itu biasanya sekitar 1 cm diameternya atau kurang dan panjangnya bisa sampai 10 meter. Muka air pada masing-masing ujung didalam selang bisa bergerak naik turun , berarti air dapat mengalir didalamnya. Untuk percobaan bila kita ambil panjang selang L = 40 meter dan diameter selang d= 1 cm , maka L/d= 4000/1 =4000 . Pada L/d = 4000 dan mula-mula ujung yang satu (katakan kiri) dipenuhi air lalu ditutup, kemudian pada ujung yang kanan selang kita naikkan sehingga ada selisih tinggi h= 20 cm. Pada kondisi tersebut tiba-tiba tutup selang pada yang kiri dibuka. Bila ternyata air dapat mengalir keluar dari ujung selang kiri, maka kita dapat menghitung atau memperkirakan alternatif pengaliran air lumpur dengan model selang tersebut.
    Kita tentukan pipa diameter d’ =1 meter, panjang L’=3978meter, pada ujung kiri kita beri knee bengkok keatas dengan pipa setinggi 1 meter dan pada ujung kanan kita beri knee plus pipa keatas setinggi 21 meter, sehingga rangkaian pipa berbentuk PIPA U dengan ujung kaki menghadap keatas dengan panjang kakai kiri =1 meter dan panjang kakai kanan =21 meter, sedang badan PIPA U sepanjang 3978meter diletakkan pada posisi mendekati horisontal. Jadi panjang pipa seluruhnya = 4000 meter dengan L/d = 4000 (sama pada model selang tukang batu ) dan selisih tinggi antara ujung kiri dan kanan h=20 meter. Pada ujung kaki kiri dipasang stop kran( gate valve) pada posisi mula-mula tertutup. Dari ujung kanan kita isi air sampai penuh dan dipastikan dalam sepanjang pipa tersebut tidak ada udara terjebak. Bila kran di kaki kiri kita buka apakah air akan keluar tumpah (mumbul) dari kaki kiri tersebut sampai terjadi keseimbangan muka air antara kaki kanan dan kaki kiri ? Bila ya, berarti system ini dapat dipakai untuk DBS (Debit Balance System) . Persoalannya apakah kecepatan aliran dapat mencapai 1,77 meter/detik sehingga dapat dicapai debit 1,39 m3/detik atau 120.000 m3/detik. Bila menurut perhitungan pak RIrawan kecepatan aliran dapat minimal minimal 1,77 m/detik , mungkin PIPA U panjang ini dapat diterapkan sebagai DBS untuk membuang air dari ring satu pusat semburan yang punya tinggi tanggul 20 meter.

  67. usil berkata:

    Lha….pak Inyo, dulu ingatnya saya pak RIrawan pernah kemukakan:
    1. Silahkan perdebatkan etungannya jika masih ada yang salah.
    2. Kalo sudah dianggap benar, baru dilaksanakan prakteknya.
    3. Sebelum dipraktekkan beneran, dibuat dulu simulasinya dalam
    bentuk ‘mini’.
    Hal diatas penting, untuk mencegah cost lebih besar jika ada potensi
    gagal.
    Disinilah justru bedanya dengan konsep EBS, tanpa BA..BI..BU..
    main tabrak aja! Wuuuuuh…..

  68. mang Ipin berkata:

    Setuju buat ide(plesetan) dari dek Inyo, juga nanti tak daftari untuk masuk Muri
    dari Bpk. Jaya Suprana…coz team ITS plus teori EBS dgn Komandannya Bpk.
    …………. Jaya Laksana, biar berJaya (sukses)….iya khan bro???? tariiik terus!!

  69. inyo berkata:

    Om, ISIN MUNDUR apa MUNDUR ISIN ??, suatu pekerjaan yg sudah terlanjur diputuskan, pantang utk dihentikan…..meskipun belum tentu benar”, nanti kacau di laporan akhir, lebih baik jalan terus biar buat kesimpulanya lebih gampang…Tinggal ketik “TIDAK BERHASIL/GAGAL.”.trus bikin proyek baru lagi.
    saya koq jadi pesismis, jangan2 hanya sinertron belaka, Metode2 yg punya potensi GAGALnya tinggi dipreoritaskan dulu, baru kemudian metode yg punya tingkat keberhasilanya tinggi diizinkan, cerita sinetron happy-ending yg baik khan begitu Om, yg serem2 dulu, kemudian di akhir ceritanya ketawa2. (biar nampak pratiotisnya). yang dicari khan sensasinya, kata Om (tak plesetkan):

    ORANG MENGGIGIT SATE-AJING ITU BUKAN BERITA, tapi
    ANJING MENGGIGIT SATE-ORANG ITU BARU BERITA.
    iya ga PakDhe?

    OmPapang, P. A_otnaidah, mang Ipin, Bang Usil, dkk. gimana klo netode kanal-V Pak RIrawan kita “plesetkan” dulu(bangun kanal sketting di Lumpur Porong terpanjang di asia) spy dapat persetujuan dari Pengambil Keputusan trus bila gagal nanti biar P. RIrawan yg tampil ?? 😛

  70. RIrawan berkata:

    Wah pak usil manas-manasi terus. Tetapi terima kasih.

    Benar sekali pak otnaidah. Hambatan yang diderita aliran akibat geseran di udara jauh lebih kecil daripada geseran di dalam pipa atau di dasar KANAL-V. Oleh sebab itu, pesawat udara bisa lebih cepat daripada kendaraan darat, dan kendaraan darat bisa lebih cepat daripada kapal laut karena bidang geser kapal laut terhadap air lebih luas, selanjutnya kapal selam paling lambat sebab seluruh badannya bergeser di air. Maka aliran dalam pipa karakteristiknya mirip kapal selam, tetapi KANAL-V mirip kapal-laut.

    Sekiranya saya tidak salah, mohon om papang mengoreksinya:
    Laju-aliran (u) akan tambah cepat, selama vektor gaya-berat (W.sinα) masih lebih besar daripada gaya-geser (Fr):
    u = ∫ (W.sinα – Fr)/m dt
    Gaya-geser (Fr) bertambah besar sebanding dengan hasil perkalian dari koefisien-geser, panjang-pipa dan kuadrat-kecepatan dibagi diameter-pipa:
    Fr ≈ λ.L.u²/d
    Perhitungan menjadi agak komplex, sebab koefisien-geser (λ) juga berubah akibat perubahan kecepatan (u).
    Namun pada garis besarnya dapat disimpulkan, bahwa kecepatan meluncurnya lumpur di dalam pipa maupun di kanal-terbuka akan mulai dari nol, dan makin dipercepat selama vektor gaya-berat (W.sinα) masih lebih besar daripada gaya-geser (Fr). Tetapi pada saat W.sinα sudah sama dengan Fr, maka kecepatan itu akan stabil dan tetap.

    Seperti hasil iterasi komputer pada KANAL-V (lebar-dasar = 0,907 m), untuk lumpur segar (υ = 20 cStk), Q = 125.000 m³/hari dan sinα = 2% (α = 1,17º), maka kecepatan-stabil (û) adalah:
    û = 3,24 m/detik.
    Kalau lumpur mengalir di pipa, berapapun besarnya, tentu saja kecepatanya lebih rendah daripada 3,24 m/detik, sebab penampang berbentuk lingkaran, baik terisi penuh maupun sebagian, maka gaya-geser (Fr) yang ditimbulkan akan selalu lebih besar daripada KANAL-V.

    Tentu saja tidak mungkin lumpur 125.000 m³/hari seluruhnya mengalir lewat pipa sejauh 4000 m, jika ΔH hanya 20 m, sebab itu berarti:
    Kemiringan: 20/4000, atau 5 mm per meter panjang pipa.

    KANAL-V, karena bentuknya terbuka ke udara di bagian atas, akan dapat menempuh jarak paling jauh, yakni sekitar 1000 m, berarti:
    Kemiringan: 20/1000, atau 20 mm per meter panjang KANAL-V.

    Jika KANAL-V itu ditambah dengan NOSEL-OMPAPANG-HERMAN (NOH) + kompresor angin, maka elevasinya cukup 1%, atau jarak tempuh menjadi 2000 m, berarti:
    Kemiringan: 20/2000, atau 10 mm per meter panjang KANAL-V + NOH.

    Bahkan, jika ditambah lagi dengan KINCIR-YANATAN (KY), maka elevasinya hanya ½%, atau jarak tempuh menjadi 4000 m, berarti:
    Kemiringan: 20/4000, atau 5 mm per meter panjang KANAL-V + NOH + KY.

    Namun pekerjaan yang paling rumit adalah: bagaimana awal memasukkan lumpur ke dalam pipa atau KANAL-V hingga tercapai kecepatan-stabilnya (û). Disain untuk ini dapat menyerupai corong minyak tanah. Di tengah pond dibuat corong dengan diameter lubang-atas 8 m, yang bibirnya pas setinggi permukaan genangan lumpur, sehingga lumpur dapat melimpah masuk ke dalam corong. Corong itu mengecil seperti kerucut sedalam 1,5 m dengan diameter dasar 2,5 m, yang dihubungkan dengan pipa-elbow menuju ke KANAL-V. Tentu masih banyak alternatif disain, namun memerlukan perhitungan yang cermat.

  71. usil berkata:

    Ck..ck..ck…Ini yang lama aku tunggu, hoh! baru muncul toh pak RIrawan?
    Hayah! Ternyata rahasianya disana to pak?

    Pantesan lama ditunggu, koq hasil uji-coba EBS gak dateng2. Rupanya
    hitungan mereka BEDA dengan etungan bapak (usil simak yang omPapang
    bilang tempo hari).
    Aduuuh! bukannya usil mau ‘ADU-DOMBA’, tapi silahkan saja tim EBS
    untuk membantah/koreksi jika etungan TIM KECIL kita ada yang salah.

    POKOKE kalo pak RIrawan sering muncul dan berduet dengan omPapang,
    usil juga gak ragu berduet dengan mang Ipin untuk memberi aba2:
    BARISAN SUDAH LURUS!!!

    Ini baru sedep….puas! puas!

  72. ompapang berkata:

    Woo,jebulannya gak sampai 4000 meter to PaK RIrawan ? Wah ,tiwas aku optimis,yang tak pikir hanya DAYAnya. Tak kira ki dengan Q =120 ribu m3/hari (=EBS) dan tinggi 20 meter serta kecepatan kira-kira 10 meter /detik( separonya 20 m/detik) , dayanya cukup untuk lari sampai 4000 meter. Lha kok malah kurang dari 700 m. Pak RIrawan sih . . . . nggak dulu-dulu ngetungkan jarak jangkau aliran dalam pipa penuh ! Jadi pilihan tetap pakai kanal V +kaskade ya pak ?
    Btw, masalah airnya saja yang dialirkan dan lumpurnya ditinggal kira-kira gimana pak, apa menjadikan tambah tinggi genangan atau dapat kembali masuk kebawah lagi sehingga tinggi yang 20 meter itu ( head ) konstan ? Kalau tambah tinggi kan berarti tanggulnya makin tinggi, jadi tak mengenai sasaran penghematan biaya.
    Sst, pak a Otnaidah, budaya malu masih melekat pada pejabat yang menangani , orang Jawa bilang ISIN MUNDUR !

  73. a_otnaidah berkata:

    huah……………, ini ulasan keren. aku juga mikir, kanal-v atasnya kebuka cuma serempetan ama udara, ya mustinya paling kenceng aliran turunnya. kalo pipa kan ketutup rapet, alirannya ngegeser ama seluruh bagian dalem pipa, yo alirannya mesti aja jadi pelan. ini mana orang2 universitas. mustinya yo dikupas abis, dibuantah kalo dianggep ngawur atawa didukung kalo teorinya mantep ga kebantah, trus suru pejabat2 berwenang cepetan bikin kanal-v. mbok ojo mbungkem mulu. apa tega ngebuangin duit tahunan lagi ampe tamba nuanyak rumah ketelen lumpur?

  74. RIrawan berkata:

    Teman, saya mohon maaf tidak dapat sering bercengkerama di blog ini, walaupun senang dan saya banyak belajar dari sini. Tugas dan kepentingan banyak orang mewajibkan saya serius menanganinya dan sering bepergian. Tetapi saya kagum dan hormat kepada bapak-ibu, yang mau meluangkan waktu dan pikiran mendiskusikan lumpur Lapindo ini, demi keinginan untuk mengatasinya atau bahkan menghentikannya.

    Tentang EBS, ompapang, pak inyo, pak usil, pak otnaidah dll sudah merangkainya, sehingga kiranya sudah jelas konsep yang dimaksudkan oleh pemrakarsa. Jika benar, bahwa konsep EBS persis teknik menguras akuarium pakai selang, maka EBS tidak mungkin berhasil diterapkan guna mengalirkan lumpur dari pusat semburan seperti telah diduga oleh pak otnaidah, karena lumpur pas mendidih pada 110 °C. Dalam hukum bejana berhubungan, maka tekanan permukaan lumpur di luar dan di dalam pipa 6” adalah persis sama, yakni 1 atm. Ruang hampa yang dibentuk oleh air-pancingan 5000 liter, akan segera diisi oleh uap air panas 1 atm, sehingga permukaan lumpur di dalam pipa tidak akan naik ke atas.

    Ompapang telah membuat analisa yang menarik tentang lumpur yang dialirkan lewat pipa dari ketinggian H = 20 m diatas tanggul. Namun sekiranya boleh, saya ingin sedikit mengutarakan sisi lain.

    Kecepatan arus: u = √(2gH) ≈ √(2x10x20) m/detik ≈ 20 m/detik, adalah kecepatan jatuh bebas suatu benda dari ketinggian H = 20 m, yang menderita gravitasi 10 m/detik2 dalam ruang hampa.

    Sedangkan di dalam pipa miring ke bawah, sekiranya hambatan udara diabaikan, maka berlaku persamaan dasar Bernoulli sbb
    H + u1²/(2.g) + p1/(ρ.g) = u2²/(2.g) + p2/(ρ.g) + λ.L.u2²/(2.d.g)
    Dengan penyederhanaan, bahwa kecepatan awal u1 = 0, dan tekanan p1 di awal pipa adalah sama dengan tekanan p2 di akhir pipa, maka berlaku:
    u2 = √{(2.H.d.g)/(λ.L + d)}
    Koefisien-geser lumpur dalam pipa tergantung dari Bilangan-Reynold Re = u2.d/υ, dan karena aliran tidak boleh mengendap maka aliran harus bersifat turbulen (Re lebih besar 2320).
    Kemudian kita andaikan, bahwa pipa yang dipakai sangat baik dan permukaan bagian dalamnya relatif halus (k/d lebih kecil 10^(-3)), maka berlaku secara empiris:
    λ = 0,3164 x Re^(-0,25)

    Dengan debit lumpur Q, jika penampang irisan aliran membentuk lingkaran penuh sesuai penampang pipa berdiameter d, maka berlaku:
    û = 4.Q/(π.d²)

    Dengan algoritma numerik, diperoleh hasil optimalisasi untuk Tinggi-Tanggul atau Beda-Tinggi-Pipa: H = 20 m:
     d = 1,2 m ; Panjang-Pipa-Maximum ≈ 700 m
     d = 1,5 m ; Panjang-Pipa-Maximum ≈ 800 m

    Penggunaan pipa dalam hal ini menimbulkan kesulitan dalam menentukan parameter dimensinya yang saling kait-mengait (d, L), karena:
    a) jika pipa (d) terlampau kecil dan L terlampau panjang, maka tidak seluruh debit Q dapat dialirkan,
    b) jika pipa (d) terlampau besar dan L terlampau pendek, maka irisan penampang aliran akan berbentuk “U” atau tidak seluruh pipa terisi aliran.
    c) pada dasarnya, makin besar pipa (d), makin amanlah kemampuan pipa untuk menampung tambahan debit, tetapi jika irisan penampang aliran kurang dari setengah lingkaran maka kecepatan akan melambat dan terjadi resiko pengendapan.
    Selain itu, perubahan karakteristik lumpur (viscositas υ, temperature, konsistensi) akan beresiko memperburuk sifat aliran.

    Berdasarkan hasil perhitungan di atas, bahwa untuk mengalirkan lumpur yang besarannya berubah-ubah (Q, υ, T, ρ, konsistensi), maka tidak menguntungkan dan berresiko, jika dipakai pipa, sehingga jauh lebih baik memakai semacam talang terbuka atau KANAL-V, karena:
    1) seluruh energi potensial dari massa lumpur yang meluncur turun dapat digunakan paling optimal untuk mengatasi geseran antara lumpur dengan bidang-geser KANAL-V,
    2) bidang-geser Kanal-V lebih kecil daripada pipa, sehingga lumpur dapat meluncur turun lebih deras,
    3) berdasarkan perhitungan matematik, tidak ada bentuk lain (pipa dll) yang dapat menghasilkan jangkauan lebih panjang daripada KANAL-V, yakni L = 1000 m untuk beda-tinggi H = 20 m,
    4) Kanal-V dapat mengalirkan hingga 6x debit minimum,
    5) mudah diatasi, sekiranya terjadi pengendapan.
    Mohon koreksi, sekiranya saya ada kekeliruan.

  75. mang Ipin berkata:

    He..he..he bung Usil,dek Inyo pak. a_otnaidah ngebaca diskusi diatas ogut jadi ter
    ingat kenapa gak ada respon dari pihak2 terkait yg menangani si LuSi ntu….mau
    tahu nggak???? coz team di blog ini cq yang punya teori Kanal-V p.R Irawan tidak
    mengundang untuk pertemuan di Shangrila hotel! sehingga sdh ke baca gak punya
    uang rokoknya??????artinya biarpun ide yang bagus dan murah tetap aza gak
    bakal di-toleh2!!!!coba tanya kenapa?????? mbuh

  76. inyo berkata:

    Bener P. a_outnaidah, tentu dananya datang dr pengusaha2 yg banyak duit , spt Ir. Djaja Laksana komandan team EBS, di suatu forum beliau pernah bilang :

    “Saya sudah bicara di sebuah forum yang diadakan di Hotel Shangri-La, Surabaya, 20 September 2007. Bahwa semburan itu bisa diatasi dengan pipa berdiameter sekitar dua meter dengan biaya Rp 100 juta. Saya tawarkan saya bayar sendiri,” papar Djaja Laksana.
    tapi perlu digarisbawahi bahwa dana tsb maksudnya bukan utk “wang Rokok” lho !!, tapi utk “Dana Proyek”.

  77. a_otnaidah berkata:

    ha……….. pa inyo telak.
    disini anomali sejagat ngumpul en gentayangan malang melintang. yang murah bagus en peluang suksesnya gede ga dikerjain. yang mahal jelek en gagal mulu diulang2. ngerjain apapun juelek en rusak mulu, tapi muahal buanget. makanya nasib kebolak balik. negara tandus kerontang ga punya minyak ga punya apapun seperti jepang, swiss, singapur jadi makmur duit simpenan banyak en nguasain teknologi. kite disini yang subur ijo royo2 gemah ripah loh jinawi di jamrud katulistiwa, punya minyak/gas/emas/tembaga/nikel/timah/ikan/dsb, eh malah buanyakan nganggur, jadi reman en koruptor. yang bodo, titelnya belerot en jadi pemimpin.
    kalo bukan penguasaha atawa koruptor, dari mana bisikin uang roko 100 jt?

  78. usil berkata:

    Pak Inyo, walo kita semua cuman berhubungan melalui dunia virtual.
    Menilik dan mempelajari akan postingan2 terdahulu, maka kita jadi
    kenal siapa itu omPapang, bu Hime dan pak RIrawan. Orang2 dengan
    intelektual sekelas mereka, aku optimis mereka sangat konsekwen.
    Jadi, klo ada yang memang serius ingin kerjakan kanal-V, aku optimis
    pak RIrawan akan memberikan apa yang dia sudah janji.
    Tapi menurut rabaan usil, kalo mereka sudah mentok..tok..tok dan babak
    belur gak punya lain jalan lagi. Baru mereka ‘terpaksa’ pakai kanal-V
    sebagai jurus pamungkas.

  79. inyo berkata:

    CI…LUB…BA..AAA !!!
    OmPapang, P. Usil, Mang Ipin, dan kawan2 smua tanpa kecuali
    Kita ngrumpi disini aja yokk…!!
    Saya sangat penasaran plus prihatin akan budi baik Bapak RIrawan ” ttg kanal-Vnya” yg ga pernah dapat respon(disepelekno) ama BPLS, padahal Pak RIrawan dengan rendah hati pernah janji :
    “COBALAH!”
    Gampang dikerjakannya dan murah.
    Kalau serius, saya akan berikan disain format guide-entry-channel nya di blog ini. Agak rumit dan makan waktu perhitungannya. Dari situ kita akan segera dapat melihat, apakah angka-angka perhitungan dan hipotesanya benar.Selanjutnya, akan bisa dibuatkan rencana besar untuk penanganan atau metode mangalirkan lumpur secara benar dan rasionil, yang pasti berhasil dan tanpa perlu menghamburkan biaya sia-sia.
    Kata2 “COBALAH pake tanda “penthung” ini mugkin dianggap kurang sopan jadinya ga direspon, coba klo diganti: “Kulonuwun YTH Bapak2 silakan dicoba metode saya ini murah dan gampang dikerjakan….tapi..ssttt…sstt, jangan bilang2 ini ada sekerdar uang rokok 100 jt utk Bapak2”, wah pasti diterima….”Siyap boss…laksanakan, tapi… jangan bilang2 juga yah!!
    YTH Bapak RIrawan, apakah disain format guide-entry-channel nya ga sekalian dipostingkan disini, biar lebih komplit ? apa Off the record?

  80. usil berkata:

    Lho!!! ternyata gak ada….yaaaaaaaa?

  81. usil berkata:

    Seminggu terakhir semua kalang-kabut, baik BPLS maupun Pemda
    akibat ulah si Lula yang genit.
    Inilah saatnya yang tepat untuk melihat-lihat lagi hitungannya bagaimana
    kecepatan sigenit Lula mengendap di kali Porong sana.
    Sebagaimana yang dijanjikan, besok Agustus pak RIrawan akan gabung
    lagi di blog ini untuk berdiskusi.
    Ha?? Pak Inyo, mang Ipin akan dapat teman diskusi baru, sahabat lamanya
    omPapang dan pak Dhe. Semoga tidak meleset!!

  82. ompapang berkata:

    Kok JAYA MAHE !.Sekedar pak Usil tahu, semboyan JAYA MAHE dicetuskan tahun 1962/1963 oleh temanku Widiyanto (almarhum), mengambil semboyan Angkatan Laut “Yales Veva Jaya Mahe” . Kebetulan setelah lulus dia bisa menjadi taruna AL dan pensiun sebagai Kolonel. Tetapi saat kita masih di SMA, semboyan itu diplesetkan menjadi Jales Veva Jaya Mahe,Dilaut kita Jaya ,didarat kita Buaya. Namanya saja murid SMA !

  83. usil berkata:

    omPapang jangan suka nledek sama JAPE METHE….
    Yang kagak ada matenya dari usil…MATERAMALnya doang, tapi yang
    lainnya…uuuuuuh!
    JAYA MAHE!!! buat omPapang dan pak Dhe.

  84. usil berkata:

    inyo Says:

    Juli 17th, 2007 at 7:03 am
    OmPapang, sy iseng2 nanya neh, klo teknik ENCENG GONDOK diterapkan, trus suatu saat nanti(maybe..sekian ribu/juta th kmd) terjadi siklus ke 2 (teori Sumantri),
    kmd dikelola oleh “LAPINDO PART-II”, gimana??
    apa ga lbh baek menyempurnakan kanal-Vnya pak RIrawan

    usil Says:

    Juli 17th, 2007 at 8:05 am
    Kembali ke…laptop!!!
    Selain pak Inyo dan saya yang sependapat bahwa untuk saat ini metode
    kanal-V (RIrawan) + NOH Nozzle Ompapang & Herman yang paling
    ketemu nalar untuk mengatasi Lula, mungkin juga masih ada kawan2 lain
    yang sependapat.
    Dari tiga orang pencipta metode diatas, hanya omPapang yang masih aktif.
    Pak Herman sudah lama gak muncul. Sedangkan RIrawan baru bisa aktif
    akhir Agustus (menurut pak Dhe).
    Pertanyaannya: Apa diskusi bisa berjalan smooth?
    Kalo ada pembahasan tentang Nozzle, tentu omPapang bisa mewakili pak
    Herman untuk menjawab. Tapi kalo ada pertanyaan diseputar rumus kanal-V
    RIrawan, apa Usil yang harus jawab? Whalaaah!! mate aku….

    ompapang Says:

    Juli 17th, 2007 at 12:52 pm
    Pak Usil kagak ada matenye ( Jw : Pak Usil boten wonten paningalipun … he he he)

  85. Pailul berkata:

    Kenapa sih lumpur harus dibuang,?
    Bukannya kalau dibuang akan menambah atau bahkan menyebarkan masalah ke tempat lain. Juga biaya membuangnya lebih baik dipakai buat membayar gantirugi.

  86. Janatan berkata:

    USULAN POMPA KHUSUS LUMPUR yang tahan :
    – ABRASI,
    – KOROSI,
    – TIDAK AKAN ADA CLOGGING
    – TIDAK PERLU FLUIDA YANG BERSIFAT LUBRIKASI,
    – TIDAK PERLU MAINTENANCE RUTIN
    – BAHKAN MAMPU MENGANTISIPASI SAMPAH
    (plastik, kain, ranting2 pendek, batu2 kecil (s/d 5 cm) dsbnya)

    lihat di website :
    http://yanatan.wordpress.com/dd-pumps-pompa-untuk-penanganan-lusi/

  87. mang Ipin berkata:

    Bravo . . untuk semua ide para jenius yang sudah banyak diuraikan diatas,namun untuk sdr RIrawan punya ulasan tgl 10/05/07 yaitu temporary dialirkan ke S.Porong
    dan permanently ke Selat Madura adalah suatu hal yang lebih relevan ke pada pokok permasalahan LuLa tsb ,dari pada terus menerus meninggikan dam or
    tanggul yang memakan biaya suanget significant yang tengah terjadi,namun harus diingat bahwa prediksi terjadinya
    amblas dengan radius 1,5Km dari pusat semburan tolong jangan dilupakan…dus infra
    struktur Jalan Raya Porong/Jalan KA/Tol/Pipa PDAM/Pipa Gas, last but not least masyarakat/penduduk adalah juga merupakan pokok persoalan yang harus segera di
    tangani ,jangan sampai sudah terjadi musibah amblasnya tanah dengan
    radius 1,5Km baru disesali
    namun ada pepatah orang bijak mengatakan GEJALA ALAM AKIBAT
    ULAH MANUSIA MENGEKSPLOITASINYA MAKA MANUSIA JUGALAH YANG AKAN
    MENANGGUNGNYA,ini sekedar sharing memang sesuatu yang sudah terjadi tak dpt
    disesali dan bukan mitos, bila ibu Pertiwi ditusuk oleh manusia dengan pe-
    ngeboran maka akan terjadi apa yang harus terjadi,kok ditempat lain gak terjadi seperti di Porong tsb?????bukan karena LBI sedang sial!!!!namun ini hanya sekedar
    peringatan bahwa jangan keterlaluan untuk memeperkaya diri…..ingat kepada anak cucu yang masih harus survive…….ngono ngono ojo ngono !!!!!!!!

  88. usil berkata:

    Pak Wandi dan Pak Boxal apa sudah baca detail TULISAN diatas?
    Pinjam istilah pak Dhe “panasaran?”, baca aja yang detail.

    Bagaimana? apa penulisnya cukup layak berkomentar soal HDCB?
    Sayangnya pak RIrawan sekarang jarang muncul, yang menurut
    beliau sedang banyak kerjaan.

  89. usil berkata:

    Kalo Lapindo cerdas, dia harus coba metode RIrawan ini.
    Metode ini jelas bisa diuji-coba dulu dengan skala kecil. Kalau
    gagal, bisa segera distop dan pasti ongkosnya cilik.

    Dari pada mencoba usul2 yang memakan biaya miliaran, tapi
    tidak jelas hitungannya….itu namanya stupid. Koq keblinger
    terus sih….mandah diatur sama BPLS, padahal yang keluar duit
    juga Lapindo. Ayo! pengusaha harus berani ambil resiko dong.

  90. usil berkata:

    Sebetulnya usul pak RIrawan ini mungkin sudah yang paling murah.
    Tapi menurut saya tetap masih sulit diterapakan. Persoalan utamanya
    ada di lain bagian, yakni: Koordinasi antara BPLS dan LAPINDO sulit
    disinkronkan. Misalnya:

    BPLS: Yang di beri kuasa penuh oleh pemerintah.
    LAPINDO: Yang berhak membayar setiap pengeluaran

    Contoh:
    Tim Nas/BPLS: Setujuh bolton dijalankan
    LAPINDO : Harus bayar, walaupun Bolton gagal.

    Lha…kalo setiap kali gagal, tapi LAPINDO disuruh bayar terus,
    siapa yang tahan?? duit sekarung juga lama2 amblas!

    Maka jangan heran jika ada proposal ‘no cure no pay’, pasti akan
    ditangkap. Gak ada resiko apapun buat BPLS maupun LAPINDO

    Akibatnya? ya…seperti yang mas RIrawan bilang: “terus…pakai
    ilmu coba2”

    Kesimpulannya: Selama system pembagian tugas antara LAPINDO
    dan BPLS masih seperti saat ini, maka proposal apapun dengan
    tingkat sukses yang tinggi sekalipun, hanya bisa diterima asalkan
    no cure no pay.
    Benar juga kata omPapang, “sebaiknya semua biaya LuLa diambil
    alih dahulu oleh pemerintah, baru kemudian ditagih 100% dari LAPINDO.

  91. RIrawan berkata:

    Menurutku pak dhe, BPLS harus punya blueprint. Sasaran atau targetnya apa saja. Cara mencapainya atau metodenya bagaimana? Perhitungannya, angka-angkanya dan konsepnya perlu rinci dan jelas. Lalu semua dituangkan dalam planning dan jadwal. Jadi dapat diukur gitu.
    Ini kog tidak jelas. Dana dikeluarkan untuk pekerjaan yang itu-itu lagi dan sudah berulang-ulang gagal, tetapi diulang-ulang terus. Kalau di Jepang, sudah pada bunuh diri kali. Whuuups … sori, aku kog jadi cuap-cuap kayak orang-orang interaktif di radio gini? Gak etis dan gak cocok sama budaya kita ya?
    Aku pernah menuliskan perhitungannya di sini. LuLa yang bergerak lambat, padatannya yang lebih besar 2 mm akan turun mengendap 1 m dalam 17 detik, lalu yang lebih kecil hingga 0,6 mm dalam 295 detik. Dengan gerakan mengalir yang cuma 0,1 s/d 0,4 m/det; LuLa itu menempuh jarak 200 m dalam waktu lebih dari 500 detik, maka tentu saja padatannya mengendap semua, atau tampak mengental, sebab hanya air dan butiran halusnya (silt, clay) yang mengalir sampai jauh. Mengental, liat dan padat itu juga disebabkan oleh tingginya kohesi molekular LuLa, yang juga menyebabkan sifat dilatant LuLa, yakni viskositasnya naik bila terjadi kenaikan tegangan geser.
    Yang 20% itu sudut apa pak dhe? Kalau elevasi spillway, artinya LuLa meluncur turun dari ketinggian 10 m sejauh 50 m, ya tidak bakal terjadi endapan atau pengentalan LuLa. Cuma salah besarnya, itu disain spillway terlalu lebar dan lantainya kelewat kasar, sehingga makan energi besar yang menghambat aliran. Padahal LuLa segar yang masih panas harus mengalir diatas 3 m/det agar tidak terjadi endapan.

    Paling penting sekarang pak dhe, ya dilakukan percobaan dulu dengan KANAL-V. Pendek-pendek ala kadarnya dulu juga boleh. Biaya nya juga sangat murah kog. Dari hasilnya bisa diketahui, apakah konsepnya benar.

    Pak dhe benar. Paling sulit itu awalnya (guide-entry-channel). Aku perlu menghitungnya dengan cermat untuk menentukan konturnya. Kalau serius, akan aku kerjakan.

    KANAL-V kan dibuat dari beton pracetak. Jadi tergantung sistim penyanggahnya. Bisa permanen, tetapi bisa juga berupa konstruksi yang mudah dibongkar pasang (kayak menaruh paving).

  92. Rovicky berkata:

    Setahuku meninggikan tanggul ini karena ambles, bukan sekedar untuk menambah volume. Wlaupun volumenya terus bertambah.
    Kmarin wektu diskusi dengan Tim HDCB di pameran IPA, di JHCC menurut critanya lumpur ini hanya mengalir sejauh 200 meteran dan langsung mengental, ntah saya ndak tahu seperti apa. Tapi info ini sepertinya ada di spill way yang kalau ngeliat fotonya sudutnya sudah cukup besar lebih dari 20%. Dankerna lokasinya jauh dselatan dari semburan (dekat kali Porong) lihat petanya.

    Kanalnya Pak RIrawan untuk awalnya berapa sudut/slope yang dibentuk ?
    Kalau di beton itu permanen atau bisa dibongkar pasang juga ?
    Setahuku masih ada pemikiran sesuatu yg dapat dibongkar pasang.

  93. RIrawan berkata:

    Terus meninggikan tanggul adalah tidak masuk akal, sebab pasti jebol lagi. Ini sudah nyata dan terjadi berulang-ulang. Kenapa tetap diteruskan?

    Upaya mengalirkan lewat spillway? Metodenya salah! Tidak mungkin spillway dengan bentuk seperti sekarang bisa mengalirkan lumpur. Dibantu eskavator adalah boros, tidak efisien dan tidak mungkin dilakukan terus menerus. Mengencerkan lumpur, menunggu dingin lalu memompanya ke Kali Porong, juga jelas boros biaya, merepotkan dan tidak sebanding dengan debit semburan.

    Tanggul pond saat ini sudah cukup tinggi.
    Kenapa tidak segera dicoba memasangkan KANAL-V (talang beton, lebar 1 m)?
    Beayanya sangat kecil. Rp 150 ribu per m lari.
    Katakanlah tinggi tanggul 10 m, itu sudah cukup untuk meluncurkan lumpur sejauh 500 m.
    Beayanya talang beton (pre-cast): 500 x Rp 150 ribu = Rp 75 juta.
    Biaya pemasangan mungkin cukup Rp 25 juta.
    Jumlah Rp 100 juta saja.

    COBALAH!
    Gampang dikerjakannya dan murah.
    Kalau serius, saya akan berikan disain format guide-entry-channel nya di blog ini. Agak rumit dan makan waktu perhitungannya. Dari situ kita akan segera dapat melihat, apakah angka-angka perhitungan dan hipotesanya benar.

    Selanjutnya, akan bisa dibuatkan rencana besar untuk penanganan atau metode mangalirkan lumpur secara benar dan rasionil, yang pasti berhasil dan tanpa perlu menghamburkan biaya sia-sia.

  94. Arsolim berkata:

    Pak herman di artikel itu disebutkan bakterinya cuma doyan makan ASPAL dan harus ada sedikit oxigen untuk hidup, kalau diberi makanan lain yang ga enak seperti LUSI, apa ya mau pak ?

  95. herman berkata:

    ini abstrak :
    Jika daftar bakteri yang sejenis ini sudah dipetakan untuk bermacam-macam deposit lumpur minyak.
    Seandainya kita bisa mengembangbiakkan bakteri ini langsung didalam tanah berlumpur.
    Kita tinggal menunggu …. 5 thn .. 10 thn … 15 thn …. GAS METHANE dalam jumlah besar dapat ditambang.
    Jika kita bisa menginjeksikan substrat lumpur kedalam deposit yang berkurang karena sudah menjadi digester itu …. kita punya sustainable gas alam ….
    ( ini hasil dari khayalan metatheorema lagi ….)

  96. herman berkata:

    Ditemukan bakteri pengunyah aspal dimana hasil buangannya gas methana
    http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0705/11/115145.htm
    Bukan tidak mungkin gas H2S semburan LUSI hasil dari bakteri ( mengapa harus diabaikan ?? )

  97. Rovicky berkata:

    Kalau dalam waktu enambulan kering dan lumpur sudah mengalir ketempat lain (selat madura (?) kemudian infrastruktur setelah diperbaiki dimanfaatkan lagi …… nantinya semburan berenti nggak, kalau ngga berenti, yang dibawah kosong akan jadi ambles ndak ?

    Apakah fungsi rel dan jalan raya masih masih berfunsgi atau harus diperbaiki lagi ketika ambles terjadi ?

    Kalau mengalirkan ke kali porong dan kali Porong mendangkal shg berkurang kemampuan pengalirannya, maka saya kira dimusim hujan air kali porong akan kembali menjadi problem banjir hingga Surabaya. Problem di lokal justru menjadi problem regional. Belum lagi kalau selat Madura mengundang protes sosial masyarakat pantai.

    Localised the problem … itu yang mendasari saya ketika saya menuliskan untuk menenggelamkan daerah ini 🙂

  98. RIrawan berkata:

    Jika seluruh debit semburan lumpur dapat ditangani dengan benar dan dialirkan keluar sampai ke tujuan (Kali Porong atau Selat Madura), maka seluruh genangan seluas 700 ha akan KERING DALAM WAKTU 6 BULAN.

    Sehingga Jalan Raya Porong, Rel KA dll akan dapat berfungsi kembali.

  99. RIrawan berkata:

    Mengapa buru-buru memindahkan Jalan Raya Porong, Rel KA dan infrastruktur lain?
    Beayanya sangat besar dan belum tentu selamat, jika luberan lumpur terus meluas.
    Apalagi dananya dari APBN. Dus artinya ditanggung oleh seluruh rakyat.

    Terus meninggikan tanggul adalah tidak masuk akal.

    Tindakan yang harus segera dikerjakan adalah:
    1. MENGALIRKAN LUMPUR KE KALI PORONG (sementara)
    2. MENGALIRKAN LUMPUR KE SELAT MADURA (permanen).

    Cara paling rasionil yang diramu dari ide-ide yang masuk ke blog Rovicky ini dipastikan (berdasarkan perhitungan hidrodinamika) akan bisa mengalirkan 100 s/d 200 ribu m³/hari lumpur secara terus menerus:

    A) KANAL-V dengan kemiringan 2%, yang berfungsi sepenuhnya dengan gravitasi.

    B) KANAL-V dengan kemiringan 1% + NOSEL-OMPAPANG-HERMAN + kompresor angin.

    C) KANAL-V dengan kemiringan kurang dari ½% + NOSEL-OMPAPANG-HERMAN + kompresor angin + KINCIR-YANATAN.

    Selain itu ada konsep-konsep tambahan yang dapat dikombinasikan:

    D) KASKADE, yakni stasiun KANAL-V naik-turun (sesuai A atau B di atas) secara estafet. Untuk jarak jauh hingga ke Selat Madura.

    E) POND-SUSUN-^-SYAHRAZ, yang menaikkan level lumpur hingga 39 m, sehingga dapat mengalirkan lumpur sejauh 2 Km lewat KANAL-V dengan gravitasi.

    F) MENARA-TZC, yakni cincin-cincin beton yang disusun membentuk menara kerucut (tumpeng), sehingga lumpur daripuncak menara dapat dialirkan turun lewat KANAL-V dengan gravitasi.

    Jika masih diragukan, dapat dilakukan percobaan KANAL-V itu dengan biaya sangat murah.

    Konsep gagasan di atas datang dari rakyat biasa, yang punya kepedulian, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali suksesnya upaya menangani bencana ini.

    Tetapi di sini diperlukan birokrat dan pemimpin dengan kualitas negarawan sejati, yang mampu memutuskan kebijakan langkah yang benar atau korban dan kerugian akan makin besar ditanggung oleh bangsa ini.

  100. Hendro Nugroho W. berkata:

    Dari gambar satelit CRISP, yang bisa di integrasikan ke Google Earth, diameter tanggul cincin sekitar 170 m, diameter luar tanggul sekitar 200m, diameter dalam sekitar 140m, dan bentuknya agak “peyot”, nggak seperti lingkaran murni.
    Filenya bisa diambil di : http://www.crisp.nus.edu.sg/coverages/mudflow/index.html
    Moga2 bisa dijadikan rujukan utk bapak2 menghitung lebih detail konstruksi menara-tzc tsb.

  101. ompapang berkata:

    waduh, pak RIrawan, saya nggak bisa nggambar dengan Autocad Corel draw, baru belajar dikit-dikit supaya nggak gaptek(gagap teknologi), bisa saya nggambar pake tangan kemudian discan. Tetapi saya punya tetangga sebaya dengan saya yang mau dan mampu buatkan gambarnya , kebetulan beliau sarjana teknik sipil, mudah-mudah dapat segera saya kirimkan.
    Untuk mengatasi bocor,mungkin bisa dipakai metode “suntik beton”,yang berfungsi ganda,yaitu merekatkan elemen satu terhadap yang lain dan mengisi celah-celah yang berpotensi sebagai sumber kebocoran.
    Bayangan saya, bentuk bangunan menara -tzc itu mirip-mirip IGLO, rumah es bangsa Eskimo, dimana pintunya difungsikan sebagai jalan keluar lumpur sebelum konstruksi selesai dibangun. Setelah selesai pintu tersebut ditutup untuk selamanya dan lumpur keluar dari puncak bangunan.

  102. RIrawan berkata:

    Om Papang, apa bisa dibuatkan naskah konsepnya pakai gambar dan skema urutan kerjanya, lalu dikirimkan ke alamat emailnya pak dhe buat dimuat. Menurut saya konsepnya menarik, Cuma sulit bagi bukan ahli bangunan kayak saya untuk bisa ngerti tuntas.
    Selain itu, cincin-cincin itu perlu sangat solid dan kuat, tidak boleh blengkak-blengkok atau sampai patah. Bangunan tumpeng raksana itu harus kedap antara cincin terhadap cincin yang lain, sebab harus bisa mengarahkan seluruh semburan lumpur sampai ke puncaknya, sehingga mengalir turun seluruhnya lewat KANAL-V. Kalau bocor ditengah atau samping, bisa gagal

  103. ompapang berkata:

    Pak R Irawan, selain baut, mungkin dapat dengan cara “puzzle plugging”, yaitu elemen dibuat dapat saling mengait satu terhadap lainnya pada arah atas – bawah serta kanan – kiri dan pada pertemuan sambungan cincin tiap baris dikunci dengan elemen khusus untuk mengunci,seperti susunan batu candi yang dilengkapi pula batu pengunci. Bila batu pengunci ini diambil, maka batu-batu candi yang lain dapat dibongkar. Dalam konstrusi ini fungsi elemen pengunci seperti batu pengunci pada candi, namun tetap membutuhkan baut pengikat agar kekuatan kontruksi terjamin terhadap beban tekanan lumpur dari dalam menara. Adapun pemasangannya diluar tanggul cincin pusat semburan, misal diameter luar dasar tanggul cincin 80 meter , maka desain alas Menara lebih besar dari 80 meter. Permasalahannya memang seperti yang Bapak sebut, manakala menara sudah mengerucut, tentu pekerjaan merangkai puzzle beton akan berada diatas lumpur yang mendidih, Hal itu mungkin dapat diatasi dengan melengkapi pekerjanya dengan mengenakan sabuk/tali dan pakaian serta masker pengaman juga diusahakan terlindungi oleh elemen yang sudah terpasang pada baris sebelumnya.
    Jadi selama pekerjaan belum selesai , lumpur tidak boleh menyentuh konstruksi bangunan, baru sesudah selesai, permukaan lumpur boleh dinaikkan dengan cara menutup pintu lumpur di box culvert, seperti menutup aliran air sungai saat bendungan mau diisi air/difungsikan., Sebelum selesai , pengelolaan lumpur seperti apa yang dilakukan sekarang.
    Ada baiknya para Perencana ,Pelaksana serta Pengawas pekerjaan dapat melakukan studi banding pada proses pembuatan Monumen Jogja Kembali yang kebetulan bangunannya berbentuk kerucut (tumpeng raksasa) dari cor beton, terutama dalam hal pengerjaan pemasangan keramik yang menyelimuti dinding luar kerucut. Kebetulan Monumen Jogja Kembali (Monjali) dibangun diatas tanah yang air tanahnya dekat muka tanah ( bisa dikatakan dibangun diatas sumber air !), sehingga konstruksi fondasi nya mungkin juga perlu untuk studi banding.

  104. RIrawan berkata:

    saya masih bingung om,
    merakit ke 240 elemen diatas kepundan yang panas dan penuh asap racun itu bagaimana? Apa ada cara lain selain baut?
    Selain itu, problem besarnya: cincin atau elemen, begitu ditaruh di pinggiran kepundan, kan langsung diluberi oleh lumpur. Kalau cincin utuh, karena ada tiang-tiang pengarahnya yang panjang vertikal keatas, maka cincin berikutnya bisa dipasang tepat bersusun di atasnya.
    Namun kalau elemen-elemen kecil, begitu diselimuti oleh luberan lumpur, kita kan sangat kerepotan menyambungnya dengan elemen berikutnya?

  105. ompapang berkata:

    Pak RIrawan, yang saya maksud elemen itu adalah potongan-potongan cincin (double hexagonal) yang Bapak sebut beratnya 120 ton misal menjadi 240 potongan/elemen, dimana tiap elemen berbentuk trapesium atau segitiga. Jadi tiap elemen beratnya 0,5 ton. Tentu saja tiap elemen dilengkapi baut-baut untuk merangkai menjadi cincin segi 16 tersebut. Istilah matematikanya dideferensialkan dulu menjadi bagian yang kecil-kecil kemudian diintegralkan menjadi satu kesatuan berbentuk cincin segi 16. Adapun pemasangannya dapat diluar tanggul cincin yang sekarang ini ada, jadi tidak perlu nglangkahi semburan lumpur, mungkin hanya terputus oleh box culvert ( gorong-gorong) yang dipakai untuk mengalirkan lumpur selama MENARA -TZC dikerjakan. Demikian Pak RIrawan,semoga menjadi jelas .
    Saya sangat setuju pendapat Bapak mengenai kehebatan MENARA-TZC yang dapat mejadi casing -beton semburan lumpur. Hal ini mengingatkan saya tentang cara pembuatan sumur didaerah bertanah lembek atau berpasir yang mudah longsor. Dulu sebelum ada buis beton, seorang tukang batu membuat dinding sumur cukup berdiri diatas permukaan tanah, tidak ikut masuk kedalam sumur,sedang tukang gali ada didalam sumur mengeruk tanah yang ada dibawah gelang kayu sebagai alas dinding sumur dan menaikkan keatas dengan dibantu oleh seorang tukang lagi. Lama kelamaan dinding sumur turun perlahan-lahan kebawah sampai mencapai tanah yang berair. Cara tersebut dinamai membuat sumur dengan “cengkurah”. Sesudah ada buis beton, dengan cara “cengkurah “ini pembuatan sumur ditanah pasir atau lembek yang mudah longsor , relatif lebih cepat penyelesaiannya dibanding tempo dulu. Jadi casing beton raksasa dapat terwujud sebagai konsekwensi logis penerapan MENARA -TZC.
    Sebagai catatan, bila membutuhkan DANA dari SPONSOR, dapat menghubungi Direktur Pemasaran PAGODA PASTILES di Jakarta.( he….he….he…..)

  106. RIrawan berkata:

    Pak tzc, saya bukan spesialis sipil. Tapi saya coba menanggapi pertanyaannya.
    Ok, kita bahas khusus menara-hanoi. Tapi ijinkan saya menamakan MENARA-tzc, sebab anda yang pertama menemukan ide ini.

    1. Menurut saya kepundan tidak membesar terus menerus. Ada 2 faktor penyebabnya: erosi dinding akibat arus semburan dan pelunakan soil akibat uap dan air panas. Dengan makin besarnya garis tengah lubang, maka kedua faktor itupun mengecil.
    Karena medan yang sangat sulit dan waktu yang sudah kritis, paling penting adalah:
    Disain cincin pertama.
    kalau tidak ada usulan yang lebih baik, saya rancang sbb:
    beton diameter 50-60 m,
    tebal 50 cm dan tinggi 50 cm,
    format double oktagonal (bersudut 16),
    tiap sudutnya diberi jangkar baja macam kaki laba-laba 3 m dari sisi luar cincin,
    diberi tiang-tiang baja vertikal miring ke dalam sebagai pengarah (untuk cincin berikutnya),
    cincin pertama ini sangat penting guna menjamin stabilitas keseluruhan MENARA-tzc.
    Namun saya masih belum ketemu cara meletakkannya persis diatas lubang kepundan, sebab beratnya 120 ton, yang memerlukan 6 Chinook sekaligus. Ada teman yang bisa bantu? Ide ompapang dengan elemen-elemen segitiga saya belum bisa memahaminya. Kan harus di cor lengkap di luar, agar kuat, dan diangkut sekaligus lewat udara, sebab lubangnya terletak jauh ditengah kolam?

    2. Bila ada amblesan, misalnya cincin yang berada dipermukaan tinggal bergaris-tengah 30 m, maka segera mulai bangun MENARA-tzc berikutnya. Jelas dimulai lagi dari cimcin bergaris-tengah 50 m, atau malah 55 m. Begitu seterusnya sampai 30 tahun, bisa jadi ada 4 atau 5 MENARA-tzc yang susun menyusun. Tetapi yang kelihatan ya cuma 1, yang paling atas. Dan hebatnya: MENARA-tzc bersusun itu akan menjadi casing-beton yang kuat ontuk menahan erosi pembesaran lubang kepundan.

    3. Bagian paling atas MENARA-tzc bisa dibuat macam tabung setinggi 6 m, formatnya tetap double oktogonal. Salah satu sisi dari sudut-16-nya dibuat “lubang-limpahan” vertikal setinggi 5 m. Pada saat baru dioperasikan, KANAL-V dipertemukan dengan bagian bawah “lubang-limpahan”. Bila MENARA-tzc ambles dan turun, maka “lubang-limpahan” bagian bawah KANAL-V ditutup.

  107. tzc berkata:

    Ref:
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/04/24/lumpur-sulit-dialirkan-ke-spill-way/#comment-12740

    Anggap Kanal-V jadi terlaksana, dan sekarang berlanjut ingin memanfaatkan energi dari pusat semburan.

    Pak RIrawan, mau tanya lagi (maaf saya bisanya cuma tanya-tanya saja), katakanlah menara akan dibangun.
    1. Bagaimana melokalisir melebarnya diameter mulut semburan (karena menjadi salah satu pijakan dasar menentukan diameter lapisan pertama)? Di-casing ulang? Bisakah? sampai berapa dalam agar aman? atau cukup dipasang semacam nepel (beton / metal) pada hose sistem hidrolik?

    2. Bagaimana pula dengan amblesan? Kalau bangunan awalnya adalah mengerucut ke atas, ketika terjadi amblesan, cincin yang ditambah akan semakin mengecilkan diameter ujung atas kerucut. Kalau terjadi sampai 30 tahun, diameter ujung kerucut akankah menjadi nol? Kalau lewat dari itu, apakah yang harus dilakukan (nggak mungkin ‘kan harus menyusun ulang menara dengan melebarkan diameter lapisan dibawahnya?

    3. Setiap amblesan akan menurunkan titik keluarnya lumpur dari menara, kira-kira sistem fleksibel / knock-down yang bagaimanakah yang paling memungkinkan menghubungkan Kanal-V dan menara mengantisipasi hal demikian? Apakah sudah ada gambaran kasar menara itu?
    Terima kasih.

  108. tzc berkata:

    Manggilnya Om Papang saja deh. Sukses Om, gayung sudah bersambut. Bring…back! Bring…back!, Bring back my Porong lagi!

  109. ompapang berkata:

    tambahan:elemen juga bisa dicor ditempat lain,misal bentuk trapesium yang sisi sejajarnya melengkung sesuai bentuk kerucut, bila dirangkai akan membentuk kerucut terpancung, ukuran sesuai kapasitas crane yang ada,makin kecil makin ringan,tetapi jumlah elemen/potongan makin banyak.

  110. ompapang berkata:

    Saya membayangkan rangka baja dengan elemen segi tiga seperti konstruksi dome sangkar burung di Taman Mini Indonesia dengan maksud bisa knock down. Sedang pengecoran di tempat untuk memperingan pekerjaan, sebab untuk pengecoran sampai tinggi 15 meter masih dapat digunakan pompa beton (concrete pump ), kalau tiap elemen dicor ditempat lain juga masih menunggu beberapa hari sebelum bisa diangkut ke lapangan. dan dilapangan masih dibutuhkan juga crane kapasitas besar.
    Tentu saja masih ada pertimbangan kemungkinan adanya bahaya amblesan dan letusan yang membahayakan konstruksi dan tenaga pelaksananya dan ini harus menjadi perhatian utama sesuai semboyan : SAFETY FIRST !! ( Ctt : Mas TZC, panggilan akrab saya papang, tergantung “kepernah” apa terhadap saya yang menyebut nama, kalau adik saya memanggil dengan Mas pang, kalau kakak: dik Pang, keponakan :Ompapang, teman-teman :Pang , cucu ponakan (anak keponakan) memanggil saya dengan eyang ompapang atau mbah papang, tetangga menyebut Pakpang. Yang lucu anak saya yang sulung (34) memanggil saya ompapang, sedang anaknya (cucu saya, 4th ) berakrab ria dengan memanggil mbahnya dengan PakPang, meniru tetangga menyebut panggilan saya. Untuk itu santai sajalah, nyebut mas(dimas/kangmas) atau om atau pak, sama saja,nggak usah ewuh pakewuh, asal jangan MBAH atau EYANG, nanti saya AWET TUA.)

  111. tzc berkata:

    Baik, sebelum berlanjut, saya ingin memberitahu bahwa saya tidak punya dasar pengetahuan teknik. Jadi saya tidak bisa berbalas pantun jika sudah masuk wilayah teknis.

    Dari tulisan Ompapang dan Beliau -Beliau yang disini, saya hanya mengerti yang dibutuhkan adalah energi untuk mengalirkan lumpur secara terus menerus.
    Ide berkembang karena dikatakan bahwa energi potensial dapat dimanfaatkan. Jadi kita harus mencari cara meninggikan permukaan lumpur.

    Perhatian saya sebenarnya hanya satu: UANG, p.s.:
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-
    semburan/#comment-12669

    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-sosial-ekonomi-
    politik/#comment-12677

    O, ya sebelum kepada bagian konstruksinya, saya meresapi “peringatan” Mas RDP, amblesan. Jadi sebelum menentukan konstruksi akhir, harus diperhatikan amblesan dan tambahan diameter semburannya setiap waktu sehingga konstruksi yang dibangun siap menghadapi perubahan dalam perkiraan waktu yang disepakati (selama 30 tahun mengalir ?? berarti sudah diketahui penampang atau volume sumber lumpur??).
    Berapa tambahan diameter dan amblesan yang mungkin terjadi per satuan waktu?

    (Mas atau OM :))Papang, saya meragukan kemampuan membuat konstruksi on site (siapa yang berani? kalau meletus seperti tempo hari??, asap, lunak/cair dan siap ambles??).

    Kerangka dome? Kalau rangka baja, logika saya sama, demikian, dindingnya plat baja saja, knock-down system, jangan dicor beton lagi, berat . Kalau pakai beton, riskan kalau dicor di tempat, bertahap dan lama. Inipun hanya untuk bagian dasarnya saja biar dapat “duduk” stabil dan mengurangi berat total secar keseluruhan.

    Cincin atau rangka baja sebaiknya harus knock-down, dicor atau dibuat per bagian di tempat lain, simultan, tinggal pasang / susun di tempat. Peringatan dari Mas RDP tetap perhatian utama. Terima kasih

  112. ompapang berkata:

    Kalau tower crane tidak memungkinkan, barangkali bisa pakai crawler crane sejenis Ruston Busyrus dan Sumitomo atau mobile crane Tadano yang kapasitasnya 20 – 30 ton tinggi lengan teleskopnya dapat menjangkau lebih dari 30 meter seperti yang dipakai untuk memean(bentangan tali baja untuk menceburkan) bolton.(ctt :Tadano 10 Ton ,tinggi jangkauan dapat 26 meter )

  113. RIrawan berkata:

    terima kasih pak dhe.
    ada yang lebih baru? yang 1 oktober 2006 kan hampir 7 bulan lalu?

  114. Rovicky berkata:

    Kalau memikirkan towercrane mesti dipikirkan juga seberapa kekuatan daya dukung pijakan dari crane yang dipakai untuk mengangkat.
    Apakah tanah yang sudah retak-retak itu mampu sebagai “tempat duduk” yang aman buat si Tower Crane ?
    Jarak bisa dilihat disini :

    Jarak semburan dengan lokasi BPJ-1 hanya 200 meteran

  115. RIrawan berkata:

    Bagus ide nya ompapang. Bisa tolong diperjelas, sebab “konstruksi kerangka dome sangkar burung di Taman Mini” itu saya belum pernah melihat.

    Chinook itu mahal sekali sewanya.
    Jadi kalau ada ide yang lebih murah, tentu menolong pelaksanaannya.

    Tapi tower crane, saya ragu, meskipun bisa pakai ponton. Sebab BPJ1 itu sekarang 400 m dari tanggul terdekat. Betul tidak pak dhe?

  116. ompapang berkata:

    Pak RIrawan dan Pak Tzc, kalau penguat kerucutnya nya meniru konstruksi kerangka dome sangkar burung di Taman Mini Indonesia Indah, apa mungkin dibentuk elemen -elemen kerangka baja bentuk segitiga, kemudian dirangkai membentuk kerucut terpancung atau corong terbalik dengan dasar diluar ring tanggul pusat semburan (diameter lebih dari 50 meter) . Adapun pengecoran dinding betonnya menyusul kemudian sesudah konstruksi baja kerangka berikut kisi-kisi besi penguat dinding yang membentuk kerucut terpancung selesai dirangkai. Karena elemen kerangka yang berbentuk segitiga relatif ringan, maka pengerjaannya mirip menumpuk batu dalam membentuk candi, tidak memerlukan alat angkat berkapasitas tinggi atau air lift crane Chinook,cukup tower crane saja. Kalau tidak salah bangunan piramid kaca di museum Louvre Perancis(yang disebut-sebut dalam novel Da Vinci Code karya Dan Brown) juga menggunakan konstruksi elemen-elemen segitiga ini.

  117. RIrawan berkata:

    Soal “bahasa”, memang tidak nyambung dengan yang berwenang dan bertanggungjawab. Entah kenapa. Di Jerman, sedikit tulisan iptek yang bagus, sambutannya luar biasa, kita diserbu tanggapan dan pertanyaan, malah dapat uang. Di sini orang lebih gandrung ramalan. Angka dan hitungan dianggap suntuk, sumpek dan memusingkan, cuma kerjaannya orang nato. Padahal pak dhe RDP sudah menyerukan pada Juli 19th, 2006:
    “Ilmu yg disampaikan” …
    skali lagi ilmu yg disampaikan turun-menurunlah yg menyelamatkan umat manusia Indonesia dari kepunahan !!

    Tetapi, yang sudah dikerjakan oleh timnas selama 6 bulan dengan dana diatas Rp 1 t, malah semuanya yang teknis adalah salah dan ngawur, tidak ada dasar ilmunya, sehingga tentu saja gagal dan membuat situasi makin gawat. Ini perlu saya katakan, sebab persoalannya masih berlanjut dan makin berat. Mudah-mudahan BPLS lebih baik.

  118. RIrawan berkata:

    “CINCIN-CINCIN BERTIANG PENGARAH” yang disusun menjadi cerobong kerucut terbalik atau yang mas tzc sebutkan sebagai ”MENARA HANOI”, setelah saya hitung dan pelajari, merupakan konsep terbaik (sampai hari ini yang saya tahu) untuk menaikkan level lumpur. Yakni mengkonversikan energi dari semburan BPJ1 menjadi energi potensial, yang memungkinkan lumpur mengalir turun ke tempat tujuan secara gratis sepanjang umurnya.

    Serius, ini konsep yang sangat bagus!

    Konsep ini lebih baik daripada pond 6-susun Syahraz.
    Sebab MENARA HANOI-tzc lebih sederhana dan lebih stabil, bisa lebih cepat dibangun dan lebih murah. Perlu detil perhitungan yang rinci memang, tetapi tidak sulit. Dan angka-angkanya membuat saya gembira, sebab probability kegagalannya kecil. Disain ini memiliki kemampuan untuk mengeliminir beberapa resiko kritis.

  119. tzc berkata:

    Wah, Dapat piagam dong saya :))).

    Saya justru terkagum-kagum terhadap Beliau-Beliau di sini. Penjelasan, dongengan, gambar dan hitungannya itu lho. Ini yang lebih mumpuni. Shet..shet …shet keluar dengan baiknya, sederas lumpurnya sendiri :)).

    Tetapi…tetapinya hanya sedikit sih, yaitu: tampaknya hanya “bahasa” yang dipakai kurang nyambung dengan Tim Penanggulangan sehingga terasa Tim berjuang sendiri dengan “rencana” sendiri. Mbok ya, kalau memang ada yang perlu dikomunikasikan (baca: hambatan di lapangan), saya koq yakin, Beliau-Beliau di blog ini siap membantu.

    Bagaimana? Mas Rovicky mungkin dapat menjadi Perantara kecanggungan komunikasi ini?

    Kasihan warganya ‘kan. Belum lagi nanti dipakai sebagai “bahan” untuk kepentingan tertentu (dari makelar properti hingga Politik->Pemilu atau Pilkada setempat) oleh pihak-pihak yang memancing di air keruh.

    Semakin berlarut semakin banyak masalah timbul. Wah mohon maaf lagi, tampaknya melenceng dari topik.

    Untuk Bp. RIrawan, Syahraz, Dedi, Herman, OmPapang, Usil, dan lainnya yang rajin berkontribusi di blog ini. Maju Terus Pantang Mundur!! Sukses Mas RDP.
    Selamat menikmati akhir Pekan Bapak / Ibu dengan sanak keluarga masing-masing. Terima kasih.
    also was:
    http://rovicky.wordpress.com/2006/07/19/jangan-berikan-prediksi-tapi-berikanlah-pengetahuan/
    https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-sosial-ekonomi-politik/#comment-12633
    https://hotmudflow.wordpress.com/2007/03/15/ramalan-lumpur-mama-lauren-diam-diam-diseriusi-gubernur/

  120. RIrawan berkata:

    Perlu 150 chinook jika diangkat sekaligus. Tapi itu tak akan terjadi toh.
    1. Cincin dengan tiang-tiang pengarah (guide untuk cincin berikut diatasnya). Jika tinggi tiap cicncin ½ m, cuma perlu 2 chinook. Whooo … , saya kira anda telah membuat suatu temuan! Jika ini nanti dapat direalisir, anda berjasa bagi indonesia, khususnya orang porong sana.
    2. Cerobongnya harus cukup berat agar stabil, atau melayang kesundul tekanan semburan, kecuali formatnya silinder lurus, bukan corong-kerucut terbalik.
    3. Menurut saya, ini bukan mudvolcano biasa, melainkan geotermal. Sangat jelas dan klop terhadap fakta dan data keluarannya. Diledakkan? Sudah ada yang mengusulkannya disini. Dan ini bisa merupakan salah satu cara menghentikan semburan, yakni men-stop charging air ke dapur magma. Tapi, di kedalaman berapa harus diledakkannya?

  121. tzc berkata:

    Ha! 150 chinook, wah bisa saling tabrakan tuh helinya :)). Sewa satu chinook berapa ya, e, bisa-bisa skuadron udara USA pindah ke Porong :)))

    Untuk Cerobong Silonya:
    1. Bagaimana jika dibuat bertumpuk-tumpuk seperti permainan “menara hanoi”. Tiap cincin dibagi 4 atau 8 biar lebih mudah dirakit. Tiap bagian beton saling menyisip (ada sosotannya) biar tidak bergeser. Kalau ada lumpur menyempil keluar dari celah antar sisipan itu diharapkan tidak material dan malah dapat sebagai lem / “sealant”. Tinggi, lebar penampang dan diameter tiap cincin disesuaikan sehingga dapat ditumpuk mengerucut hingga kepuncaknya. Ujungnya boleh dipasang nozzle yang bisa diputar 360° sehingga kapan waktu kalau mau “pindah arah” pembuangan memungkinkan !??

    2. Karena yang dibutuhkan adalah “wadah” seperti corong terbalik tetapi raksasa, mungkinkah dibuat kerangkanya corong dari baja sedangkan sisi-sisinya dilapisi pelat baja untuk mengurangi berat “bangunan” secara keseluruhan. Diharapkan pelat mampu menahan semburan, paling ringsek di sana-sini. Agar kokoh di bagian bawah saja dibuatkan dari beton / lapis pertama dari menara hanoi. Permasalahannya kembali, siapa yang berani membuat konstruksi di sekitar pusat semburan.

    3. Maaf, melenceng dari topik: kalau gunung berapi bisa berhenti meletus baik sementara atau selamanya bagaimana kemungkinan mud volcano ini kita bikin meletus / meledak guueedhe sekali terus diam selamanya?

  122. RIrawan berkata:

    diatas ini tanggapan saya untuk pertanyaannya mas tzc di rubrik diskusi HDCB …

  123. RIrawan berkata:

    Terima kasih kalau pertanyaan ditujukan ke saya dan akan saya upayakan menanggapinya dalam batas pengetahuan saya.
    1. Mesin ulir yang mas tzc paparkan sudah ada di applikasi komersial, antara lain: archimedian screw pump dan helical rotor pump yang keduanya memakai ulir tunggal, lalu twin dan triple screw pump yang memakai ulir ganda atau tiga. Semuanya bisa berfungsi untuk mengalirkan lumpur, kendati dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing. Namun 1 hal yang pasti, tidak satupun bakal sanggup menangani debit sebesar 150000 m3/hari atau seluas lapangan bola dengan tinggi 15 meter per hari. Dan mesin-mesin itu tidak tahan abrasi lumpur lapindo.
    2, Corong menangkup terbalik atau cerobong silo memang bisa berfungsi menghimpun energi potensial dengan menaikkan level lumpur, agar bisa diluncurkan turun dengan gravitasi. Murah meriah tanpa mesin. Tetapi lagi-lagi bangunan raksasa setinggi 39 m ini sangat sulit dilaksanakan, sebab harus dibuat atau dicor ditempat lain, lalu diangkut dan diletakkan pas diatas lubang BPJ1. Volume betonnya sekitar 1200 m3 dan berat-massanya 3 juta Kg. Jika diangkat sekaligus, perlu 150 chinook seri CH47D. Kalau ada ahli konstruksi yang jago, mungkin bisa dibikin dengan potongan yang di-assembling d atas lubang semburan. Betapapun, ide anda bagus.

  124. RIrawan berkata:

    Ini salah posting di HDCB.
    Topiknya tidak cocok, jadi saya submit lagi di sini:

    Dari dimensi teknis ada 2 urusan utama:
    A) Urusan bawah permukaan. Sedihnya, sampai sekarang belum ada kepastian, bahkan belum ada kesepakatan diantara para geologist, apa yang terjadi di bawah sana dan apa sebab lumpur + gas nyembur begitu besar. Menurut pak dhe Rovicky, geologi itu memang bukan ilmu pasti. Tetapi menurut saya, tidak ada kemungkinan lain selain geotermal/hidrotermal. Perhitungan2 pada diktum termodinamika klop dengan banyak fakta serta data di lapangan. Singkat kata, apabila sumbernya geotermal, maka seluruh tindakan dan upaya yang intinya “menutup lubang atau menghambat aliran”, baik yang sudah dikerjakan maupun masih berupa konsep, seluruhnya salah! Namun saat ini sudah sangat terlambat kalau mau menangani urusan ini.
    B) Urusan permukaan. Yang telah dikerjakan adalah penanggulan, spillway-1 dan pemompaan. Sedihnya, semua perhitungan dan sasarannya juga salah total. Ada logika sederhana yang tidak jalan di sini. Penanggulan tidak mungkin menjadi solusi, kecuali tindakan antara, sebab selain lumpurnya keluar terus-menerus, tanggul juga tidak bisa terus ditinggikan karena gaya tekan yang diderita oleh tanggul adalah pangkat-dua terhadap tinggi permukaan fluida.
    Spillway lebih parah, disain dan format kanalnya salah, sehingga tidak bisa mengalirkan lumpur.
    Puluhan pompa yang dioperasikan salah jenisnya dan tentu saja macet dan mubazir, terutama semua yang berjenis pusingan (sentrifugal).

    Saya coba menanggapi pertanyaannya mas tzc:
    1. Benar, pipa mencegah penguapan, sehingga suhu panas bertahan, tetapi tidak berarti mencegah sedimentasi. Jika ingin pakai pipa mengalirkan seluruh debit lumpur 150000 m³/hari dari BPJ1 ke Kali Porong sejauh 2000 m, perlu pipa bergaris-tengah 1,15 m dengan tinggi kemiringan (∆H) 39 m. Itupun masih ada resiko endapan dengan butiran diatas 2 mm. Persoalannya: endapan di pipa sangat sulit dibersihkan, sebab menyerupai kerak yang keras dan liat.
    2. Ide brilliant, jika bisa mengunakan sumber tenaga dari lubang semburan. Artinya, lubang BPJ1 diihubungkan langsung dengan pipa. Teoritis, tekanan sumber itu sangat cukup bahkan bisa sampai ke Selat Madura. Kendalanya: bagaimana memasangkan pipanya (menurut pak dhe, kepundan BPJ1 50 m), bagaimana agar lumpur dapat seluruhnya diarahkan ke pipa dan tidak bocor ke samping-samping atau membuat lubang-lubang semburan baru?
    3. Kegagalan mengalirkan lumpur melalui pipa dan pompa. Selain problem endapan dan pengerakan, aliran melalui pipa menimbulkan geseran yang sangat besar, lumpur lapindo bersifat dilatant, kekentalannya (viskositas) naik jika menderita tegangan-gesernya yang besar. Jenis pompa yang mampu mendorong lumpur lapindo adalah jenis yang mendistribusikan tenaga pada bidang geser yang luas dengan delicate-handling. Tetapi energi yang diperlukan juga besar.
    4. KASKADE adalah deretan KANAL-V (sudah cukup kecil, sebab lebar cuma 1 m) yang dihubungkan secara estafet menuju tujuan. Lumpur 150000 m³/hari dari BPJ1 harus bisa dibuang seluruhnya ke tujuan, agar tidak meluber dan menelan rumah, pabrik, dll. Bila KASKADE dibuat lebih kecil, maka harus banyak dibuat paralel dan tidak ada gunanya serta lebih mahal, lebih boros energi.
    5. Amblesan atau land-subsidence juga membuktikan proses geothermal dengan sembuaran gas kecepatan tinggi, yang menarik air dan lumpur, sehingga terjadi rongga-rongga kosong, maka permukaan tanah ambles. Di bom, bisa menjadi alternative menghentikan proses geotermal, asalkan bomnya bisa meledak pas di jalur injeksi air ke dapur magma.
    6. Saya berharap blog ini diakses pula oleh mereka yang berwenang dan bertanggungjawab.

  125. RIrawan berkata:

    Kami, termasuk saya, hanya punya sedikit waktu disela-sela kesibukan tugas pokok. Di sini kita bisa mudah dan cepat nimbrung. Awalnya cuma kegalauan, lalu ikutan usul, agar dibaca dan dikritik banyak orang, termasuk yang berwenang dan bertanggungjawab. Mungkin saja bermanfaat.
    Kalau dinilai salah atau ada yang lebih baik, masuk musiumpun kelebihan, biar dibuang saja. Saya kirim usul juga tidak ngotot harus diterima.
    Memang urusan lumpur lapindo ini makin menyesakkan, makin parah dan makin tidak jelas juntrungan penanganannya. Pak Janatan sudah mencoba menghubungi yang berwenang, tapi saya cukup lewat blognya pak dhe Rovicky ini, saya kira ini media paling concern ttg lumpur lapindo dan khusus utk itu. Sukur juga dibaca oleh BPLS.

  126. usil berkata:

    Buat RIrawan, wah benar juga hitungan anda tentang dampak HDCB.
    Salut…ternyata masih ada anak bangsa yang ndak kalah dari produk
    luar.

    Hanya saja, saya ingin ingatkan bahwa jerih payah anda dan kawan2
    tentang MENGALIRKAN LUMPUR SECARA OPTIMAL bisa mubasir
    (sama dengan nasib hitungan anda tentang HDCB).

    Menurut saya, karya anda sekalian (Kaskade…NOH…KanalV) hanya
    akan masuk musium jika proposalnya tidak dikirim langsung ke
    Penguasa yang bertanggung-jawab. Anda-anda sekalian hanya pinter
    ngitung tapi tidak pinter ajukan proposal…..payah!

    Sungguh ironis negeri ini, begitu banyak pejabat korupsi tanpa nurani.
    Tapi ternyata masih ada juga orang-orang yang memikirkan solusi
    terhadap penderitaan orang lain…..seperti anda sekalian.

  127. RIrawan berkata:

    Terima kasih pak Otnaida, semoga dukungannya bermanfaat bagi banyak orang di sana..
    Untuk test tidak perlu 500 m. Ada yang lebih cepat dan lebih murah.
    1) Buat model miniatur KANAL-V. Cukup 20 m ukuran kecil. Terapkan rumus yang sama guna menentukan parameter debit, elevasi dll. Jika sukses, maka dengan ekstrapolasi numerik dapat dipastikan KANAL-V yang besarpun pasti sukses. Kalau BPLS mau mencoba, saya akan berikan hitungannya disini.
    2) Buat KANAL-V ukuran riel, tetapi hanya 100 m dahulu. Ini sudah cukup untuk test langsung di lapangan, apakah lumpur bisa mengalir lancar tanpa endapan. Kalau sukses diteruskan.
    Masih ada beberapa hal yang perlu untuk test ini, antara lain disain kanal pada awal phase percepatan, cara memasukkan lumpur ke KANAL-V, dll.
    Pengoperasian KANAL-V yang riel harus dimulai sedekat mungkin dengan lubang semburan BPJ1, guna memanfaatkan suhu panas dengan viskositas fluida yang rendah.
    Terima kasih pula untuk usulan ompapang, pengecoran kanal INSITU adalah alternatif yang baik.

  128. usil berkata:

    He..he…Kang Herman, yang aku maksudkan Sos-bud itu, dulu waktu SMA
    bisanya IPS…. gitu loh…

    Walah…Kang Herman, membaca tentang neraka MAHARAURAWA, ternyata
    akang bukan hanya ahli tekinik, tapi juga “lapar” akan ilmu non-teknik.

    Terima kasih pencerahannya…namun bukan bermaksud mengecilkan peran
    Sos-bud, tapi kayaknya solving lumpur lapindo hanya bisa dengan ilmu
    hitung, seperti yang bapak-bapak sekalian sedang rintis itu.

    Nyesel juga….dulu kenapa ambil IPS ya? Seharusnya sekarang aku bisa
    “berbalas pantun” dengan bapak-bapak sekalian…

  129. a_otnaidah berkata:

    Pak Ompapang bijak waskita. Saya akur 100%. Yang penting, lumpurnya bisa cepat ditangani yang bener, jangan dibiarkan kemana-mana menyengsarakan makin banyak orang.

  130. ompapang berkata:

    Pak Otnaidah,
    Pembuatan kanal bisa start dari hilir atau hulu,yang penting kemiringannya sesuai dengan perhitungan yang dibuat Pak RIrawan. Mungkin dapat dilaksanakan dengan dicetak INSITU menggunakan mesin cetak kanal yang berjalan (mengangkangi ) diatas alur kanal sepanjang jalur kanal yang dibuat. Campuran beton disuplai dengan kendaraan khusus pengangkut campuran beton dari pabrik pencampur beton ( concrete mixer plant).Teknologi ini sudah dikenal dalam pembuatan saluran irigasi. Dibanding dengan beton pracetak, pengecoran kanal INSITU mungkin lebih cepat asal akses jalan sepanjang kanal tersedia. Kesulitannya mungkin adalah bila harus dibuat kanal kaskade.

  131. ompapang berkata:

    Orang tua pak Hadiatno mungkin orang Sala, kalau dari Jogya nama Bapak pasti Hadianto atau Hadiyanto..

  132. a_otnaidah berkata:

    Whuuah ha ha, pak ompapang pinter buaaaanget. Trus menurut bapak, dari hilir ato hulu?

  133. ompapang berkata:

    Pemasangan kanal mulai dari hulu dulu atau hilir dulu? Kalau Pak ONTNAIDAH mungkin usulan masang kanal dari HILIR, sedang Pak HADIATNO usulannya dari HULU. Hara …..wolak walik to ?

  134. a_otnaidah berkata:

    Kanalnya pak RIrawan pelik hitungannya. Tetapi sesudah saya baca beberapa kali, sepertinya sederhana. Mirip kanal selokan biasa. Ukuran yang diusulkan hanya 1 m lebarnya, tingginya juga 1 meteran. Harga beton pracetak ukuran segitu harganya Rp 150 ribu per meter lari. Mungkin dibuat 500 m dulu, terus dicoba dipasang miring dan lumpurnya dialirkan lewat kanalnya pak RIrawan. Biayanya hanya Rp 75 juta. Ini murah sekali dibanding bolton dan spillway yang milyaran.
    Saya pikir, ini harus dicoba. Konyol kalau sudah ada BPLS, tetapi lumpurnya masih luber 1 tahun lagi dan makin meluas membuat tambahan ribuan orang kehilangan rumah. Ketuanya sih siap mati, tapi meskipun bunuh diri, apa gunanya kalo lumpurnya tak bisa diatasi.

  135. RIrawan berkata:

    Spillway-II 1,5 Km dari BPJ1 lewat desa Jabon ke Kali Porong masih punya peluang mengalir, jika dikonstruksi sbb:

    – Lebar dasar kanal jangan lebih daripada 1 m.
    – Format dasar kanal berbentuk lengkungan.
    – Dinding kanal membesar keatas bersudut 60º.
    – Dasar dan dinding kanal dibuat sehalus dan sekeras mungkin (idealnya beton pracetak).
    – Dari BPJ1 lurus turun dengan sudut elevasi 2% (sinα), sehingga untuk 1,5 Km perlu ∆H = 30 m.
    – Jika ketinggian tanggul-pelimpah dari BPJ1 tidak cukup mencapai 30 m, sebaiknya sebagian tanah sampai ke Kali Porong digali, tetapi biarkanlah tetap terbuka.
    – Seluruh kanal sepanjang 1,5 Km harus turun dengan sudut elevasi yang tetap, tidak boleh naik turun.
    – Lantai dasar di awal kanal dari BPJ1 dibuat horizontal selebar 6 m, yang kemudian turun mengecil berbentuk kerucut sepanjang 10 m (untuk periode percepatan), yang kemudian menyambung ke kanal utama dengan lebar maximum 1 m.

    Dengan disain diatas, meskipun elevasi ∆H tidak bisa mencapai 30 m, sebagian besar padatan akan bisa ikut mengalir dari BPJ1 sampai ke Kali Porong. Hanya batuan yang besar-besar saja menjadi endapan, yang tidak terlamnpau banyak dan dapat tiap hari dikeruk.

  136. RIrawan berkata:

    Spillway-II 1,5 Km sedang dirampungkan, langsung dari pusat semburan lewat desa Jabon ke Kali Porong. Disainnya sama seperti Spillway-I, hanya sekarang disiapkan alat berat guna mengeruk endapan. Pak dhe bisa peroleh detil konsepnya?

    Ini kog kayak pipa gas pertamina yang 2 minggu jalan sudah terendam lumpur, biaya Rp 50 Milyar terbuang percuma. Spillway-I sudah memberikan pengalaman yang sangat jelas, endapan lumpur sangat banyak dan bisa mengeras. Mau dikeruk? Berapa banyak alat beratnya, berapa jam kerja sehari, mau dibuang kemana padatannya, berapa beaya operasinya dan apa bisa dikerjakan terus menerus?

    Saat ini debit lebih besar daripada ketika spillway-I.
    Tiap 7,68 detik ada 20 m³ padatan lumpur harus dibuang dan diangkut non stop selama 8 jam sehari. Persoalan lain, ketika 16 jam istirahat malam hari, spillwaynya mampet dan lumpur luber kemana-mana.
    Mengapa terus menghamburkan dana, mengerjakan yang sudah pasti gagal?

  137. usil berkata:

    Walah….hari ini di Metro TV jam 12:20 Tanggul Timur jebol lagi.
    Penduduk panik, 200 rumah desa Sengon dan….terancam tenggelam.
    Mana komentar dan kritik dari ITB, ITS, UI, UGM dll atas ide Kanal-V
    RIrawan dan NOH ompapang/Herman? Koq bungkam gak ada komentar.

    Apa gak punya ide lain, gak ngerti, gak peduli atau sibuk sedang ngapain
    mereka semua itu?

    Mbok pelajari dong ide-ide dari ompapang/Herman dan RIrawan diatas,
    bantah kalo salah, kritik kalo kurang sempurna ato dukung kalo rasa
    benar. Paling tidak orang-orang diatas memberikan kesempatan yang
    luas kepada umum untuk mengkritisi ide mereka.

    Tidak seperti ide HDCB, diam diam langsung dijalankan. Sudah gitu…
    gagal lagi. Tidak bertanggung-jawab sama sekali. Sudah makan duit
    banyak ……tanpa ada manfaatnya bagi rakyat Sidoarjo.

  138. RIrawan berkata:

    Kalau konsisten, timnas tidak boleh bayar HDCB. Janjinya menurunkan debit 50% atau 70%, hasilnya malah naik. Tidak jelas, angka-angka itu darimana, hitungannya apa, rumusnya apa?

    Tapi kalau saya ditantang kayak pengalamannya pak Janatan: “… apakah mau pre-financing project, dengan catatan kalau ngak berhasil ngak dibayar …”, terpaksa saya jawab: … terima kasih, sampeyan urus sendiri …! Kita menyampaikan ide gratisan. Tidak usah dibayar, tidak perlu bintang jasa.

    Namun kabarnya yang kirim ide ada ribuan. Lebih banyak yang spiritual, begitu pula yang sudah dilaksanakan. Saya berharap, hampir setahun ini cukup untuk kedepan lebih rasionil. ide harus jelas, teori apa yang dipakai, hasil hitungannya bagaimana, resikonya apa. Lalu dikaji secara mendalam dan dikritisi. Jika konsep itu jelas dan angka-angkanya sangat kuat (legitimate), umumkan dan beberkan ke publik untuk menjaring komentar. Jika beayanya besar, buat model simulasinya.

    Ah ini banyakan nato, yang diperluken action.
    Lho, jadi lanjut dengan HDCB? Atau meneruskan 1,5 Km spillway-2 yang baru 900 m dibuat? Atau bikin lagi pipa gas baru di atas tanggul?

    Dari berulang-ulang menghitung, saya peroleh angka-angkanya, belum ada cara yang lebih murah dan lebih pasti berhasilnya daripada KANAL-V dengan elevasi kemiringan 2%. Dan dengan KANAL-V + NOH + Kompresor, elevasi kemiringan cukup 1%.
    Lahan: lebih kecil daripada spillway.
    Beaya pembangunan: lebih murah daripada spillway.
    Beaya operasi: jauh lebih murah daripada spillway + buldoser untuk mengeruk endapan.
    Rate sukses KANAL-V: 90% (spillway-1: 0%), hasil konfirmasi algoritma komputasi.
    Rate sukses KANAL-V setelah uji coba dengan model simulasi: 99%.
    Nah, ayo kita kritisi ramai-ramai konsep KANAL-V ini.

    Maaf, saya tidak ingin menggebu begini.
    Tetapi apa harus sabar lebih lama?

  139. Janatan berkata:

    Maaf, pak kami tidak bermaksud mengecilkan hati bagi para ilmuwan yang punya ide/metode/solusi hebat, tapi faktanya memang begitu, buktinya sampai sekarang selama 7-8 bulan ide yang diimplementasikan cuma HDCB dari ITB tsb selebihnya Timnas hanya melakukan penganggulan & spilway dengan biaya beratus milyard ?, padahal yang mengajukan proposal baik dari Dalam maupun dari Luar Negeri banyak sekali.

  140. RIrawan berkata:

    Terima kasih dukungannya pak usil (eh, ini nama…).
    Tetapi saya sungguh tidak ingin ikut-ikut di Timnas.
    Saya cuma ingin melihat urusan lumpur ini bisa beres dengan benar dan cepat.

    Tetapi lucu juga pengalaman pak Janatan.
    Mengapa ditanya: “pernah diuji-coba dan berhasil dimana?”
    Dunia maju dengan teknologi yang berkembang pesat, berkat ilmu hitung. ANGKA menentukan prediksi yang tepat dan menghasilkan terapan teknologi yang lebih baru dan lebih canggih. Apa Timnas mau menunggu sampai ada lumpur 150000 m³/hari di negara lain yang sudah sukses ditangani?

    Kalau HDCB, saya sedikitpun belum melihat nuansa ilmiahnya. Asal trial & error tanpa hitungan? Sekarang debit lumpur pasti lebih besar dari sebelumnya. Sederhana kog, lubangnya sudah dibikin lebih besar oleh HDCB. Dan itu sudah saya hitung dan sampaikan angkanya sebelum pelaksanaannya

  141. RIrawan berkata:

    Om papang, pak Herman,
    saya mencoba menghitung pengaruh aliran kompresibel pada KANAL-V dengan persamaan dasar kontinuitas, ternyata angkanya membuat saya tercengang. Ompapang dan pak Herman telah membuat sebuah temuan kreatif:
    NOSEL OMPAPANG-HERMAN
    (boleh mohon ijin, saya singkat dengan NOH ?).

    Dampak NOH besar artinya!
    Kalau kita tambahkan semburan angin/gas/uap melalui NOH di dasar KANAL-V tiap jarak 5 m (sejajar aliran lumpur turun, seperti usul ompapang), ternyata KANAl-V + NOH cukup dengan elevasi 1% saja dan aman dari endapan yang sama dengan KANAL-V tanpa NOH dengan elevasi 2%. Artinya:
    1) Dengan level 10 m diatas lubang BPJ1, lumpur bisa meluncur turun sejauh 1000 m. Dengan level 20 m diatas lubang BPJ1, lumpur bisa meluncur turun sejauh 2000 m.
    2) Pompa cukup menaikkan level lumpur ke +4 m (125 Kw) pada awal KASKADE, untuk mengalirkan lumpur sejauh 400 m. Daya untuk kompresor udara cukup 30-40 Kw per KASKADE, dus ada penghematan energi 35%. Ini banyak artinya.

    Semburan angin dari NOH di dasar KANAL-V menaikkan turbulensi dan angka RE, yang mencegah endapan. Hasilnya makin baik, jika yang menyembur adalah gas panas atau uap air.

    Terima kasih idenya, Om papang dan pak Herman.

  142. usil berkata:

    Oh…begitu rupanya, terima kasih banyak penjelasannya Pak Janatan.

    Ok, kalau dulu mereka sangat concern dengan biaya, rasanya juga cukup
    rasional karena terbatasnya anggaran. Tapi dengan Kepres yang baru,
    mestinya budgetnya cukup besar saat ini, karena sebagiannya lewat APBN dst…

    Menurut saya jika bapak-bapak sudah ketemu dan sepakat akan proposal
    yang “layak”…..saya usul Pak dhe agar beri akses situs ini ke media masa
    seperti Kompas atau Metro TV. Biarkan media masa itu yang mengaduk-aduk.

    Rasanya koq gak rela jeri payah bapak-bapak menjadi mubasir.

  143. Janatan berkata:

    Bapak kalau boleh menceritakan pengalaman kami dengan Timnas dulu, untuk mengajukan suatu usul dan kemudian diimplementasikan tidak cukup hanya dengan proposal berisikan konsep/metode dan perhitungan teknis & biaya diatas kertas apalagi kalau costnya cukup tinggi, mereka akan menyakan hal-hal sbb :
    – apakah konsep/metode tersebut sebelumnya pernah diuji-coba dan berhasil
    dimana ?
    – berapa lama pengerjaan sampai terlihat hasilnya.
    – apakah mau pre-financing project, dengan catatan kalau ngak berhasil ngak
    dibayar
    – apakah mau presentasi didepan Timnas dengan biaya sendiri
    – dsbnya.
    Kalau metode HDCB, mungkin karena yang mengusulkan institusi cukup terkenal “ITB” dan biayanya relatip murah cuma 1-2 Milyar maka biarpun belum pernah diuji coba Timnas pikir apa salahnya diimplementasikan.

    mudah2 an tim yang sekarang “BPLS” bisa lebih menyerap ide2/solusi pihak luar

  144. usil berkata:

    Yang namanya bapak-bapak yang terhormat berikut ini:

    Rovicky
    ompapang
    RIrawan
    Dedi Ganedi
    Herman
    Syahraz

    Menilik tulisan mereka, pastilah beliau-beliau ini bukan pengangguran….
    toh mereka dengan penuh dedikasi dan volenteer masih dapat sisihkan
    waktu untuk carikan solusi atas LUSI demi rakyat Porong.

    Gemas rasanya hati ini….kenapa Tim-Nas tidak ajak beliau-beliau diatas
    sebagai partner?

    Pak dhe Rovicky! bagaimana caranya menyampaikan ini kepada Tim-Nas?
    Ini serius…(jangan kira usil nggak bisa serius).

  145. Dedi Ganedi berkata:

    Ya, mudah-mudahan diskusi ini bukan bagian dari republik mimpi dan orang tidak menilainya sebagai dagelan. Kita berharap berhati-hati dalam mengajukan gagasan dan mencegah hal yang tidak masuk akal yang akan menjadi bahan tertawaan orang. Dan masyarakat ilmiah tidak tertarik untuk memberi tanggapan. Dan yang penting tingkatkan nama baik situs ini.

  146. ompapang berkata:

    amin….!

  147. herman berkata:

    Kang Usil jangan wele … wele …. saja , apa menurut SosBud kutipan ini tidak penting …. sudah ada kolom diskusinya .. mana konco – konco …sos-bud ..??? ayo diskusi …..

    Saya Kutip dari Prof. Muhhamad Yamin dalam bukunya Tatanegara Madjapahit Parwa II hal 43 :

    “PRASASTI DJAJANEGARA II, (SIDOTEKA), 1323″
    Piagam ini besarnya sepuluh keping dan didapat pada tahun 1884/1885 didesa Sidoteka didaerah Modjokerto (Surabaya), Pada permulaan tulisan itu tersebut tarich Sjaka 1245, (tarich Masehi 1323), dan seorang perabu dengan bernama penobatan : Cri Sundarapandyadewa, gelar bagi perabu Djajanegara. … memerintah thn 1309-1328.
    Salinan huruf Romawi prasati dapat dibaca pada : Krom-Brandes (OJO, LXXXIII: hal.198-204, dana dalam madjallah The Greater India Society (Djuli 1935; hal.133-141. Dalam karangan Himansu Bhusan Sarkar, dapat pula dibatja salinan prasasti tersebut kedalam bahasa Inggeris ( sama: hal.141-158).

    Cuplikan kecil isi prasasti :
    Parwa II, hal49 : ……………………………., ” pepedaken wkas i pranantika, wawa ring MAHARORAWA, wehamuktya sangsara, phalanya n angulahaku anyayaprawrtti, kawulatan de sang hyang trayodaca saksi / astu, o(ng), siddhir astu//o//”

    salinannya dalam bahasa Indonesia , hal 58:
    ……………………………….. ” dilemparkan kedalam neraka MAHARAURAWA nan selandjutnja akan menderita disana segala kesengsaraan. Demikianlah akibat dari hawa-nafsu penuh kedjahatan, jang dapat ditindjau oleh 30 orang juang menjaksikan!. Demikianlah hendaknya. Hong! Begitulah hendaknja berlaku”.

    pertanyaan saya pada para ahli ybs, pada KANG USIL :
    apakah neraka MAHARAURAWA ini yang dimaksud prasasti itu ….. RAWA-RAWA akibat LUMPUR SIDOARDJO .. ??????

  148. usil berkata:

    Wele…wele… walaupun aku Sos-Bud, tapi ini…asyik banget
    ngikutin diskusi para ahli.

    Teruuuuus…..sampai ketemu solusinya. Aku sih hanya bisa dukung
    dengan moril aja….gitu. Bapak-bapak sekalian jangan patah semgangat ya?
    Pasti ada pahalanya diakhirat…..amin!

  149. herman berkata:

    Iya betul ompapang sebab , moving parts nya sangat direduksi, namun dengan water jet juga bisa sambil membersihkan diameter butiran lebih besar 2 mm pada saat mungkin saja 10% flowing full.

  150. ompapang berkata:

    Itu yang saya maksud pak RIrawan, kalau tiap 5 m diberi beberapa nosel angin paralel (seperti lubang-lubang pada alat musik seruling) yang dapat mendorong dan mengaduk, kebutuhan Megawattnya kan relatip kecil ketimbang didorong pakai pompa Archimedes,screw pump atau diangkut pakai conveyor,jadi lebih murah.

  151. herman berkata:

    Maksud saya pemilihan jenis pompa ini dikombinasikan dengan aerator, sebab pernah diteliti seorang mahasiswi bahwa cairan lumpur mengandung COD 6x , fenol 1,5x lebih tinggi dari ambang batas untuk sungai, belum lagi xylene (PAH), logam berat, Fe(II), Mn(II), CO2, H2S, SiO2 pada umumnya berkadar tinggi dalam air tanah, sedangkan O2 tidak hadir.
    Kalau pakai aerator mekanik ( simcar, gyrox, simplex cone, atau bsk-turbine, hamburg-rotor, aqua-lators, mammoth, lebih sulit bila dikombinasikan kaskadenya RIrawan.

    Oleh sebab itu bila pakai pompa Air Lift, pencemaran ini bisa dikurangi … syukur syukur bisa memenuhi standard baku sungai …. sehingga biaya lingkungan bisa ditekan .. apalagi air-lift pump ini biasa digunakan di pertambangan untuk memisahkan padatan dengan air, dengan head s/d 750 feet, memompa 20 – 2000 gallons / menit.

    bisa juga pakai pompa rotodynamic negatif pump ( mixed flow, atau centrifugal ) dengan rpm tinggi , sedang untuk rpm rendah pakai positif propeller, atau archimedean screw pump.

    Untuk disain impeller tergantung dari kecepatan spesifik ( adalah kecepatan rotasi sebenarnya model pompa dengan kapasitas 1m3/detik dan total head 1 m water coolumn pada efisiensi tertinggi ). Harus ada grafik efisiensi thd debit, sudut impeler, tinggi manometrik dll, dari pabrik pompanya.

  152. RIrawan berkata:

    Betul pak dhe.
    Pond-Syahraz (6-susun) menaikkan daya tampung 3,84x, atau luas tertelan hanya 26% daripada 1-susun.
    Jika sekarang mulai dibangun, agar 600 ha tidak lebih meluas, dalam 2 tahun kedepan baru akan mencapai 6 susun = 39 m dengan volume 132 juta m³ (konsistensi 60%). Konsep ini cukup masuk akal, sudut kemiringannya cuma: δ = arcsin(39–6,5)/(1300-300) = 1,862º.
    1 meter sejuta rata-rata, termasuk gedung bertingkat, bandara, pabrik, dll.
    But that can’t be real, as it will never be the alternative, even with 26% x 18000 ha.

    Pak Dedi mungkin benar.
    Memang masih perlu dipastikan dan dilakukan percobaan, apakah daya dukung lumpur (1/2 kering) memungkinkannya naik sampai 39 m dengan tekanan 5,09808 bar dibagian terbawah?
    Alternativenya seperti usul pak Herman, naikkan hingga 16 m saja, maka dengan KANAL-V lumpur akan meluncur turun 820 m sampai keluar batas tanggul sekarang, selanjutnya pakai KASKADE.

    Maaf ompapang, saya keliru mengertinya.
    Idenya pak Herman sangat menarik. Agitasi semburan angin sangat efektif mencegah pengendapan. Namun menurut saya, kompresor tukang tambal ban kekecilan atau harus banyak sekali, jadi tidak praktis. Kita berurusan dengan lumpur pekat yang meluncur turun dengan kecepatan 3,35 m/detik pada kanal setara pipa bergaris-tengah 1,15 m. Menurut perhitungan saya, perlu tiap 5 m di dasar KANAL-V diberi nozzle angin.

  153. ompapang berkata:

    Pak RIrawan, pipa 12 ” atau diameter 30 cm itu saya maksudkan tidak untuk lumpur,tetapi untuk menyalurkan udara bertekanan.Ide Pak Herman disini diterapkan dalam hal mendorong lumpur dengan udara, namun tidak didalam pipa tetapi dikanal V yang terbuka.Maksud saya ,tetap pakai kanal V untuk lumpur,tetapi diboost pakai udara bertekanan lewat nosel kearah hilirnya ngiras pantes mengaduk lumpur agar tidak terjadi penegndapan. Maka saya ambil contoh tiap 50 meter ada cabang pipa kecil untuk menyalurkan udara /angin kenosel. Saya perkirakan biaya memompa udara kedalam pipa 12 ” tiap m3/detik lebih murah ketimbang memompa 1m/detik lumpur karena hanya butuh daya relatif kecil dibanding pompa lumpur. Penghematan biaya disini ( kalau linier) bisa menurut perbandingan berat jenis udara : berat jenis lumpur.Lagi pula kompresornya dapat ditempatkan dihulu atau dihilir bahkan bisa ditengah-tengah antara pusat semburan dan muara dipantai. Jadi fungsi pipa 12″ sepanjang kanal lebih mirip dengan tangki udara tukang tambal ban mobil ditepi jalan.

  154. Dedi Ganedi berkata:

    Sekarang ini nampaknya ada dua tanggul cincin. Pertama yang berdekatan dengan semburan. Kedua berdekatan dengan fasilitas publik/perumahan.

    Ini mirip dengan Pond susunnya Shahraz tetapi tanggulnya tidak berada di atas lumpur karena lumpurnya susah mengering dan mudah ambyar.

    Tangggul ini sangat beresiko untuk jebol karena penurunan tanah dan kebocoran. Bocor selubang jarum saja bisa berpotensi menjadi besar akibat arus yang terus menggerus lubang.

    Dikabarkan ada seorang anak yang menjadi pahlawan di Belanda ketika ia menyumpal lubang dam dengan jarinya seharian. Jika tidak disumpal, dam bisa jebol akibat lubang yang membesar.

  155. Rovicky berkata:

    Kalau ditenggelamkan dengan dibangun pond susun atau apapun dengan meningkatkan sudut kelerengan sehingga lokasinya tidak akan 18 000 ha, kan ?.
    Aku rasa Pak Shanas pernah ngasi itung2annya deh, lupa aku detilnya 🙂

    Jadi lumpurnya (padatannya biarkan saja ditampung dengan pond susun, sedangkan airnya saja yang dialirkan, gituu

    Tanah 1 meter sejuta ? is that real ?

  156. RIrawan berkata:

    pak dhe, maksudnya beaya KASKADE dengan KANAL-V?
    Banguan intinya cuma beton pracetak berbentuk V, tinggi 1 m, lebar dasar 1m.
    Dipasang miring ((sinα = 0,0195) sepanjang 410 m. Hulu-nya dinaikkan 4 m, hilirnya diturunkan 4 m.
    Tetapi tiap KASKADE perlu mesin untuk menaikkan lumpur setinggi 8 m.

    Kalau pakai pompa yang sesuai, effisiensi 80%, perlu daya 250 Kw per KASKADE.
    a) Beaya operasi (listrik PLN) untuk membuang lumpur dari BPJ1 s/d Selat Madura: Rp 35 milyar/tahun (Rp 1,05 trilyun selama 30 tahun).
    b) Beaya operasi (energi) untuk membuang lumpur dari BPJ1 s/d Kali Porong (+ pond-susun Syahraz atau Cerobong Silo atau bendungan Soft-Pile): TIDAK ADA, tetapi resiko kerusakan Kali Porong bisa lebih besar beayanya.

    Kalau pakai GAS-LIFT nya pak Herman, perlu studi lebih lanjut.

    Masih ada beberapa disain: acceleration-phase, intake-pit dan prerotation-basin untuk kinetical energi recovery untuk penghematan energi sekitar 20-30%, yang akan saya hitungkan kemudian, kalau konsep ini sudah dianggap cocok.

    Menimbun dan Meninggalkan Lokasi selamanya?
    1 tahun lumpur lapindo menelan 600 ha.
    30 tahun = 18000 ha, atau luas area dengan garis tengah 57,3 Km. Artinya lumpur akan menelan Porong, Sidoarjo, Juanda, Waru, Gempol, Bangil, dll.
    Jika rata-rata perlu beaya re-lokasi Rp 1 juta per m², diperlukan dana Rp 180 trilyun, belum termasuk infrastruktur.

  157. RIrawan berkata:

    Pak Dedi, sahabat karib saya yang mencetuskan ide awalnya.
    Tetapi kami sepakat, kaidah dasarnya:
    • seminimal mungkin energi
    • seminimal mungkin mesin
    • sama sekali tidak boleh mengendap
    Selanjutnya, konsep tercipta dari hasil perhitungan dan result komputasi. Sebab konsepnya serba minimal, ternyata juga dipastikan paling murah, paling rendah kebutuhan perawatannya dan paling andal untuk operasi jangka panjang.

    Dari dalam lubang BPJ1 ada sumber energi yang besar, mampu membentuk tekanan tinggi sehingga lumpur masih bisa naik hingga ratusan meter vertikal. Oleh sebab itu, langkah pertama paling bijak adalah memanfaatkan sumber energi alam itu, yakni menaikkan lumpur setinggi mungkin. Apakah dengan Pon-Susun-Syahraz, Soft-Pile, Cerobong Silo, dst., itu masih diperlukan banyak ide dan konfirmasi perhitungannya dari para ahlinya.

  158. RIrawan berkata:

    14. ompapang Says:
    April 10th, 2007 at 12:12 adalah
    PAK R Irawan, sesudah 2000 meter pertama, kalau pemindahan lumpur tetap memakai kanal, mungkin kanalnya lebih landai dan kecepatan alirnya mengecil/menurun sehingga potensi terjadi endapan didasar kanal membesar. Untuk itu bagaimana kalau idenya Pak Herman diterapkan dikanal ini, yaitu dengan cara memasang pipa baja yang cukup besar, misal diameter 12 ” atau 30 cm paralel dengan bibir kanal. Pada setiap panjang tertentu, misal 50 meter dipasang percabangan pipa kecil yang ujungnya dipasang nosel untuk menyemburkan udara bertekanan kearah hilir sehingga mempercepat aliran sekaligus mengaduk lumpur agar tak terjadi endapan. Karena yang dipompa adalah udara sebagai pendorong dan pengaduk , maka biaya pemompaan tiap m3/detik menjadi lebih murah ketimbang lumpur yang dipompa atau diangkut dengan belt conveyor atau dump truck maupun lori untuk jarak angkut sepanjang 18 km.
    15. ompapang Says:
    April 10th, 2007 at 12:34 adalah
    tambahan: Semburan gelembung udara kehilir dari nosel berfungsi sebagai booster.

    Om papang,
    setelah 2000 m pertama, dilanjutkan dengan KASKADE,
    yakni tetap KANAL-V miring dengan sudut elevasi yang sama (sinα = 0,0195), panjang 410 m. Hulu-nya dinaikkan 4 m, hilirnya diturunkan 4 m. Begitu sambung menyambung. Berarti di awal KASKADE, lumpur harus dinaikkan 8 m, kemudian meluncur turun dengan gravitasi sepanjang 410 m, selanjutnya naik lagi 8 m ke KASKADE berikutnya, dst.

    Kalau pakai pipa tidak menguntungkan ompapang, sebab:
    • Lebih hambur energi, sebab geseran terhadap dinding atas pipa lebih besar daripada udara pada KANAL-V.
    • Pipa setara KANAL-V (lebar dasar 1m untuk Q = 150000 m³/hari) harus berdiameter 1,15 m; bukan 12” atau 30 cm.
    • Jika terlanjur mengendap, kerak lumpurnya sangat keras dan sangat sulit dihancurkan.

    RIrawan:
    Ide pak Herman dengan AIR LIFT sangat menarik.
    Ada beberapa applikasi:
    1) Mendorong dan menambah turbulensi aliran lumpur sepanjang KASKADE, sehingga panjang KASKADE bisa dinaikkan misalnya menjadi 820 m (sinα = 0,00975). Caranya seperti ide ompapang dengan memasangkan nozzle tiap 5 m di dasar KANAL-V (kalau tiap 50 m tidak bisa ompapang, keburu mengendap). Konsep ini feasible, sebab semprotan angin berfungsi untuk agitasi atau mencegah pengendapan, Tetapi masih perlu perhitungan rinci atau percobaan.
    2) Seperti dijelaskan oleh pak Herman, yakni untuk menaikkan level lumpur, baik 8 m di awal KASKADE, atau untuk substitusi Pond-Susun-Syahraz memakai AIRLIFT guna menaikkan lumpur ke level (39-16 = 23) m. Ini saya ragu. Energi potensial netto yang diperlukan adalah 182 Kw untuk naik 8 m dan 522 Kw untuk naik 23 m. Kalau pakai kompresor-udara, effisiensinya cuma 30%, sehingga diperlukan kompresor 0,6 Mw dan 1,7 Mw.

    Tetapi yang saya masih tidak jelas: DARIMANA SUMBER ANGIN/GAS NYA?
    • Kalau pakai kompresor, konsepnya memakai terlalu banyak mesin, butuh perawatan. Effisiensi energi juga rendah, sebab energi tekanan gas tidak pernah bisa dimanfaatkan hingga 0 bar.
    • Mungkinkah bisa pakai tekanan gas yang keluar dari bumi sekitar?
    • Daerah itu juga dikenal mengandung gas bakar yang besar. Mungkin bisa pula dijadikan sumber energi.

  159. Rovicky berkata:

    Aku hanya ingin kalau ada yg bisa menghitung atau memperkirakan biayanya ?
    Coba diperkirakan biaya “konstruksi serta pemeliharaan (operasi)”, selama berapa tahun kita akan bertahan ?

    Saya masih berpikiran akan lebih efisien dan efektif dengan Menimbun lokasi ini dan meninggalkan lokasi ini selamanya. Pikirkan saja “relocation”nya. Nah selama relocation ini harus diikuti dengan pencegahan korban yang lebih banyak atau konsentrasikan pada keselamatan manusia selama proses relokasi.

    saya menuliskannya oktober tahun lalu disini :
    http://rovicky.wordpress.com/2006/10/19/si-genit-lusi-ngambeg-doh/
    dan disini :
    http://rovicky.wordpress.com/2006/11/23/salam-duka-daerah-ini-wajar-ditenggelamkan-ditimbun/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: